Ekspedisi Taoyuan – Taipei

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Setelah mengulas tentang ekspedisi Kalimantan/ Borneo di tulisan sebelumnya, kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai ekspedisi di Taiwan, dari Taoyuan hingga Taipei. Sebenarnya perjalanan kali ini bukan lagi bertujuan utama untuk petualangan melainkan untuk presentasi riset di sebuah conference yang diadakan di National Taiwan University (NTU) di Taipei, yaitu AOTULE (Asia Oceania Top Universities League on Engineering) Postgraduate Conference 2009.

1 Desember 2009. Pesawat mendarat di bandara Taoyuan, dan dengan bus, kami (sekitar 30 mahasiswa Tokyo Tech) menuju ke tempat penginapan kami di Taipei. Perjalanan dari bandara Taoyuan ke pusat kota Taipei memakan waktu sekitar 1 jam. Tiba di Taipei sudah sekitar jam 8 malam, dan saya masih menyempatkan diri berkeliling di sekitaran penginapan, meskipun saya mendapatkan giliran presentasi esok harinya. Penginapan kami terletak di dekat kampus NTU, universitas no 1 se-Taiwan, juga dekat dengan stasiun MRT (subway) Gongguan.

Akh! Waktunya mencari makan malam. Saya pun menjelajahi beberapa ruas jalan yang ramai dipenuhi penjual makanan. Masuk di sebuah rumah makan, saya pun kebingungan melihat deretan huruf-huruf Mandarin yang sebagian besar tidak saya pahami. Akhirnya saya pun memilih menu yang paling pendek tulisannya, yang bisa saya baca, dan juga murah, yaitu “ci fan” (nasi ayam). Memang murah (dibandingkan dengan harga di Jepang), hanya sekitar 30 NTD (New Taiwan Dollar) (1 NTD sekitar Rp.300,-), meskipun porsinya kecil. Tidak apalah, memang malam hari tidak perlu makan terlalu banyak, pikir saya.

Setelah puas berkeliling ruas jalanan penjual makanan, saya pun berkeliling di sekitaran kampus NTU. Kampus ini sangat dinamis, walaupun telah malam pukul 22.00 atau 23.00, masih banyak lalu lalang mahasiswa, baik dengan bersepeda maupun jalan kaki. Akan tetapi, yang mencengangkan adalah hebohnya muda-mudi Taiwan dalam berpacaran!! Di sudut-sudut taman, di tempat parkir sepeda, bahkan di tepi jalan raya yang ramai, terlihat banyak sekali muda-mudi yang berpasangan, saling bermesraan, berpelukan, dan bahkan berciuman. Wah-wah ternyata mahasiswa di sini lebih blak-blakan dibandingkan mahasiswa di Jepang maupun di Indonesia yang mungkin akan mencari tempat-tempat yang agak tersembunyi untuk melakukan hal-hal tersebut.

Anyway, sesudah puas melakukan observasi sekeliling penginapan, saya pun bermaksud pulang dan tidur. Alamak!! Ternyata pintu depan Lu-Ming Guest House, tempat saya menginap sudah dikunci jam 11 malam. Wah berabe juga nih, masa saya harus jadi “gelandangan” satu malam di Taipei? Saya yang agak panik, mencoba menghampiri beberapa orang yang sedang nongkrong di sekitaran penginapan, sambil mengerahkan segenap kemampuan bahasa Mandarin yang tersisa di otak saya. Mereka bilang tidak tahu. Kepanikan saya bertambah, akh, akan tetapi di kamar lantai 2, terlihat ada seseorang yang sedang membaca buku, teman saya sendiri! Saya mencoba melambai-lambai untuk menarik perhatiannya, akan tetapi gagal! Saya berpikir untuk melempar sesuatu, misal sepatu saya ke jendela kamarnya, bagaimana kalau kacanya pecah? Akhirnya saya melihat ada tangga di samping penginapan yang terhubung dengan atap kecil dari lantai 1 yang “agak” terhubung dengan jendela-jendela di lantai 2. Dengan memanjat bagaikan maling akhirnya saya berhasil menggapai jendela kamar teman saya, dan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Ia kaget setengah mati melihat tiba-tiba ada sosok di balik jendela kamarnya. Fiuh.. lega juga akhirnya ada yang membukakan pintu.

Hari kedua diisi dengan jadwal presentasi riset saya dan juga jamuan makan malam yang diadakan oleh NTU. Saya kira tidak perlu saya ulas panjang lebar disini.

Hari ketiga diisi dengan setengah hari presentasi riset, dan sesudahnya dilanjutkan dengan campus tour keliling NTU. Tidak ketinggalan, sore harinya saya mencoba mencicip makanan di kantin NTU. Makanan di kantin memang murah meriah juga enak, dan porsinya lumayan, hanya sekitar 50 NTD sekali makan. Lebih memuaskan ketimbang “ci fan” yang saya santap 2 hari sebelumnya.

Malam harinya, bersama seorang teman dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), kami pun berkeliling ke Taipei Main Station dan Ximen. Ada beberapa hal menarik di Ximen, yang bisa dibilang “Harajuku”nya Taipei, terkenal dengan teater, dan berbagai pertunjukan seni. Di sebuah toko aneka suvenir dekat gedung teater, dijual berbagai miniatur unik hasil rakitan dari komponen elektronik bekas, juga ada kertas kain yang bisa dibentuk menjadi aneka figur-figur lucu. Di sebuah ruas jalan, juga ada seorang seniman penggunting kertas, kita bisa menyumbang 50 atau 100 NTD apabila kita puas dengan hasil guntingannya. Seniman ini akan menggunting kertas yang akan membentuk seperti siluet kepala kita (dari arah samping), benar-benar jenius dan kreatif. Tidak lupa, saya juga mencoba jajanan khas Taipei yaitu Lu Wei. Agak sulit menjelaskan, intinya, kita bisa memilih tahu, pekcai, jamur enoki, jeroan, bihun atau mie dan aneka bahan lainnya ke dalam ramuan sup. Nah, poin terpenting dari Lu Wei ada di ramuan sup nya itu, yang diracik dari berbagai rempah-rempah sehingga memiliki rasa yang kaya dan penuh aroma bumbu. Sayang, saya belum sempat mencicip satu lagi jajanan khas Taipei yaitu “Tahu Busuk”. Setiap kali mencium aroma tahu busuk, rasanya mual dan mau muntah, tapi kata orang-orang sih rasanya sangat enak meskipun baunya busuk.

Seniman penggunting kertas menyerahkan karya guntingan yang dibuatnya hanya dalam 10 menit. Benar-benar lihai dan terampil, juga kreatif.

Hari keempat, kami seharian berkeliling Taipei. Bersama beberapa mahasiswa NTU sebagai tour guide, kami pun menghabiskan satu hari yang menyenangkan. Tujuan pertama kami adalah Chiang Kai Shek (CKS) Memorial Hall yang tersohor di Taipei itu. Bangunan ini memiliki desain yang unik, dengan atap segi delapan berwarna biru bertingkat dua, dan di depannya terhadap lapangan luas yang diapit oleh gedung National Theater dan National Concert Hall. Di dalam Memorial Hall terdapat patung Chiang Kai Shek yang sedang duduk dan tersenyum, dengan dua penjaga menenteng bayonet sambil diam mematung. Setiap satu jam, kedua penjaga ini akan menunjukkan kepiawaian mereka dalam aksi parade militer kecil-kecilan, sembari digantikan oleh dua penjaga yang lain (pergantian shift). Ada insiden langka yang terjadi pada hari itu. Ketika salah satu penjaga tersebut mengayunkan bayonetnya, uppss.. bayonet terlepas dan jatuh ke lantai. Beberapa penonton tertawa, beberapa lagi simpatik sambil membayangkan bagaimana nasib si penjaga ini kemudian.

Upss.. bayonet terjatuh ke lantai saat parade di dalam Chiang Kai Shek Memorial Hall.

Beranjak dari CKS Memorial Hall, kami pun menuju ke wilayah paling utara Taipei, yaitu Danshui. Danshui terkenal dengan jalanan tua nya, kampung nelayan, dan juga pasar tradisionalnya. Di sini, kami berhenti makan siang di sebuah rumah makan. Hanya dengan 30 NTD untuk tiap menu, saya pun memesan bihun goreng, kuah bakso, dan tahu asam manis. Tahu asam manis ini lumayan khas, kulit luarnya digoreng hingga garing, akan tetapi ketika digigit, di dalamnya ternyata ada isi semacam mie campur daging/ sayur bersaus dan lumayan pedas. Setelah sekian lama tidak menyentuh makanan pedas selama di Jepang, akhirnya saya bisa mencicip kembali kenikmatan rasa pedas. Setelah makan siang, beberapa dari kami membeli es krim “super” yang tingginya lebih dari 40 cm. Saya juga membeli oleh-oleh khas seperti telur kulit hitam, selain snack keladi (yam) yang telah saya beli di Gongguan. Telur kulit hitam ini adalah jajanan khas Danshui, katanya diproses dengan dicelup aneka bumbu dan rempah-rempah hingga meresap, dan telur rebus yang biasanya berwarna putih itu berubah menjadi hitam legam, kemudian dikeringkan hingga mengeras. Telur yang seukuran telur burung puyuh itu ketika digigit, bagian luarnya memang keras, tetapi ketika dikunyah perlahan akan terasa cita rasa rempah yang kaya.

Dari Danshui, kami pun berangkat ke National Palace Museum, kebetulan karena kami juga mendapatkan tiket masuk gratis dari kampanye pariwisata Taiwan – Touch Your Heart. Museum ini sedang menyelenggarakan ekshibisi khusus mengenai Kaisar Yongzheng, kaisar ke-4 dari Dinasti Qing. Setelah puas melihat-lihat aneka peninggalan antik dan catatan sejarah dari Dinasti Qing hingga sore hari, kami pun berangkat untuk menyantap 小籠包 (xiaolongbao) (disebut “shoronpo” dalam bahasa Jepang). Xiaolongbao ini semacam daging cincang, seafood, atau bisa juga sayur cincang yang dibungkus dengan kulit tepung yang tipis, kemudian dikukus di dalam keranjang bambu. Kami pun memesan tiga jenis, xiaolongbao kepiting, sayur, dan daging cincang. Ketika kulit tipis xiaolongbao itu robek digigit, daging cincang di dalamnya yang juicy dan harum berkaldu itu melumer, sungguh luar biasa lezat! Xiaolongbao rasa kepiting apalagi, keharuman dan cita rasanya susah dijelaskan, menggelitik indera pengecap sekaligus penciuman kita bersamaan. Selain xiaolongbao, saya juga memesan mie kuah babi panggang khas Taipei. Benar-benar pengalaman kuliner yang memuaskan!

(kiri-kanan): xiaolongbao sayur, xiaolongbao kepiting, xiaolongbao daging cincang.

Masih belum padam semangat kami, setelah dinner, kami pun berangkat ke Shilin night market. Shilin night market ternyata luar biasa ramai, mungkin ada puluhan ribu atau ratusan ribu manusia yang berseliweran di sana sini. Jika dipikir-pikir, memang Taipei agak “semrawut” jika dibandingkan Tokyo; Taipei agak mirip Jakarta atau Bandung dalam hal tingkat chaotic (kekacauan) nya. Akan tetapi, tentu saja jika dibandingkan dengan kedua kota di Indonesia tersebut, Taipei masih relatif lebih rapi dan teratur. Di Shilin market ini terhampar pedagang yang berjualan berbagai makanan, dari yang normal hingga yang aneh-aneh, seperti telur katak, ceker ayam goreng kecap, sate aneka jeroan, dsb. Tetapi relatif harga-harga makanan di Taipei memang cukup terjangkau, dan juga cukup enak. Di sekitar night market ini juga ada semacam “taman ria” tempat aneka permainan ketangkasan seperti memasukkan bola basket, melempar karet gelang ke tiang pancang, memanah balon, pinball, dsb. Juga banyak pertokoan yang menjual aneka barang dan suvenir. Setelah lelah dan puas bermain dan berkeliling, akhirnya kami kembali ke penginapan menjelang larut malam.

Esok harinya, kami pun bertolak menuju bandara Taoyuan, untuk kembali ke Jepang.

7 Responses to Ekspedisi Taoyuan – Taipei

  1. wdozan says:

    enak juga..haha

  2. [Gm] says:

    Salah satu hal yang paling menarik dari Taipei (atau Taiwan in general) adalah bahwa walaupun budaya dan kehidupannya tampak lebih maju (lebih tertib, aman, tentram dibandingkan Indonesia), tapi biaya hidupnya masih sebanding dengan Jakarta, bahkan lebih murah daripada di (misalnya) Balikpapan. Yang pasti, masih lebih murah daripada Singapura.

    Euh, tapi ini dari pengamatan sekilas sih (hanya seminggu di Taipei) dan menyimpulkan cerita dari teman-teman mahasiswa di sana.

  3. Akita Dogs says:

    Interesting articles. I favorited your page. I’m looking for other sites that have visitors that would get a benefit from a new page of mine on akita dogs. Let me know if you want to exchange some articles or reviews. I think we could both get value.

  4. Melva says:

    Jadi lapar baca ulasan kulinernya, Wil. Hahaha.
    Your writings are always interesting. But not the one about science and engineering. They’re too heavy for me. Haha..

    • willyyanto says:

      Ha..ha =D
      sampai segitunya melv? belum makan kalee.. makanya jadi lapar pas baca ulasan kuliner.

      pas ke Taiwan itu pertama kalinya gw coba yg namanya Xiao Long Bao yg dulu suka Melva sebut2 waktu di Bandung. =)

  5. siemin says:

    Hi, thank you for your sharing…
    I’m a student and research about of the Taiwan’s Shilin Night Market, can you please help me to do a survey regarding on your view of Shilin Night Market, and the website as below as:
    http://www.my3q.com/home2/327/ximoon/72104.phtml
    Thank you for your helping, and wish you have a nice day. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: