Aloha Hawaii !!

(oleh: Willy Yanto Wijaya)

Bayangkan apabila Anda hidup ratusan tahun yang lalu, dan Anda terdampar di sebuah pulau di Samudera Pasifik. Di sekeliling Anda hanyalah hamparan samudera biru nan luas yang tampak tiada bertepi. Kota terdekat dari pulau ini berjarak 3800 km (sebagai perbandingan panjang Pulau Jawa sekitar 1000 km), artinya Anda mesti berlayar setara jarak dari Pulau Jawa hingga Papua untuk mencapai daratan benua terdekat. Pulau tempat Anda terdampar juga adalah pulau gunung berapi yang masih aktif, yang sekali waktu mungkin akan menyemburkan lahar membara. Begitulah sekilas gambaran kondisi geologi Hawaii.

Tanggal 17-22 Desember yang lalu, penulis berkesempatan mengunjungi Hawaii dalam rangka menghadiri GCOE International Forum on Multidisciplinary Education & Research for Energy Sciences, yang diadakan di Marriot Waikiki Beach Resort, Honolulu. Satu kamar di Hotel Marriot Waikiki untuk twin bed + 1 extra bed saja per malam sekitar Rp. 2 jutaan, luar biasa mahal, untungnya semua biaya ditanggung oleh Tokyo Tech, termasuk juga tiket pesawat pp Narita – Honolulu.

Sayangnya tiket pesawat yang dipesan adalah Delta Airline, yang menurut gosip rekan-rekan penulis kualitasnya agak kurang. Tiket pp Delta ini harganya juga ga murah-murah amat, sekitar Rp. 13 jutaan, padahal tiket pp Japan Airline promo Eco-wari juga lebih kurang segitu harganya. Tapi karena Tokyo Tech pengen group booking (untuk memudahkan mereka meng-handle acara), lagipula sudah dibayar semua oleh mereka, no complaint lah, he..he. Benar saja, dari proses check-in saja sudah terlihat konter Delta ini agak semrawut, lebih parah lagi di dalam pesawat ga ada video di tiap kursi! Bayangkan saja, 7 jam perjalanan ke Hawaii dan 9 jam perjalanan balik ke Jepang, Anda ga bisa memilih entertainment yang Anda inginkan! (Heyyy, ini penerbangan rute Internasional, Bung! Masa Delta belum mau mengganti armada tuanya yang masih memakai sistem TV analog gantung disiarkan ke semua penumpangnya?). Anyway, kekecewaan penulis sedikit terobati ketika mengetahui bahwa mileage Delta tidak akan kadaluarsa, dan juga untungnya bisa minum “sepuasnya” (terutama penulis disogok dengan Mineral Water Evian 1.5 liter ketika minta tambahan air minum  =D).

Tapi tidak saja mengenai Delta Airline, ada beberapa hal yang rasanya gatal dan harus dikritik (memang penulis tukang kritik  =p), yaitu sistem security Amerika yang benar-benar terkesan paranoid. Baru kali ini penulis diberitahu bahwa bagasi tidak boleh digembok, kemudian ketika hampir boarding ke pesawat Delta di Narita, ada random security check yang penulis rasa cukup konyol dan diragukan efektivitasnya. Ketika berada di bandara Honolulu pas mau balik ke Jepang, barulah penulis ngerti kenapa ada random security check khusus buat penerbangan ke Amerika, karena di bandara-bandara di Amerika ada security check yang bahkan lebih parah dan vulgar, yaitu Anda memasuki satu mesin scan, yang bisa men-scan tembus pakaian Anda, jadi naked-image Anda akan terlihat oleh si petugas bandara. Sistem ini cuma ada di bandara-bandara di negara Amerika Serikat! Dan sistem ini dikritik habis-habisan oleh warga negara AS sendiri karena sudah terlalu berlebihan melanggar wilayah privasi individu. Tapi tetap saja imigrasi dan bandara AS tidak bergeming. Nah, karena mereka tidak bisa menerapkan mesin scan ini di Jepang, akhirnya mereka memberlakukan random check buat penumpang-penumpang yang akan berangkat menuju AS. Memang penulis dapat mengerti sistem keamanan sangat penting untuk mencegah aksi-aksi teroris di pesawat, tapi apakah mereka tidak bisa memikirkan cara yang lebih etis dan elegan, namun tetap efektif?

Anyway, ketika tiba di Hawaii, keluh kesah pun sedikit banyak menjadi sirna walaupun raga masih lelah karena jetlag dan kurang tidur di pesawat. Hawaii terdiri dari 8 pulau utama dan ratusan pulau-pulau kecil dan atoll. Kami mendarat di Honolulu yang terletak di Pulau Oahu yang luasnya kurang dari sepertiga luas Pulau Bali. Hari pertama, walaupun lelah penulis bersama beberapa teman berkeliling Waikiki Beach hingga ke Diamond Head. Agak sorenya penulis sendirian snorkeling di sebuah tepi arah tenggara Pulau Oahu, sebab tidak ada peserta lainnya yang membawa peralatan snorkeling kecuali penulis (wah ini ke Hawaii niatnya untuk menghadiri Research Forum apa snorkeling ya?  ;p he..he). Bisa dibilang hampir di berbagai sudut Pulau Oahu adalah tempat yang cukup layak untuk snorkeling, karena banyak sekali ikan yang berenang di sana-sini terutama di sela-sela terumbu karang. Ini pertama kalinya penulis melakukan snorkeling! Bayangkan saja, dari yang tidak tahu bagaimana cara memasang klep penyangga pipa snorkeling, tidak tahu bagaimana cara mengatur nafas, pada hari itu juga penulis sendirian, tidak ditemani siapapun, snorkeling di tepi Samudera Pasifik. Mulut pegal-pegal juga, tapi kecantikan ikan-ikan berstrip kuning, jingga maupun biru, juga ikan buntal dan ikan pipih, ikan yang mirip belut dan bawal, sedikit banyak mengobati kepegalan fisik.

Hari kedua diisi full mendengarkan presentasi riset orang lain, rasanya tidak perlu diceritakan disini. Hari ketiga, Tokyo Tech mengadakan tur keliling Pulau Oahu. Kami mampir sebentar di Dole Pineapple Plantation, Hawaii Univ. Undersea Research Lab, ranch (mirip area peternakan kuda dan ladang) buat makan siang, beberapa pantai seperti Sandy atau Sunset? Beach dan Hanauma Bay. Walaupun luas Pulau Oahu kurang dari sepertiga Bali, tapi di bagian tengah pulau, tampak gugus pegunungan yang menjulang cukup tinggi. Bila dipikir-pikir, memang menarik juga di tengah Samudera Pasifik bisa menjulang gunung-gunung tinggi yang akhirnya membentuk kepulauan Hawaii. Cuaca di Hawaii menurut penulis juga cukup aneh, sering gerimis kemudian berhenti, lalu gerimis lagi, berhenti, gerimis, kadang tiba-tiba hujan deras, dan seringkali di bagian gunung hujan deras namun di bagian pantai cerah (Anda bisa melihat hujan turun di pegunungan dari kejauhan). Penulis pun basah kuyup ketika tiba-tiba hujan deras selagi berada di ranch setelah makan siang.

Hari keempat penulis pakai lagi waktu kosong untuk snorkeling di sekitar Waikiki Beach, dan sorenya jalan kaki keliling Honolulu hingga dini hari, sekalian membeli beberapa suvenir. Di Honolulu, hampir dimana-mana Anda bisa menjumpai yang namanya ABC Shops (semacam Indomaret atau Alfamart gitu, tapi menjual juga banyak oleh-oleh khas Hawaii). Setelah berjalan hingga Ala Moana Boulevard, ternyata ada juga Wal-Mart (semacam Carrefour nya Amerika) dan 7-11 (convenience store yang populer di Jepang). Hari kelima diisi dengan presentasi riset dan juga group presentation, sorenya berenang di laut dan jari kaki berdarah akibat terinjak karang. Hari keenam pagi-pagi buta kami sudah bertolak ke bandara untuk kembali ke Tokyo.

Ada beberapa hal menarik sejauh pengamatan penulis selama berada di Honolulu (dan secara umum di Pulau Oahu). Dari segi alam, kombinasi bentang gunung dan laut Pulau Oahu sangatlah indah. Di bagian tengah pulau terdapat perkebunan nenas yang sangat luas dan juga bukit gunung hijau nan asri. Burung-burung yang hidup di pulau ini juga cukup khas, seperti burung jambul merah, bahkan burung gereja nya saja beda dengan burung gereja yang lazim ada di Indonesia maupun Jepang. Banyak juga pohon-pohon tua yang berakar rimbun nan angker. Dari segi laut, tidak perlu diceritakan lagi.. air laut yang jernih bening apabila dilihat dari ketinggian (seperti dari balkon hotel) akan terlihat biru kehijau-hijauan, dengan bayang-bayang gelap yang menandakan di bawah permukaan air tersebut ada koloni karang tempat para ikan bermain.

Dari aspek sosio-kultural, Hawaii adalah bagaikan mixing pot, yang penduduknya bercampur baur, yang cukup dominan adalah orang keturunan Filipino, Jepang, China, juga orang bule dan Polinesia. Menariknya, arsitektur rumah khas Polinesia (terutama bagian atap/genteng) mirip bangett dengan atap rumah khas Jawa. Makanan yang cukup lazim adalah burger dan sandwich yang porsinya porsi Amerika uy, namun juga cukup mahal berkisar 5-10 USD. Penulis sempat ingin juga mencoba surfing (berselancar) dan rental sepeda (masing-masing 20 USD dan 10 USD rental per hari) akan tetapi sayang tidak banyak waktu kosong.

Menyelusuri jalan utama sepanjang pantai (Kalakaua Avenue), kadang terlihat juga beberapa pengemis, ada yang memasang kertas karton bertuliskan, “Trying to go back to Mainland, please spare some coins”. Ada juga seorang veteran perang yang duduk di kursi roda, mencoba mengetuk hati pelalu lalang yang melintas. (Aneh juga, masa negara super-power macam AS ga bisa menyokong para veteran perangnya?). Ada juga seorang anak ingusan belasan tahun yang ngamen dengan plakat “Please support youth music”, padahal metik gitarnya juga asal-asalan. Ketika penulis membeli makanan di 7-11, tampak seorang bule yang keluar cuma membeli 1 buah cup-noodle, lalu duduk di trotoar dan menyantapnya ditemani oleh gerimis malam dan angin yang cukup kencang (menurut penulis, cup noodle termasuk opsi makanan paling murah di Hawaii, cuma seharga 1 USD). Agak mengherankan juga, padahal Honolulu adalah daerah wisata yang sepengetahuan penulis dikunjungi lebih dari 5 juta wisatawan per tahun. Ternyata distribusi kekayaan sepertinya agak timpang, dimana orang Asia kayanya lebih berhasil lolos dari jurang kemiskinan?? (soalnya empat sosok yang disebutkan di atas adalah orang bule). Kadang agak kasihan juga ketika penulis melihat seorang bule yang menjajakan rental sepeda “cuma bisa mengusir lalat” dengan karton bertuliskan “Please Rent Me” digantungkan di setumpuk sepeda yang dirantai di suatu sudut jalan.. Yach, memang begitulah hidup, ada pasang surut, kadang penuh ketidakberuntungan, sudah selayaknya kita saling berbagi, membantu, dan peduli kepada sesama..

Begitulah “sekilas” catatan perjalanan penulis di Hawaii. Masih ada banyak hal yang belum sempat dikerjakan seperti hiking di Diamond Head, snorkeling di Hanauma Bay yang luar biasa indah (daerah yang katanya paling banyak ikan se-Oahu), surfing di North Coast, mengunjungi Pearl Harbor, mencoba maze di Dole Plantation, dan tentunya menjelajah ke pulau-pulau lainnya di Hawaii selain Oahu, khususnya ke Hawaii Big Island, lokasi keberadaan gunung Mauna Kea (4205 m), gunung tertinggi se-Hawaii, gunung laut yang apabila ketinggiannya diukur dari dasar laut tingginya lebih dari 10 ribu meter (lebih tinggi dari Everest), juga Mauna Loa, gunung dengan volume terbesar (tergendut) di seluruh dunia (75 ribu km3) yang masih aktif menyemburkan lahar membara. Sekitar Mauna Loa ini juga katanya ada perkebunan kacang Macadamia yang kemudian diolah menjadi berbagai rasa dan sekarang menjadi salah satu oleh-oleh khas Hawaii.

Aloha Hawaii !!

(Catatan: Dalam bahasa Hawaii, “Aloha” bisa berarti “Selamat Pagi”, “Selamat Siang”, “Selamat Malam”, “Halo”, “Sampai Jumpa”, maupun “I Love You” – akan tetapi anehnya “Terima kasih” = “Mahalo”)

4 Responses to Aloha Hawaii !!

  1. myovaloffice says:

    “Yach, memang begitulah hidup, ada pasang surut, kadang penuh ketidakberuntungan, sudah selayaknya kita saling berbagi, membantu, dan peduli kepada sesama..” – Like this!!

    Sempat napak tilas jejak penyerangan Pearl Harbor & Riwayat Raja Kamehameha Wil?

  2. Gita Tjendana says:

    “Bayangkan saja, dari yang tidak tahu bagaimana cara memasang klep penyangga pipa snorkeling, tidak tahu bagaimana cara mengatur nafas, pada hari itu juga penulis sendirian, tidak ditemani siapapun, snorkeling di tepi Samudera Pasifik.

    Masih ada banyak hal yang belum sempat dikerjakan seperti … surfing di North Coast, … ”

    Jadi curiga, surfing juga belum bisa Will? :p

    Tapi keren banget Will, ditunggu cerita petualangan selanjutnya di Hawaii.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: