Catatan Perjalanan Melintasi Pesisir Barat dan Timur Amerika Serikat plus Perbatasan Meksiko

April 14, 2013

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Hollywood

Bulan Maret yang lalu, penulis berkesempatan mengelilingi sebagian wilayah barat dan timur Amerika Serikat, serta menyeberang perbatasan dari California menuju negara Meksiko. Perjalanan selama tiga minggu dengan rute sebagai berikut: Los Angeles – Las Vegas – Grand Canyon – Las Vegas – Los Angeles – Tijuana (Meksiko) – Los Angeles – San Fransisco – Silicon Valley Airport (San Jose) – Phoenix (transit) – Baltimore – Washington DC – New York – Niagara Fall (Cheektowaga) – New York – Boston – Cincinnati (transit) – Las Vegas – Los Angeles – Tokyo.

Apabila dilihat sekilas, rute di atas sangat tidak efisien dari segi waktu karena menyinggahi kota yang sama lebih dari satu kali, akan tetapi terpaksa dilakukan karena demi menghemat biaya transport, misalkan dari Boston terpaksa balik lagi ke Las Vegas karena pada saat itu tiket pesawat dari pesisir timur ke barat Amrik semua mahal kecuali rute yang satu ini. Lagipula tiba di Las Vegas malam hari, malam itu juga naik bus ke Los Angeles (nginap di bus). Selain itu, karena tiket pesawat dari Jepang ke Amrik ada promo dari Singapore Airline, rute menuju Los Angeles dari Tokyo pp di bawah 800 USD. Terpaksa Los Angeles menjadi titik acuan ketibaan di Amrik, walaupun dari segi letak, Los Angeles berada di tengah-tengah di antara Las Vegas, San Fransisco, Meksiko (jadi mau ga mau terpaksa bakal bolak-balik melintasi Los Angeles melalui perjalanan darat).

Karena terlalu panjang kalau mau diceritakan semua hal selama tiga minggu di Amrik ini, penulis hanya akan mendokumentasikan hal-hal yang menarik menurut penulis, serta pengalaman/ kesan pribadi selama perjalanan.

Baru saja menginjakkan kaki di tanah Paman Sam, penulis sudah “beruntung” disambut oleh seorang petugas imigrasi yang lagaknya bukan main. Petugas yang masih muda, penuh lagak mengecek lembar-lembar paspor. Ya mungkin tingkah laku anak muda di sini (Amrik) kebanyakan seperti itu, jadi penulis mencoba untuk maklum saja, tidak masalah banyak tingkah asalkan tidak banyak rese, dan bisa lolos masuk ke Amrik. Setelah melewati imigrasi dan pemeriksaan karantina tanpa ada masalah, penulis agak terhibur sedikit ketika turun dari eskalator, terpampang foto Presiden Barack Obama yang lagi tersenyum, dengan tulisan berukuran besar “Welcome to United States of America”.

Baru saja mood sedikit terhibur, ketika penulis menanyakan rute transport bus di bagian informasi bandara, ada dua orang turis Jepang yang juga menanyakan cara menuju ke downtown Los Angeles (LA). Karena mereka kurang bisa menangkap Bahasa Inggris petugas bagian informasi yang ngomongnya terlalu cepat, penulis pun mencoba membantu menjelaskan dalam Bahasa Jepang ke mereka. Eh tahu-tahu, petugas informasi tersebut tiba-tiba marah, mungkin dia merasa dilangkahi atau gimana gitu. What the hell, pikir penulis, apa salahnya kalau saya ingin membantu kedua turis tersebut.. lah wong dia ga sanggup menjelaskan dengan cara yang mudah dipahami.. kemudian ego nya terluka dan marah-marah. Wah ini beda sekali dengan di Jepang, kalau di Jepang justru petugas informasi akan senang karena ada yang telah bersedia membantu.

Mood penulis tambah rusak saja ketika connecting shuttle bus gratis dari bandara ke stasiun metro ga kunjung datang padahal sudah menunggu setengah jam lebih! Gila dah. Jujur saja, sistem public transport di Amrik kalah abis, telak! apabila dibandingkan dengan sistem transportasi umum di Jepang. Akhirnya bus gratis datang juga setelah menunggu hampir satu jam, dan ketika tiba di stasiun metro, lagi-lagi ada masalah! Uang yang penulis bawa dalam lembaran 100 USD, sedangkan mesin tiket metro cuma menerima maks lembaran 20 USD. Wah celaka nih! Melihat sekeliling, sepertinya cukup riskan juga kalau sembarangan mau menukar uang dengan orang tak dikenal. Akhirnya penulis mencoba mencari supermarket atau sejenisnya.. dan setelah berjalan agak jauh cuma terlihat sebuah toko kecil. Ketika membayar belanjaan dengan lembaran 100 USD, si pemilik toko pun memicingkan mata dan mengecek tuh lembaran cukup lama.. akhirnya mau menerima setelah yakin itu bukan uang palsu. Fiuhh.. problem solved !

homeless

Kota Los Angeles (LA) tidak seperti kota New York yang padat, di sini pemukiman agak lenggang. Di wilayah downtown LA banyak sekali orang-orang ga jelas seperti pengangguran, gelandangan, atau preman. Akan tetapi, penulis mengamati ada cukup banyak personel polisi yang berjaga-jaga di berbagai sudut kota. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari perbatasan dengan Meksiko, ada banyak sekali penduduk keturunan Amerika Latin (Meksiko) yang tinggal di sini dan berbicara dalam bahasa Spanyol.

Pernah kejadian juga, di suatu pagi buta, ketika penulis keluar dari hotel untuk membeli sesuatu di convenience store, berpapasan dengan seseorang keturunan Latin (tidak bermaksud rasis). Nih orang tiba-tiba ngomong tidak jelas, sepertinya mau meminta uang. Walaupun jantung agak berdebar, tapi ketika dalam situasi seperti ini, kita harus tenang dan tidak boleh panik. Sambil mengabaikan omongan orang ga jelas ini, penulis dengan percaya diri melewatinya, dan tidak terjadi apa-apa. Orang-orang seperti ini biasanya melihat reaksi “calon korban”. Jadi berpura-puralah Anda memiliki kemampuan beladiri, dan ikutlah seperti orang Amrik lainnya yang cuek dan bilang “Sorry”.

Memang cukup banyak orang-orang yang “sakit” ataupun “weird” (aneh) di Amrik, bukan cuma di LA, juga di Las Vegas ataupun kota-kota lain. Ada orang stres/ gila yang ngomong-ngomong sendiri di dalam kereta/ bus. Juga di LA, tidak jarang ada anak muda, baik bule kulit putih maupun afro-amerika yang minta duit/ ngemis. Tapi cara ngemis nya beda dengan di Indo.. mereka cuma berdiri di depan para penumpang dan bilang apabila ada yang mau berbagi sedikit (uang) kepada mereka. Apabila ada penumpang yang mau ngasih, si penumpang akan memanggil, dan ia datang menghampiri. Penulis heran bukannya untuk naik ke kereta si “pengemis” harus bayar tiket.. ternyata di LA ada banyak stasiun kereta yang tidak ada palang penghalang.. jadi bisa naik secara gratis (tapi katanya secara berkala ada petugas yang datang memeriksa, dan bisa kena denda apabila ga punya tiket – mungkin nih orang-orang sudah tau kapan petugas datang..)

Pernah juga penulis mendapati seorang bapak-bapak, yang tidak terlihat miskin sama sekali, berjualan snack coklat di dalam kereta di LA. “You get your snack, and I get my dinner” ujarnya… yach.. kalo di Indo kita sebut pedagang asongan kali ya..

Ketika di Las Vegas, penulis juga melihat ada saja orang-orang “weird” (aneh). Misalkan ada seorang pemuda bule yang memasang karton di dadanya bertulis “Kick my balls for only 20 USD” (Anda boleh menendang testis tuh orang dengan membayar 20 dolar). Di sepanjang ruas jalan utama Las Vegas, juga ada banyak sekali orang-orang yang berjualan kupon-kupon, entah kupon buat apa.. mungkin buat masuk club, nonton show, strip-tease, judi, dlsb. Memang pantas kota ini dijuluki “The City of Sin” (Kota penuh Dosa).

Ketika penulis tiba di Baltimore (pesisir timur Amrik) dan naik airport bus seharga 6 USD/ orang sekali jalan, ternyata penulis mendapati korupsi kecil-kecilan juga terjadi di Amrik (bukan cuma di Indonesia). Nih supir kulit hitam tidak memberikan slip tiket sebagai bukti pembayaran kepada penumpang, dan uang tersebut masuk ke kantong pribadinya. (Penduduk lokal sendiri banyak yang membayar dengan card, jadi si supir mikir mumpung ada turis nih yang bayar pake cash).

Yach, begitulah sisi-sisi negatif yang penulis observasi selama berada di Amrik untuk waktu yang cukup singkat. Tapi supaya adil, tentunya penulis juga mesti mengulas sisi-sisi positif yang ada.

Satu hal yang menakjubkan adalah luasnya daratan di Amrik. Perjalanan tiga minggu ini saja penulis sudah melihat beragam bentang alam, mulai dari padang tandus California, pesisir pantai, gunung-gunung cadas wilayah Grand Canyon, pepohonan rawa-rawa khas wilayah timur Amrik, sungai dan air terjun Niagara, hingga daratan berlapis salju berbatasan dengan Kanada.

typical desert in western US

sunny calif sea

somewhere near canada border

foggy golden gate

Karena sebegitu luasnya, maka memiliki sebuah mobil sudah menjadi “keharusan” bagi sebagian besar penduduk Amrik. Mungkin karena alasan ini juga, sistem transportasi publik (seperti bus umum atau kereta) kurang begitu berkembang. Pembangunan terlihat lebih fokus ke infrastruktur jalan raya untuk mobil.

Bagi Anda yang suka makan dalam porsi gede, mungkin Amrik adalah surga buat Anda. Contohnya porsi nasi goreng Thai yang penulis pesan, bisa buat 3 atau 4 porsi standard di Indonesia. Ga heran kalau penduduk Amrik banyak yang memiliki masalah obesitas (kegemukan). Makan di restoran cukup mahal, karena selain tax (pajak), Anda biasanya harus membayar tambahan uang tips 15% dari total harga.

Tidak seperti bayangan penulis, kebanyakan penduduk lokal Amrik ternyata bersedia membantu turis yang kesasar. Bahkan kota besar dan sibuk seperti New York, ketika penulis beberapa kali mencegat orang-orang yang lalu lalang untuk ditanyai, rata-rata akan bersedia membantu. Secara umum, atmosfir kehidupan masyarakat Amrik lebih rileks dan santai apabila dibandingkan kehidupan di Jepang yang penuh tekanan. Tapi ada pengecualian juga.. dari pengamatan penulis, penduduk New York banyak yang kelelahan dengan bayang-bayang kantung mata yang menggelantung.. hampir mirip dengan penduduk di Tokyo (lebih parah di Tokyo sih).. tapi untuk kota-kota lainnya di Amrik, ritme kehidupan memang lebih santai.

Walaupun infrastruktur public transport di Amrik kurang bagus, misalkan banyak stasiun kereta bawah tanah di New York yang ga ada lift atau eskalator, tapi ada hal menarik yaitu Anda bisa membawa masuk apa saja. Pernah penulis melihat ada orang yang membawa masuk seekor anjing raksasa, juga orang yang membawa masuk sepeda gunung ke dalam kereta. Bus-bus umum di LA juga banyak yang memiliki rak sepeda gantung di depan bus.

bicycle rack of LA bus

Hal menarik lainnya yang penulis amati adalah bahasa yang dipakai dalam pengumuman di kereta atau bus umum ternyata berbeda-beda, disesuaikan dengan etnis dominan yang menempati wilayah tersebut.. misalkan kereta di LA pengumuman dalam Bahasa Inggris dan Spanyol, bus di San Fransisco dalam Bahasa Inggris dan Kanton (Cantonese), di dalam sebuah bus airport di San Jose, penulis melihat ada Bahasa Inggris dan Vietnam.

 

******

 

Dalam perjalanan kali ini, penulis juga beberapa kali mengalami pengalaman yang menegangkan. Yang pertama adalah ketika naik bus umum di Las Vegas dengan tiket yang sudah “kadaluwarsa”. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kadangkala kita bisa naik bus/ kereta tanpa tiket karena ga ada palang penghalang. Karena buru-buru harus berangkat ke terminal untuk mengejar bus Las Vegas – Los Angeles, dan di halte bus terdekat ga ada mesin tiket, juga ga bisa beli tiket di dalam bus (kabin supir disekat terpisah dengan kabin penumpang), akhirnya penulis nekat saja naik ke bus kota tersebut yang arah menuju ke terminal. Hari sebelumnya penulis sudah membeli tiket bus yang berlaku selama 24 jam, akan tetapi berlakunya hanya sampai sore.. sedangkan pas penulis naik bus ini, hari sudah malam. Ya sudahlah.. pikir penulis.. masa sih malam-malam gini masih ada pemeriksaan secara acak (random inspection). Bus pun berjalan pelan melewati kawasan The Strip (jalan utama di Las Vegas) dengan hotel dan kasino di kiri kanan. Eh.. di tengah perjalanan tiba-tiba ada petugas yang naik ke bus! Oh my!! Celaka nih! “Good evening, would you please show your ticket..” Si petugas pun mengecek satu per satu penumpang yang duduk di depan. Penulis pun mengeluarkan tiket 24 jam yang dibeli kemarin, tercetak dalam ukuran besar.. berlaku sampai tanggal sekian (hari ini).. dan di bawahnya dengan ukuran agak kecil.. hingga pukul sekian. Ketika si petugas datang, penulis pun dengan tenang menunjukkan tiket tersebut. “Thank you Sir,” kata si petugas setelah melihat sekilas tiket yang penulis tunjukkan, dan berlalu untuk mengecek tiket penumpang lain. Fiiuhhh… tenyata si petugas hanya melihat tanggal berlaku saja (yaitu sampai dengan hari ini). Gile dah.. bisa-bisanya kebetulan inspeksi mendadak timingnya pas penulis ga sempat beli tiket… tapi syukurlah bisa lolos. Ga lucu donk kalau harus bayar denda sekian ratus dolar (sekian juta rupiah) hanya gara-gara tiket kadaluarsa beberapa jam sebelumnya..

Pengalaman lainnya adalah ketika penulis berjalan-jalan di sekitar Pentagon, Markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Ketika tiba di stasiun subway Pentagon, sudah terlihat banyak personel militer yang lalu lalang. Bukan cuma personel militer, ada banyak juga staf sipil (non-militer).. mungkin profesi sebagai analis kebijakan, intelijen, dsb. Karena penulis melihat ada beberapa orang yang mencegat seorang serdadu militer dan minta tanda tangan, jadi ikut kepikiran bagaimana kalau minta foto bersama. “Oh maaf, saya sedang buru-buru sekarang,” jawab serdadu tersebut. Penulis pun foto-foto di sekitaran bangunan Pentagon yang berbentuk segi-lima. Kadang terlihat ada serdadu yang heran atau mengernyitkan dahinya melihat ada turis yang gila foto-foto. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang lewat dan bilang kalau tidak boleh foto di sekitaran sana… dan memang ternyata ada papan berukuran gede tertulis “dilarang foto” yang tidak penulis sadari… upps.. Setelah memperhatikan agak detail, bahkan ada himbauan kepada warga agar melaporkan apabila melihat ada orang yang mencurigakan yang memfoto/ merekam video, menggambar sketsa, ataupun meng-observasi secara mencurigakan sekitaran Pentagon. Wah gila… untung saja penulis masih bisa pulang dengan selamat..

Satu lagi pengalaman lainnya yang cukup menegangkan adalah ketika berada di kota Tijuana, Meksiko. Sebelumnya, penulis akan menceritakan dulu sedikit latar belakang kota di Meksiko yang sangat dekat dengan perbatasan Amrik ini, serta seluk beluk melintasi perbatasan Amerika Serikat – Meksiko melalui jalur darat. Dari Los Angeles, ada bus yang menuju Tijuana, memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam, berhenti di beberapa kota seperti San Diego, dsb. Bus Greyhound (rute ke Meksiko) yang penulis naiki kondisinya cukup jorok dan tidak terawat, beda dengan Megabus yang sering penulis naiki dalam rute antar-kota di Amrik. Sebelum ke Tijuana, sudah banyak desas-desus tentang keamanan yang labil di wilayah Meksiko, misalkan pernah ada insiden mafia narkoba yang baku tembak dengan aparat keamanan di sana. Bahkan Amrik mengeluarkan “travel warning” agar sebisa mungkin menghindar dari bepergian ke sana apabila tidak ada hal yang mendesak. Tapi bukankah tempat yang berbahaya kadang malah tempat yang aman? Hehe.. Lagipula penulis melihat ada banyak penumpang bus Greyhound tersebut, mayoritas orang Latin (Meksiko), ada juga bule. Sepanjang perjalanan sesekali kita bisa melihat pesisir pantai Southern California yang hangat.. Ketika tiba di perbatasan Meksiko, ternyata imigrasi Meksiko sangat simpel. Bahkan pemegang paspor Indonesia apabila memiliki visa Amerika Serikat, ga butuh visa Meksiko lagi untuk masuk ke Meksiko (kebijakan ini berlaku sejak beberapa tahun yang lalu). Tidak ada pemeriksaan paspor sama sekali! (apabila lewat jalur darat melintas dari Amrik) (yach.. sayang sekali deh.. jadinya ga dapat cap bukti masuk ke Meksiko, hehe..). Cuma ada pemeriksaan bagasi yang cukup simpel. Di kejauhan, tampak dua orang serdadu militer Meksiko menenteng senapan serbu. Sangat gampang masuk ke Meksiko dari Amrik, tapi tidak untuk kebalikannya (masuk ke Amrik dari Meksiko)…nanti akan penulis ceritakan.

sunset at Tijuana

Tiba di Tijuana sudah sore. Tijuana adalah kota yang dinamis, dari segi harga barang-barang juga lebih murah dibandingkan di Amrik. Di pusat kota, ada Plaza, Bioskop, dsb.. juga penuh dengan keramaian.. sangat jauh dari kesan seram yang didengung-dengungkan di Amrik (emang lebay nih pemerintah Amrik). Cuma ada satu masalah yaitu masalah bahasa.. penduduk disana banyak yang ga bisa berbahasa Inggris, hanya bisa Bahasa Spanyol. Menurut penulis, penduduk Meksiko memiliki keragaman genetik yang cukup luas.. penduduk berdarah Latin kebanyakan adalah campuran ras kulit putih (Eropa terutama Spanyol) dan penduduk asli di Amerika Latin. Jadi ada yang terlihat mirip orang bule, juga ada yang berkulit agak kecoklatan. Mereka menyebut perpaduan etnis ini sebagai Mestizo. Orang-orang Mestizo rata-rata memiliki spirit yang riang, dan atmosfir kehidupan yang santai. Banyak juga terlihat gadis-gadis yang manis di Tijuana, yang memiliki hidung yang mancung tapi postur tubuh yang tidak terlalu tinggi besar.

Penulis pun berkeliling kota Tijuana dengan jalan kaki. Ada beberapa area kota yang sepertinya cukup riskan, terlihat dari tembok yang dicat dengan grafiti, ataupun bangunan yang kumuh. Setelah cukup lelah, penulis pun ingin kembali ke hotel. Setelah melihat peta, sepertinya ada jalan pintas yang jaraknya lebih dekat. Hanya saja di peta terlihat jalan ini nyambung dengan jalan layang. Karena ingin segera meregangkan tubuh yang lelah, penulis pun mencoba jalan pintas ini. Benar saja, tiba-tiba jalan tersambung ke jalan layang. Apakah nanti bisa turun kembali dari jalan layang ke jalan biasa? Sudah kepalang tanggung, pikir penulis, akhirnya penulis nekat lanjut jalan menyusuri jalan layang tersebut. Gila saja, trotoar buat pejalan kaki tiba-tiba habis, dan penulis harus berjalan di pinggiran jalan layang, dimana kendaraan melaju kencang di samping. Senja pun sudah berganti gelap.. tidak ada tanda-tanda jalan layang ini nyambung ke jalan biasa yang bisa arah ke hotel. Ternyata jalan layang ini nyambung ke ruas jalan raya yang lain, yang sudah tidak bisa penulis pastikan lokasi persisnya di peta ada dimana. Celaka nih! Di simpang empat lampu merah, kendaraan-kendaraan pun berhenti, dan terlihat ada banyak pedagang asongan yang berjualan (kaya di Indonesia saja). Terlihat juga ada pengemis, gelandangan, dan orang-orang ga jelas lainnya. Tiba-tiba terlihat ada bus umum! (tapi tidak tahu rute kemana). Karena sudah lelah, penulis pun nekat naik sekalian coba tanya supirnya apakah bisa menuju ke arah hotel. Supir bus tidak mengerti Bahasa Inggris! Untungnya ada seorang penumpang yang bisa Bahasa Inggris, dan mau menolong turis kesasar yang malang ini, hehe.. Oh jadi katanya penulis harus turun setelah melewati jembatan bla bla bla, dan jalan ke arah bla bla … sepanjang jalan di dalam bus, penulis pun berjuang keras mencocokkan apa yang terlihat melalui jendela bus dengan peta kucek yang digenggam. Akh! akhirnya penulis berhasil mengestimasi lokasi, dan ketika turun dari bus, sudah tahu bagaimana rute kembali ke hotel yang memang sudah tidak begitu jauh. Wheew.. untung saja.

Ya begitulah pengalaman seru mendebarkan di Tijuana. Dari Meksiko, penulis harus kembali ke Amrik. Dan kali ini karena semuanya dalam Bahasa Spanyol, akhirnya dibawa oleh supir taksi ke sebuah jasa travel yang menyediakan mini-van buat ke Los Angeles. Dari segi harga sedikit lebih mahal dibandingkan bus Greyhound, tapi tidak apalah. Di dalam van, ada belasan penumpang lainnya, dan kami pun menuju perbatasan Amrik. Gilaaa saja… kami harus menunggu berjam-jam (empat jam lebih !!!) untuk melewati imigrasi Amerika Serikat. Beda langit dan bumi dengan ketika masuk ke Meksiko yang cuma menunggu beberapa menit. Kontrol perbatasan oleh petugas imigrasi Amrik super ketat, tapi terlalu lamban. Beberapa penyebabnya adalah ternyata karena mereka memprioritaskan warga negara Amerika Serikat terlebih dulu untuk lewat, juga ada security check kendaraan-kendaraan yang lewat. Ternyata banyak penduduk Meksiko yang membawa semacam kartu pass gitu, jadi ga bawa paspor. Ketika akhirnya antrian penulis tiba, petugas imigrasi pun tampak kebingungan melihat paspor penulis. “Where are you from?” tanya petugas kulit hitam yang tampak heran. “Indonesia,” jawab penulis. “Indonesia?” ia terlihat seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu. Akhirnya penulis dipersilahkan lewat, dan tidak ada cap/ stempel di paspor (cuma di-scan saja paspornya). Penulis rasa sepertinya tuh petugas samar-samar ingat kalau Barack Obama sewaktu kecil pernah sekolah di Indonesia, hehe.

Ternyata setelah melewati perbatasan, penulis harus ganti ke van lainnya. Tapi si supir hanya mengumumkan dalam bahasa Spanyol. Ganti van di mana? Semua penumpang yang lain tidak ada yang ke Los Angeles. Untung ada seorang bule Amrik (penumpang lainnya) yang berbaik hati menjelaskan ke penulis harus ganti bus di belakang Mc Donald setelah melewati gerbang imigrasi.

 

******

 

Demikianlah sekelumit catatan perjalanan penulis mengelilingi sebagian wilayah Amrik. Sayang sekali ketika penulis tiba di Grand Canyon, pemandangan tertutup oleh kabut tebal dan juga turun salju deras sehingga jurang menganga sama sekali ga kelihatan. Juga di bulan Maret, suhu udara di Niagara Fall masih dingin membeku.. dan ga bisa naik kapal karena masih banyak es mengapung di sungai di bawah air terjun. Dalam perjalanan pesawat dari Phoenix (Arizona) ke Baltimore (Maryland), penulis disuguhi pemandangan alam yang luar biasa.. terutama the Great Plain (dataran tengah Amrik) yang luar biasa luas dan menakjubkan.. Pemandangan di sepanjang jalan menuju Southern Rim Grand Canyon juga amazing, niscaya akan membuat Anda berdecak kagum.

Foggy Grand Canyon

Kabut tebal yang menutupi jurang menganga Grand Canyon

 

Frozen Niagara Fall

Air Terjun Niagara yang hampir membeku

 

Phoenix Arizona

Phoenix, Arizona – sebuah kota di tengah padang tandus

aerial Circle Patterns

Pola-pola lingkaran aneh di Great Plains, sepertinya untuk agrikultural.. cuma airnya dari mana ya??

rugged terrain

Hamparan luas daratan Amerika

US Eastern coast

Pesisir timur dengan pepohonan kering musim dingin

Boston MA

Boston dan sekitarnya dilihat dari udara


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers