Angpao & Nyamuk

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Tahun baru Imlek merupakan momen yang dinanti-nantikan, terutama oleh anak-anak. Itu adalah hari ketika mereka mendapatkan angpao dari orang tua mereka atau saudara-saudara mereka yang telah menikah dan juga dari segenap handai taulan. Malam menjelang Imlek juga biasanya diisi dengan acara makan bersama sekeluarga; momen yang sangat baik untuk menjalin kembali kehangatan kebersamaan. Tentu saja tidak ketinggalan adalah pemberian angpao. Tentu momen-momen menerima angpao adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Ada satu kisah menarik di suatu masa di Tiongkok…

 

Dahulu kala ada sebuah keluarga petani yang sangat miskin; sepasang suami-istri dan seorang anak lelaki yang masih kecil. Mereka tinggal di gubuk sederhana dan menjalani hidup yang keras. Hari demi hari mereka lalui dengan tegar meskipun tingkat kesejahteraan mereka sangat memprihatinkan.

Hari itu adalah hari sekitar seminggu menjelang Imlek. Si anak kecil dari keluarga petani ini sedang bermain dengan teman-temannya. Teman-temannya saling bercerita dan menebak-nebak berapa banyak uang yang akan mereka dapatkan dari angpao tahun ini atau menebak apakah ada hadiah spesial yang akan mereka dapatkan. Mereka bercerita secara bergiliran dan ketika tiba giliran si anak miskin ini, ia hanya terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia ceritakan tentang angpao atau hadiah spesial. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Termenung, ia hanya pulang tanpa berkata apa-apa.

Ia merenungkan kembali tentang angpao yang dibicarakan teman-temannya. Selama ini belum pernah sekalipun ia mendapat angpao dari kedua orang tuanya. Ia pulang dan melihat kedua orang tuanya sedang bersiap-siap mengolah sebidang tanah kecil sewaan untuk menjelang penanaman di musim semi.

Malam itu adalah malam terakhir menjelang Imlek. Ia membayangkan teman-temannya pasti sedang makan bersama sekeluarga, sedang bersuka cita mendapat angpao. Ia menunggu-nunggu, yach mana tau orang tua nya tahun ini memberinya angpao. Tunggu demi tunggu, tidak ada sedikitpun gejala yang mengarah ke sana. Ia sangat sedih, sesedih kesenyapan gubuk kecil tempat tinggalnya yang begitu hening.

Ia mulai kecewa dan marah kepada kedua orang tuanya. Apakah tidak ada sedikitpun perhatian atau ucapan selamat Imlek kepada dirinya? Kemarahannya memuncak hingga ia teringat sesuatu.

Ia teringat beberapa bulan yang lalu, betapa kedua orang tuanya panik ketika ia jatuh sakit. Ayahnya sibuk mencari pinjaman uang dan membeli obat ke kota. Ibunya sepanjang hari dan malam duduk di sampingnya, membelai dan mengelus dahinya yang demam. Tidak terkatakan begitu besar kasih sayang kedua orang tuanya. Siang tadi ia juga melihat seharian orang tuanya bekerja mempersiapkan lahan untuk musim semi ke depan, dengan pakaian bermandikan peluh. Semua ini tidak lain juga untuk menghidupi mereka dan dirinya.

Kemarahan dan rasa kecewa berangsur-angsur pudar dalam diri si anak ini. Ia menjadi sadar bahwa inilah angpao terbesar yang ia terima: kasih sayang dari kedua orang tuanya. Angpao yang sungguh tidak terkira nilainya.

Keharuan pun menyeruak di dalam dadanya. Ia ingin menghampiri dan memeluk kedua orang tuanya. Ketika melongok ke dalam gubuk, ia melihat kedua orang tuanya telah tertidur; mungkin karena seharian bekerja keras dan kelelahan. Si kecil tidak ingin mengusik orang tuanya dan mengurungkan niatnya.

Akan tetapi, entah kenapa, malam itu tiba-tiba begitu banyak nyamuk. Pada zaman itu, setiap keluarga biasanya memiliki kelambu di kamar tidur untuk menghalau nyamuk. Namun keluarga yang miskin ini tidak memiliki kelambu sama sekali. Si kecil melihat orang tuanya yang terganggu tidurnya oleh nyamuk. Lantas apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada kelambu; puluhan ekor nyamuk terbang kesana-kemari.

Si kecil akhirnya terpikir satu hal. Ia membuka bajunya dan membiarkan nyamuk-nyamuk menggigit badannya. Ia melihat badannya digigit belasan, bahkan puluhan ekor nyamuk. Ia membiarkannya saja, dengan penuh kebahagiaan melihat kedua orang tuanya tidur dengan nyenyak…

 

Yach, si kecil telah menyadari angpao luar biasa yang ia terima: kasih sayang dari ayah ibunya. Namun si kecil sebenarnya telah mendapatkan juga angpao lain yang sangat besar yaitu kesempatan berbakti dan memberikan kasih sayangnya kepada orang tuanya.

Kita semua juga senantiasa mendapat angpao kasih sayang dan perhatian, baik dari orang tua kita, keluarga, saudara, teman-teman kita hingga dari lingkungan dan masyarakat. Apakah Anda juga bersedia membagi-bagikan angpao kasih sayang dan perhatian kepada orang tua, keluarga, saudara, teman, dan siapa saja yang Anda temui? Apakah Anda bersedia juga membagikan angpao kebesaran hati dan saling memaafkan di hari Imlek ini?

Dari lubuk hati penulis yang paling dalam, penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih atas angpao-angpao yang telah Anda berikan. Angpao-angpao penuh kasih dan perhatian yang penuh dengan kehangatan…

Selamat Tahun Baru Imlek.
Gong Xi Fa Cai!!

 

(artikel ini pernah dimuat di Majalah BVD no.89 Januari 2006)

5 Responses to Angpao & Nyamuk

  1. wdozan says:

    pantesan udah pernah baca..

  2. chemieingenieur says:

    keren ceritanya…
    besok ke chinatown?

  3. Gita Tjendana says:

    Gong Xi Fa Cai Willy!
    Semoga Willy sehat dan lebih berbahagia di tahun Macan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: