Petualangan di Negerinya Harry Potter

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Westminster Palace (markas Parlemen Inggris), tempat penulis “berkeliaran” selama seminggu. Sebelah kanan adalah Big Ben Clock Tower.

 

Setelah melewati seleksi dokumen, interview, aplikasi visa, aplikasi security pass, tidak disangka akhirnya penulis keterima untuk melakukan internship di Parlemen Inggris. Parlemen Inggris dijuluki sebagai “The Mother of Parliamentary System” disebabkan Parlemen Inggris menjadi rujukan/ model bagi pembentukan sistem parlementer di berbagai belahan dunia. Tujuan internship penulis kali ini lebih berfokus pada aspek bagaimana Parlemen Inggris menangani isu-isu sosial yang terkait dengan aspek Sains dan Teknologi, yaitu adanya divisi khusus yang disebut UK (United Kingdom) Parliamentary Office of Science and Technology (POST). Internship di UK POST ini berlangsung dari tanggal 4-14 Feb 2011.

Menjelang tengah hari, tanggal 3 Feb 2011 (tepat hari raya Imlek di Indonesia), penulis pun berangkat untuk pertama kalinya ke Benua Eropa. Perjalanan panjang pesawat selama sekitar 12 jam ini melewati pegunungan Alps dan Laut Jepang, bentang alam padang salju Siberia nan luas, Samudera Arktik, hingga gugus pegunungan Skandinavia dan Laut Utara. Rute utara ini adalah rute favorit penerbangan karena jarak tempuh yang lebih pendek (hemat bahan bakar). Tidak sia-sia penulis sengaja membooking tempat duduk dekat jendela di sebelah kanan badan pesawat (menghadap ke utara), ketika menjelang senja, terlihat semburat warna-warni lembayung yang begitu indah di antara batas cakrawala Kutub Utara. Selama perjalanan ini, penulis juga pertama kalinya mengalami waktu yang berputar mundur, dari senja/ sore menjadi siang, akibat laju pesawat yang melebihi kecepatan rotasi bumi. Setelah pegal duduk berjam-jam, akhirnya tiba juga di negerinya Harry Potter.

Dilihat dari udara, kontur daratan Inggris tampak cukup datar. Beruntunglah cuaca cukup cerah sehingga petak-petak tanah yang sebagian hijau (ditanami rumput) dan sebagian coklat terlihat jelas. Dari pembagian petak-petak tanah saja (yang batas antara petak tanah satu dengan lainnya ditandai dengan begitu jelas), sudah terlihat bagaimana karakter orang Inggris yang detil dan sistematik. Setelah mendarat di Bandara Heathrow, penulis pun naik Tube (jaringan subway/MRT) menuju ke pusat London, memakan waktu sekitar 1 jam. Jaringan subway/MRT London adalah yang pertama (tertua) di dunia, saking tuanya, banyak sekali stasiun Tube yang tidak memiliki fasilitas lift/ eskalator (benar-benar lelah harus mengangkat koper yang berat menaiki tangga).

London Eye (menjelang malam)

Hotel yang penulis tempati selama semingguan di London terletak di kawasan Victoria (pusat London), meskipun cuma bintang 3 (Hesperia London Victoria dan Park Plaza), tapi 1 kamar twin per malam tarifnya Rp. 2 juta lebih! (termasuk breakfast buffet). Beruntunglah semuanya dibayarin oleh Tokyo Tech (termasuk juga tiket pesawat dan uang saku harian). Menyelusuri London, akan terlihat bangunan-bangunan dengan arsitektur Gothic dan Victorian style yang menawan dan indah (mencakup Palace of Westminster – markas Parlemen Inggris). Museum-museum terkenal di London juga hampir semuanya tiket masuk gratis (misalkan British Museum dan National Gallery). Selain arsitektur bangunan dan museum gratis, hal menarik lainnya dari London adalah banyaknya koran gratis dan juga harga susu yang murah (45 pence untuk 568 ml). Malah ternyata orang Inggris gemar mencampurkan susu ke dalam teh yang mereka minum, sehingga tidak heran biasanya tersedia susu gratis di cafe/ restoran.

Untuk London sendiri, di jalanan, tidak jarang dijumpai penduduk non-bule, terutama etnis dari Asia Selatan (India/ Pakistan/ Banglades), Cina, Timur Tengah, dan Afrika (yang total mencapai sekitar 30% populasi London). Walaupun memiliki banyak peninggalan bangunan berarsitektur indah, sangat disayangkan, jalanan di London agak kotor dan kumuh (dibandingkan Tokyo) (meskipun masih sedikit lebih “bersih” dibandingkan Jakarta). Tidak jarang di sudut jalanan dapat ditemui pengemis dan pengamen, juga gelandangan. Penulis juga melihat ada banyak penjual majalah “The Big Issue” di jalanan, dengan kartu nama yang digantungkan di leher bertuliskan “We are working, not begging”. Ternyata, ada upaya untuk mengurangi jumlah pengemis dengan mendorong mereka berjualan majalah. Untuk pertama kalinya juga, penulis melihat bule jualan sayur di pinggir jalan, ada juga yang jualan digantung di sepeda. Sepertinya, himpitan ekonomi telah semakin memarjinalisasikan mereka yang kurang beruntung dan tidak sanggup berpacu dengan perubahan. Angka pengangguran pun semakin tinggi. Sungguh ironis, apabila melakukan kilas balik Inggris 100 tahun yang lalu. Pada puncak kejayaannya, Inggris adalah imperium (kekaisaran) terluas di dunia, dengan luas daratan 33.1 juta km2 (hampir seperempat total permukaan daratan dunia) (sedikit lebih luas dibandingkan Kekaisaran Mongol). Luas Kekaisaran Inggris ini membentang hingga ke Benua Afrika, Asia, Amerika, Australia, dan bahkan Antartika, sehingga mendapat julukan “The Sun never sets on the British Empire” (“Matahari tidak pernah terbenam di Kekaisaran Inggris”). Dengan koloni (jajahan) yang sedemikian luas, tidak heran, bahasa Inggris menjadi bahasa dunia.

Kembali ke kisah perjalanan penulis di Inggris, pada weekdays (Senin-Jumat) penulis masuk kantor di UK POST (sepertinya tidak perlu diceritakan detil rutinitas di tulisan ini). Beberapa aktivitas yang menarik antara lain: bertemu dengan anggota parlemen dari Kosta Rika (sebuah negara di Amerika Tengah), acara party British Heart Foundation, serta seminar/ diskusi mengenai masalah pangan dunia, shale gas, dan renewable energy. Harus penulis akui bahwa Parlemen Inggris memang sangat aktif dan dinamis, banyak pertemuan ilmiah yang membahas berbagai masalah penting, mengundang berbagai pakar dari bidang yang dibahas (semoga DPR Indonesia bisa seperti ini kelak – bekerja sungguh-sungguh demi rakyat).

Imperial College London

Sedangkan pada saat weekend (akhir pekan), pada weekend hari pertama, penulis mengunjungi British Museum, Tower Bridge, kemudian menaiki kapal menyusuri Sungai Thames yang kesohor itu (yang sering diangkat dalam tulisan-tulisan Charles Dickens dan Conan Doyle) menuju Greenwich. Greenwich terletak di pinggiran kota London (sebelah tenggara) dan menjadi acuan pembagian garis bujur (pembagian waktu) GMT (Greenwich Meridien Time) seluruh dunia. Hari berikutnya, penulis mengunjungi National Gallery, kemudian berkeliling ke daerah sekitar Trafalgar Square, Piccadilly Circus, Chinatown London, lalu ke St. Paul’s Cathedral. Ternyata setengah hari tidaklah cukup untuk melihat semua koleksi di British Museum (yang memiliki koleksi 7 juta objek, termasuk Rosetta Stone dari Mesir kuno yang terkenal itu), ataupun National Gallery yang memiliki lebih dari 2300 lukisan dari abad ke-13 hingga abad ke-19. Saat-saat luang ketika weekdays, tentunya tidak penulis lewatkan berkunjung ke Science Museum, Imperial College London, dan Buckingham Palace (kediaman Ratu Inggris), juga berkeliling kota London menggunakan bus double-decker (dua tingkat) yang unik. Bersama seorang teman dari Iran, penulis juga menyelusuri Edgware Road, pusat komunitas penduduk London keturunan Arab, yang di toko-tokonya banyak menjual Baklava (kue khas Timteng), dan bahkan menjual Indomie.

Cambridge University

 

Oxford University

Weekend berikutnya, hari pertama penulis berangkat ke Cambridge untuk bertemu dengan seorang teman (S2 di Tokyo Tech, saat ini S3 di Cambridge University). Cambridge University banyak menelurkan ilmuan-ilmuan terkenal seperti Isaac Newton, Charles Darwin, maupun Stephen Hawking. Di Cambridge, akhirnya penulis bisa mencicipi Fish and Chips (makanan tradisional khas Inggris) yang lumayan enak, setelah sempat mencicipi Fish ‘n Chips di pinggiran jalan di London yang rasanya hambar.

Fish ‘n Chips yang penulis santap di Cambridge

Hari berikutnya, penulis berangkat ke Oxford, untuk mengunjungi Oxford University, universitas tertua di Inggris dan juga salah satu universitas tertua di dunia. Sepanjang perjalanan menuju Oxfordshire, tampak hamparan hijau rerumputan, dengan sesekali terlihat rumah khas pedesaan Inggris dan ternak yang sedang merumput. Bentang alam pedesaan di Inggris memang memiliki pesona yang khas, tidak heran kalau sosok hebat seperti Bill Clinton maupun JK Rowling pun ikut terinspirasi. Cuaca mendung dan gerimis seharian di Oxford memang agak menyulitkan, tetapi tidak menyurutkan niat penulis untuk menjelajahi kota kecil ini. Yang cukup menarik perhatian penulis adalah Oxford University Museum of Natural History (yang memiliki koleksi batu-batuan berumur jutaan tahun dan boleh disentuh!) serta Pitt Rivers Museum (museum arkeologi yang mengarsip artefak/ budaya manusia dari berbagai negara). Di sebuah ruas jalan kecil, penulis juga menemukan toko buku diskon, dan membeli 2 buah buku baru yang cukup tebal yang satu buku cuma seharga 0.99 pound – padahal tertulis “printed in Great Britain”). Lelah kedinginan menelusuri jejalanan dan terhempas gerimis seharian, akhirnya penulis berhenti di sebuah restoran Malaysia bernama “Makan La”, dan memesan nasi goreng seafood (setelah beberapa hari tidak makan nasi – cuma makan lauk, kentang, atau roti). Satu porsi kecil nasi goreng seharga 7 pound (sekitar Rp.100 ribu), ya gpp lah.. sembari mengobati kerinduan terhadap nasi, paling tidak ga ada biaya siluman seperti yang penulis alami ketika makan sepotong pizza (yang ditulis harganya 12 pound, tetapi ditagih 20 pound) di sebuah restoran Italia di kawasan Chinatown London.

Selasa siang, 15 Feb 2011, penulis berangkat dari Bandara Heathrow kembali menuju ke Jepang, tiba di Bandara Narita pagi hari, 16 Feb 2011.

Gadis cilik di Trafalgar Square, London

 

15 Responses to Petualangan di Negerinya Harry Potter

  1. Gunawan says:

    wuiihhh… kerennnn….. sayang ga ke Emirates Stadium yah… kapan2 klo mo ke UK boleh minta saran dari loe yah… hehehe…

    • willyyanto says:

      kandangnya Arsenal ya? 😀
      iya nih tadinya planning mo ke stadium Emirates nonton bola atau ke Wimbledon nonton tenis, sayang euy harus masuk “kerja” di Parlemen Inggris ;p

      sip deh, apa sih yg ngak buat Bang Gun, he..he..

  2. Nenz says:

    Wuiih…senangnnya bisa kesana…tulisannya bisa jadi inspirasi tempat yg kudu dikunjungi kalo kesana..Laik this lah!!!

    • willyyanto says:

      Thanks Nenz 😉
      iya tuh, kayanya London bagus deh sebagai tempat nyari2 ide buat desain dan arsitektur. 🙂

  3. Cristina says:

    That was cool! A really great experience. ^_^

  4. Parkit says:

    Hihihi… Speechless… Tralu bnyk tempat menarik, g jadi lupa yg mana aja. Haha… Wah u pintar Geografi juga ya. Haha…

  5. Usen says:

    yaaahhh, koq gadis cilik sih yang difoto. *penonton kecewa*😦

  6. Usen says:

    tapi itu hanya kekecewaan kecil. all in all, tulisan ini luar biasa!!! hebat kamu Will!!!🙂

  7. fafa says:

    Whaa.. keren mas willy!

  8. woro diah kandi says:

    keren euy kota London.Jdi pengen k sana…
    wil…kpn k indonesia yah lebih tepatnya ke kota Serang…

  9. Sikunir says:

    Cambridge University jadi impian ku nih semoga bisa singgah foto sebentar walaupun nggak bisa kuliah disitu hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: