Melewatkan Waktu Sejenak di Istanbul, Kota Seribu Minaret

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Tepian Laut Marmara, kawasan sekitar hotel tempat penulis menginap.

 

Bila Anda masih mengingat pelajaran sejarah sewaktu di sekolah, mungkin kota bernama Bizantium ataupun Konstantinopel tidaklah terdengar asing di telinga Anda. Ya, kedua kota itu sebenarnya adalah kota yang sama, dan sekarang bernama Istanbul. Dengan lokasinya yang strategis, persis di tepi Selat Bosphorus yang memisahkan Benua Asia dan Eropa, tidak heran kota ini menjadi ajang perebutan kekuatan besar dunia kala itu. Istanbul, yang dulunya bernama Bizantium lalu menjadi Konstantinopel, pernah menjadi pusat Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Latin, dan Kekaisaran Ottoman (Kesultanan Utsmaniyah). Istanbul juga pernah menjadi lokasi beberapa pertempuran Perang Salib. Dengan sejarahnya yang panjang, tidak heran terdapat banyak sekali peninggalan sejarah dari berbagai kekaisaran masa lampau.

Tulisan kali ini tidak bertujuan untuk mengulas sejarah Istanbul panjang lebar yang tentunya bisa dibaca di Wikipedia. Tulisan kali ini lebih sebagai catatan perjalanan penulis selama beberapa hari berada di kota metropolitan terbesar di Turki (Türkiye) ini, yang luasnya hampir setara Jabotabek dengan penduduk hingga 13 juta jiwa.

Tujuan utama penulis ke Istanbul kali ini adalah untuk menghadiri konferensi energi yang disebut “The 10th International Conference on Sustainable Energy Technologies (SET 2011)” tanggal 4-7 September 2011. Perjalanan dari Tokyo menuju Istanbul memakan waktu sekitar 11 jam 30 menit, perjalanan panjang yang cukup melelahkan.. Untunglah imigrasi Turki tidak serese imigrasi Jepang maupun imigrasi Indonesia, cukup membayar 25 USD, mendapatkan visa on arrival (tanpa ditanyai ini itu), tidak ada pengambilan sidik jari maupun foto, dan tidak ada pemeriksaan bagasi/ karantina.

Yang kemudian menjadi kendala adalah lokasi hotel tempat penulis nginap sekaligus lokasi diadakannya conference ternyata letaknya cukup jauh dari pusat kota maupun bandara, butuh 1 jam lebih menggunakan bus. Saran dari panitia conference adalah naik taksi yang biayanya paling tidak 30 Euro. Wow, karena cukup mahal, akhirnya penulis memberanikan diri mencoba naik angkutan umum, dari bandara naik Metro (kereta) ke stasiun Yenibosna, kemudian naik bus umum sampai ke daerah Kumburgaz, total hanya 5.5 Lira (2 Lira + 3.5 Lira) (1 Lira sekitar Rp. 5000,-). Beruntung sekali penulis bertemu dengan penduduk lokal yang mau membantu menunjukkan bus yang mana yang menuju Kumburgaz, juga harus turun di pemberhentian yang mana (soalnya tidak semua halte bus ada tulisannya!), walaupun agak megap-megap ketika mereka menjawab pakai bahasa Turki.

Bus umum di Turki tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Untuk bus ke pinggiran kota, biasanya ada kenek yang akan menagih ongkos naik bus setelah kita naik dan duduk. Sejauh pengalaman penulis, mereka cukup jujur dan tidak menipu soal berapa ongkos yang harus dibayar, padahal melihat kita adalah turis. Akan tetapi, mirip dengan di Indonesia, tempat duduk bus yang sudah penuh, tetap aja diisi, akhirnya para penumpang banyak yang berdiri di dalam bus. Juga sesekali ada pedagang asongan yang berjualan air mineral ke dalam bus, meskipun untungnya tidak ada pengamen yang naik ke bus.

Seorang gadis belia yang sedang berenang di kolam renang air asin

Wow, lokasi tempat penulis menginap adalah Artemis Marin Princess Hotel, sudah tergolong hotel bintang lima di Istanbul. Ada 2 kolam renang outdoor dan 1 indoor, sayangnya semua kolam renang air asin; dan kamar yang penulis dapat bertipe Sea View menghadap ke arah Laut Marmara.

Hari pertama karena hanya dipakai untuk registrasi, waktu kosong tersebut penulis manfaatkan untuk berjalan-jalan ke pusat kota ke Taksim Square, lapangan peringatan revolusi Turki yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Atatürk. Dari Taksim Square, penulis berjalan kaki menyelusuri jalan setapak hingga Teluk Golden Horn (yang penulis salah sangka sebagai Selat Bosphorus) dan ketemu Yeni Camii (yang penulis salah kira sebagai Sultanahmet Camii aka. Masjid Biru). Mengalami disorientasi dan habis batere kamera di perjalanan hari pertama, penulis pun kembali ke hotel karena keesokan harinya mesti membawakan presentasi.

Hari berikutnya hampir seharian dipakai untuk mendengarkan presentasi riset-riset tentang energi. Sore hari penulis pakai untuk berenang di kolam renang, dan malamnya conference dinner (banquet di tepi laut, yang makanannya datang tiada habis-habisnya).

Makan jagung bakar di sekitar Masjid Sultanahmet.

Nah, hari selanjutnya mulainya penulis mengalami sakit tenggorokan. Masalah memang selalu datang silih berganti, setelah kecerobohan penulis kelupaan membawa colokan Turki (yang padahal sama seperti colokan Indonesia – soalnya colokan laptop pipih tipe Jepang), berhasil penulis akali dengan mendeformasi lempeng soket colokan yang penulis beli di Supermarket Migros. Walaupun merasa kurang sehat, setelah di pagi hari menyimak beberapa presentasi riset, tetap saja setengah harinya penulis gunakan untuk mengunjungi Masjid Sultanahmet aka. Masjid Biru (meskipun warna biru kubah masjid ini sudah mulai agak pudar ditelan waktu). Akan tetapi desain dan keindahan masjid ini sungguh masih mempesona. Masjid Sultanahmet ini adalah satu-satunya masjid di dunia yang memiliki enam minaret (menara). Dan menurut penulis, masjid-masjid (camii) di Turki memiliki desain yang khas, dengan kubah masjid yang berlapis-lapis (bertingkat majemuk) plus selalu ada minaret (menara masjid) biasanya satu atau dua minaret. Minaret ini mungkin juga sebagai penanda lokasi masjid karena ukurannya yang tinggi mencolok, jadi tetap gampang terlihat adanya masjid walaupun atap kubah masjid mungkin sudah terhalang oleh bangunan-bangunan lainnya. Dan bisa juga jumlah minaret juga mengindikasikan seberapa besar ukuran masjid (camii) tersebut, semakin banyak minaret maka semakin besar masjid tersebut (mirip seperti perbandingan hotel bintang lima dengan bintang satu – seloroh rekan penulis).

Sebuah toko keramik di kompleks Grand Bazaar, Istanbul

Hari berikutnya sakit tenggorokan semakin parah, ditambah batuk pilek. Akan tetapi karena sudah kepalang tanggung berada di Istanbul, maka bersama seorang rekan (yang juga dari Indonesia), kami pun melanjutkan penjelajahan, kali ini ke Grand Bazaar, yang menjual berbagai macam barang, mulai dari karpet, keramik, perlengkapan untuk sholat/ sajadah, pernak-pernik, makanan, berbagai suvenir, dlsb. Gilee saja ketika rekan penulis masuk ke sebuah toko mencari alas sajadah, ditawari satu yang harganya 280 USD (katanya itu ditenun tangan, bukan mesin.. jadinya mahal). Justru banyak toko-toko di pinggir jalan di luar Grand Bazaar yang menjual barang yang sama dengan harga yang lebih murah, jadi Anda memang harus jeli dan jago tawar-menawar ketika main di sekitaran Grand Bazaar ini. Dari Grand Bazaar, kami pun melanjutkan perjalanan ke Aya Sofya (Hagia Sophia), yang dulunya adalah sebuah gereja, kemudian menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum. Tiket masuk ke Aya Sofya cukup mahal buat turis asing, seharga 20 Lira, untuk penduduk Turki bisa jauh lebih murah.

Penulis di dalam Aya Sofya (perhatikan lukisan dinding khas gereja Basilica bertandem dengan kaligrafi Arab)

Dari Aya Sofya, kami pun menuju ke Topkapi Palace, istana para sultan selama zaman Kesultanan Ottoman. Wow, di gerbang masuk istana ini saja sudah dijaga oleh tentara bersenjata, karena istana ini juga menyimpan peninggalan Islam yang paling berharga yaitu jubah dan pedang yang pernah digunakan oleh Nabi Muhammad. Topkapi Palace ini juga sangat luas dan memiliki taman yang begitu indah dan asri. Di dalam istana tersebut juga ada bagian yang disebut Harem, daerah terlarang/ pribadi – biasanya tempat tinggal anggota keluarga perempuan dari sang sultan. Kalau dipikir-pikir, sungguh beruntung sekali hidup para sultan era Ottoman ini (mirip seperti kemewahan para kaisar di Cina), bisa bersenang-senang dengan istri-istri, selir-selir, para pembantu wanita dan dayang-dayang… melebihi kemewahan yang bisa dimiliki bahkan oleh Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia saat ini). Berbicara soal wanita, cewe-cewe Turki memiliki kecantikan yang khas dan eksotik, dengan hidung yang mancung, sempit dan tajam; mata yang lebar dan alis yang hitam lentik, percampuran antara genetik Asia dan Eropa. Berbicara tentang beruntungnya para sultan Ottoman, tidak hanya wanita dari Turki, karena Kesultanan Ottoman memiliki wilayah taklukan yang sangat luas, banyak sekali wanita cantik pilihan yang dipersembahkan oleh gubernur wilayah kepada sultan untuk mempererat hubungan, seperti gadis-gadis Caucasians, Georgians, and Abkhazians yang terkenal akan kecantikannya.

Masjid Ortaköy (sedang direnovasi) dengan latar Jembatan Bosphorus (penghubung Benua Eropa – Asia)

Karena waktu yang mepet, kami hanya mampir sejenak di Istana Topkapi. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Selat Bosphorus, yang katanya ada sebuah masjid di tepi laut yang begitu indah (Ortaköy Camii). Sayangnya Masjid Ortaköy ini sedang dipugar ketika kami tiba di sana.

Senja berakhir dan malam pun tiba. Lagi-lagi malam ini menyantap kebab, setelah siangnya lunch kebab. Apa boleh buat, walaupun tenggorokan sedang sakit, makan kebab jalan terus (efeknya baru kerasa ketika berada di pesawat pulang ke Tokyo).

Pak Abdul Waris dengan 2 porsi kebab jumbo.  ;P

Perjalanan naik bus umum ke Selat Bosphorus (yang memisahkan Benua Asia dan Eropa) luar biasa macet. Kalau dipikir wajar juga, populasi Istanbul saja sudah 13 juta, ditambah lagi turis yang hampir mencapai 7 juta jiwa per tahun. Dengan populasi sebesar itu, angka kriminalitas di Istanbul dapat dikatakan cukup rendah, mungkin karena penduduk Turki sadar pentingnya industri pariwisata yang menyumbangkan sekitar 20 Milyar USD (dari sekitar 30 juta wisatawan mancanegara) setiap tahunnya. Walaupun harus diakui di beberapa tempat masih sering terlihat adanya pemulung, pengemis, dan pengamen jalanan (meskipun tidak sebanyak di Indonesia), tapi kondisi sosial seperti ini juga cukup jamak sekalipun di negara maju. Dan menurut penulis, rakyat Turki cukup beruntung saat ini memiliki sistem pemerintahan yang demokratis, dan memiliki cukup kebebasan politik dan sosio-kultular.

Sebenarnya masih ada banyak objek yang belum sempat penulis kunjungi di Istanbul ini, seperti Masjid Süleymaniye, Basilica Cistern (terowongan peninggalan Romawi), Spice Bazaar, Istana Atatürk, Galata Tower, juga belum sempat menyeberang Jembatan Bosphorus menuju ke Istanbul bagian Benua Asia.

Istanbul, kota seribu minaret yang mengesankan..

3 Responses to Melewatkan Waktu Sejenak di Istanbul, Kota Seribu Minaret

  1. hansen says:

    memang kelihatannya kebab adalah makanan pokok disana ko
    ahahhaa

  2. hanciong says:

    eh ada pak abdul waris, akakakaka. hhmm, pengen mampir ke aya sofia nih

  3. parkit says:

    hmmm… knapa ciri khas cowo2 Istambul ga dibahas di tulisan ini ya!!! wkwkwkwkw ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: