TKI, Oh Nasibmu…

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

“Selamat Datang, Pahlawan Devisa”, demikianlah bunyi sebuah iklan jasa pengiriman uang yang terpampang di pelataran terminal kedatangan bandara Cengkareng. Saya yang sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia dari Jepang (transit di Taiwan), bertemu seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang telah habis masa kontrak kerjanya di Taiwan. Ia bekerja di sebuah industri kecil kerajinan kayu di Kaoshiung.

Setelah berjalan melewati pelataran bandara, kami pun masuk ke bagian pengecekan imigrasi. Tiba-tiba, datang seorang petugas wanita dari Bagian Imigrasi yang menghampiri kami, dan bertanya dengan nada sinis, “Mbak TKI ya?” Teman (yang baru saja saya kenal beberapa jam yang lalu) tersebut hanya mengangguk. Petugas tersebut kemudian berujar, “TKI ke sebelah sini.” Petugas tersebut kemudian mengarahkan pandangannya ke saya dan bertanya, “Mas ini siapanya?” “Eh.., teman, kenal di dalam pesawat…,” jawab saya. “Oh.. silakan menuju ke sebelah sana,” sahut si petugas.

Saya benar-benar penasaran dan heran untuk tujuan apa petugas imigrasi mengumpulkan para TKI? Apakah untuk meminta uang? Hmm, bagaimana kalau si TKI berbohong bahwa dia bukan TKI, bisakah lolos dari bagian Imigrasi? Tapi, sepertinya tidak bisa, sebab mereka telah menandatangani kontrak khusus di Depnaker sebelum berangkat bekerja ke luar negeri? Apakah dalam kontrak itu memang ada disebutkan bahwa sekian % dari penghasilan (gaji) yang didapat mesti disetorkan ke Depnaker, Agen TKI, atau Imigrasi Bandara? Entahlah.. Lalu mengapa para TKI tersebut harus mendapatkan perlakuan “istimewa” dan diskriminatif yang sungguh ironis dengan semboyan “Pahlawan Devisa” yang sering digembar-gemborkan itu?

Pengalaman kedua saya terkait TKI adalah ketika sedang dalam perjalanan balik saya ke Pontianak dari Sarawak (Malaysia) bulan Agustus tahun lalu. Perjalanan kami menggunakan bus dan memakan waktu sekitar 7-8 jam. Di bus yang kami tumpangi, banyak sekali TKI yang akan mudik ke Indonesia. Ketika tiba di pos perbatasan Entikong (Kalimantan Barat), tiba-tiba menyerbulah para calo dan pedagang uang yang berkerumun, “Tukar Ringgitnya!” “Tukar Ringgit!” Calo-calo dan pedagang penukaran uang ini benar-benar keterlaluan, mereka telah mengendus “mangsa” yang banyak membawa pulang ringgit. Mereka bisa seenaknya terus membuntuti si TKI sambil terus memaksa-maksa agar menukarkan ringgitnya ke rupiah. Entah standard kurs bagaimana yang dipakai oleh calo-calo ini. Yang lebih memprihatinkan lagi, calo-calo ini boleh seenaknya melewati gerbang-gerbang imigrasi, dan petugas imigrasi di sana hanya “tutup mata”. Sungguh ironis, dan sungguh berbeda sekali dengan suasana di pos perbatasan Tebedu (Sarawak – Malaysia) yang hanya berjarak selemparan batu dari pos perbatasan Entikong ini. Tidak ada seorang calo pun yang berkeliaran di pos perbatasan milik Malaysia.

Pos perbatasan Entikong, Kalimantan Barat

Setelah lolos dari serigala-serigala valas yang kelaparan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Setelah ngobrol dengan salah seorang TKI di bus, akhirnya diketahui kalau setiap bulan ia hanya mendapat upah setara 2 juta rupiah, dengan bekerja kasar menjadi buruh/ kuli. Bau keringat dan kulitnya yang hitam legam tersengat mentari telah menceritakan bagaimana susah dan kerasnya pekerjaan yang mesti dilakoninya. Dan itupun hanya diimbal dengan Rp. 2 juta/bulan. Yang lebih menyedihkan lagi, ketika ia membuka-buka paspornya untuk melihat cap-cap imigrasi, dari kejauhan saya melihat ada sebuah cap di halaman kedua paspor (bagian pengesahan) yang bertuliskan “illiterate” (artinya “buta huruf”). Tentunya ia tidak mengerti arti dari kata “illiterate” tersebut. Sangat mengiris hati, bahkan di lembaran paspor pun ada diskriminasi bagi TKI (pahlawan devisa) yang buta huruf.

Tapi, ternyata tidak semua TKI bernasib memprihatinkan. Dalam perjalanan selanjutnya saya ke Taiwan, saya bertemu dengan seorang TKW yang akan berangkat kerja di sebuah institusi perawatan bagi kaum lansia di Taiwan. Sebelumnya ia telah bekerja selama beberapa tahun di Taiwan, juga di Hongkong, dan Arab Saudi selama belasan tahun. Setiap bulannya, ia mendapatkan gaji Rp. 5-6 juta. Dan setiap kali selesai kontrak (beberapa tahun), ia bisa membawa pulang puluhan juta, bahkan terkadang hingga orde seratusan juta rupiah. Ketika saya menanyakan lagi mengenai keamanan bekerja di Arab Saudi dan juga mengenai biaya hidup di Hongkong/ Taiwan, ia hanya berujar, “Yaa.. asal kita pintar-pintar menjaga diri dan mengatur keuangan aja…”

 

(catatan perjalanan penulis di bulan Agustus 2009, artikel ini juga dimuat di majalah Sinar Padumuttara edisi 07 Februari-Maret 2010)

9 Responses to TKI, Oh Nasibmu…

  1. >Lalu mengapa para TKI tersebut harus mendapatkan perlakuan “istimewa” dan diskriminatif

    hmm.. siapa tau perlakuan diskriminatif itu memang benar2 “istimewa”, mungkin memang sekarang sudah ada aturan imigrasi yg mengistimewakan para pahlawan devisa, misalnya saja mereka disediakan jalur khusus d bandara yg prosedurnya lebih cepat dan memudahkan para TKI.. disediakan fasilitas money changer yg reliable.. dll (huu.. ngimpi kali yee.. :mrgreen:)

    • Hmm, menurut logika, mestinya begitu ya..

      Pahlawan sudah semestinya disambut dengan karpet merah, ini malah disambut dengan pandangan sinis dan upaya mempersulit prosedur imigrasi. (mengelus dada…)

  2. Melva says:

    TKI = pahlawan devisa
    Kayaknya itu cuma slogan aja ya. Kalau kita liat fakta yang ada perhatian pemerintah kepada para TKI masih kurang. Bahkan pandangan masyarakat umum terhadap TKI rasanya tidak terlalu positif.

    Just curios: apakah para TKI itu umumnya orang-orang yang tidak mengenyam bangku pendidikan? Kalaupun iya, apakah mereka menuntaskan yg namanya wajib sekolah 9 tahun?

    • Sepertinya tidak semua TKI mengenyam pendidikan, terutama para TKI yang bekerja di sektor pekerjaan kasar. Dan biasanya TKI yang tidak berpendidikan inilah yang menjadi target eksploitasi berbagai oknum.

      Tentu ada juga TKI yang berpendidikan, seperti yang disebutkan di paragraf terakhir. TKI yang mengenyam pendidikan memadai inilah yang rata-rata bisa me-manage kehidupan dan karir mereka dengan baik.

  3. Dear Willy,

    Tks tulisannya, selamat ya, diterbitkan di majalah. Bagus berbagi pendapat pada org lain,..

    cuman yg bernasib baik juga nggak 100% pilih jalan baik baik di negeri orang,.. kalau semua jalur hidup dan aturan di negeri org dilakukannya dg baik, maka duit yg diterima pun nggak bisa begitu besar di simpan. Misalnya di Jepang,.. sering mereka tak bayar untuk berpergian jauh. Dari Hokkaido ke Tokyo, bisa hanya 120 yen saja,.. atau main tempel pada seseorang yg berada di depannya ketika masuk stasiun. dsb dsb deh,.. kalau pun dibaikin sama org sini,.. maka org kitanya yg bikin ulah, tki nikah ganti-ganti,. menikhi janda jepang,. ambil duitnya dan ntar ditinggal, nanti kalau dah dekat visa habis, cari wanita baya lainnya. Ini kan merusak citra vbangsa..

    mesti ada pembekalan dulu, ada klasifikasi dulu, abagusnya untuk buruh kasar, sediakan aja lahan pertanian dan lebih baik mereka di didik dan dipekerjakan di negeri sendiri,.. menyedihka n memang,… kalau anak elit, edukasi bersatui padu,.. insyaAllah bisa membantu masalh ini,.. semoga, amiin.
    Yuk tetap semangat!

    • willyyanto says:

      Tks buat sharing nya Mbak..

      Sepertinya topik mengenai TKI memang ga ada habisnya, banyak sekali kisah-kisah yang bisa diceritakan.
      Mungkin menarik juga mengupas perjalanan hidup para TKI di berbagai negara, kemudian dibukukan agar bisa menjadi “insight” dan pengetahuan bagi masyarakat luas.

    • willyyanto says:

      thanks har for the comment =)

      baguslah kalo mulai ada perbaikan prosedur dlm mengakomodir para TKI,
      meskipun dari comments yg saya baca di bawah artikel tsb sepertinya hingga saat ini masih banyak kesulitan/ kenyataan pahit di lapangan.

  4. derisia says:

    kenapa menjadiTki slalu dipandang jelek.tidak semua tki mendapatkan perlakuan yg buruk bahkan ada juga yg berkerja dibagian yg sama dengan penduduk lokal dan mendapatkan fasilitas yg sama di negara lain.malah kita merasa lebih dihargai dinegara lain dibanding dinegara sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: