Kagoshima

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Bercerita tentang Kagoshima, ada tiga hal yang menjadi ciri khas yaitu bunga poppy, kurobuta (babi hitam), dan tram kota. Pertengahan Maret yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi prefektur yang letaknya paling selatan di Pulau Kyushu, yang terkenal sebagai “Naples of the East” disebabkan letaknya yang berada di tepi sebuah teluk yang terbentuk dari caldera bekas letusan gunung berapi, dengan gunung Sakurajima yang masih terlihat aktif memuntahkan abu vulkanik.

Kagoshima memang indah. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju kota Kagoshima, terlihat bentang gunung-gunung hijau yang masih terjaga keasriannya, dengan sesekali tampak kerumunan bunga sakura yang membuat pola warna pink pudar diantara kerimbunan hutan.

Tujuan utama saya ke Kagoshima tentunya adalah menghadiri sebuah konferensi yang disebut SCEJ 75th Annual Meeting. Akan tetapi karena saya bersama beberapa teman Jepang tiba satu hari lebih awal dari jadwal conference, kami pun memanfaatkan waktu setengah hari untuk berkeliling kota Kagoshima, melihat monumen dan patung Saigo Takamori yang katanya “the Last Samurai” dan sangat kesohor. Kami juga masuk ke Sengan-en, sebuah taman bekas kediaman keluarga Shimazu yang dulu menguasai daerah Satsuma (sekarang bernama Kagoshima). Tiket masuk Sengan-en cukup mahal, 1000 yen per orang (1 yen sekitar Rp.100,-). Tidak ketinggalan, kami juga mencoba mencicipi kuliner khas Kagoshima yaitu Kurobuta Ramen (Mie Ramen Babi Hitam). Memang dibandingkan dengan daging babi biasa, kurobuta memiliki tekstur yang lebih lembut dan tidak terlalu berlemak; ditambah dengan kuah ramen yang harum khas Kagoshima, cita rasanya sungguh memanjakan lidah.

Kurobuta Ramen yang harum dan lezat

Malam harinya kami pun menuju ke hotel yang telah di-booking 4 malam. Semua biaya menginap dan transport memang ditanggung oleh universitas yang mengutus kami. Karena penasaran, saya mencoba mencari tahu biaya menginap di Hotel Hokke Club Kagoshima, hotel berstatus bintang dua, tempat kami menginap. Untuk fasilitas seperti ini sih kalau di Indonesia satu malam sekitar Rp. 300-400 ribu untuk kamar twin (1 kamar 2 orang). Glek, ternyata untuk 1 kamar twin, satu malam tarifnya sekitar 13 ribu yen (1,3 jutaan). Tapi memang wajar sih apabila mempertimbangkan biaya hidup, dan juga gaji pegawai yang mahal di Jepang. Di satu sudut kamar yang bersih dan nyaman ini, juga tersedia semacam siaran TV berbayar, 1000 yen per malam, kita bisa menonton film-film terbaru dan ooopps.. juga tayangan-tayangan XXX untuk dewasa (sepertinya hal ini sudah menjadi ciri khas setiap hotel yang ada di Jepang   =p   he..he..).

Pelayanan hotel yang luar biasa

Hari kedua saya mempresentasikan riset saya sekaligus mendengarkan presentasi-presentasi sepanjang hari. Malamnya, saya diajak untuk mencicipi beberapa ikan mentah di sebuah restoran yang direkomendasikan oleh teman dari Kagoshima. Ugh, tidak disangka menu-menu pilihannya sangatt mahal. Masa hanya beberapa set ikan mentah, sedikit salad sayur, dan nasi bercampur sake (yang tidak bisa saya makan) hampir Rp. 400 ribu per orang. Benar-benar bikin bangkrut, dan juga rasanya mengecewakan (kelebihannya cuma pada penataan makanannya). Lebih parah lagi, sesudah makan malam yang mahal tersebut, dua teman saya orang Jepang tersebut mengajak saya ke sebuah bar untuk minum shochu (sejenis arak Jepang). Memang daerah Kyushu terkenal akan shochu, dan Kagoshima adalah salah satu produsen shochu imo (ubi rambat) yang sangat terkenal. Shochu memiliki kandungan alkohol yang sangat tinggi, berbeda dengan sake (yang terbuat dari beras), shochu memiliki kandungan alkohol 20-40%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata wine (anggur) meskipun masih lebih rendah dibanding whiski. Karena saya tidak bisa meminum alkohol, saya hanya bisa menonton mereka memesan shochu-shochu yang harganya puluhan hingga ratusan ribu rupiah per gelas kecil, tergantung jenis shochu yang dipesan.

Tram yang melintas di kota Kagoshima

Hari ketiga sepanjang pagi kami masih mendengarkan presentasi riset. Setelah selesai, kami berkeliling Kagoshima University. Bunga poppy dengan warna-warni yang indah: kuning, jingga, putih, merah tampak menghias beberapa sudut pekarangan. Saya agak penasaran apakah bunga-bunga poppy yang ditanam tersebut adalah species Papaver somniferum, yang dapat diekstrak menjadi opium. Selain bunga poppy, kota Kagoshima juga memiliki tram kota yang menghubungkan lokasi-lokasi strategis seperti Kagoshima Chuo Station, Tenmonkan, dan Port menuju Sakurajima. Dari tengah hari hingga menjelang sore, kami menggunakan feri (tarif hanya 150 yen one way) menyeberang ke Sakurajima. Sakurajima terkenal akan Sakurajima daikon (wortel putih) yang katanya lebih enak dibanding daikon biasa. Menggunakan mobil shuttle gratisan, kami pun berangkat ke sebuah pemandian air panas di tepi Teluk Sakurajima. Sialnya, luka pada kaki saya akibat kecelakaan belum sembuh sehingga saya tidak bisa menikmati konyoku tepi laut tersebut. Konyoku ini sejenis onsen (pemandian air panas bermineral) hanya saja mixed gender (campur pria dan wanita, dengan mengenakan pakaian khusus tentunya – jangan berpikiran yang macam-macam  =P ). Teman saya terus menggoda, “Ini konyoku lho.. siapa tau ada kawaii onna no ko (cewe cakep) yang sedang berendam..”. Ha.ha.. saya hanya tersenyum pahit. Di Sakurajima, tidak lupa kami membeli oleh-oleh khas yaitu Karukan, Satsuma-age, dan Komikan. Menjelang malam, kami pun kembali ke kota Kagoshima sekalian jalan-jalan ke daerah Tenmonkan, pusat keramaian di jantung Kagoshima.

Hari keempat, yang rencananya hari terakhir, kami berangkat ke Ibusuki, di selatan Prefektur Kagoshima, untuk mencoba Sunamushi Onsen (Onsen Pasir). Biasanya onsen kita berendam di air panas, akan tetapi kalau sunamushi kita ditimbun pasir hangat dari leher hingga ujung jari kaki selama 10 menit. Hmm, rasanya nyaman sekali.. keringat pun bercucuran dari sekujur tubuh, seperti halnya ketika sauna, membasahi yukata yang kami kenakan. Pasir Ibusuki ini terpanaskan secara alami oleh mata air panas yang mengalir di bawah tanah, dan konon mengandung mineral-mineral yang sangat baik untuk kesehatan. Setelah puas, kami pun bergegas menuju bandara untuk kembali ke Tokyo.

Para turis yang sedang menikmati kehangatan onsen pasir di Ibusuki

Sialnya, malam itu penerbangan di-cancel akibat cuaca buruk: angin kencang dan hujan deras. Kami pun berencana menginap di sofa bandara Kagoshima. Lebih sialnya lagi, menjelang larut malam, kami diusir oleh petugas bandara, karena bandara akan ditutup dan tidak boleh menginap di bandara. Ukh, pada akhirnya kami terpaksa bermalam di sebuah internet cafe (1800 yen), dan terbang kembali ke Tokyo keesokan paginya.

3 Responses to Kagoshima

  1. rika says:

    very nice experience:).. hehe..

  2. Parkit says:

    Hahaha… Nice experience… But so sad I can’t see Poppy flower picture in ur writing..hi.hi… Btw Now maybe I am believe that your picture in the sand was real. Wkwkwk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: