Where to See Spring Flowers in Japan during late April or May

May 21, 2014

(written by: Willy Yanto Wijaya)

me and tulip

 

The sakura season lasts only around two weeks, from late March until early April in most areas in Japan. Therefore, if you happen to visit Japan during late April or May, chance is that you have missed out the sakura. Well, if you still insist of seeing sakura, actually you can go to further northern parts of Japan where sakura still blooms in late April till early May.
However, if your itinerary only allows you to travel around Kanto Areas (Tokyo, Kanagawa, Chiba, Saitama, Ibaraki and its surroundings), there are still some other Spring flowers attractions you might consider.
Here I pick up three nice spots to enjoy the flowers of late Spring in Japan (there are of course some other good spots as well, please write in the comments section if you wanna add some =)

 

1. Showa Kinen Park ( 昭和記念公園 )
This Park features a nice tulip flower festival till late April, and poppy flowers around middle of May. The nearest train station is Nishi Tachikawa Station. Details can be read at: http://www.showakinenpark.go.jp/english/
Entrance fee is 410 yen for adult and 80 yen for children (elementary and junior high school students), and free for children younger than elementary school as well as free for people with disability.
Actually in one year, there are some dates the entrance fee is FREE for ALL, for example I went there in 13 April 2014 which was designated as Promotion of Greenery Day from the city council (the exact date may change every year, please see: http://www.showakinenpark.go.jp/info2.htm).

tulip

 

2. Hitachi Seaside Park ( ひたち海浜公園 )
The famous attraction of this park is its baby-blue-eyes flowers (nemophila) blooming in May. This park is actually quite far from Tokyo, located in Hitachi-naka City in Ibaraki Prefecture.
Details how to get there: http://en.hitachikaihin.go.jp/access.html
Entrance fee and other info: http://en.hitachikaihin.go.jp/information.html
There are also several dates free entrance for all, which can be read in the Japanese language version of the website above. I went there during the Golden Week holidays which were very crowded with people..

Nemophila(Nemophila photo from Hitachi Kaihin Koen website above)

 

3. Fuji Shibazakura ( 富士芝桜 )
Shibazakura is the Moss phlox flower covering the soil turning it into degradation colors of pink, light pink, and white in harmony. Fuji Shibazakura strong point is that it combines this beauty with the magnificent Mt. Fuji.
During the shibazakura festival, you can take direct bus from Shinjuku to the shibazakura spot. However number of direct buses are quite limited, thus most probably you need to take bus (1750 yen one way) or train to Kawaguchiko Station first, and then take the vicinity bus (1900 yen two ways include entrance ticket)
Details of how to get there and other info can be read at their official website: http://www.shibazakura.jp/eng/

shibazakura
Amazing views, right?
Therefore, don’t be disappointed even if you have missed sakura.. ;)

me and shibazakura


Global Homogenization is Inevitable?

March 8, 2014

(written by: Willy Yanto Wijaya)

Imagine if you visit a country, and all the people living in that country are wearing their traditional clothes which are very unique and unfamiliar to you. How do you feel? Say for example, everywhere in Japan everybody is wearing kimono; or when you visit Vietnam, all the girls are wearing áo dài (instead of t-shirts), wouldn’t that be amazing? You could feel the cultural richness of each place, and every destination will be “a new discovery”.

However, globalization or perhaps global homogenization has pervaded almost every corner on this earth. When you travel somewhere on this earth, you will likely meet people wearing t-shirts, or using electronic gadgets familiar to you, skyscrapers looking similar to those at other big cities you have seen.

I have to make clear my stand; I don’t really oppose this kind of global homogenization. Indeed it makes our lives more convenient (that’s why you can find shops called ‘convenience store’ spread all across Japan and also other countries). Also, the development of technologies such as transportation and communication indeed have made the world more connected, so it consumes less time to reach from one point to another. This can happen also thanks to the “economies of scale” (mass production) and sophisticated marketing (now you can find, for example Toyota cars or Mc Donald’s in many countries).

But what are the impacts of this phenomenon? Somehow, we are losing our “richness” or diversity. Many local languages and traditional cultures (such as dances, traditional houses, songs, etc) are perishing. Isn’t that so regrettable? But as Charles Darwin had stated in “survival of the fittest”, in this perspective, global homogenization is indeed a natural occurrence, and will surely occur whenever there is a driving force behind (it had also occurred in the past time by means of spreading of religions, colonization, etc).

That’s why what we can do is how to minimize the negative impact of this global homogenization, for example by preservation of local richness. By preservation I mean not to be put in the museum, but to make the local people realize this richness and live it up.

Personally, I am someone who loves richness in diversity. Imagine how boring it is if we have to eat bread only everyday (no other food choice). Same as that, I support diversity in cultures, religions, lifestyles, and various aspects in our lives.


Merasakan Badai Salju Terlebat dalam Sejarah Jepang Modern: Inspirasi dan Nilai-Nilai Pembelajaran

February 22, 2014

(oleh: Willy Yanto Wijaya)

Kamakura Snow Storm

Awal Februari yang lalu (tepatnya tanggal 8 Februari dan 14 Februari 2014), Jepang dilanda badai salju yang luar biasa lebat. Badai salju gelombang pertama saja (8 Februari 2014), menurut koran The Japan Times sudah mencetak rekor salju terlebat selama 45 tahun terakhir di area Tokyo, Yokohama, dan sekitarnya. Ini belum menghitung akumulasi salju yang tidak kalah lebat pada tanggal 14 Februari 2014 yang mengakibatkan White Valentine Day di berbagai wilayah di Jepang.. seperti di Kofu (ibukota Provinsi Yamanashi) dimana akumulasi salju yang turun mencatat rekor ketebalan hingga 91 cm (menandingi rekor tahun 1894), artinya salju terlebat yang turun dalam lebih dari seratus tahun!!

Baiklah, karena data dan fakta sudah banyak dibahas di berbagai media.. tulisan kali ini akan lebih fokus ke pengalaman pribadi penulis, beserta sedikit catatan inspirasi dan nilai pembelajaran selama “merasakan” badai salju historis dalam sejarah Jepang modern (setelah sebelumnya pernah merasakan gempa dan tsunami terdashyat dalam sejarah Jepang modern, serta kerusakan reaktor nuklir).

***

Pertengahan Januari 2014, penulis sempat berpikir bahwa musim dingin kali ini adalah yang terhangat yang penulis rasakan selama beberapa tahun di Jepang, dengan salju yang katanya mau turun tapi ternyata enggan dan ga jadi turun. Bahkan sehari sebelum tanggal 8 Februari yang menurut rumor akan turun salju lebat, penulis mengira paling juga turun salju cukup lebat kaya tahun sebelumnya (yang katanya terlebat dalam 5 tahun terakhir  =D  haha..). Whuaaah… bangun pagi-pagi dari balkon sudah terlihat kota Yokohama yang memutih. Ah, yang seperti ini mah lebatnya biasa aja kali, hehe.. pikir penulis sambil melihat indahnya kristal-kristal salju yang mendarat dengan anggun di permukaan pakaian penulis.. dan perlahan mencair menjadi air.

Tentu saja terbersit di pikiran ada dua pilihan, bersantai-santai di kamar yang dihangati oleh heater (kebetulan hari Sabtu jadi tidak masuk kerja) atau pergi keluar menyongsong “ketombe langit” yang berjatuhan sambil menahan dingin udara beku untuk mengabadikan momen-momen. Anda pasti sudah tau jawabannya.. ya akhirnya penulis memutuskan untuk photo hunting ke Ofuna dan Kamakura, padahal menurut perkiraan cuaca agak sore salju yang turun dengan anggun akan berubah menjadi badai salju yang dashyat.. tapi penulis tidak menggubris hal itu, haha..

Sialnya penulis kali ini keluar tidak membawa kupluk juga winter gloves yang hilang jatuh entah di kereta atau bus beberapa waktu sebelumnya.. ternyata lama-lama di luar terasa makin dingin menggigit saja. Dari dormitory penulis di Hodogaya bergerak hingga Ofuna, terlihat ternyata wilayah Barat dan Selatan Provinsi Kanagawa curah salju semakin lebat.. Sampai di Ofuna, ternyata Kuil Ofuna Kannon yang ingin dikunjungi tutup (mungkin karena alasan safety soalnya ada tanjakan lereng dan tangga buat naik ke atas kuil, yang bakal licin rawan terpeleset). Walaupun agak sedikit kecewa, tapi penulis masih berhasil mengabadikan Ofuna Kannon dari platform stasiun kereta.

Ofuna Kannon in Snow Storm

Kali ini salju sudah diterpa oleh angin kencang menjadi badai saju.. kereta pun banyak yang layanannya dihentikan atau delay.. termasuk kereta menuju ke Kamakura ga jalan!! Yaahhh.. udah kepala nanggung nahan beku di luaran gini, dan sudah hampir bebal ditampar oleh hempasan badai salju.. masa batal ke Kamakura?? Penulis pun mencari alternatif lain yaitu naik bus saja! Ohh my.. ternyata antrian bus menuju Kamakura panjangnya entah puluhan atau ratusan meter!! Kayanya kalau mau ngantri nunggu bisa berjam-jam, berdiri kedinginan.. terus sudah sore dan langit mulai gelap.. terus kalau tiba di Kamakura sudah malam dan ga ada bus balik dari Kamakura (misalkan akibat badai salju mengganas??). Akhirnya penulis memutuskan “menyerah” dan pulang ke dorm sambil agak kecewa (keputusan yang tepat, karena sore menjelang malam badai salju ternyata semakin menggila).

***

Langit seakan ingin kembali ‘memancing’ penulis ketika tepat pas hari Valentine 2014, gelombang badai salju kedua kembali menerjang. Penulis agak dilema karena pas hari ini penulis akan bekerja shift malam di sebuah kilang minyak. Cukup riskan, pikir penulis.. bagaimana kalau kereta tiba-tiba ga jalan, ga bisa balik? Setelah mencoba mengkalkulasi waktu, dan dengan instink penulis, akhirnya diputuskan penulis akan berangkat ke Kamakura untuk sekali lagi “mencoba peruntungan”. Life is too short to have no gut to take risks… hehe.. pikir penulis. Yosh! Decided!

Pagi-pagi salju turun belum begitu lebat sehingga penulis bertanya-tanya jangan-jangan belum ada akumulasi salju di Kuil Kamakura Daibutsu.. kereta berjalan lancar dan menjelang siang hari penulis sudah tiba di Kamakura. Salju kemudian turun semakin lebat, dan udara dingin pun mencoba menyusup ke sela-sela pakaian.. bbrrr.. dan Kamakura Daibutsu ini lumayan jauh jalan kaki dari stasiun butuh hampir setengah jam (kalau cuaca normal, karena bersalju mesti jalan lebih lambat dan pelan-pelan.. sehingga terasa makin jauh..). Karena penulis mengambil jalan tikus.. sepanjang hamparan jalan yang penulis lalui hanya tercetak jejak kaki penulis.. dan di samping ada bekas jejak ban kendaraan yang mulai memudar (sepertinya beberapa jam sebelumnya lewat).

Ternyata selain penulis, ada beberapa fotografer hard-core yang sengaja bela-belain datang ke Kamakura Daibutsu buat mengabadikan momen-momen langka ini. Setelah puas menjepret beberapa foto dan karena tangan sudah hampir beku mati rasa… dan lagipula ntar malam ada gawe di oil refinery.. akhirnya penulis pun beranjak.. toh mission already accomplished  ;) hehe..

at Kamakura Daibutsu

***

Salju yang turun membuat putih seluruh kota memang indah dilihat.. Namun sebenarnya di balik keindahannya, salju yang lebat, terlebih badai salju juga menyebabkan banyak problema. Misalkan saja kereta yang ga jalan atau delay (telat) akibat mesti berjalan lebih lambat demi safety ataupun akibat salju yang menumpuk di rel kereta; penerbangan yang batal terbang; belum lagi pejalan kaki yang jatuh terpeleset akibat jalan licin oleh es yang mengeras; tagihan listrik/gas yang membengkak buat pemanas ruangan (untung penulis bebas pakai listrik sepuasnya di dorm, hehe..). Ini mengingatkan kita semua bahwa di balik keindahan, bisa ada keburukan atau sesuatu hal yang belum tentu selamanya indah.. Ini bagaikan lingkaran hitam di dalam lingkaran putih..

Akan tetapi apakah kita mesti berhenti dan terpaku pada lingkaran hitam ini? Nah, ada satu hal yang mesti penulis acungi jempol buat orang Jepang. Sehari sesudah badai salju, masyarakat ramai-ramai ambil sekop dan membersihkan salju. Karena kali ini salju menumpuk sangat lebat, penulis melihat orang Jepang cukup pragmatis juga… jadi mereka akan membersihkan dan ‘membuka jalan kecil’ dan salju ditumpuk di pinggiran. Ini sangat membantu mengurangi insiden orang jatuh terpeleset (penulis cuma terpeleset satu kali selama dua gelombang badai salju ini). Walaupun ada ‘bencana’ badai salju, tapi dengan masyarakat bergotong-royong membersihkan salju, sebenarnya potensi bencana/ kecelakaan menjadi berkurang sangat drastis. Alam memang sulit dikontrol, tapi kita bisa berupaya membuat sesuatu menjadi lebih baik.. penulis kira filosofi ini sangatlah tertanam kuat di sini.

Nilai pembelajaran berikutnya adalah bahwa keselamatan adalah nomor satu. Istilahnya 安全第一(Anzen Dai-ichi), ini terlihat bagaimana kereta berjalan lebih lambat untuk memastikan keselamatan penumpang, juga roda-roda bus ataupun mobil yang dipasang rantai/ tali agar tidak gampang tergelincir.

Kemudian ada hal yang penulis cermati dari fenomena tergelincir.. ini kebanyakan disebabkan oleh salju yang mengeras menjadi lapisan es keras akibat terinjak-injak oleh pejalan kaki. Ini adalah fenomena Fisika, tapi sebenarnya dalam hidup pun seperti itu… seseorang yang terlihat begitu lembut (bagaikan salju), bisa saja menjadi keras juga apabila terus menerus ditindas, diinjak, dan diberi tekanan. Memang begitulah fenomena alamiah yang ada..

Demikianlah, walau selalu ada sisi hitam di balik putih… tapi dengan mengubah cara pandang kita, ataupun melakukan suatu upaya, lingkaran hitam pun bisa diberi bercak-bercak putih..

Inilah yang dinamakan kebijaksanaan dan upaya benar.

 

partially cleaned snow path


Perjalanan Menyelusuri Pesisir Timur Benua Kangguru: Australia

January 31, 2014

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

flower clown

Akhir Desember 2013 sampai awal Januari 2014, akhirnya penulis berhasil menginjakkan kaki di Benua Kangguru (setelah sebelumnya pernah batal internship di Australia padahal visa sudah dapat). Sebelum berangkat, penulis agak kuatir karena menjelang Natal dan Tahun Baru biasanya adalah peak season, yang pastinya tiket pesawat/ transportasi dan hotel-hotel akan menjadi agak mahal. Tapi karena libur perusahaan adanya di sekitaran Tahun Baru, ditambah cuti bisa libur agak panjang, akhirnya penulis memutuskan untuk mengambil resiko peak season ini, hehe.

Rute perjalanan penulis kali ini adalah: Tokyo – Jakarta – Kuala Lumpur – Melbourne – Canberra – Sydney – Cairns (+Great Barrier Reefs) – Brisbane – Gold Coast – Singapore – Batam – Jakarta – Tokyo.

Walaupun sudah agak mepet menjelang akhir tahun, penulis masih berhasil mendapatkan tiket pp dari Indonesia ke Australia sekitar Rp.6-7 juta (berangkat dari Jakarta ke Melbourne dengan AirAsia dan balik dari Gold Coast (Australia) ke Singapore dengan Scoot). Wah rasanya ga sabar untuk merasakan Summer Xmas di Australia; juga berenang/ snorkelling di Great Barrier Reefs yang sudah penulis impi-impikan sejak kuliah di ITB dulu.

Tepat pada hari Natal, 25 Desember 2013, penulis pun mendarat di Melbourne. Tiba di kota, ternyata toko-toko pada tutup! Alamak, mestinya tadi di airport penulis beli saja sim card paket internet Optus meskipun antriannya panjang.. wifi di hotel mesti bayar lagi dan mahal. Supermarket dan toko-toko sim card ga ada satupun yang buka, paling yang buka cuma convenience store seperti 7-11 ataupun restoran di Chinatown Melbourne. Sayangnya convenience store ga menjual sim card paket data untuk iPad. Sungguh tidak beruntung nih datang pas Natal, keluh penulis, akan tetapi akhirnya penulis sedikit terhibur, ternyata transportasi umum di Melbourne (tram, bus, train) semua GRATIS pas Natal. Duh, tau begitu tadi dari airport naik bus umum dan train saja, ga perlu naik Skybus yang cukup mahal.. Tapi ya sudahlah… karena gratis penulis pun coba naik kereta + bus hingga balik lagi ke airport demi bela-belain mendapatkan sim card paket data internet. Di Melbourne pas musim panas walaupun uda jam 7 malam tapi masih cerah, matahari terbenam sekitar jam 8 an malam.

Keesokan harinya, kami pun bermaksud membeli tiket bus malam di konter tiket bus dekat Southern Cross Railway Station, Melbourne. “Oh, sorry, tiket uda sold out.” “What? Kalo tiket buat besok?” “Uda habis juga sampai Tahun Baru.” Wah celaka nih ternyata kemarin pas liat-liat online booking internet, tertulis sisa 1 tiket ternyata memang benar. Duh, penulis pun memutar otak dan mencoba ke Railway Station nanya tiket dari Melbourne ke Sydney atau Canberra. “Oh ini peak season, tiket kereta api sudah habis sampai beberapa hari ke depan.” Waduh masa mesti naik pesawat cuma buat ke Sydney; dan kemarin sempat lihat-lihat tiket pesawat seorang kena Rp sejuta lebih. “Jadi gimana dunk,” tanya penulis. “Coba kamu tanya tiket Vline ke Canberra, mungkin saja masih ada, konternya ada disana.” Penulis pun ke konter Vline. Vline ini sejenis regional train network, jadi kereta api tapi rute Provinsi Victoria doank. “Ya ada buat ke Canberra, tapi kamu mesti naik Vline ke Albury dulu, kemudian dari sana transfer ke coach (bus) menuju Canberra, total sekitar 8 jam dan seorang kena 54 AUD”.

“Yay, syukurlah..” ujar penulis dalam hati. Tapi ternyata terjadi insiden/ masalah lagi!! Kartu kredit milik ayah penulis lupa ditanda-tangan di bagian belakang, dan setelah ayah penulis menandatangani struk pembayaran, si petugas konter membalikkan kartu kredit untuk mencocokkan kesamaan tanda tangan. Ia kaget melihat tidak ada tanda tangan, dan meminta identitas dari ayah penulis yang menunjukkan tanda tangan yang sama dengan di struk. Masalahnya adalah tanda tangan yang diregistrasi di kartu kredit tersebut beda dengan tanda tangan di paspor!! Penulis mencoba menjelaskan, tapi si petugas tetap ngotot minta lihat paspor. Akhirnya setelah kami berikan paspor nya, dia melihat beda tanda tangannya. “Ya sudah.. tolong dibatalkan saja transaksi kartu kredit yang tadi, pakai kartu kredit saya saja,” ujar penulis. “Ga bisa, transaksinya sudah final..” jawab si petugas. “Jadi gimana dunk?!!” penulis pun sudah mulai naik pitam. Akhirnya si petugas mau mencetak juga dua lembar tiket, setelah ngomel-ngomel bilang kalau kalian transaksi di bank, kartu kredit nya bakal sudah disita, malah bisa dianggap perbuatan kriminal bla..bla.bla… untung saya tidak peduli dengan urusan imigrasi bla..bla.bla (kayanya si petugas curiga kami adalah imigran gelap di Australia wkwkkwkk). Fiuhh akhirnya selesai juga masalah.. Lesson of the story: Jangan lupa tanda tangan bagian belakang kartu kredit Anda.

Perjalanan dengan Vline dari Melbourne ke Albury lalu bus ke Canberra melewati padang rumput yang sangat luas dan pedesaan khas wilayah Victoria. Di sepanjang jalan kadang terlihat sapi, domba, maupun kuda… pantesan saja ga heran Australia adalah eksportir produk peternakan yang cukup besar.

Tiba di Canberra sudah malam dan hujan. Sebenarnya dari terminal bus ke hotel bisa jalan kaki sekitar sepuluh menit. Tapi karena hujan dan juga kondisi kesehatan ayah penulis yang lagi batuk parah, akhirnya kami pun naik taksi. Keesokan harinya kami pun keliling Canberra, kebetulan ada bus no 100 gratis memperingati 100 tahun diresmikannya kota Canberra yg jatuh tepat pada tahun 2013. Lumayan deh, hehe.. Kota Canberra adalah kota kecil yang tenang dan asri, markas pemerintahan Australia. Kami pun mengunjungi gedung Parlemen Australia. Menariknya di taman di dekat Parlemen ada berdiri gubuk dengan bertuliskan “Aboriginal Embassy, Decolonising Now” dengan bendera Aborigin tertancap. Nanti kisah di Cairns, ada pengalaman menarik yang akan penulis ceritakan terkait masyarakat Aborigin ini. Setelah puas berkeliling Canberra, sore nya kami pun berangkat naik bus Murray dari Terminal bus Jolimont Centre Canberra menuju Sydney (yang hanya sekitar tiga setengah jam).

sydney dusk

Tiba di Sydney sudah malam, dan kami pun menuju Chinatown Sydney, Chinatown terbesar di Australia untuk makan malam (soalnya ayah penulis ga doyan makan Western foods, maunya Asian foods, jadi apa boleh buat, setiap kali penulis mesti browsing nyari-nyari di mana bisa makan Asian foods). Menurut penulis, Chinatown Sydney sangatlah dinamis, melting pot dari berbagai sub-etnis masyarakat China perantauan, juga belum lagi turis-turis dari berbagai negara. Nah ada kejadian gelo lagi ketika kami makan di sebuah food court di Chinatown Sydney ini. Jadi selain Chinese food, kebetulan ada kios yang jual masakan Indonesia juga, jadi penulis pun pesan sepotong ayam gulai, dan beranjak ke kios lain buat pesan jus. Ayah penulis nanya apa gpp nih sepotong ayam gulainya ditinggal begitu saja di atas meja. Penulis bilang gpp lah, masa sih ada yang mau nyuri cuma sepotong ayam. Eeehh tidak taunya.. bukan mencuri (membawa pergi) sih, tapi ada bule gila yang makan tuh ayam gulai, on the spot lagi.. Hahaha damn! Ya sudahlah, kayanya tuh bule memang sepertinya kelaparan berat dan juga mungkin kurang waras (kalau waras pasti dia nyolong bawa pergi tho). Juga selagi makan, ada seorang pemuda tampang Asia yang datang ngemis-ngemis duit minta 2 dolar ke para pengunjung yang sedang makan. Tapi penulis lihat kebanyakan orang tidak ngasih, toh soalnya tuh pemuda masih sehat walafiat begitu..

me and koala

Keesokan paginya kami pun ke Featherdale Wildlife Park karena pengen ketemu dengan kangguru dan koala. Kebetulan jalur kereta api menuju sana lagi diperbaiki, jadinya kami naik bus dari Central Railway Station menuju ke Blacktown Station, lalu pindah ke bus lokal arah ke Featherdale. Sorenya kami ke Opera House Sydney, sekalian naik feri rute menuju ke Manly Beach.

Keesokan harinya kami sudah mesti siap-siap berangkat menuju Cairns, setelah sebelumnya berhasil mendapatkan tiket Virgin Australia yang cukup mahal, seorang kena Rp. 3 jutaan one way (padahal low season bisa cuma setengah atau dua-pertiga harga). Ya apa boleh buat, ini adalah resiko adventurous travelling tanpa itenary (sebab kami tidak tahu akan berada di mana esok hari  =D). Tapi sudah sampai di Australia, masa sih rela batal ke Cairns (Great Barrier Reefs) padahal ini adalah Rentetan Batu Karang Raksasa yang sangat luas bahkan bisa terlihat dari luar angkasa.. Nah ternyata ada lagi kejadian yang bikin penulis dag-dig-dug dan hampir kecewa berat. Hari-H mau berangkat ke Cairns, pagi-paginya penulis baru mau booking tur dari Cairns menuju Great Barrier Reefs (Green Island). Karena beberapa hari sebelumnya penulis iseng-iseng searching melihat masih banyak slot tur menuju ke Green Island (sebuah pulau tropis di tepian Great Barrier Reefs), jadi penulis nyantai-nyantai mikir pasti masih banyak slot tur buat besok. Ternyata oh ternyata, slot One Day Full Tour ke Green Island buat besok uda ludes!!! Penulis tidak langsung menyerah, dan mencari sampai beberapa travel agents lainnya.. ada yang ga bisa online booking, jadi mesti telepon.. penulis pun telepon ke sana sini. OMG, ada operator yang ngomongnya pake aksen Australian English yang kental banget terus ngomongnya cepat banget, bikin penulis tambah frustasi (ternyata bener pengalaman beberapa bulan sebelumnya penulis testing SIRI di iPad, overall American English dan British English bisa memahami apa yang penulis ucapkan, tapi Australian English seringkali ga ngerti ucapan penulis). Masa sih kami ke Cairns tapi ga ke Barrier Reefs, what a ridiculous joke! Akhirnya ada satu operator tour yang bilang, masih ada sisa sedikit slot nih tapi yang Half Day Tour ke Green Island, berangkatnya pagi banget dan jam satu siang sudah balik lagi ke Cairns, apakah mau? Okay, daripada kaga ada, tur setengah hari juga gpp lah.. Fiiuhhh akhirnya kecapaian juga nih impian dari dulu buat snorkelling di Great Barrier Reefs, pikir penulis dengan lega.

Setelah keliling beberapa sudut kota Sydney (oh ya di Sydney ada juga Bus no 555 yang bisa dinaiki gratis dari Central Station (area Haymarket dan Chinatown) ke Circular Quay (area Opera House dan Harbour Bridge) sepanjang George Street), sorenya kami pun menuju ke airport buat berangkat ke Cairns. Tiba di Cairns sudah malam, dan kami pun mesti segera istirahat karena esoknya harus sudah stand-by jam 07:30 buat jemputan tur ke Green Island.

Nah ternyata kembali ada masalah. Katanya jam 07:45 akan ada mobil yang datang menjemput, penulis tunggu-tunggu koq sudah hampir jam 08:00 belum datang juga.. Wah bahaya juga nih kalo kapal ke Green Island nya berangkat jam 08:30 bisa-bisa ketinggalan kapal. Agak mulai cemas, penulis pun telepon ke operator tur nya, katanya dia coba call supir nya tapi ga masuk.. Dia bilang bentar nanti dia telepon balik… Beberapa saat kemudian operator telepon masuk dan bilang supirnya tadi datang ke hotel jam 07:45 tapi kami ga ada. “Apa??!!! Kami sudah nunggu di lobi hotel dari jam 07:30 ya, dan ga ada seorang pun yang datang menghampiri kami menanyakan nama kami!” sahut penulis dengan agak emosi. Kemudian si operator nanya apakah kami bisa naik taksi sendiri ke dermaga kapal. Penulis pun menjawab kalau harga tur sudah termasuk biaya jemput pp dari hotel. Si operator pun bilang mereka akan mengirim taksi ke sana buat jemput. Waktu pun terus berdetak dan sudah jam 08:15, akhirnya ada jemputan taksi yang datang. Akhirnya tiba di dermaga hampir jam setengah sembilan, tapi ternyata kapal ke Green Island nya berangkat jam 09:00. Haduuuh.. bikin panik dan sport jantung saja pagi-pagi begini.. Penulis menduga ada 2 kemungkinan, pertama mereka memang lupa menjemput, atau penulis lihat memang tadi pagi ada beberapa mobil dan bus yang lewat depan halaman hotel, tapi kan kami ga tau dunk ini tur yang mana.. mestinya si penjemput cek masuk ke lobi dan memanggil nama kami, itu baru benar..

green island coral

Akhirnya kami pun naik kapal (high-speed catamaran) ke Green Island. Laut yang begitu indah.. dengan pantulan air jernih biru kehijauan.. Kami pun naik glass-bottom boat, juga penulis menyempatkan berenang dan snorkelling. Cuma sayangnya terumbu karang di Great Barrier Reefs banyak yang sudah mengalami bleaching (pemutihan), dan juga ikan tidak sebanyak di Hawaii (pengalaman snorkelling penulis sebelumnya). Tapi overall, pemandangannya indah dan menyegarkan pikiran. Ga sia-sia penulis mati-matian berjuang buat ke sini.. haha..

Setelah balik dari Green Island, kami pun masih menginap satu malam lagi di Cairns karena tiket pesawat sudah dibeli dari Cairns ke Brisbane berangkat keesokan hari (31 Des sore) dengan Qantas (ada tiket promo cuma sekitar Rp.1,5 juta/ orang one way). Hotel di Cairns yang kami inap ini termasuk hotel bagus dengan tarif termurah selama perjalanan kami di Australia ini (sekitar Rp.700-800 ribu per malam buat 2 orang). Karena ada waktu, penulis pun menjelajah sudut-sudut Cairns. Di Cairns, kita bisa membeli tiket bus umum buat dipakai sepuasnya seharian cuma 5-6 AUD (naik dua kali saja juga ongkosnya uda segitu).

Cairns adalah kota kecil yang sangat tenang dan simple. Di sebuah minimarket dekat hotel penulis pun menemukan ada dijual Indomie sebungkus sekitar 1 dolar. Kota yang damai, pikir penulis, sampai terjadilah satu insiden.. Suatu malam ketika penulis hendak naik bus umum ke pusat kota Cairns, di halte bus penulis melihat ada sepasang suami istri suku Aborigin sedang menunggu bus. “Bus nya baru saja pergi,” ujar si suami kepada penulis. Istrinya tampak sedang duduk sedih di atas trotoar. Beberapa saat kemudian, datanglah bus, tapi anehnya bus berhenti agak jauh dari halte bus, kemudian penulis melihat si supir bus melambai-lambaikan tangannya menyuruh kesana. Penulis pun segera berlari naik ke bus. “Cepat, ambil tempat duduk.” Setelah menunjukkan tiket one day pass, penulis pun duduk sambil kebingungan.. Ternyata ketika suami istri Aborigin itu datang menghampiri bus, si supir bus segera menutup pintu bus dan meninggalkan suami istri Aborigin. Penulis pun mulai emosi, sambil berpikir koq bisa-bisanya si supir bus begitu rasis dan diskriminatif!! Tapi penulis mencoba menahan diri dan melihat sekeliling, ternyata ada juga beberapa penumpang suku Aborigin di dalam bus. Jadi tampaknya si supir tidak ngasih naik bukan karena rasis terhadap suku Aborigin.. melainkan mungkin sepasang suami istri tersebut selalu naik bus tanpa bayar kayanya.. Jadi si supir bus memang ga bisa benar-benar disalahkan juga.. Namun walau demikian, penulis tetap merasa iba dan ga tega melihat kejadian seperti ini.. Tentu saja kalau suami istri Aborigin tersebut memiliki uang, mereka akan bayar.. tapi kan akibat kemiskinan, jadinya tidak sanggup membayar.. di mana jaringan sosial Pemerintah Australia untuk membantu mereka yang terpinggirkan ini?! Pantesan saja, suku Aborigin ingin merdeka dan bikin gubuk “Aboriginal Embassy” di depan Parlemen Australia di Canberra. (Memang suku Aborigin banyak yang hidupnya masih di bawah garis kemiskinan, mungkin mirip seperti suku Papua di Indonesia.. tapi setelah penulis observasi sebenarnya ada juga suku Aborigin yang sukses dan makmur seperti yang penulis jumpai di kolam renang hotel.. Walaupun Pemerintah Australia memang perlu dikritik atas insiden ini, tapi at least satu hal yang masih bagus adalah masih adanya kebebasan untuk berekspresi dan protes seperti kasus berdirinya gubuk di taman dekat Parlemen Australia).

Insiden ini membuka mata penulis bahwa memang di mana pun selalu ada kesenjangan sosial, dan menurut hemat penulis, pemerintah sebenarnya harus berperan sebagai regulator untuk menolong mereka-mereka yang berada di titik paling nadir (bawah).

Insiden realita sosial seperti ini biasanya tidak akan Anda jumpai kalau ikut tur terorganisir. Makanya penulis lebih menyukai bepergian secara mandiri, walaupun berat dan keteteran sana sini mencari informasi, tapi bisa ‘menyelam’ dan merasakan lebih dekat kehidupan sosial masyarakat..

Sore sehari sebelum Tahun Baru 2014, kami pun berangkat dari Cairns menuju Brisbane. Di dalam pesawat, penulis bisa melihat bercak-bercak biru kehijauan, segmen dari Barrier Reefs. Luar biasa panjang dan luas memang, terbang 30 menit lebih masih terlihat bagian kecil dari Karang Raksasanya, sampai akhirnya pandangan tertutup oleh kabut awan. (Tips: dalam penerbangan dari Cairns ke Brisbane duduklah di kursi paling kiri dekat jendela).

New Year Eve di Brisbane, kami pun cuma dinner masakan Hunan (yang asin banget) di Chinatown Brisbane, serta melihat kehidupan malam di area Fortitude Valley (banyak tempat clubbing dan diskotik). Karena sudah lelah, kami pun balik ke hotel dan penulis masih harus browsing gimana caranya dari Brisbane menuju Gold Coast besok (padahal orang-orang sedang merayakan momen-momen count down 2014).

Esok harinya, kami keliling Brisbane. Nah yang menarik dari Brisbane adalah adanya jasa CityHopper, feri gratis yang menghubungkan beberapa titik di Sungai Brisbane. Yang penulis heran, dengan adanya CityHopper gratis, feri berbayar macam CityCats dan CityFerries jadi ga laku dunk.. dan memang feri berbayar terlihat kosong melompong ga ada penumpang sedangkan yang gratis penuh penumpang.. (dimana-mana sama saja ya, semua orang pengen yang gratisan, hehehe).

Setelah puas keliling Brisbane, kami pun naik kereta menuju Gold Coast (saran dari penulis, belilah GoCard untuk mendapatkan diskon naik transport di area Brisbane, Gold Coast, dan Sunshine Coast; ntar ketika pulang sisa uang dan deposit bisa diminta kembali kalo belinya pake cash dan apabila nominal sisa di bawah jumlah tertentu). Hotel-hotel di Gold Coast pada musim tahun baruan sangatlah mahal, termahal selama perjalanan penulis di Australia ini.

Kami tiba di Gold Coast sudah 1 Januari sore, dan pesawat kami terbang dari Gold Coast ke Singapura tanggal 2 Januari sekitar jam 9 pagi! Baru saja sebentar melepas lelah dan foto-foto di balkon hotel karena terlihat city view yang keren, dan juga berenang menjelang maghrib di kolam renang, penulis pun mencoba tanya ke lobi hotel alternatif transport dari hotel ke bandara pagi-pagi buta. “Oh ada coach, tapi kalo buat besok pagi, mesti booking sebelum jam 7 malam, sekarang sudah jam 8 malam.. ga bisa lagi..” Oh my, lagi-lagi… “Kalo taksi gitu gimana?” penulis memikirkan alternatif lain. “Ada, sekitar 60-70 AUD sampai ke bandara..” “Oh ya, saya pernah dengar ada bus umum ya sampai ke bandara?” pancing penulis. “Ya ada, naiknya harus dari daerah sini, dan kami ga gitu yakin schedule nya berangkat jam berapa, mesti di-cek sendiri di halte bus”. Kami pun sekalian keluar dinner sekalian memastikan jadwal keberangkatan bus umum arah ke airport. Ada ternyata!

Karena bus umum butuh sekitar sejam sampai ke airport, kami pun mesti tidur lebih awal karena pagi-pagi buta sudah harus bangun. Tapi sebelum ini kami coba melihat-lihat bazar di sekitar Surfers Paradise, siang hari banyak yang berselancar di pantai ini, namun ketika malam menjelang, pantai pun gelap dan sepi, sebagai gantinya kawasan kota lah yang menjadi ramai.

Esok subuh buta kami pun sudah bangun.. dan syukurlah tidak ada masalah sama sekali. Bus 702 menuju airport datang tepat waktu, dan dua orang cuma habis sekitar 10 AUD saja.. gila hemat lumayan dibandingkan naik coach ataupun taksi  =D haha.. ga sia-sia kami bersusah payah bangun pagi.

Akan tetapi kembali ada sedikit masalah dan ketegangan di airport. Pas hendak check-in, karena paspor kami paspor Indonesia sedangkan di tiket pesawat, destinasi akhir adalah Singapura, si petugas meminta KTP Singapura atau semacam residence permit di sana. What the hell, pikir penulis dalam hati, lah wong kami dari Singapura bakal naik feri ke Batam, dan tiket feri ke Batam bakal dibeli nanti di Singapura.. penulis mencoba menjelaskan, tapi si petugas ngotot minta bukti tiket departure dari Singapura. Hellooowww emang gw setergila-gila gitu pengen banget jadi imigran gelap dan tinggal di Singapura apa??!!! Gumam penulis dalam hati dengan kesal. Oh akhirnya penulis kepikiran, ada tiket pesawat dari Batam ke Jakarta, jadinya penulis tunjukkan saja ke si petugas tersebut. Si petugas tersebut agak bingung melihat kode bandara Batam, dan mencoba menanyakan kode tersebut. “That’s the connecting transit port to Jakarta, Indonesia!!” ujar penulis dengan nada setengah marah. Oh ya ya, di petugas tersebut hanya mengangguk.. ga berani nanya lebih lanjut lagi.. wkwkwkk, memang bener tho jawaban dari penulis, walaupun tentunya Batam bukanlah terletak di Singapura.

Setelah emosi dengan petugas konter check-in, penulis pun ingin ‘mencari penyakit’ dengan mencoba membawa pasta gigi ukuran cukup besar yang dibeli di Australia dan dimasukkan di dalam ransel untuk dibawa ke kabin pesawat (kami tidak membeli bagasi Scoot, jadi apa boleh buat, kalo disita ya sudah lah). “Halo apakah Anda membawa air, aerosol, bla bla bla.. “ “Oh iya ada nih botol kosong..” penulis menjawab dengan tenang sambil menunjukkan botol kosong yang isinya sudah habis diminum. “Oh botol kosong gpp..”, penulis pun lewat dengan tenang.. Ternyata bandara Gold Coast ketat sekali… ada pemeriksaan sampai dua kali!! Kali ini ga ditanya apa-apa, cuma diperiksa tas nya saja… dan ternyata lolos tuh, hehehe.. mungkin memang si pasta gigi masih berjodoh dengan penulis  ;P  lol.

Demikianlah akhir perjalanan menjelajahi bagian Timur Benua Kangguru. Sebenarnya masih ada cerita ketika naik feri dari Singapura ke Batam, juga pramugari Citylink yang tidak sopan dalam penerbangan dari Batam ke Jakarta. Tapi sudahlah, kita usaikan saja cerita di luar Australia.

Oh ya berikut ini kesan-kesan yang penulis rasakan selama perjalanan singkat di Australia ini. Secara umum, harga-harga di Australia cukup mahal, terutama minuman/ air mineral (yang harganya beberapa dolar di convenience store, padahal di Jepang saja cuma setara 1-2 dolar), juga makan di luar cukup mahal minimal habis 10 AUD per orang. Kalau makan dan minum semahal itu, lantas penulis bertanya-tanya bagaimana teman ayah penulis yang hidup di Australia dan gajinya cuma sekitar Rp.20 jutaan? Ternyata kita bisa mendapatkan harga bahan makanan, sayur, buah cukup murah kalau beli di supermarket seperti Coles, Aldi, atau Woolworths. Dan memang penulis sempat beli anggur di supermarket Coles, dan harganya cukup murah. Kemudian orang Australia secara umum tidak se-direct (blak-blakan) kaya orang Amerika, ritme kehidupan di Australia juga lebih rileks ketimbang di Jepang. Salah satu hal yang bagus dari Australia juga adalah banyaknya transportasi umum yang gratis, seperti yang sudah penulis ceritakan di atas. Hanya saja, untuk kekurangan Australia buat turis adalah kebanyakan wifi hotel adalah berbayar, dan tarifnya lumayan mahal, jadi penulis sarankan belilah paket mobile internet apabila Anda bepergian semingguan lebih disana. Demikianlah kesan-kesan penulis, overall cukup menyenangkan travelling di Australia.

 

Pesawat dari Gold Coast menuju Singapura terbang melewati hamparan daratan Benua Australia yang sangat luas.. dataran rata yang cuma ada sedikit bebukitan dan gunung yang tidak begitu tinggi. Sesekali terlihat creeks (jorokan sungai) ataupun kolam/ danau kecil.. tapi sebagian besar adalah daratan gersang kemerahan.. Kadang juga terlihat open pit bekas pertambangan.. Penulis jadi termenung, daratan seluas ini pasti masih banyak sumber daya yang belum diketemukan…

barren land

open pit 1open pit 2

 


On Gambling: Definition and Fundamental Thinking

November 30, 2013

(written  by: Willy Yanto Wijaya)

Roulette_wiki

 

Gambling is one of controversial issues where both proponents as well as opponents have their own arguments. But before going further, first, how do we define gambling? This definition, as we will see later, if analyzed deeply will become quite blurred. For example, say if we buy a food product, and there is a campaign to ask consumers to send back the used package to the manufacturer where they will conduct a “lucky draw”, and for those lucky chosen consumers, cash prizes will be given. Do we consider this as gambling? Majority of us will not think so, because fundamentally we think that for the money we spent, we already got the food product as the benefit. On the matter of the cash prize, we view it rather as the company’s aspiration; say to share “gratitude” to loyal customers. But how if someone repeatedly bought the food products just in order to win the cash prizes? This behavior is already like the symptom of gambling, but still we most likely think that they are different, because unlike “common gambling” where one spends money and often gets nothing back, in this case one gets products as compensation.

And products as compensation? Of course, it can be money, other tangible goods, services or other abstract things. This is the point of argument. In the psychological point of view analyzing why people like gambling, several reasons to mention are that because people enjoy playing games (gambling), people love surprises and like to think whether or not they are lucky, and most people enjoy taking risks (where if successful, their brains reward them with natural drug-free high by releasing endorphins). In this perspective, we can say that actually people spend money (for gambling) and get “something” back as compensation. This is just like people spend money to watch horror movie in the cinema theaters.

So the problem lies in the cash prize reward? Again, there is a very interesting example. Based on Japan Criminal Code Chapter 23, except for ones endorsed by the government, all other forms of gambling are illegal. Pachinko is one of those legally-endorsed, but based on the law; the reward in the form of cash-prize is prohibited. Therefore, pachinko parlours usually reward winner with “product”, and this “product” can then be sold for cash. So essentially what’s so different between cash prize and other tangible goods?

Therefore, fundamentally analyzed, we cannot really separate gambling with other economy-driven activities. Philosophically, there is no real distinction line, and therefore, in my opinion, what is important is to mitigate the negative effects of these activities i.e. gambling, of which details are discussed in the following section “Instead of being Banned, Gambling should be Regulated”.

 

Instead of being Banned, Gambling should be Regulated

Gambling is as old as the human civilization itself. Since gambling can be done by two or more parties informally, it is almost impossible to really prevent gambling from being conducted. Therefore in my opinion, instead of being banned, gambling should be regulated.

In Tokyo, there was ever a discourse about opening a casino. But due to some opposition and worry from the public, the plan was cancelled (even though there are actually many illegal casinos run by yakuza). The worry is quite understandable, since there are many stories about people returning back from casino becoming poor, having lots of debts, and becoming financially crushed. But there are also stories about positive effects of casinos stimulating local economy and creating jobs.

I observed something interesting when I traveled from Vietnam to Cambodia. Entering Cambodia, I saw there are so many casinos. I guess those casinos are intended for Vietnamese from Ho Chi Minh City (which is just several hours away from Cambodian border) and the fact that casino or gambling must be prohibited in Vietnam. As I mentioned, people can always find some ways to gamble if they really want to do it. Gambling results in circulation of money, just as in other economic activities.

Establishing casinos or other official gambling activities can actually stimulate economy and give additional income to local government which can then use that money for social benefits. What really matters is actually how to prevent people from becoming gambling addicts or financially-destroyed due to gambling. Thus, regulations must be strictly established in those gambling spots. For example, people must show that they are financially-fit and can also spend maximum, say 20-30% of their wealth. Therefore someone losing certain amount of money must be stopped from playing. Another rule is that staffs at the gambling spot must act like a good bartender in the bar who does not allow customers to drink more if condition is not appropriate.

By implementing strict regulations, therefore such sad stories about people losing their future after coming out from casinos will not happen. On the other hand, some rich people can “donate” their money and have fun at the same time through gambling.


Catatan Perjalanan: Hongkong, Macau, dan China bagian Selatan

October 31, 2013

(oleh: Willy Yanto Wijaya)

Akhir Agustus yang lalu, penulis mengambil cuti summer break dan memutuskan untuk menyelusuri Hongkong, Macau, dan China bagian Selatan. Rute kali ini adalah sbb: Hongkong – Macau – Zhuhai – Guangzhou – Guilin – Yangshuo – Shenzhen – Hongkong.

Karena ini sudah ketiga kalinya penulis travelling ke China, jadi sudah tidak begitu kaget lagi dengan kebiasaan dan sikap (attitude) orang-orang di China. Tapi tetap saja, jangan kaget kalau tulisan ini masih terhiasi oleh kritik-kritik pedas terhadap hal-hal yang penulis amati selama perjalanan ini. Tulisan kali ini mungkin juga akan cukup terisi tips-tips berguna bagi yang akan berencana travelling dengan itenary seperti di atas.

Tiba di Hongkong sudah malam hari. Airport terletak di Lantau Island, jadi dari sana naik bus sejam-an bisa tiba di Tsim Sha Tsui, di kawasan Kowloon, biaya 33 HKD. Sepanjang perjalanan, bus akan melewati pelabuhan Hongkong yang cukup besar, dengan peti-peti kontainer. Hongkong memang strategis lokasinya, dengan pulau-pulau yang berceceran di sekitaran, tidak heran di masa lampau, Inggris menjadikannya sebagai koloni titik injakan di Asia Timur.

Hongkong

Pada pemberhentian bus ke sekian belas, akhirnya penulis pun tiba di Nathan Road, bisa dibilang Kampung Keling nya Hongkong (dihuni oleh mayoritas orang-orang keturunan India, Pakistan, dan Asia Selatan lainnya). Biaya akomodasi di Hongkong bisa terbilang sangat mahal, rata-rata hotel yang cukup bagus (bintang 3) saja bisa sejutaan rupiah per malam. Kawasan Nathan Road ini biasanya lokasi favorit budget travellers, pun tidaklah bisa dibilang murah, paling tidak Anda masih harus merogoh kocek sekitar 200-300 ribu rupiah per kepala untuk menginap. Ada satu hal yang penulis agak kurang sreg dengan cara bisnis orang-orang Asia Selatan di sini (tidak bermaksud rasis, penulis hanya menyampaikan kritik sejujurnya). Yaitu ketika Anda booking kamar misalkan di Chungking Mansion dengan nama XYZ Hotel/ Guest House, ketika Anda tiba disana mereka akan memberikan Anda kamar yang berbeda dari kamar yang sudah Anda booking. Benar-benar cara bisnis yang tidak etis! Untunglah kamar yang penulis dapatkan speks nya masih setara sama speks kamar yang di-book, tapi membaca review orang-orang, tidak sedikit yang kecewa mendapatkan kamar yang tidak sesuai harapan. Kawasan di sekitar pelataran luar juga cukup jorok, walaupun untungnya di dalam kamar cukup bersih. Penulis sarankan Anda lebih baik mencari deal-deal hotel bintang 3 (kadang bisa dapat sekitar 700-800 ribu rupiah buat 2 orang), kecuali Anda memang ingin irit dengan budget.

Untuk transportasi keliling Hongkong, Anda bisa menggunakan MTR atau bus. Sebenarnya dari kawasan Nathan Road ini Anda bisa tinggal jalan kaki sedikit ke arah Selatan menuju Victoria Harbor, untuk melihat gemerlap Hongkong Island di seberang selat. Avenue of Stars juga terletak di sekitaran sini.

Dari Hongkong menuju Macau, penulis naik ferry sekitar 172 HKD (harga tiket tergantung apakah weekend atau hari biasa, atau tiket malam hari biasa sedikit lebih mahal); dermaga feri bisa dicapai dari Sheung Wan MTR station di Hongkong Island.

Imigrasi masuk ke Macau tidaklah ribet. Ketika tiba di dermaga feri Macau, penulis agak sedikit bingung bagaimana menuju ke kota Macau. Tentu saja naik taksi adalah paling gampang, namun penulis dengar ada banyak shuttle bus gratis casino-casino yang bisa kita tumpangi untuk menuju ke kota. Setelah nanya orang dimana lokasi shuttle bus casino (ternyata harus jalan sedikit dari terminal dermaga), penulis pun sembarang naik free shuttle bus menuju casino Grand Lisboa.. haha.. Persaingan casino di Macau memang sangat kompetitif, sampai-sampai mereka main “jemput bola” calon potensial pelanggan.

Senado Square, Macau

Hotel-hotel di Macau juga luar biasa mahal, dan disini Anda hampir tidak mungkin (susah sekali) menemukan budget hotels. Hotel paling murah pun biasanya sekitar sejutaan rupiah, terlebih saat peak seasons atau menjelang weekends. Penulis pun menginap satu malam di Macau. Sebenarnya ada cara lebih irit yaitu nginap di Zhuhai (kota perbatasan di RRC tepat di utara batas tapal Macau) (nanti akan dijelaskan cara hemat ke Zhuhai).

Walaupun tidak ikutan berjudi, tentunya penulis tetap pengen tau gimana isi casino di Macau. Casino Grand Lisboa yang penulis masuki memiliki ornamen-ornamen wah nan berkilauan, di dalam berjejer meja-meja judi. Kadangkala disediakan juga snack/kue dan minuman gratis buat para pengunjung. Bukan itu saja, pada jam tertentu, ada juga pertunjukan tarian cewe-cewe seksi di atas panggung. Wah ga rugi juga main ke dalam casino, hehe..

Selain casino, di Macau juga terdapat peninggalan Portugis, seperti kastil atau gereja. Dari Macau, penulis berencana melanjutkan perjalanan ke Guangzhou, RRC. Nah ternyata kita bisa naik shuttle bus gratis dari casino menuju ke perbatasan RRC yaitu ke kota Zhuhai. Caranya adalah pergi kunjungi meja judi di dalam casino, terus minta tiket free shuttle bus (sebutkan tujuan Anda, misalkan mau ke perbatasan Zhuhai); setelah mendapatkan kupon gratis, Anda tinggal tanya saja dimana tempat naik shuttle bus.

Kami pun menuju ke Zhuhai, sudah masuk ke wilayah Republik Rakyat China (RRC). Sebenarnya dari perbatasan Macau-Zhuhai bisa jalan sedikit ke stasiun kereta api Zhuhai dan dari sana bisa naik kereta api ke Guangzhou. Akan tetapi kami tidak tahu akhirnya naik bus CTS dari Zhuhai ke Guangzhou yang tiketnya cukup mahal sekitar 63 RMB per orang (padahal kalau kereta cuma 37 RMB). Pantesan kami heran, begitu banyak (ribuan) orang yang menyeberangi perbatasan, koq yang naik bus cuma sedikit.. hanya puluhan orang.. ternyata orang-orang pada naik kereta toh.

Tiba di Guangzhou juga sudah menjelang malam. Biaya hotel di RRC sungguh berbeda bagai langit dan bumi apabila dibandingkan dengan biaya hotel di Macau/Hongkong. Jauh lebih murah di RRC, maka menurut rumor banyak orang yang menginap di perbatasan Zhuhai ketika travelling ke Macau. Guangzhou termasuk kota berpenduduk terbesar ketiga di RRC, sentra aktivitas China wilayah Selatan. Di Guangzhou selain keliling kota, penulis cuma sempat mengunjungi Sun Yat Sen Museum (tiket masuk 10 RMB).

Kami berencana malam hari ingin naik kereta api malam (sleeper beds) dari Guangzhou menuju Guilin. Tapi apa lacur, tiket malam ini, bahkan esok hari sudah habis!! Ludes terjual!! Tersisa tiket berdiri, what the hell, masa kami berdiri 12 jam tanpa tidur di dalam kereta??! Yang bener saja! Kami sudah hampir membatalkan niat kami ke Guilin, tapi akhirnya penulis kepikiran, bagaimana kalau coba cari bus malam ke Guilin, mungkin saja masih ada. Ternyata terminal bus antar-kota terletak tidak begitu jauh dari Guangzhou Railway Station. Tiket bus malam seharga 180 RMB (tidak begitu mahal.. setara harga soft seat kereta api). Jadi penulis sarankan apabila Anda berencana dari Guangzhou atau Shenzhen menuju Guilin naik kereta, Anda sebaiknya booking tiket dari minimal beberapa hari sebelumnya.

Tiba di Guilin sudah pagi hari, kami pun check-in di hotel (enaknya hotel disini sudah bisa check-in padahal masih pagi jam 8), juga dengan sekitar Rp.300 ribu-an sudah bisa dapat kamar yang bagus untuk dua orang. Suasana Guilin yang teduh memang beda dengan Guangzhou yang padat penuh hiruk pikuk. Sudah tiba di Guilin tentunya harus menyusuri Sungai Li yang termasyhur itu. Kami pun membeli paket tur dari tur lokal, per orang sekitar Rp. 600 ribuan, sudah termasuk menyusuri Sungai Li sampai Yangshuo, kemudian bus buat balik ke Guilin.

Kapal dari Guilin ke Yangshuo berangkat dari Mopanshan Pier. Penulis cermati ternyata harga resmi tiket Li River Cruise dari dermaga ini sampai Yangshuo sekitar 210 RMB. Ya memang tur lebih mahal, tapi masuk akal lah, karena mereka menjemput dari hotel sampai dermaga, juga bus buat ke beberapa objek wisata di Yangshuo, kemudian bus balik dari Yangshuo ke Guilin.

Karena Li River Cruise masih keesokan harinya, kami pun pergi melihat gua-gua di Guilin dan pertunjukan seni suku-suku minoritas di Provinsi Guangxi (Guilin adalah salah satu kota di provinsi Guangxi). Memang wajar, karena gunung-gunung di Guilin dari batu kapur, pasti banyak terbentuk gua-gua dengan stalaktit dan stalakmit. Gua-gua disini dihiasi dengan pencahayaan berwarna-warni, membuatnya terlihat cukup indah walaupun artifisial. Hanya saja tipikal objek wisata di China, apapun berorientasi uang. Di dalam gua, ada gayung ambil air buat siram batu (bayar duit), foto depan kolam berstalakmit (bayar uang), bahkan sampai ke unsur-unsur mistis sembayang ini itu yang ujung-ujungnya (bayar uang) juga, di dekat pintu keluar berjejer toko-toko suvenir yang kalau mau beli tentu saja (bayar uang).

Guilin Cave

Bukan cuma di gua, di desa pertunjukan seni suku minoritas juga sama saja. Padahal Anda sudah masuk bayar sekitar 100 RMB, tetap saja berupaya diperah di dalam. Ayah dan paman-paman penulis, serta beberapa pengunjung lainnya tiba-tiba dikalungi pita pengantin, terus dibawa ke upacara pengantin ala suku minoritas tertentu, setelah itu dibawa oleh “mak comblang” masuk ke kamar. Penulis yang berusaha menghindar dan tidak berhasil dikalungi pun beranjak pergi, di samping penulis ada seorang ibu ngomel ke anaknya, “Bapak kamu itu ya.. bodoh sekali mau aja ikut upacara pengantin begituan.. itu pasti habis duit berapa ratus RMB!!” Setelah paman-paman dan ayah penulis keluar, ternyata memang satu orang habis sekitar 50 RMB sebagai “angpao” buat pengantin-pengantin wanita dan si “mak comblang”. Setelah itu salah satu paman penulis kembali diperas ketika foto bareng sama beberapa cewe berpakaian suku minoritas. Gilanya mereka hitungan satu jepret sekian puluh RMB, dan sekian kali jepret sudah habis seratusan RMB, padahal orangnya itu-itu saja, juga pose ga jauh berbeda antar jepretan satu ke yang lainnya. Memang cewe-cewe buas dan agresif mengincar mangsa..  =D ha..ha. Tapi pertunjukan seni nya sendiri cukuplah bagus.. ada tarian suku-suku minoritas seperti Zhuang, Miao, dsb. Juga dikisahkan tentang cerita rakyat Liu Sanjie, seorang gadis desa yang pemberani yang melawan tirani tuan tanah (landlord) yang ingin memaksa menikahinya.

Liu Sanjie, kisah rakyat yang tersohor dari Provinsi Guangxi

Liu Sanjie, kisah rakyat yang tersohor dari Provinsi Guangxi

Cruising Li River

Esok harinya, kami pun menyelusuri Sungai Li menuju Yangshuo. Di sepanjang tepi sungai, terlihat gunung-gunung kapur yang menjulang, tipikal keindahan khas Guilin. Akan tetapi penulis amati, banyak sekali wisatawan China yang tidak tahu aturan.. membuang puntung rokok sembarangan ke sungai.. what the hell! Mungkin memang Guilin dulunya adalah “paradise on earth”, tapi dengan komersialisasi dan laju pembangunan seperti sekarang ini, aura surgawi Guilin sudah lenyap. Apalagi kalau Anda ke sana pas musim panas.. udara yang gerah dan terik akan membuat Anda tidak begitu bisa enjoy menikmati perjalanan (penulis sarankan apabila Anda mau ke Guilin sebaiknya jangan pas musim panas).

Tiba di Yangshuo, dari dermaga kami pun mesti naik “electric van” menuju Tourism Parking Lots, habis 15 RMB. Dari sana bus travel pun membawa kami ke beberapa tempat seperti gua di Yangshuo, kuil, dan tidak ketinggalan adalah “jualan koyo” (ini adalah tipikal tur lokal di China – sebelumnya penulis di Suzhou pun begitu – kita diajak mendengarkan orang promosi jualan entah itu produk kesehatan lah, atau teh, atau obat-obatan, kain sutra, dsb). Setelah kembali ke Guilin kami pun bergegas ke stasiun kereta, harap-harap cemas apakah bisa mendapatkan tiket kereta terutama yang bisa buat tidur (sleeper bed), akhirnya kami pun mendapatkan 2 soft sleeper dan 2 hard sleeper menuju ke Shenzhen. (Ini cukup aneh kenapa tiket yang dari Guilin balik ke Guangzhou/Shenzhen bisa ada walau beli pas hari-H, sepertinya para turis dari Guilin banyak yang melanjutkan perjalanan ke barat atau utara seperti ke Kunming atau Nanning – ini menurut analisis/dugaan penulis).

Bisa tidur di atas kasur kereta walau hard-sleeper jauh lebih nyaman ketimbang tidur di bus (yang hampir tidak bisa tidur terlelap), pagi harinya kami pun tiba di Shenzhen. Kota Shenzhen cukup rapi dan tertata, terkesan agak mirip Singapura. Ternyata usut demi usut, kota Shenzhen ini dulunya dibangun oleh developer dari Singapore, pantesan saja model halte bus, trotoar, dan desain jalan rayanya terasa mirip.. Kota ini adalah cetusan ide revolusioner dari Deng Xiaoping yang berhasil menerapkan market economy dan membawa perubahan luar biasa ekonomi RRC hingga menjadi seperti sekarang ini. Kami pun sembarangan naik bus kota keliling Shenzhen, sekali naik cuma sekitar 2 RMB. Sebenarnya ada beberapa objek wisata seperti Window of The World (miniatur monumen dari seluruh dunia), Chinese Folk Culture Village (mirip TMII gitu), dll; tapi karena waktu yang sangat mepet, kami pun tidak sempat mengunjungi dan harus segera kembali ke Hongkong.

Dari Shenzhen ke Hongkong bisa naik MTR/Metro dari stasiun Luohu/Lo Wu, sekitar 30an HKD sampai ke wilayah Kowloon. Dari stasiun Lo Wu ketika tiba di stasiun Sheung Shui, penulis lihat banyak sekali penumpang yang turun dari MTR.. sepertinya dari Sheung Shui ada juga bus yang menuju ke Kowloon dan mungkin lebih murah.

Di Hongkong sendiri, masih ada beberapa tujuan wisata yang padahal sudah masuk itenary tapi akhirnya belum sempat terkunjungi, seperti Po Lin Monastery di Ngong Ping, ataupun naik ke puncak tertinggi di Hongkong Island. Yach, mungkin lain kali apabila ada kesempatan mengunjungi Hongkong lagi..

 

Beberapa tips berguna travelling di China:

1. Untuk mengecek rute kereta api seluruh China dan juga harga resmi:  http://www.cnvol.com

2. Booking tiket pesawat domestik di China:  english.ctrip.com

 

Untuk informasi berguna travelling secara umum:

1. wikitravel.org

2. Situs booking hotel seperti:  agoda.com, hostelworld.com, dsb

3. Situs komparasi harga tiket pesawat seperti: kayak.com, expedia.com, dkk


Pendakian yang Melelahkan di Gunung Kitadake

September 30, 2013

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Kalau dipikir-pikir, sebelum Gunung Kitadake, terakhir kali penulis mendaki gunung adalah enam tahun yang lalu, yaitu pertama kalinya penulis mencoba yang namanya mendaki gunung. Tidak tanggung-tanggung, pertama kali langsung mendaki Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang dengan ketinggian 3776 meter. Setelah itu memang ada mendaki gunung-gunung kecil, tapi dalam ketinggian kisaran 1000 meter, seperti Gunung Takao, Huangshan; jadi terasa lebih mirip hiking (pendakian santai). Ketika mendapat ajakan dari teman-teman buat mendaki Gunung Kitadake, gunung tertinggi kedua di Jepang dengan ketinggian 3193 meter, penulis seperti mendapat panggilan dari alam. Toh sebelumnya sudah pernah manjat gunung yang lebih tinggi, harusnya ga masalah dengan pendakian kali ini, pikir penulis, tapi ternyata penulis salah besar!! Pendakian Gunung Kitadake ternyata lebih sukar ketimbang Gunung Fuji.

Gunung Kitadake adalah puncak tertinggi di gugus Pegunungan Minami Alps. Ada banyak sekali gunung di gugus pegunungan ini. Akhirnya, tanggal 20 September 2013 malam, penulis pun berangkat ke Kofu (Prefektur Yamanashi). Tiba di sana sudah tengah malam, dan kami pun bermalam di tempat karaoke. Beberapa teman yang gila karaoke pun sempat nyanyi sampai jam 1 malam, padahal kami harus bangun jam 3 malam buat ngantri bus pertama yang menuju ke Hirogawara, base area di kaki gunung Kitadake.

Pagi hari sekitar jam 6-an, kami pun tiba di Hirogawara. Sebelum mendaki, biasanya para pendaki dianjurkan untuk melaporkan diri agar kalau hilang atau ga balik-balik bisa dikirimkan regu penyelamat untuk mencari. Walaupun masih ngantuk kami pun memulai pendakian kami melewati rute Okanbazawa, yang bisa penulis sebut sebagai rute mata air, karena banyak sekali jeram dari mata air yang mengalir disana sini. Awal-awal rute dihiasi oleh hutan pinus, melewati banyak jeram yang airnya begitu jernih dan bening, kadang-kadang sepatu bisa basah ketika menyeberang jeram kecil yang menyalib rute pendakian. Luar biasa indah dan menawan! (ini berbeda dengan Gunung Fuji yang miskin akan vegetasi dan juga kering – hampir tidak ada air). Setelah sekitar dua jam pendakian, mulailah rute diisi oleh banyak batu cadas. Rute cadas selama berjam-jam ini sungguh melelahkan. Efek kurang tidur mulai membuat kepala penulis agak pening, dan juga perut pun mulai merasa lapar karena hanya sarapan sedikit onigiri paginya. Matahari pun sudah mulai naik semakin ke atas menuju tengah hari, dan rute bebatuan cadas pun seakan tiada akhir. Minuman yang penulis bawa sudah habis, rasanya pengen sekali mengisi air dari mata air yang bening… tapi agak ragu karena mungkin ada pendaki yang mencuci muka atau tangan di hulu sana… jadi penulis terpaksa bertahan dan ketika sudah mendekati puncak, terlihat jeram mata air bercabang. Cabang yang satunya menyelusuri rute pendakian, satunya lagi berasal dari daerah yang sulit didaki. Nah penulis pun memanjat sedikit agak tinggi ke jeram mata air yang agak terisolir, yang tidak terlihat ada seorang pun, dan mengisi botol dengan air dari mata air Minami Alps. Walaupun agak ragu, akhirnya penulis pun mencoba minum, luar biasa segar!! Benar-benar fresh, tidak seperti air keran di Tokyo yang bisa diminum, namun agak sedikit aneh rasanya. Ini pertama kalinya penulis minum langsung dari air alam tanpa dimasak/difilter terlebih dulu, dan ternyata tidak terjadi apa-apa.

crystal clear spring water

long climb

tough climb

Ketika tiba di sebuah undakan hampir dekat puncak, rasanya sudah hampir tewas. Rasa kantuk yang mengakumulasi dan kepala nyut-nyut, membuat penulis pengen menyerah saja. Memang hari ini kami belum berencana memanjat ke Puncak Kitadake, jadi kami akan terlebih dulu menuju ke Gubuk Kitadakesanso, yang untuk menuju ke sana masih perlu satu setengah jam lebih, menyelusuri tebing sempit di antara lereng pegunungan.

narrow slope edge

Sudah jam dua siang, angin dingin mulai bertiup menghembus kami yang melewati tebing sempit berbatu. Sialnya tongkat penulis dari batang kayu patah, padahal rute sempit ini naik turun dan cukup berbahaya. Vegetasi di atas gunung agak minim, jadi susah mencari pohon kayu. Setelah menelusuri sana sini, akhirnya penulis mencerabut akar dari pinus tanah yang hanya setinggi perdu. Awan agak hitam tampak melintas di depan, untunglah awan tersebut tertiup angin dan pergi. Akhirnya setelah mencoba memakai sisa tenaga, tiba juga di Gubuk Kitadakesanso.

Padahal planning kami sebelumnya adalah dari gubuk ini kami bisa mencoba jalan ke Gunung Ainodake (3189 meter), karena puncak gunung ini masih terhubung dengan puncak Gunung Kitadake, dan gubuk kami ada di tengah-tengahnya. Tapi kondisi kami sudah mustahil. Walaupun satu biji pisang 100 yen, dan satu botol Pocari Sweat 400 yen, sudah tidak penulis pikirkan lagi mahalnya. Salah seorang teman penulis membawa tenda, dan membayar 600 yen buat menyewa camp site di sekitaran gubuk. Karena tenda cuma muat buat dua orang teman yang berbadan besar, sisanya kami empat orang nginap di dalam gubuk gunung. Biaya nginap 1 orang cukup mahal 7900 yen (tapi termasuk makan malam 1600 yen, dan sarapan 1100 yen). Jadi nginapnya doank 5200 yen/orang, ini sangat mahal karena mesti sharing satu futon buat 2 orang, luar biasa sempit.

serene sunset

Sebelum makan malam, kami pun keluar melihat matahari terbenam. Karena jaket tertinggal di dalam gubuk, penulis pun menggigil kedinginan… angin senja bertiup luar biasa kencang. Rona merah senja yang tersisa dan mulai menghilang.. membuat penulis merenung koq bisa-bisanya mau bikin hidup susah dengan pendakian setengah mati kayak begini. Tapi karena ya sudah telanjur ada di atas gunung, sekarang yang penting adalah memulihkan raga agar besok bisa segar kembali.

Makan malam hangat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Untuk porsi yang lezat seperti ini (dengan ikan, miso siru yang panas, dan nasi bisa tambah sepuasnya), dan juga memikirkan bagaimana gas LPG buat masak, dan juga bahan-bahan masakan harus diangkut pake helikopter, sebenarnya 1600 yen tidaklah mahal. Akhirnya penulis pun bisa mengisi ulang sisa energi yang sudah hampir habis.

Bintang-bintang terlihat bertaburan indah di langit malam. Pun demikian penulis memilih untuk bersemayam di dalam kamar gubuk dan memutuskan untuk tidur lebih awal karena harus bangun sebelum jam 5 pagi untuk melihat matahari terbit keesokan harinya, juga untuk mendaki ke Puncak tertinggi di Kitadake. Anda jangan pikir kamar di dalam gubuk yang harganya 5200 yen per orang pasti bagus, gilaaa.. kalau mau dibilang nih kamar lebih mirip camp pengungsi. Satu kamar dengan ketinggian langit-langit maksimal 2 meteran, diisi lebih dari 30 orang, dengan tiap orang hanya mendapatkan luas wilayah setengah futon. Dan parahnya lagi, udara terasa panas hingga tengah malam, untunglah setelah itu mulai menjadi adem dan penulis pun bisa mulai terlelap.

Satu hal lainnya yang bikin penulis agak sensi adalah peraturan bahwa harus bayar 100 yen per 1 liter air dari keran di dalam gubuk. Padahal sudah bayar mahal buat nginap, toh lagipula kita tidak memakai air tersebut secara mubazir. Toilet di dalam gubuk juga bau, dan air kerannya kadang ga ngalir… akhirnya penulis lihat banyak juga orang Jepang yang cuci tangan dari keran air 100 yen/liter tersebut. Penulis sendiri lebih memilih ke toilet alam saja, tidak perlu bau dan bisa menghirup udara segar lagi, setelah itu baru cuci tangan, cuci muka, gosok gigi, dsb dari air keran 100 yen/liter.

Keesokan paginya rasanya begitu segar… tidur cukup, makan/minum cukup.. dan penulis pun setelah sarapan pagi, langsung pergi keluar gubuk menyingsing mentari yang masih tersembul malu-malu di balik awan jauh di ufuk timur. Kali ini dengan berseragam lengkap: jaket musim dingin, kupluk, dan sarung tangan winter.. penulis pun bisa menikmati terbitnya matahari tanpa perlu menggigil.

Dua orang teman yang nginap di tenda menggigil semalaman. Dingin sekaliii.. ujar mereka. Memang sungguh ironi.. penulis yang kepanasan kemarin ingin sekali udara dingin yang segar, sedangkan teman yang di tenda kedinginan ingin sekali udara panas yang menghangatkan.. Penulis agak khawatir dengan salah seorang teman yang nginap di tenda, karena dia masih mengalami kepala pusing. Padahal pagi ini kami akan lanjut memanjat ke Puncak tertinggi Kitadake, kemudian turun gunung hari ini juga. Akhirnya salah seorang teman yang paling kuat di antara kami, membantu membawakan ranselnya. Tanpa banyak basa-basi, kami pun lanjut menuju Puncak Kitadake.

Mt Fuji seen from Kitadake Peak

Dari Gubuk Kitadakesanso menuju Puncak Kitadake sudah tidak begitu jauh lagi, kira-kira dua jam-an. Di kejauhan, Gunung Fuji pun tampak menjulang indah… dengan barisan pegunungan lainnya yang agak rendah. Benar-benar segala upaya susah payah mencapai Puncak Kitadake akhirnya puas terbayarkan oleh pemandangan menakjubkan.

with pine root at Kitadake Peak

Setelah puas menikmati puncak tertinggi, kami pun mulai turun gunung. Walaupun turun gunung diproyeksikan tidak akan selelah manjat gunung seperti hari sebelumnya, akan tetapi turun gunung cukup berbahaya, karena melewati cadas dan kerikil gampang tergelincir. Untuk rute turun gunung, kami memilih rute yang berbeda dengan rute pendakian. Kami memilih Rute Kusasuberi, yang penulis sebut rute perdu, karena banyak sekali perdu Kusasuberi, juga perdu bunga dan pohon cherry. Rute hijau yang sangat indah.

Akan tetapi di tengah perjalanan, kaki penulis mulai sedikit kram. Dan juga penulis sempat terpeleset ketika sudah mendekati daerah hutan pinus dekat kaki gunung. Temen-temen penulis yang cemas menyuruh penulis kembali ke rute yang benar. Tapi ribet dan juga susah untuk manjat kembali ke atas, jadi penulis segera melihat ke bawah dan mengira-ngira dimana bisa meluncur mendekati rute yang benar, serta meminta mereka agar tenang dan jangan panik. Akhirnya penulis turun sambil setengah meluncur melalui lereng gunung dan bisa kembali ke jalur normal, celana pun kotor oleh tanah. Benar-benar sebuah petualangan!

Setelah 4-5 jam turun gunung (yang diselingi oleh pemberhentian sejenak di daerah perkemahan dekat sebuah kolam Shiraneoike sambil makan es krim rasa ramune), serta di tengah jalan melihat ada sebagian pendaki yang naik ke atas lewat rute Kusasuberi ini terhempas kelelahan sambil bilang “Mou muri da” (“Sudah ga sanggup lagi”) – padahal rute sampai ke atas masih cukup jauh lho  ;p (penulis jadi ingat pengalaman sendiri hari sebelumnya dimana jantung berdetak begitu kencang akibat hampir mati kelelahan); akhirnya kami pun tiba kembali ke base area kaki gunung di Hirogawara. Ketika melihat kembali ke atas, gilaaa.. deretan gunung terlihat menjulang begitu tinggi.. hampir tidak bisa dipercaya, penulis telah berhasil memanjat sampai ke puncak teratas.

Dari Hirogawara balik ke Kofu, di beberapa segmen perjalanan, terlihat bus melewati ngarai yang begitu dalam.. akan tetapi tubuh yang pegal kelelahan dan kaki kram, serta tidak bisa mandi semalaman di atas gunung (karena keterbatasan air di puncak gunung), membuat pikiran ingin sekali cepat-cepat balik ke rumah dan berendam di air panas merilekskan tubuh yang lelah dan bau keringat. Di tengah jalan, penulis melihat ada ambulans yang datang dari arah berlawanan, mungkin menuju ke Hirogawara. Entah apa yang terjadi di gunung, mudah-mudahan baik-baik saja.

Dua tiga hari sesudahnya… kaki penulis masih lemas dan kram.. walaupun begitu tetap harus masuk kerja dan karenanya terpaksa berjalan tertatih-tatih. Sampai jumpa di gunung yang lain, dan mudah-mudahan masih ada kesempatan untuk berpetualang lagi.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers