Satu Jam bersama Geisha

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Eits, jangan berpikiran yang macam-macam dulu. Satu jam bersama Geisha? Yup.

Pertengahan Februari tahun lalu, aku mengikuti “study tour” ke Kyoto dan Nara yang diadakan oleh Tokyo Institute of Technology. Ada hal yang spesial dari perjalanan ke Kyoto kali ini yakni bakal adanya acara menyaksikan pertunjukan tarian dari geisha.

Untuk mendapatkan posisi duduk yang strategis, aku pun sengaja datang setengah jam lebih awal sebelum acara dimulai. Eh sialan, ternyata sudah ada beberapa orang yang datang lebih awal dan membentuk barisan pertama. Tapi tidak masalah, barisan kedua juga sudah cukup memadai.

Detik-detik yang dinantikan pun tiba. Ternyata muncul seorang wanita setengah baya (lihat Foto 2).

Foto 2. Ibu pembimbing yang sedang memainkan shamisen

Walah, masa geishanya seperti itu? Aku pun merasakan aura kekecewaan dari para penonton. Tapi ternyata kami salah sangka. Tidak lama berselang, muncullah gadis manis yang mengenakan kimono yang indah sekali (lihat Foto 1).

Foto 1. Dandanan khas dari seorang Maiko-san

Gila! Kami 80 orang mahasiswa asing bak nyamuk pers (wartawan) saja. Blitz dan flash dari puluhan kamera pun seakan menghujam tiada henti. Sebelum memulai pertunjukan tariannya, kami pun dijelaskan bahwa sebutan “geisha” kuranglah sopan. Biasanya mereka dipanggil “maiko-san” atau “geiko-san”. “Maiko” adalah mereka yang sedang belajar (magang) untuk kelak menjadi “Geiko”. Ketika menginjak usia 20 tahun, maka status “maiko” akan menjadi “geiko”. Jadi seorang maiko berusia di bawah 20 tahun, dan maiko-san yang akan menampilkan tarian kepada kami pun ternyata masih berusia 18 tahun. Secara harfiah, “maiko” (舞子) berarti “gadis penari” dan “geiko” (芸子) berarti “gadis seni” serta “geisha” (芸者) berarti “pekerja seni”.

Ciri khas yang membedakan maiko dengan geiko antara lain: pada maiko, lipstik hanya pada bibir bagian bawah, tepi mata diberi warna kemerahan (seperti tampak pada Foto 1). Selain itu, sanggul rambut maiko sepenuhnya adalah rambut asli dan kimono yang dikenakan maiko pun biasanya “colourful” dan berwarna cerah. Sedangkan pada geiko, lipstik dikenakan pada kedua belah bibir dan geiko boleh menggunakan wig (rambut palsu). Dandanan dan kimono yang dikenakan geiko pun biasanya agak monokrom (tidak terlalu colourful).

Wanita setengah baya (Foto 2) tersebut adalah ibu pembimbing/ pelatih Maiko-san yang akan menampilkan tarian. Ketika ia mulai memetikkan shamisen (kecapi tradisional Jepang), maka dimulailah pertunjukan tarian oleh Maiko-san.

Gerakan tari Maiko-san yang lemah lembut dan gemulai seakan menyihir para penonton yang hadir. Ditambah dengan petikan suara shamisen yang bak alunan surgawi, kami semua seakan terpana dan terhipnotis. Tarian yang dibawakan menggambarkan perubahan empat musim; dengan variasi penggunaan payung dan kipas yang menambah semarak gerakan tari.

Foto 3. Tarian nan gemulai yang sedang ditampilkan Maiko-san

Setelah selesai pertunjukan tari, sesi tanya jawab dengan Maiko-san pun dimulai. Ketika Maiko-san memperkenalkan diri, suaranya yang lembut dan merdu benar-benar mempesona. Akhirnya aku mengerti mengapa orang-orang kaya zaman dulu rela mengeluarkan banyak duit untuk dihibur oleh geiko/ maiko. Maiko dan geiko benar-benar dilatih segalanya, mulai dari sikap/ gerakan tubuh, bahasa dan ucapan, hingga keterampilan seni tari, nyanyi, bermain alat musik (seperti shamisen), tata cara tea ceremony (upacara teh), sastra, dan puisi. Gerak-gerik dan tutur kata maiko-san benar-benar mirip gadis-gadis keraton zaman dulu yang halus dan lemah lembut. Dan konon katanya, seorang maiko/ geiko dilatih hingga memiliki daya kesabaran yang luar biasa (ultimate patience).

Berikut beberapa pertanyaan dari penonton yang beberapa dijawab langsung oleh Maiko-san dan sebagian lagi dijawab oleh si ibu pembimbing.

T: Sejak kapan menjadi maiko? Mengapa menjadi maiko?

M: Sejak usia 16 tahun, memutuskan menjadi maiko sejak lulus SMP. Menjadi maiko karena sejak kecil, suka memakai kimono yang indah, dan juga belajar banyak hal. Dan juga senang karena bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang seperti Anda-Anda.

T: Jadwal sehari-harinya bagaimana?

M: Dari pagi-pagi sekali sudah latihan gerakan tarian dan sikap jalan, juga belajar tutur kata dan dialek Kyoto. Siangnya juga menghabiskan beberapa jam untuk merias, dandan, mengenakan kimono. Malamnya sering mengadakan pertunjukan tarian (seperti saat ini), pulang larut malam, kemudian harus mengantri mandi (catatan: geiko yang paling senior mendapatkan prioritas urutan mandi paling awal. Karena Maiko-san ini paling muda, ia termasuk yang urutan mandi terakhir). Tidur sekitar jam 2 malam.

T: Apakah tidak ada liburan?

G: Sebulan libur dua kali. Biasanya para maiko-san/ geiko-san pergi shopping dan jalan-jalan. Dan setahun boleh pulang ke rumah orang tua sebanyak tiga kali.

T: Apakah untuk menjadi maiko harus ada izin dari orang tua?

G: Ya, harus ada izin dari orang tua.

T: Apakah orang tua harus membayar untuk biaya hidup/ pelatihan anaknya menjadi maiko?

G: Tidak. Semua biaya ditanggung oleh sekolah/ tempat pelatihan. Biasanya kami menseleksi/ interview calon yang ingin menjadi maiko.

T: Apakah selama menjadi maiko/ geiko boleh menikah?

G: Tidak. Kalau memutuskan untuk menikah, ya mesti berhenti jadi geiko/ maiko.

Sempat mencuat dalam pikiranku, berarti Maiko-san ini cuma lulus SMP dan tidak melanjutkan ke SMA. Apakah hal ini baik baginya? Tapi setelah dipikir-pikir, kan ini juga pilihan hidupnya. Kalau ia merasa bahagia menjadi maiko-san, mengapa tidak? Hanya karena tidak lazim (seperti kita-kita yang sekolah hingga SMA bahkan universitas), kita tidaklah bisa men-judge (menilainya) sebagai “kurang baik”. Toh, sistem pendidikan modern yang ada sekarang (dari SD – Univ) juga baru dimulai sejak beberapa abad yang lalu. Lagipula, menjadi maiko-san, ia sebenarnya juga “sekolah” dan belajar banyak hal seperti seni, sastra, dan sikap (attitude). Dan pula, sewaktu-waktu ia bisa berhenti (keluar) dari profesi ini.

Demikianlah sekelumit kisah dan pesona dari dunia maiko-san. Oh ya, Anda perhatikan kimono indah beserta obi (sabuk/ belt) berhiaskan permata yang dikenakan oleh Maiko-san? Satu set kimono tersebut harganya lebih dari 1 juta yen (Rp. 100 juta).

 

Foto 4. Foto bareng bersama Maiko-san

7 Responses to Satu Jam bersama Geisha

  1. Achmad Syaiful Makmur says:

    wah, mas wil ini ketiga kalinya ikut ke kyoto?

  2. Rini says:

    Jd inget memoar of geisha

  3. dodol says:

    wew,,, (sedang ketawa2 membayangkan ekspresi muka cowo2 melihat maiko-san)😄 ada yg ngiler ga ya? hahaha😀

  4. meongijo says:

    wah ceritanya kurang panjang mas.. blm menjawab pertanyaanku apa kalau geisha=psk?

    • willyyanto says:

      rasanya sudah terjawab deh dalam tulisan ini.. =)

      banyak orang yang salah paham mengira geisha identik dengan pelacur.

  5. meongijo says:

    eh dimana? kelewat kali y… gomen😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: