Keberuntungan atau Ketidakberuntungan?

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Ada sebuah kisah zaman dulu di Cina. Seorang petani tua memiliki seekor kuda jantan yang berkualitas. Kuda ini dikagumi banyak orang dan sering memenangkan perlombaan balapan. Suatu hari, tidak dinyana, kuda petani ini kabur dari kandangnya. Para tetangga petani ini bergumam, “Ah alangkah sialnya dia, satu-satunya kuda terbaik di daerah ini hilang.” “Ya, padahal sudah susah-susah dipelihara dan dirawat, sungguh tidak beruntung!”

Si petani kalem saja mengalami kejadian ini. “Apakah suatu kesialan?” “Apakah suatu ketidakberuntungan?”

Tiba-tiba, beberapa hari kemudian, kuda jantan si petani pulang ke rumah dan membawa seekor kuda betina. Para tetangga yang melihat kejadian ini spontan berseru, “Sungguh beruntung! Tidak hanya mendapatkan kembali kuda kesayangan, dapat bonus pula seekor kuda betina! Sungguh kaburnya si kuda jantan memang adalah berkah dan keberuntungan!”

Si petani hanya kalem saja mendapatkan tambahan satu ekor kuda ini. “Apakah suatu berkah?” “Apakah suatu keberuntungan?”

Tidak berapa lama, kuda betina yang liar ini menendang putra si petani hingga patah tulang dan lumpuh. Para tetangga yang mendengar kejadian ini berujar, “Sungguh pembawa sial si kuda betina!” “Ya, seandainya saja kuda jantan tidak membawa pulang kuda betina.. memang nasib dia sungguh tidak beruntung!”

Si petani tetap kalem mengalami peristiwa ini. “Apakah suatu kesialan?” “Apakah suatu ketidakberuntungan?”

Beberapa lama kemudian, pasukan Mongol menyerang perbatasan Cina, dan banyak pemuda desa yang direkrut untuk menjadi tentara dan berperang. Akan tetapi, anak si petani ini tidak direkrut karena lumpuh. Para tetangga yang anak-anaknya direkrut untuk berperang mendesah dan sebagian lagi meratap, “Oh, apakah kami masih bisa melihat putra kami kelak? Mungkin saja ini adalah kali terakhir bersama putra kami.. Tidak!! Sungguh beruntung dia, putranya tidak perlu pergi berperang karena cacat.”

Si petani kalem saja mendengar hal ini. “Apakah suatu keberuntungan?” “Apakah suatu ketidakberuntungan?”

 

————————————————————————————————

 

Demikianlah dalam hidup ini, sesuatu yang sepertinya musibah, kesialan, dan ketidakberuntungan bisa saja menyimpan berkah tersembunyi, suatu keberuntungan. Sebaliknya, sesuatu yang sepertinya penuh keberuntungan mungkin saja menyimpan benih-benih petaka dan ketidakberuntungan.

Saya mengalami peristiwa dan kejadian-kejadian yang lebih kurang agak mirip, antara keberuntungan dan ketidakberuntungan. Dari kejadian-kejadian ini, saya belajar untuk lebih waspada, “sadar”, dan hati-hati di kala momen-momen keberuntungan; belajar untuk tegar, “sadar”, dan pantang menyerah di kala momen-momen ketidakberuntungan.

 

Liburan musim panas adalah kesempatan untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga setelah letih dan jenuh dengan kegiatan riset yang saya kerjakan di Jepang. Tiket pesawat pp Jepang-Indonesia tidaklah murah, biasanya sekitar Rp.6-7 juta. Akan tetapi, saya beruntung mendapatkan info tiket pesawat murah pp yang hanya sekitar 3 juta-an, meskipun harus transit di Taiwan.

Pengalaman menariknya adalah ketika saya hendak kembali ke Jepang sesudah menghabiskan liburan hampir 1 bulan di Indonesia. Biasanya transit untuk ganti pesawat hanya perlu menunggu beberapa jam, akan tetapi tiket yang saya beli adalah tiket “overnight transit”, artinya ketika tiba di Taiwan, hari sudah malam, sedangkan pesawat yang berangkat ke Jepang adalah esok siangnya, sehingga saya mesti menginap satu malam di Taiwan.

Karena saya bisa menggunakan visa Jepang untuk masuk ke Taiwan selama 30 hari, asalkan mendaftar online sebelumnya, saya pun bermaksud keluar dari bandara Taoyuan untuk sekalian jalan-jalan keliling kota Taipei esok paginya. Akan tetapi, sialnya karena sistem visa dan entry permit dari Jepang yang agak berbeda dari Taiwan, saya tertahan di bagian imigrasi. Mereka mengira visa saya telah kadaluarsa. Apalagi ketika saya ditanya akan menginap di mana, saya agak gelagapan menjawabnya (sebab saya sendiri tidak tahu akan menginap di mana). “Eeerl.. Taoyuan,” jawab saya. “Taoyuan Hotel?” petugas tersebut bertanya untuk memastikan. “Umm..” saya mengangguk. “Visa anda sudah expired.” “Tidak,” saya berusaha menjelaskan. Akhirnya setelah berdebat alot hingga hampir setengah jam dan menemui kepala bagian imigrasi, saya mendengarkan percakapan mereka dalam bahasa Mandarin sedikit bercampur bahasa Hokkian, “Sepertinya tidak masalah membiarkan dia masuk. Untuk bisa mendapatkan visa Jepang kan sulit sekali.” Fiuhh, akhirnya saya lolos juga dan diizinkan masuk ke Taiwan.

Keberuntungan mendapatkan tiket murah ternyata harus dikompensasi dengan perdebatan alot mengenai visa. Tapi tidak apalah, ini adalah pengalaman yang menarik bagi saya. Karena sudah hampir larut malam, saya pun memutuskan beristirahat dan tidur di sofa ruang tunggu kedatangan bandara Taoyuan. Lagi-lagi ini harga yang mesti saya bayar untuk tiket murah: tidur di sofa airport. Pertama kali tidur di tempat umum seperti ini memang membuat saya agak was-was, akan tetapi syukurlah tidak terjadi apa-apa, ternyata Taiwan relatif masih lebih aman dibanding Indonesia. Tidur bermalam di sofa bandara Taoyuan membuat saya menjadi tahu tentang hal remeh temeh seperti lokasi colokan listrik “rahasia”, sistem telepon, sistem money changer, peta Taipei, penitipan bagasi, dsb. Ternyata tidak hanya saya, di beberapa sofa yang lain juga tampak orang-orang yang sedang asyik terlelap dalam buaian mimpi.

Selain penulis, ternyata banyak juga penumpang lain yang menginap di sofa bandara Taoyuan.

 

Pagi sekali, subuh, ketika sang mentari masih malu-malu mengintip, saya telah naik ke bus kloter pertama dari bandara, melesat menuju stasiun pusat MRT (kereta bawah tanah) Taipei.

Bak orang bego yang mengalami “buta huruf fungsional” akibat tidak bisa membaca huruf-huruf Mandarin, saya pun menjelajahi Taipei sepanjang pagi sendirian, naik MRT hingga ke bagian paling utara Taipei di Danshui, juga ke Taipei 101. Bermodalkan penguasaan bahasa Mandarin saya yang pas-pasan (mungkin hanya sekitar 5%), itu benar-benar perjalanan yang berat, terutama ketika hendak mencari makanan dan tidak mengerti arti tulisan-tulisan di daftar menu. Dengan bahasa Tarzan dan instink, akhirnya saya bisa survive berkelana, meskipun merasa agak kesepian karena berpetualang sendiri, juga sulit memotret diri sendiri karena tidak membawa tripod.

Menjelajah sana sini hingga pukul 12.00 siang, saya berpikir sudah saatnya saya balik ke Taipei Main Station agar naik bus balik ke airport untuk mengejar pesawat yang akan berangkat pukul 14.50 ke Narita, Tokyo. Astaga! Sialnya, saya baru tersadar bahwa lokasi kedatangan bus dari Taoyuan Airport dan lokasi keberangkatan bus menuju Taoyuan Airport tidaklah sama! Setengah panik dan dengan bermodalkan bahasa Mandarin yang terbata-bata, saya bertanya kesana-sini, sementara waktu terus bergulir. Ternyata lokasi keberangkatan bus terletak di sisi yang agak jauh dari stasiun MRT dan saya pun bergegas membeli tiket dan naik ke bus, berharap masih keburu mengejar si pesawat.

Perjalanan dari stasiun MRT ke airport memakan waktu sekitar 1 jam. Tiba di airport sudah sekitar pukul 14.20, masih harus mengambil bagasi saya yang dititipkan ke jasa penitipan, juga masih harus check-in boarding pass, dan berjalan ke lobi tunggu keberangkatan. Ketika saya check-in, mungkin sudah sekitar pukul 14.30, dan ternyata (sepertinya) mereka telah menjual kursi kelas ekonomi saya ke penumpang lain!! Mungkin mereka mengira jam segitu masih belum check-in, kayanya saya sudah membatalkan keberangkatan saya. Saya menyerahkan print-out tiket kelas ekonomi saya, dan mereka memberikan saya boarding pass kelas bisnis, VIP first class. Wow! Sungguh tidak bisa dipercaya. Tanpa banyak cin-cong, saya pun bergegas menuju lobi tunggu keberangkatan untuk boarding ke pesawat.

Sesuatu yang nyaris celaka ketinggal pesawat, kesialan yang nyaris terjadi akibat kebingungan mencari bus ke bandara, eh malah membuahkan keberuntungan: mendapatkan kursi VIP first class. Tidak pernah saya bermimpi mendapatkan first class. Kursinya lebar dan empuk, tersedia video dan audio entertainment yang berisi film-film terbaru yang bisa kita pilih sekehendak hati, dan sajian menu makanannya yang wah, yang bisa kita pilih sesuka hati juga. Perutpun luar biasa kenyang setelah menikmati satu set sajian khususnya. Akan tetapi, entah kenapa saya malah merasa lebih doyan di kelas ekonomi. Memang di kelas bisnis ini pelayanannya luar biasa ekslusif. Akan tetapi, di kelas bisnis ini cuma ada beberapa orang (kurang dari 10 penumpang) yang rata-rata merupakan pengusaha mapan yang sudah berumur, kecuali 1 orang penumpang gelap yang kesasar, yaitu diri saya sendiri. Rasanya agak sepi, terlebih saya sudah seharian berkeliling Taipei sendirian, sambil hanya bisa iri ketika melihat pasangan muda-mudi yang bergandengan tangan dan foto-foto di pelataran Taipei 101, dan sekarang pikiran saya pun melayang-layang entah kemana meskipun duduk di kursi yang empuk. Memang gelora batin manusia itu sulit dijelaskan.

First-priority business class Eva Air yang penulis dapatkan “secara tidak sengaja”.

 

Anyway, setelah mendarat di Narita, Tokyo, saya pun mencoba berjalan penuh wibawa meninggalkan kepala pesawat. Penumpang kelas bisnis memang selalu diprioritaskan untuk naik duluan dan juga turun duluan dari pesawat. Menjadi penumpang pertama yang turun, saya pun dengan bangga menuju tempat klaim bagasi, dan bermaksud untuk secepatnya pulang dan tidur. Bagasi saya pun ternyata keluar sebagai urutan pertama yang diturunkan dari pesawat, setelah mengambilnya, saya pun segera berjalan menuju gerbang imigrasi. Apa dinyana, karena cuma saya seorang diri yang melewati pemeriksaan imigrasi (tidak ada penumpang lain di belakang saya), petugas imigrasi tersebut pun menyuruh saya membuka bagasi saya untuk diperiksa. Sial! Mungkin karena dia berpikir dia punya banyak waktu senggang untuk memeriksa karena tidak ada penumpang lain yang antri di belakang saya. Lagipula sepertinya petugas imigrasi tersebut adalah karyawan baru dan masih muda, mungkin dia ingin memamerkan dan menunjukkan kesungguhan dia bekerja. Ugh! Saya sudah deg-degan apakah emping, kerupuk, dan beberapa produk makanan yang saya bawa bisa lolos atau tidak, sebab di kartu deklarasi saya menuliskan tidak ada produk-produk yang mengandung hewan/ tumbuhan (padahal pakaian yang kita kenakan juga sebenarnya produk dari tumbuhan bukan? – ada-ada saja). Apakah ini indikasi perubahan dari keberuntungan (kursi VIP pesawat) menjadi ketidakberuntungan (denda imigrasi)? Fiuh, syukurlah saya diloloskan juga akhirnya, tanpa dikenakan denda maupun sanksi lainnya.

Keberuntungan mendapatkan tiket murah menjadi ketidakberuntungan perdebatan alot dengan petugas imigrasi Taoyuan dan tidur di sofa bandara. Ketidakberuntungan mesti bermalam di bandara ini kemudian menjadi keberuntungan dan kesempatan berkeliling Taipei. Keberuntungan berkeliling Taipei hampir saja menjadi kesialan dan musibah ketinggalan pesawat. Musibah panik dan nyaris ketinggalan pesawat malah akhirnya membuahkan keberuntungan mendapatkan kursi VIP. Keberuntungan mendapat kursi VIP dan turun pertama dari pesawat nyaris saja berubah menjadi ketidakberuntungan tertahan/ potensi terkena denda akibat bagasi diobok-obok di imigrasi Narita.

Fiiuuuhhh!! Memang kadang keberuntungan dan ketidakberuntungan hanya dibatasi sekat tipis, sehingga kita perlu selalu mawas diri, waspada, dan melatih kesadaran (mindfulness).

“Apakah suatu keberuntungan?” “Apakah suatu ketidakberuntungan?”

 

    (artikel ini dimuat di Majalah Sinar Dharma edisi Waisak 2010)

14 Responses to Keberuntungan atau Ketidakberuntungan?

  1. Parkit says:

    Haha… Rasanya cerita ini sudah lama sekali ya! Waktu cepat sekali berjalan… Yg paling oke dan seru dari crita pengalaman u adlh jalan seorang diri keliling Taipei…AMAZING…

    • willyyanto says:

      hmm yupz ga kerasa wkt berlalu lumayan cepat..
      ini pengalaman musim panas tahun lalu (2009)

  2. myovaloffice says:

    Wah seru! Kapan ya bisa mengalami kejadian serupa… Setelah sport jantung terus drastically dapat first class.
    Thanks for sharing

    • willyyanto says:

      iya tin, ga sia-sia gw sport jantung, dan untung ga di-reject ma petugas check-in nya karena uda mepet bangett pesawat dah mo brgkt.

      bisa aja tin, u nae penerbangan yg padat, waktu high season, terus u telat check-in (20 menit sblm pesawat brgkt), peluang dapat business class makin gede, he..he..
      (tapi resiko ga ditanggung lho kalo ditolak ma petugas check-in =p)

  3. felicia says:

    wuihh…pengalaman yg unik will..
    sendirian jalan2 di teipei dgn berbekal bhs mandarin yg pas2an..hebat euy..:)

    • willyyanto says:

      he..he.. thanks fel =)

      iya nih, sayangnya sendirian.. kalo ada yg nemenin kan lebih asyik 😉

  4. veekumaro says:

    tulisan yang bagus ko..
    memang pada dasarnya kita tidak tahu, yang terjadi pada diri kita itu baik atau buruk utk masa depan kita…future is too uncertain..hehe.
    dan kita seharusnya memiliki don’t know mind.. sperti yang Ajahn Brahm katakan..Good, bad, Who knows?
    Andi Setiawan

  5. Gunawan says:

    hahaha, ternyata kisah China kuno sudah digantikan dengan sangat baik oleh pengalaman Bung Willy… :))

  6. Meilinda Xu says:

    haha,,, ini pengalaman tak terlupakan kyknya😀 agak mirip ma ceramah Ajahn Brahm yg “good, bad, who knows?” nih ko ^^

    nekat juga ko2 keliling sendirian dgn modal berbahasa mandarin yg pas2an😀 salute! ^^ berarti nyampur2 jg dong bahasa yg dipakai ko2 antara mandarin ma hokien, soalnya org Taiwan umumnya juga berbahasa Hokkien bukan? (biarpun hokiennya agak berbeda dgn hokien kita :)) hehe ^^ hebat…😀

    • willyyanto says:

      ha..ha, ya kadang terpaksa ngeluarin jurus pamungkas bhs hokkian meskipun ga selalu berhasil.. ;p
      orang Taiwan yg tinggal di Taipei banyak yg udah ga bisa bhs hokkian euy, he..he

  7. Achmad says:

    Indah sekali pengalamannya mas will.
    Memang di hidup itu banyak sekali hal2 menakjubkan seperti ini ya.

    terimakasih atas inspirasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: