Momen ke Momen

chasing kite

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Dalam hidup ini banyak sekali hal yang kita kejar. Apa saja yang bisa dikejar, pasti kita kejar.

Mungkin sewaktu kecil, ketika terpesona melihat bianglala, kita mencoba mengejarnya, dari satu ujung ke ujung yang lain, penasaran di manakah ujung dari bianglala tersebut. Akan tetapi ketika kita semakin mendekati tempat asal munculnya si bianglala, eh tiba-tiba saja untaian 7 warna tangga bidadari tersebut semakin memudar, dan akhirnya hilang..

Tapi, ada kala, kita merasa bangga dan hebat, kala berhasil mengejar layangan yang terputus talinya, setelah mengerahkan segenap tenaga kita yang tersisa sembari berharap hembusan angin agar mereda dan menjatuhkan layangan tersebut.

Mungkin pernah juga kita mengamati balon yang melayang di udara, semakin lama semakin tinggi, sambil penasaran di mana balon tersebut akan kempes dan jatuh?

Demikian juga tiada bedanya ketika manusia beranjak dewasa. Mengejar asmara, kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Manusia menciptakan banyak sistem untuk memenuhi kepuasan mereka: sistem pacaran, sistem kerja/ perusahaan, sistem pendidikan (sekolah), sistem agama, sistem kepercayaan, sistem upacara, sistem jejaring sosial (seperti facebook), sistem penghargaan (piagam, piala), organisasi sosial, perkumpulan, dan sistem-sistem lainnya. Manusia menciptakan dunia abstrak agar mereka merasa eksis dan berharga, manusia menciptakan dunia khayal tempat melampiaskan hasrat-hasrat narsisme mereka.

Sistem-sistem ini sudah mulai diciptakan bahkan sejak peradaban itu sendiri mulai muncul. Sebagian dari sistem-sistem ini terus menerus diwariskan, sebagian lagi telah punah dan mati, dan tergantikan oleh sistem-sistem baru yang muncul. Patah satu, tumbuh seribu. Bukankah naluri pengejaran kita dan juga sistem-sistem yang kita tapaki sebagian besar hanyalah plagiat dari naluri dan sistem yang telah dilakoni oleh leluhur-leluhur kita?

Sementara itu panah waktu terus melesat. Lalu kemana kah eksistensi leluhur kita, dan juga diri kita sendiri, ketika panah waktu ini melesat 1000 tahun ke depan? Akh, rasanya mirip seperti benteng pasir di tepi pantai yang habis tersapu ombak…

Ketika sedang dalam hasrat panas-panasnya mengejar ini itu, tahu tahunya ombak besar telah siap menyapu habis semuanya… dimana lagi artinya pengejaran-pengejaran tersebut??

——————————————————

“Anda terkena kanker payudara,” kata dokter bedah dengan mimik serius di wajahnya. Saya hanya tertawa dan berkata, “Tidak, benjolan itu bukan apa-apa. Bukankah itu yang Anda katakan sebelumnya?” “Anda terkena kanker payudara,” ia mengulangi. Yang hanya dapat saya lakukan adalah melihat ke dalam matanya dan berkata, “Itu pasti hanya bercanda. Saya baru 27 tahun…” Selama ini saya mengira bahwa kanker payudara adalah penyakit orang-orang seusia ibu saya ataupun wanita yang memiliki riwayat penyakit ini di dalam keluarganya. Namun tanggal 24 Februari, enam minggu setelah ulang tahun ke-27 saya, saya memulai perang dengan tubuh saya.

Dokter saya terlihat pucat ketika dia memberitahukan kabar ini kepada saya. Saya menatap foto putrinya serasa berjam-jam, yang kelihatan mirip dengan saya – muda, rambut hitam, mata coklat. Seorang pengacara, saya diberitahu. Itu bisa saja dia, dia bisa saja saya. Tetapi itu bukanlah dia. Saya telah terkena penyakit yang tidak ada obatnya – hanya pengobatan yang bisa saja berhasil ataupun gagal. Tidak ada janji, tidak ada jaminan. Pada usia 27, saya telah memikirkan rentang hidup saya ke depannya. Hari sebelum biopsi (pemeriksaan), saya menginginkan sebuah keluarga, anak-anak, sebuah rumah, sebuah mobil. Sekarang, tiga jam sesudah biopsi, saya menginginkan seseorang untuk memberitahu saya bagaimana saya akan memberitahukan teman-teman saya bahwa mungkin saya tidak akan hidup melewati tahun ini.

Saya baru saja mengikuti reuni ke-5, dimana saya bertemu rekan-rekan yang sedang menapaki karir dan hidup mereka. Bagi kebanyakan dari kami di reuni tersebut, tahun ke-5 sesudah wisuda tampaknya adalah masa transisi. Kami akan membuat keputusan mengenai pilihan-pilihan arah hidup kami – memulai, mengakhiri, atau barangkali berpikir melanjutkan pendidikan, menikah, pindah… Saya tidak pernah mengira bahwa kurang dari setahun kemudian, saya akan mengambil keputusan hanya mengenai bagaimana saya akan bertahan hidup.

(Barnard: Musim Gugur 97)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: