Merasakan Badai Salju Terlebat dalam Sejarah Jepang Modern: Inspirasi dan Nilai-Nilai Pembelajaran

(oleh: Willy Yanto Wijaya)

Kamakura Snow Storm

Awal Februari yang lalu (tepatnya tanggal 8 Februari dan 14 Februari 2014), Jepang dilanda badai salju yang luar biasa lebat. Badai salju gelombang pertama saja (8 Februari 2014), menurut koran The Japan Times sudah mencetak rekor salju terlebat selama 45 tahun terakhir di area Tokyo, Yokohama, dan sekitarnya. Ini belum menghitung akumulasi salju yang tidak kalah lebat pada tanggal 14 Februari 2014 yang mengakibatkan White Valentine Day di berbagai wilayah di Jepang.. seperti di Kofu (ibukota Provinsi Yamanashi) dimana akumulasi salju yang turun mencatat rekor ketebalan hingga 91 cm (menandingi rekor tahun 1894), artinya salju terlebat yang turun dalam lebih dari seratus tahun!!

Baiklah, karena data dan fakta sudah banyak dibahas di berbagai media.. tulisan kali ini akan lebih fokus ke pengalaman pribadi penulis, beserta sedikit catatan inspirasi dan nilai pembelajaran selama “merasakan” badai salju historis dalam sejarah Jepang modern (setelah sebelumnya pernah merasakan gempa dan tsunami terdashyat dalam sejarah Jepang modern, serta kerusakan reaktor nuklir).

***

Pertengahan Januari 2014, penulis sempat berpikir bahwa musim dingin kali ini adalah yang terhangat yang penulis rasakan selama beberapa tahun di Jepang, dengan salju yang katanya mau turun tapi ternyata enggan dan ga jadi turun. Bahkan sehari sebelum tanggal 8 Februari yang menurut rumor akan turun salju lebat, penulis mengira paling juga turun salju cukup lebat kaya tahun sebelumnya (yang katanya terlebat dalam 5 tahun terakhir  =D  haha..). Whuaaah… bangun pagi-pagi dari balkon sudah terlihat kota Yokohama yang memutih. Ah, yang seperti ini mah lebatnya biasa aja kali, hehe.. pikir penulis sambil melihat indahnya kristal-kristal salju yang mendarat dengan anggun di permukaan pakaian penulis.. dan perlahan mencair menjadi air.

Tentu saja terbersit di pikiran ada dua pilihan, bersantai-santai di kamar yang dihangati oleh heater (kebetulan hari Sabtu jadi tidak masuk kerja) atau pergi keluar menyongsong “ketombe langit” yang berjatuhan sambil menahan dingin udara beku untuk mengabadikan momen-momen. Anda pasti sudah tau jawabannya.. ya akhirnya penulis memutuskan untuk photo hunting ke Ofuna dan Kamakura, padahal menurut perkiraan cuaca agak sore salju yang turun dengan anggun akan berubah menjadi badai salju yang dashyat.. tapi penulis tidak menggubris hal itu, haha..

Sialnya penulis kali ini keluar tidak membawa kupluk juga winter gloves yang hilang jatuh entah di kereta atau bus beberapa waktu sebelumnya.. ternyata lama-lama di luar terasa makin dingin menggigit saja. Dari dormitory penulis di Hodogaya bergerak hingga Ofuna, terlihat ternyata wilayah Barat dan Selatan Provinsi Kanagawa curah salju semakin lebat.. Sampai di Ofuna, ternyata Kuil Ofuna Kannon yang ingin dikunjungi tutup (mungkin karena alasan safety soalnya ada tanjakan lereng dan tangga buat naik ke atas kuil, yang bakal licin rawan terpeleset). Walaupun agak sedikit kecewa, tapi penulis masih berhasil mengabadikan Ofuna Kannon dari platform stasiun kereta.

Ofuna Kannon in Snow Storm

Kali ini salju sudah diterpa oleh angin kencang menjadi badai saju.. kereta pun banyak yang layanannya dihentikan atau delay.. termasuk kereta menuju ke Kamakura ga jalan!! Yaahhh.. udah kepala nanggung nahan beku di luaran gini, dan sudah hampir bebal ditampar oleh hempasan badai salju.. masa batal ke Kamakura?? Penulis pun mencari alternatif lain yaitu naik bus saja! Ohh my.. ternyata antrian bus menuju Kamakura panjangnya entah puluhan atau ratusan meter!! Kayanya kalau mau ngantri nunggu bisa berjam-jam, berdiri kedinginan.. terus sudah sore dan langit mulai gelap.. terus kalau tiba di Kamakura sudah malam dan ga ada bus balik dari Kamakura (misalkan akibat badai salju mengganas??). Akhirnya penulis memutuskan “menyerah” dan pulang ke dorm sambil agak kecewa (keputusan yang tepat, karena sore menjelang malam badai salju ternyata semakin menggila).

***

Langit seakan ingin kembali ‘memancing’ penulis ketika tepat pas hari Valentine 2014, gelombang badai salju kedua kembali menerjang. Penulis agak dilema karena pas hari ini penulis akan bekerja shift malam di sebuah kilang minyak. Cukup riskan, pikir penulis.. bagaimana kalau kereta tiba-tiba ga jalan, ga bisa balik? Setelah mencoba mengkalkulasi waktu, dan dengan instink penulis, akhirnya diputuskan penulis akan berangkat ke Kamakura untuk sekali lagi “mencoba peruntungan”. Life is too short to have no gut to take risks… hehe.. pikir penulis. Yosh! Decided!

Pagi-pagi salju turun belum begitu lebat sehingga penulis bertanya-tanya jangan-jangan belum ada akumulasi salju di Kuil Kamakura Daibutsu.. kereta berjalan lancar dan menjelang siang hari penulis sudah tiba di Kamakura. Salju kemudian turun semakin lebat, dan udara dingin pun mencoba menyusup ke sela-sela pakaian.. bbrrr.. dan Kamakura Daibutsu ini lumayan jauh jalan kaki dari stasiun butuh hampir setengah jam (kalau cuaca normal, karena bersalju mesti jalan lebih lambat dan pelan-pelan.. sehingga terasa makin jauh..). Karena penulis mengambil jalan tikus.. sepanjang hamparan jalan yang penulis lalui hanya tercetak jejak kaki penulis.. dan di samping ada bekas jejak ban kendaraan yang mulai memudar (sepertinya beberapa jam sebelumnya lewat).

Ternyata selain penulis, ada beberapa fotografer hard-core yang sengaja bela-belain datang ke Kamakura Daibutsu buat mengabadikan momen-momen langka ini. Setelah puas menjepret beberapa foto dan karena tangan sudah hampir beku mati rasa… dan lagipula ntar malam ada gawe di oil refinery.. akhirnya penulis pun beranjak.. toh mission already accomplished 😉 hehe..

at Kamakura Daibutsu

***

Salju yang turun membuat putih seluruh kota memang indah dilihat.. Namun sebenarnya di balik keindahannya, salju yang lebat, terlebih badai salju juga menyebabkan banyak problema. Misalkan saja kereta yang ga jalan atau delay (telat) akibat mesti berjalan lebih lambat demi safety ataupun akibat salju yang menumpuk di rel kereta; penerbangan yang batal terbang; belum lagi pejalan kaki yang jatuh terpeleset akibat jalan licin oleh es yang mengeras; tagihan listrik/gas yang membengkak buat pemanas ruangan (untung penulis bebas pakai listrik sepuasnya di dorm, hehe..). Ini mengingatkan kita semua bahwa di balik keindahan, bisa ada keburukan atau sesuatu hal yang belum tentu selamanya indah.. Ini bagaikan lingkaran hitam di dalam lingkaran putih..

Akan tetapi apakah kita mesti berhenti dan terpaku pada lingkaran hitam ini? Nah, ada satu hal yang mesti penulis acungi jempol buat orang Jepang. Sehari sesudah badai salju, masyarakat ramai-ramai ambil sekop dan membersihkan salju. Karena kali ini salju menumpuk sangat lebat, penulis melihat orang Jepang cukup pragmatis juga… jadi mereka akan membersihkan dan ‘membuka jalan kecil’ dan salju ditumpuk di pinggiran. Ini sangat membantu mengurangi insiden orang jatuh terpeleset (penulis cuma terpeleset satu kali selama dua gelombang badai salju ini). Walaupun ada ‘bencana’ badai salju, tapi dengan masyarakat bergotong-royong membersihkan salju, sebenarnya potensi bencana/ kecelakaan menjadi berkurang sangat drastis. Alam memang sulit dikontrol, tapi kita bisa berupaya membuat sesuatu menjadi lebih baik.. penulis kira filosofi ini sangatlah tertanam kuat di sini.

Nilai pembelajaran berikutnya adalah bahwa keselamatan adalah nomor satu. Istilahnya 安全第一(Anzen Dai-ichi), ini terlihat bagaimana kereta berjalan lebih lambat untuk memastikan keselamatan penumpang, juga roda-roda bus ataupun mobil yang dipasang rantai/ tali agar tidak gampang tergelincir.

Kemudian ada hal yang penulis cermati dari fenomena tergelincir.. ini kebanyakan disebabkan oleh salju yang mengeras menjadi lapisan es keras akibat terinjak-injak oleh pejalan kaki. Ini adalah fenomena Fisika, tapi sebenarnya dalam hidup pun seperti itu… seseorang yang terlihat begitu lembut (bagaikan salju), bisa saja menjadi keras juga apabila terus menerus ditindas, diinjak, dan diberi tekanan. Memang begitulah fenomena alamiah yang ada..

Demikianlah, walau selalu ada sisi hitam di balik putih… tapi dengan mengubah cara pandang kita, ataupun melakukan suatu upaya, lingkaran hitam pun bisa diberi bercak-bercak putih..

Inilah yang dinamakan kebijaksanaan dan upaya benar.

 

partially cleaned snow path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: