Perjalanan Menyelusuri Pesisir Timur Benua Kangguru: Australia

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

flower clown

Akhir Desember 2013 sampai awal Januari 2014, akhirnya penulis berhasil menginjakkan kaki di Benua Kangguru (setelah sebelumnya pernah batal internship di Australia padahal visa sudah dapat). Sebelum berangkat, penulis agak kuatir karena menjelang Natal dan Tahun Baru biasanya adalah peak season, yang pastinya tiket pesawat/ transportasi dan hotel-hotel akan menjadi agak mahal. Tapi karena libur perusahaan adanya di sekitaran Tahun Baru, ditambah cuti bisa libur agak panjang, akhirnya penulis memutuskan untuk mengambil resiko peak season ini, hehe.

Rute perjalanan penulis kali ini adalah: Tokyo – Jakarta – Kuala Lumpur – Melbourne – Canberra – Sydney – Cairns (+Great Barrier Reefs) – Brisbane – Gold Coast – Singapore – Batam – Jakarta – Tokyo.

Walaupun sudah agak mepet menjelang akhir tahun, penulis masih berhasil mendapatkan tiket pp dari Indonesia ke Australia sekitar Rp.6-7 juta (berangkat dari Jakarta ke Melbourne dengan AirAsia dan balik dari Gold Coast (Australia) ke Singapore dengan Scoot). Wah rasanya ga sabar untuk merasakan Summer Xmas di Australia; juga berenang/ snorkelling di Great Barrier Reefs yang sudah penulis impi-impikan sejak kuliah di ITB dulu.

Tepat pada hari Natal, 25 Desember 2013, penulis pun mendarat di Melbourne. Tiba di kota, ternyata toko-toko pada tutup! Alamak, mestinya tadi di airport penulis beli saja sim card paket internet Optus meskipun antriannya panjang.. wifi di hotel mesti bayar lagi dan mahal. Supermarket dan toko-toko sim card ga ada satupun yang buka, paling yang buka cuma convenience store seperti 7-11 ataupun restoran di Chinatown Melbourne. Sayangnya convenience store ga menjual sim card paket data untuk iPad. Sungguh tidak beruntung nih datang pas Natal, keluh penulis, akan tetapi akhirnya penulis sedikit terhibur, ternyata transportasi umum di Melbourne (tram, bus, train) semua GRATIS pas Natal. Duh, tau begitu tadi dari airport naik bus umum dan train saja, ga perlu naik Skybus yang cukup mahal.. Tapi ya sudahlah… karena gratis penulis pun coba naik kereta + bus hingga balik lagi ke airport demi bela-belain mendapatkan sim card paket data internet. Di Melbourne pas musim panas walaupun uda jam 7 malam tapi masih cerah, matahari terbenam sekitar jam 8 an malam.

Keesokan harinya, kami pun bermaksud membeli tiket bus malam di konter tiket bus dekat Southern Cross Railway Station, Melbourne. “Oh, sorry, tiket uda sold out.” “What? Kalo tiket buat besok?” “Uda habis juga sampai Tahun Baru.” Wah celaka nih ternyata kemarin pas liat-liat online booking internet, tertulis sisa 1 tiket ternyata memang benar. Duh, penulis pun memutar otak dan mencoba ke Railway Station nanya tiket dari Melbourne ke Sydney atau Canberra. “Oh ini peak season, tiket kereta api sudah habis sampai beberapa hari ke depan.” Waduh masa mesti naik pesawat cuma buat ke Sydney; dan kemarin sempat lihat-lihat tiket pesawat seorang kena Rp sejuta lebih. “Jadi gimana dunk,” tanya penulis. “Coba kamu tanya tiket Vline ke Canberra, mungkin saja masih ada, konternya ada disana.” Penulis pun ke konter Vline. Vline ini sejenis regional train network, jadi kereta api tapi rute Provinsi Victoria doank. “Ya ada buat ke Canberra, tapi kamu mesti naik Vline ke Albury dulu, kemudian dari sana transfer ke coach (bus) menuju Canberra, total sekitar 8 jam dan seorang kena 54 AUD”.

“Yay, syukurlah..” ujar penulis dalam hati. Tapi ternyata terjadi insiden/ masalah lagi!! Kartu kredit milik ayah penulis lupa ditanda-tangan di bagian belakang, dan setelah ayah penulis menandatangani struk pembayaran, si petugas konter membalikkan kartu kredit untuk mencocokkan kesamaan tanda tangan. Ia kaget melihat tidak ada tanda tangan, dan meminta identitas dari ayah penulis yang menunjukkan tanda tangan yang sama dengan di struk. Masalahnya adalah tanda tangan yang diregistrasi di kartu kredit tersebut beda dengan tanda tangan di paspor!! Penulis mencoba menjelaskan, tapi si petugas tetap ngotot minta lihat paspor. Akhirnya setelah kami berikan paspor nya, dia melihat beda tanda tangannya. “Ya sudah.. tolong dibatalkan saja transaksi kartu kredit yang tadi, pakai kartu kredit saya saja,” ujar penulis. “Ga bisa, transaksinya sudah final..” jawab si petugas. “Jadi gimana dunk?!!” penulis pun sudah mulai naik pitam. Akhirnya si petugas mau mencetak juga dua lembar tiket, setelah ngomel-ngomel bilang kalau kalian transaksi di bank, kartu kredit nya bakal sudah disita, malah bisa dianggap perbuatan kriminal bla..bla.bla… untung saya tidak peduli dengan urusan imigrasi bla..bla.bla (kayanya si petugas curiga kami adalah imigran gelap di Australia wkwkkwkk). Fiuhh akhirnya selesai juga masalah.. Lesson of the story: Jangan lupa tanda tangan bagian belakang kartu kredit Anda.

Perjalanan dengan Vline dari Melbourne ke Albury lalu bus ke Canberra melewati padang rumput yang sangat luas dan pedesaan khas wilayah Victoria. Di sepanjang jalan kadang terlihat sapi, domba, maupun kuda… pantesan saja ga heran Australia adalah eksportir produk peternakan yang cukup besar.

Tiba di Canberra sudah malam dan hujan. Sebenarnya dari terminal bus ke hotel bisa jalan kaki sekitar sepuluh menit. Tapi karena hujan dan juga kondisi kesehatan ayah penulis yang lagi batuk parah, akhirnya kami pun naik taksi. Keesokan harinya kami pun keliling Canberra, kebetulan ada bus no 100 gratis memperingati 100 tahun diresmikannya kota Canberra yg jatuh tepat pada tahun 2013. Lumayan deh, hehe.. Kota Canberra adalah kota kecil yang tenang dan asri, markas pemerintahan Australia. Kami pun mengunjungi gedung Parlemen Australia. Menariknya di taman di dekat Parlemen ada berdiri gubuk dengan bertuliskan “Aboriginal Embassy, Decolonising Now” dengan bendera Aborigin tertancap. Nanti kisah di Cairns, ada pengalaman menarik yang akan penulis ceritakan terkait masyarakat Aborigin ini. Setelah puas berkeliling Canberra, sore nya kami pun berangkat naik bus Murray dari Terminal bus Jolimont Centre Canberra menuju Sydney (yang hanya sekitar tiga setengah jam).

sydney dusk

Tiba di Sydney sudah malam, dan kami pun menuju Chinatown Sydney, Chinatown terbesar di Australia untuk makan malam (soalnya ayah penulis ga doyan makan Western foods, maunya Asian foods, jadi apa boleh buat, setiap kali penulis mesti browsing nyari-nyari di mana bisa makan Asian foods). Menurut penulis, Chinatown Sydney sangatlah dinamis, melting pot dari berbagai sub-etnis masyarakat China perantauan, juga belum lagi turis-turis dari berbagai negara. Nah ada kejadian gelo lagi ketika kami makan di sebuah food court di Chinatown Sydney ini. Jadi selain Chinese food, kebetulan ada kios yang jual masakan Indonesia juga, jadi penulis pun pesan sepotong ayam gulai, dan beranjak ke kios lain buat pesan jus. Ayah penulis nanya apa gpp nih sepotong ayam gulainya ditinggal begitu saja di atas meja. Penulis bilang gpp lah, masa sih ada yang mau nyuri cuma sepotong ayam. Eeehh tidak taunya.. bukan mencuri (membawa pergi) sih, tapi ada bule gila yang makan tuh ayam gulai, on the spot lagi.. Hahaha damn! Ya sudahlah, kayanya tuh bule memang sepertinya kelaparan berat dan juga mungkin kurang waras (kalau waras pasti dia nyolong bawa pergi tho). Juga selagi makan, ada seorang pemuda tampang Asia yang datang ngemis-ngemis duit minta 2 dolar ke para pengunjung yang sedang makan. Tapi penulis lihat kebanyakan orang tidak ngasih, toh soalnya tuh pemuda masih sehat walafiat begitu..

me and koala

Keesokan paginya kami pun ke Featherdale Wildlife Park karena pengen ketemu dengan kangguru dan koala. Kebetulan jalur kereta api menuju sana lagi diperbaiki, jadinya kami naik bus dari Central Railway Station menuju ke Blacktown Station, lalu pindah ke bus lokal arah ke Featherdale. Sorenya kami ke Opera House Sydney, sekalian naik feri rute menuju ke Manly Beach.

Keesokan harinya kami sudah mesti siap-siap berangkat menuju Cairns, setelah sebelumnya berhasil mendapatkan tiket Virgin Australia yang cukup mahal, seorang kena Rp. 3 jutaan one way (padahal low season bisa cuma setengah atau dua-pertiga harga). Ya apa boleh buat, ini adalah resiko adventurous travelling tanpa itenary (sebab kami tidak tahu akan berada di mana esok hari  =D). Tapi sudah sampai di Australia, masa sih rela batal ke Cairns (Great Barrier Reefs) padahal ini adalah Rentetan Batu Karang Raksasa yang sangat luas bahkan bisa terlihat dari luar angkasa.. Nah ternyata ada lagi kejadian yang bikin penulis dag-dig-dug dan hampir kecewa berat. Hari-H mau berangkat ke Cairns, pagi-paginya penulis baru mau booking tur dari Cairns menuju Great Barrier Reefs (Green Island). Karena beberapa hari sebelumnya penulis iseng-iseng searching melihat masih banyak slot tur menuju ke Green Island (sebuah pulau tropis di tepian Great Barrier Reefs), jadi penulis nyantai-nyantai mikir pasti masih banyak slot tur buat besok. Ternyata oh ternyata, slot One Day Full Tour ke Green Island buat besok uda ludes!!! Penulis tidak langsung menyerah, dan mencari sampai beberapa travel agents lainnya.. ada yang ga bisa online booking, jadi mesti telepon.. penulis pun telepon ke sana sini. OMG, ada operator yang ngomongnya pake aksen Australian English yang kental banget terus ngomongnya cepat banget, bikin penulis tambah frustasi (ternyata bener pengalaman beberapa bulan sebelumnya penulis testing SIRI di iPad, overall American English dan British English bisa memahami apa yang penulis ucapkan, tapi Australian English seringkali ga ngerti ucapan penulis). Masa sih kami ke Cairns tapi ga ke Barrier Reefs, what a ridiculous joke! Akhirnya ada satu operator tour yang bilang, masih ada sisa sedikit slot nih tapi yang Half Day Tour ke Green Island, berangkatnya pagi banget dan jam satu siang sudah balik lagi ke Cairns, apakah mau? Okay, daripada kaga ada, tur setengah hari juga gpp lah.. Fiiuhhh akhirnya kecapaian juga nih impian dari dulu buat snorkelling di Great Barrier Reefs, pikir penulis dengan lega.

Setelah keliling beberapa sudut kota Sydney (oh ya di Sydney ada juga Bus no 555 yang bisa dinaiki gratis dari Central Station (area Haymarket dan Chinatown) ke Circular Quay (area Opera House dan Harbour Bridge) sepanjang George Street), sorenya kami pun menuju ke airport buat berangkat ke Cairns. Tiba di Cairns sudah malam, dan kami pun mesti segera istirahat karena esoknya harus sudah stand-by jam 07:30 buat jemputan tur ke Green Island.

Nah ternyata kembali ada masalah. Katanya jam 07:45 akan ada mobil yang datang menjemput, penulis tunggu-tunggu koq sudah hampir jam 08:00 belum datang juga.. Wah bahaya juga nih kalo kapal ke Green Island nya berangkat jam 08:30 bisa-bisa ketinggalan kapal. Agak mulai cemas, penulis pun telepon ke operator tur nya, katanya dia coba call supir nya tapi ga masuk.. Dia bilang bentar nanti dia telepon balik… Beberapa saat kemudian operator telepon masuk dan bilang supirnya tadi datang ke hotel jam 07:45 tapi kami ga ada. “Apa??!!! Kami sudah nunggu di lobi hotel dari jam 07:30 ya, dan ga ada seorang pun yang datang menghampiri kami menanyakan nama kami!” sahut penulis dengan agak emosi. Kemudian si operator nanya apakah kami bisa naik taksi sendiri ke dermaga kapal. Penulis pun menjawab kalau harga tur sudah termasuk biaya jemput pp dari hotel. Si operator pun bilang mereka akan mengirim taksi ke sana buat jemput. Waktu pun terus berdetak dan sudah jam 08:15, akhirnya ada jemputan taksi yang datang. Akhirnya tiba di dermaga hampir jam setengah sembilan, tapi ternyata kapal ke Green Island nya berangkat jam 09:00. Haduuuh.. bikin panik dan sport jantung saja pagi-pagi begini.. Penulis menduga ada 2 kemungkinan, pertama mereka memang lupa menjemput, atau penulis lihat memang tadi pagi ada beberapa mobil dan bus yang lewat depan halaman hotel, tapi kan kami ga tau dunk ini tur yang mana.. mestinya si penjemput cek masuk ke lobi dan memanggil nama kami, itu baru benar..

green island coral

Akhirnya kami pun naik kapal (high-speed catamaran) ke Green Island. Laut yang begitu indah.. dengan pantulan air jernih biru kehijauan.. Kami pun naik glass-bottom boat, juga penulis menyempatkan berenang dan snorkelling. Cuma sayangnya terumbu karang di Great Barrier Reefs banyak yang sudah mengalami bleaching (pemutihan), dan juga ikan tidak sebanyak di Hawaii (pengalaman snorkelling penulis sebelumnya). Tapi overall, pemandangannya indah dan menyegarkan pikiran. Ga sia-sia penulis mati-matian berjuang buat ke sini.. haha..

Setelah balik dari Green Island, kami pun masih menginap satu malam lagi di Cairns karena tiket pesawat sudah dibeli dari Cairns ke Brisbane berangkat keesokan hari (31 Des sore) dengan Qantas (ada tiket promo cuma sekitar Rp.1,5 juta/ orang one way). Hotel di Cairns yang kami inap ini termasuk hotel bagus dengan tarif termurah selama perjalanan kami di Australia ini (sekitar Rp.700-800 ribu per malam buat 2 orang). Karena ada waktu, penulis pun menjelajah sudut-sudut Cairns. Di Cairns, kita bisa membeli tiket bus umum buat dipakai sepuasnya seharian cuma 5-6 AUD (naik dua kali saja juga ongkosnya uda segitu).

Cairns adalah kota kecil yang sangat tenang dan simple. Di sebuah minimarket dekat hotel penulis pun menemukan ada dijual Indomie sebungkus sekitar 1 dolar. Kota yang damai, pikir penulis, sampai terjadilah satu insiden.. Suatu malam ketika penulis hendak naik bus umum ke pusat kota Cairns, di halte bus penulis melihat ada sepasang suami istri suku Aborigin sedang menunggu bus. “Bus nya baru saja pergi,” ujar si suami kepada penulis. Istrinya tampak sedang duduk sedih di atas trotoar. Beberapa saat kemudian, datanglah bus, tapi anehnya bus berhenti agak jauh dari halte bus, kemudian penulis melihat si supir bus melambai-lambaikan tangannya menyuruh kesana. Penulis pun segera berlari naik ke bus. “Cepat, ambil tempat duduk.” Setelah menunjukkan tiket one day pass, penulis pun duduk sambil kebingungan.. Ternyata ketika suami istri Aborigin itu datang menghampiri bus, si supir bus segera menutup pintu bus dan meninggalkan suami istri Aborigin. Penulis pun mulai emosi, sambil berpikir koq bisa-bisanya si supir bus begitu rasis dan diskriminatif!! Tapi penulis mencoba menahan diri dan melihat sekeliling, ternyata ada juga beberapa penumpang suku Aborigin di dalam bus. Jadi tampaknya si supir tidak ngasih naik bukan karena rasis terhadap suku Aborigin.. melainkan mungkin sepasang suami istri tersebut selalu naik bus tanpa bayar kayanya.. Jadi si supir bus memang ga bisa benar-benar disalahkan juga.. Namun walau demikian, penulis tetap merasa iba dan ga tega melihat kejadian seperti ini.. Tentu saja kalau suami istri Aborigin tersebut memiliki uang, mereka akan bayar.. tapi kan akibat kemiskinan, jadinya tidak sanggup membayar.. di mana jaringan sosial Pemerintah Australia untuk membantu mereka yang terpinggirkan ini?! Pantesan saja, suku Aborigin ingin merdeka dan bikin gubuk “Aboriginal Embassy” di depan Parlemen Australia di Canberra. (Memang suku Aborigin banyak yang hidupnya masih di bawah garis kemiskinan, mungkin mirip seperti suku Papua di Indonesia.. tapi setelah penulis observasi sebenarnya ada juga suku Aborigin yang sukses dan makmur seperti yang penulis jumpai di kolam renang hotel.. Walaupun Pemerintah Australia memang perlu dikritik atas insiden ini, tapi at least satu hal yang masih bagus adalah masih adanya kebebasan untuk berekspresi dan protes seperti kasus berdirinya gubuk di taman dekat Parlemen Australia).

Insiden ini membuka mata penulis bahwa memang di mana pun selalu ada kesenjangan sosial, dan menurut hemat penulis, pemerintah sebenarnya harus berperan sebagai regulator untuk menolong mereka-mereka yang berada di titik paling nadir (bawah).

Insiden realita sosial seperti ini biasanya tidak akan Anda jumpai kalau ikut tur terorganisir. Makanya penulis lebih menyukai bepergian secara mandiri, walaupun berat dan keteteran sana sini mencari informasi, tapi bisa ‘menyelam’ dan merasakan lebih dekat kehidupan sosial masyarakat..

Sore sehari sebelum Tahun Baru 2014, kami pun berangkat dari Cairns menuju Brisbane. Di dalam pesawat, penulis bisa melihat bercak-bercak biru kehijauan, segmen dari Barrier Reefs. Luar biasa panjang dan luas memang, terbang 30 menit lebih masih terlihat bagian kecil dari Karang Raksasanya, sampai akhirnya pandangan tertutup oleh kabut awan. (Tips: dalam penerbangan dari Cairns ke Brisbane duduklah di kursi paling kiri dekat jendela).

New Year Eve di Brisbane, kami pun cuma dinner masakan Hunan (yang asin banget) di Chinatown Brisbane, serta melihat kehidupan malam di area Fortitude Valley (banyak tempat clubbing dan diskotik). Karena sudah lelah, kami pun balik ke hotel dan penulis masih harus browsing gimana caranya dari Brisbane menuju Gold Coast besok (padahal orang-orang sedang merayakan momen-momen count down 2014).

Esok harinya, kami keliling Brisbane. Nah yang menarik dari Brisbane adalah adanya jasa CityHopper, feri gratis yang menghubungkan beberapa titik di Sungai Brisbane. Yang penulis heran, dengan adanya CityHopper gratis, feri berbayar macam CityCats dan CityFerries jadi ga laku dunk.. dan memang feri berbayar terlihat kosong melompong ga ada penumpang sedangkan yang gratis penuh penumpang.. (dimana-mana sama saja ya, semua orang pengen yang gratisan, hehehe).

Setelah puas keliling Brisbane, kami pun naik kereta menuju Gold Coast (saran dari penulis, belilah GoCard untuk mendapatkan diskon naik transport di area Brisbane, Gold Coast, dan Sunshine Coast; ntar ketika pulang sisa uang dan deposit bisa diminta kembali kalo belinya pake cash dan apabila nominal sisa di bawah jumlah tertentu). Hotel-hotel di Gold Coast pada musim tahun baruan sangatlah mahal, termahal selama perjalanan penulis di Australia ini.

Kami tiba di Gold Coast sudah 1 Januari sore, dan pesawat kami terbang dari Gold Coast ke Singapura tanggal 2 Januari sekitar jam 9 pagi! Baru saja sebentar melepas lelah dan foto-foto di balkon hotel karena terlihat city view yang keren, dan juga berenang menjelang maghrib di kolam renang, penulis pun mencoba tanya ke lobi hotel alternatif transport dari hotel ke bandara pagi-pagi buta. “Oh ada coach, tapi kalo buat besok pagi, mesti booking sebelum jam 7 malam, sekarang sudah jam 8 malam.. ga bisa lagi..” Oh my, lagi-lagi… “Kalo taksi gitu gimana?” penulis memikirkan alternatif lain. “Ada, sekitar 60-70 AUD sampai ke bandara..” “Oh ya, saya pernah dengar ada bus umum ya sampai ke bandara?” pancing penulis. “Ya ada, naiknya harus dari daerah sini, dan kami ga gitu yakin schedule nya berangkat jam berapa, mesti di-cek sendiri di halte bus”. Kami pun sekalian keluar dinner sekalian memastikan jadwal keberangkatan bus umum arah ke airport. Ada ternyata!

Karena bus umum butuh sekitar sejam sampai ke airport, kami pun mesti tidur lebih awal karena pagi-pagi buta sudah harus bangun. Tapi sebelum ini kami coba melihat-lihat bazar di sekitar Surfers Paradise, siang hari banyak yang berselancar di pantai ini, namun ketika malam menjelang, pantai pun gelap dan sepi, sebagai gantinya kawasan kota lah yang menjadi ramai.

Esok subuh buta kami pun sudah bangun.. dan syukurlah tidak ada masalah sama sekali. Bus 702 menuju airport datang tepat waktu, dan dua orang cuma habis sekitar 10 AUD saja.. gila hemat lumayan dibandingkan naik coach ataupun taksi  =D haha.. ga sia-sia kami bersusah payah bangun pagi.

Akan tetapi kembali ada sedikit masalah dan ketegangan di airport. Pas hendak check-in, karena paspor kami paspor Indonesia sedangkan di tiket pesawat, destinasi akhir adalah Singapura, si petugas meminta KTP Singapura atau semacam residence permit di sana. What the hell, pikir penulis dalam hati, lah wong kami dari Singapura bakal naik feri ke Batam, dan tiket feri ke Batam bakal dibeli nanti di Singapura.. penulis mencoba menjelaskan, tapi si petugas ngotot minta bukti tiket departure dari Singapura. Hellooowww emang gw setergila-gila gitu pengen banget jadi imigran gelap dan tinggal di Singapura apa??!!! Gumam penulis dalam hati dengan kesal. Oh akhirnya penulis kepikiran, ada tiket pesawat dari Batam ke Jakarta, jadinya penulis tunjukkan saja ke si petugas tersebut. Si petugas tersebut agak bingung melihat kode bandara Batam, dan mencoba menanyakan kode tersebut. “That’s the connecting transit port to Jakarta, Indonesia!!” ujar penulis dengan nada setengah marah. Oh ya ya, di petugas tersebut hanya mengangguk.. ga berani nanya lebih lanjut lagi.. wkwkwkk, memang bener tho jawaban dari penulis, walaupun tentunya Batam bukanlah terletak di Singapura.

Setelah emosi dengan petugas konter check-in, penulis pun ingin ‘mencari penyakit’ dengan mencoba membawa pasta gigi ukuran cukup besar yang dibeli di Australia dan dimasukkan di dalam ransel untuk dibawa ke kabin pesawat (kami tidak membeli bagasi Scoot, jadi apa boleh buat, kalo disita ya sudah lah). “Halo apakah Anda membawa air, aerosol, bla bla bla.. “ “Oh iya ada nih botol kosong..” penulis menjawab dengan tenang sambil menunjukkan botol kosong yang isinya sudah habis diminum. “Oh botol kosong gpp..”, penulis pun lewat dengan tenang.. Ternyata bandara Gold Coast ketat sekali… ada pemeriksaan sampai dua kali!! Kali ini ga ditanya apa-apa, cuma diperiksa tas nya saja… dan ternyata lolos tuh, hehehe.. mungkin memang si pasta gigi masih berjodoh dengan penulis  ;P  lol.

Demikianlah akhir perjalanan menjelajahi bagian Timur Benua Kangguru. Sebenarnya masih ada cerita ketika naik feri dari Singapura ke Batam, juga pramugari Citylink yang tidak sopan dalam penerbangan dari Batam ke Jakarta. Tapi sudahlah, kita usaikan saja cerita di luar Australia.

Oh ya berikut ini kesan-kesan yang penulis rasakan selama perjalanan singkat di Australia ini. Secara umum, harga-harga di Australia cukup mahal, terutama minuman/ air mineral (yang harganya beberapa dolar di convenience store, padahal di Jepang saja cuma setara 1-2 dolar), juga makan di luar cukup mahal minimal habis 10 AUD per orang. Kalau makan dan minum semahal itu, lantas penulis bertanya-tanya bagaimana teman ayah penulis yang hidup di Australia dan gajinya cuma sekitar Rp.20 jutaan? Ternyata kita bisa mendapatkan harga bahan makanan, sayur, buah cukup murah kalau beli di supermarket seperti Coles, Aldi, atau Woolworths. Dan memang penulis sempat beli anggur di supermarket Coles, dan harganya cukup murah. Kemudian orang Australia secara umum tidak se-direct (blak-blakan) kaya orang Amerika, ritme kehidupan di Australia juga lebih rileks ketimbang di Jepang. Salah satu hal yang bagus dari Australia juga adalah banyaknya transportasi umum yang gratis, seperti yang sudah penulis ceritakan di atas. Hanya saja, untuk kekurangan Australia buat turis adalah kebanyakan wifi hotel adalah berbayar, dan tarifnya lumayan mahal, jadi penulis sarankan belilah paket mobile internet apabila Anda bepergian semingguan lebih disana. Demikianlah kesan-kesan penulis, overall cukup menyenangkan travelling di Australia.

 

Pesawat dari Gold Coast menuju Singapura terbang melewati hamparan daratan Benua Australia yang sangat luas.. dataran rata yang cuma ada sedikit bebukitan dan gunung yang tidak begitu tinggi. Sesekali terlihat creeks (jorokan sungai) ataupun kolam/ danau kecil.. tapi sebagian besar adalah daratan gersang kemerahan.. Kadang juga terlihat open pit bekas pertambangan.. Penulis jadi termenung, daratan seluas ini pasti masih banyak sumber daya yang belum diketemukan…

barren land

open pit 1open pit 2

 

About these ads

One Response to Perjalanan Menyelusuri Pesisir Timur Benua Kangguru: Australia

  1. Khairunnisa says:

    Bener bngt tuh.. klo jalan2 sendiri bnyk “treasure” nya. Contohnya, klo gw ikutan itinerary JICA pasti dibawanya ke tempat2 yg umum dan bagus. Tp krn gw milih jalan sendiri *with u actually*, gw jd merasakan tersesat di liberty, tertipu dg poto suzuki grass dr leaflet, ngeliat pasangan “bermesraan” di tengah gelapnya taman dkt Tokyo Tower, bahkan sampe ngliat Bapak2 kencing di hadapan kita -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 38 other followers

%d bloggers like this: