Sayang, aku menderita.. tolonglah aku

January 23, 2010

Pada kesempatan sebelumnya, saya pernah menyinggung mengenai latihan empat mantra. Saya mengatakan bahwa mantra keempat merupakan mantra yang sulit dipelajari sehingga saya tidak membahasnya. Meskipun kenyataannya mantra ini sulit, namun sebenarnya mantra ini tidak begitu sulit. Setelah ceramah, ada seorang pria yang tiba-tiba menghentikan saya, ia bertanya tentang mantra keempat. Dia ingin sekali belajar dan berlatih mantra keempat. Dia sangat penasaran karena saya mengatakan bahwa mantra keempat lebih sulit. Tapi, setelah saya pikirkan kembali, menurut saya anak-anak juga dapat mengerti dan berlatih mantra keempat. Oleh karena itu, hari ini saya akan memberitahu bagaimana cara melatih mantra keempat.

Mantra keempat perlu dilatih saat diri anda sendiri yang menderita. Seperti yang kita ketahui, mantra ketiga dilatih saat orang yang kita cintai menderita. Anda temui dia dengan penuh perhatian murni, konsentrasi, dan ucapkan mantra: “Sayang, aku tahu kamu menderita, itulah sebabnya aku di sini untukmu.” Berbeda dengan mantra ketiga, mantra keempat dilatih saat dirimu sendiri yang menderita. Anda tahu bahwa penderitaan itu disebabkan oleh orang yang sangat anda cintai. Itulah sebabnya hal ini menjadi sulit. Saat orang yang paling anda cintai mengucapkan sesuatu atau melakukan suatu perbuatan yang melukai perasaan anda, anda sangat menderita. Jika saja orang lain yang mengucapkan atau melakukan hal tersebut, anda tidak akan menderita seperti itu. Namun, orang ini adalah orang yang paling anda cintai di dunia ini dan dia benar-benar melakukannya pada anda, dia benar-benar mengucapkannya pada anda sehingga anda tidak dapat menanggungnya. Anda menderita seratus kali lipat. Inilah saatnya berlatih mantra keempat.

Berdasarkan latihan ini, anda harus menemui orang tersebut, orang itu juga, orang yang paling anda cintai, yang baru saja melukai perasaan anda secara mendalam. Anda temui dia dengan penuh perhatian murni dan konsentrasi, ucapkan mantra keempat: “Sayang, Aku menderita, tolong aku.” Hal ini cukup sulit untuk dilakukan? Akan tetapi, jika anda melatih diri anda, anda dapat melakukannya. Saat anda menderita, dan anda tahu bahwa orang yang membuat anda menderita adalah orang yang paling anda cintai, anda ingin sendirian. Anda ingin mengunci kamar anda dan menangis sendirian. Anda tidak ingin menemuinya. Anda tidak ingin berbicara dengannya. Bahkan anda tidak ingin bersentuhan dengannya. Tinggalkan aku sendiri! Anda tidak ingin ia menyentuh anda. Hal ini sangat biasa, juga sangat manusiawi. Bahkan jika ada orang lain yang mencoba mendekati anda dan mendamaikan, anda masih saja sangat marah. Anda katakan: “Jangan sentuh aku, tinggalkan aku sendiri, aku tidak ingin menemuimu, berada bersamamu.” Itulah perasaan sebenarnya yang muncul saat itu. Sangat sukar… Saya rasa anda pernah mengalami situasi tersebut.

Jadi, apakah mungkin berlatih mantra keempat? Anda temui dia, nafas masuk secara mendalam, nafas keluar secara mendalam, menjadi diri anda sendiri sepenuhnya, buka mulut anda dan katakan dengan seluruh tenaga, konsentrasi, bahwa anda sangat menderita dan membutuhkan pertolongannya. Tampaknya anda tidak ingin melakukan hal itu, karena anda tidak merasa bahwa anda membutuhkan bantuannya. Anda mungkin membutuhkan bantuan orang lain, tapi anda tidak butuh bantuannya. Anda ingin sendiri. “Aku tidak membutuhkanmu.” Itu yang ingin anda katakan. Itulah masalahnya; karena anda terluka begitu mendalam. Sehingga anda tidak dapat menemui dan meminta bantuannya. Harga diri anda terluka begitu mendalam. Itulah sebabnya mantra keempat sangatlah penting.

Supaya dapat melatihnya, kita harus melatih diri kita sekian waktu lamanya. Anda biasanya cenderung secara alamiah mengatakan kepadanya bahwa anda dapat hidup tanpa dirinya. Anda dapat hidup mandiri. Anda tidak akan mati karena tidak memiliki cintanya. Itulah yang kita lakukan pada umumnya. Tapi, jika anda tahu bagaimana cara melihat situasi tersebut dengan kearifan, anda akan memandang bahwa, mengatakan hal itu sangat tidak bijaksana. Hal yang bodoh; karena, bila kita mencintai satu sama lain, kita saling membutuhkan, apalagi saat kita menderita. Sangatlah tidak bijaksana jika kita melakukan hal yang sebaliknya. Anda sangat yakin bahwa penderitaan anda datang dari dia, anda sangat yakin; tapi, mungkin saja anda salah. Dia belum melakukannya sama sekali, dia belum mengatakannya, dengan maksud melukai anda, tetapi anda salah paham. Anda memiliki persepsi yang keliru. Persepsi yang keliru adalah kuncinya.

Saya akan menceritakan sebuah kisah tentang Tuan Truong. Ini adalah sebuah kisah nyata. Kisah ini terjadi di negara saya (Vietnam), ratusan tahun yang lalu. Semua orang di negara saya mengetahui kisah ini. Ada seorang pria yang masih muda belia, ia harus mengikuti wajib militer. Sehingga dia menjadi tentara dan pergi berperang. Dia harus meninggalkan istrinya sendirian di rumah dalam keadaan hamil. Mereka menangis cukup lama saat berpisah. Mereka tidak tahu apakah sang pria ini akan kembali dengan selamat, karena tidak ada yang tahu. Pergi berperang sangatlah beresiko. Anda bisa saja mati seketika dalam waktu beberapa minggu, beberapa bulan, atau mungkin anda terluka parah, atau jika anda sangat beruntung, anda akan selamat, pulang ke rumah, bertemu orang tua, istri, dan anak- anak anda.

Pria muda tersebut cukup beruntung, dia selamat. Beberapa tahun kemudian, dia dibebastugaskan. Istrinya sangat gembira mendengar kabar bahwa suaminya akan pulang. Dia pergi ke pintu gerbang desa dan menyambut suaminya, dia ditemani anak laki-lakinya yang masih kecil. Anak kecil itu dilahirkan saat ayahnya masih bergabung dengan pasukan militer. Pada saat mereka bertemu kembali, mereka menangis dan saling berpelukan, mereka menitikkan air mata kegembiraan. Mereka sangat bersyukur, pria muda tersebut selamat dan pulang ke rumah. Saat itu adalah pertama kalinya pria muda itu melihat anak laki-lakinya yang masih kecil.

Berdasarkan tradisi, kami harus membuat persembahan di altar leluhur, untuk memberitahu para leluhur bahwa keluarga telah bersatu kembali. Pria itu meminta istrinya pergi ke pasar untuk membeli bunga, buah-buahan, dan barang persembahan lain yang diperlukan untuk membuat persembahan di altar. Pria itu membawa anaknya pulang dan mencoba membujuk anaknya untuk memanggilnya ayah. Tetapi anak tersebut menolak. “Tuan, kamu bukanlah ayah saya. Ayah saya adalah orang lain. Dia selalu mengunjungi kami setiap malam, dan setiap kali ia datang, ibu saya akan berbicara denganya lama sekali. Saat ibu duduk, ayah saya juga duduk; saat ibu tidur, dia juga tidur. Jadi, kamu bukanlah ayah saya.

Ayah muda tersebut sangat sedih, sangat terluka. Dia membayangkan ada pria lain yang datang ke rumahnya setiap malam dan menghabiskan waktu semalaman dengan istrinya. Semua kebahagiaannya lenyap seketika. Kebahagiaan datang sangat singkat, diikuti dengan ketidakbahagiaan. Ayah muda tersebut sangat menderita sehingga hatinya menjadi sebongkah batu atau es. Dia tidak dapat lagi tersenyum. Dia menjadi sangat pendiam. Dia sangat menderita. Istrinya, yang sedang berbelanja, tidak tahu sama sekali mengenai hal itu. Sehingga, sewaktu ia pulang ke rumah, ia sangat terkejut. Suaminya tidak mau menatap wajahnya lagi. Dia tidak mau berbicara. Dia menjadi sangat dingin, seakan-akan ia memandang rendah istrinya. Wanita itu tidak mengerti. Mengapa? Sehingga sang istri mulai menderita. Menderita sangat mendalam.

Setelah persembahan selesai dibuat, perempuan tersebut meletakkannya di altar. Suaminya menyalakan dupa, berdoa kepada para leluhur, membentangkan tikar, melakukan empat sujud dan memberitahukan bahwa ia sudah pulang ke rumah dengan selamat dan kembali ke keluarganya. Di negara saya, ini adalah latihan yang sangat penting. Di setiap rumah selalu ada altar para leluhur. Di atas altar, kami meletakkan sebuah gambar seorang leluhur yang mewakili semua leluhur. Seperti gambar kakek, nenek, dan sebagainya. Setiap pagi, seseorang datang ke altar, membersihkan debu yang ada di meja, menyalakan sebuah dupa, menundukkan kepala, dan mempersembahkannya kepada para leluhur. Hal ini sangat sederhana, tapi hal ini adalah latihan yang sangat penting di setiap pagi. Sehingga anda selalu memiliki dupa di rumah.

Setelah mempersembahkan dupa, berdoa dan melakukan empat sujud, ayah muda tersebut menggulung tikar, dan ia tidak mengizinkan istrinya melakukan hal yang serupa, karena ia berpikir bahwa istrinya tidak pantas untuk menampakkan dirinya di depan altar para leluhur. Wanita muda itu kemudian merasa malu, “terhina” karena peristiwa itu, dan dia menderita lebih dalam lagi. Menurut tradisi, setelah upacara selesai, mereka harus membereskan persembahan, dan keluarga tersebut harus duduk dan menikmati makanan dengan suka cita dan kegembiraan; tetapi pria muda tersebut tidak melakukannya. Setelah ritual persembahan, pria muda tersebut kemudian pergi ke desa, dan menghabiskan waktunya di kedai arak. Pria muda tersebut mabuk karena dia tidak dapat menanggung penderitaannya. Pada masa itu, saat mereka sangat menderita, mereka biasanya pergi ke kedai arak dan minum banyak alkohol. Sekarang, mereka dapat menggunakan banyak macam obat-obatan terlarang. Tapi pada masa itu hanya ada alkohol. Ia tidak pulang ke rumah hingga larut malam, sekitar pukul satu atau dua dini hari dia baru pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Dia mengulangi perbuatannya tersebut hingga beberapa hari, tidak pernah berbicara dengan istrinya, tidak pernah menatap istrinya, tidak pernah makan di rumah, wanita muda tersebut sangat menderita dan ia tidak dapat menanggungnya. Pada hari keempat wanita tersebut melompat ke sungai dan mati. Dia sangat menderita. Pria tersebut juga sangat menderita. Tapi tidak seorang pun dari mereka berdua yang datang pada salah satu pihak dan meminta bantuan, karena “harga diri” yang mereka pertahankan secara membuta.

Saat anda menderita dan anda yakin bahwa penderitaan anda disebabkan oleh orang yang paling anda cintai, anda lebih suka menderita sendiri. Harga diri mencegah anda menemui orang lain dan meminta bantuan. Bagaimana seandainya sang suami tersebut menemui istrinya? Situasinya mungkin akan berbeda.

Malam itu, dia harus tetap tinggal di rumah karena istrinya sudah meninggal dunia, untuk menjaga anak laki-lakinya yang masih kecil. Dia mencari lampu minyak tanah dan menyalakannya. Saat lampunya menyala, tiba-tiba anak kecil itu berteriak: “Ini dia Ayahku!” dia menunjuk bayangan ayahnya di dinding. “Tuan, ayahku biasanya datang tiap malam dan ibu berbicara banyak dengannya, dia menangis di depannya, setiap kali ibu duduk, ayah juga duduk. Setiap kali ibu tidur, ayah juga tidur.”

Jadi, ‘ayah’ yang dimaksudkan anak tersebut hanyalah bayangan ibunya. Ternyata, wanita itu biasanya berbicara dengan bayangannya setiap malam, karena dia sangat merindukan suaminya. Suatu ketika anaknya bertanya kepada ibunya: “Setiap orang di desa memiliki ayah, kenapa aku tidak punya?” Sehingga pada malam tersebut, untuk menenangkan anaknya, sang ibu menunjuk bayangannya di dinding, dan berkata, “Ini dia ayahmu!” dan ia mulai berbicara dengan bayangannya. “Suamiku sayang, kamu sudah pergi begitu lama. Bagaimana mungkin aku membesarkan anak kita sendirian? Tolong, cepatlah pulang sayang.” Itulah pembicaraan yang sering ia lakukan. Tentu saja, saat dia lelah, ia duduk, dan bayangannya juga duduk. Sekarang ayah muda tersebut mulai mengerti. Persepsi keliru sudah menjadi jernih. Tetapi semua itu sudah terlambat; istrinya sudah mati.

Persepsi yang keliru dapat menyebabkan banyak penderitaan dan kita semua mengalami persepsi yang keliru setiap harinya. Kita hidup dengan persepsi keliru setiap hari. Setiap saat kita merasakan sesuatu, kita perlu bertanya, “Apakah kita yakin persepsi tersebut benar?” Agar aman, anda harus bertanya apakah anda yakin dengan persepsi anda?

Saat kita berdiri bersama para sahabat, dan memandang indahnya sinar matahari yang terbenam, kita menikmati pemandangan tersebut, dan barangkali kita yakin bahwa matahari sedang terbenam, atau belum terbenam. Tetapi seorang ilmuwan akan memberitahukan kepada kita bahwa matahari sudah tenggelam delapan menit yang lalu. Pemandangan matahari yang kita singgung hanyalah pemandangan matahari delapan menit yang lalu. Dia mengatakan hal yang sebenarnya, karena diperlukan waktu delapan menit agar citra matahari dapat dilihat mata kita yang berada di bumi. Itu adalah kecepatan cahaya. Kita sangat yakin kita sedang melihat mahatari saat ini juga. Itu adalah salah satu persepsi keliru. Kita mengalami ribuan persepsi yang keliru seperti itu dalam kehidupan sehari-hari kita.

Mungkin saja orang lain tidak bermaksud melukai anda, tetapi anda yakin kalau dia melakukannya untuk menghukum anda, untuk membuat anda menderita, untuk menghancurkan anda. Anda membawa persepsi yang keliru seperti itu siang dan malam, dan anda sangat menderita. Mungkin saja anda akan tetap mempertahankan persepsi anda hingga anda mati, memiliki banyak kebencian terhadap seseorang yang mungkin saja tidak bersalah. Itulah sebabnya, melakukan meditasi terhadap persepsi adalah latihan yang sangat penting.

Andai saja pria muda tersebut menemui istrinya dan mengatakan: “Sayang, aku sangat menderita beberapa hari ini. Sepertinya aku tidak dapat hidup lagi. Tolong aku. Tolong beritahu aku siapa pria yang selalu datang setiap malam, kamu ajak bicara, menangis di depannya, setiap kali kamu duduk, ia duduk.” Hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Temui dia dan katakan. Jika pria tersebut melakukannya, wanita muda itu akan punya kesempatan untuk menjelaskan, dan tragedi tersebut dapat dihindari. Mereka dapat memulihkan kebahagiaan dengan mudah, secara langsung. Tetapi ia tidak melakukannya karena ia terluka sangat mendalam, dan harga diri telah mencegahnya untuk menemui istrinya dan meminta bantuan. Dia belum belajar mantra keempat.

Tidak hanya pria tersebut yang melakukan kesalahan, wanita itu juga melakukan kesalahan yang serupa. Dia juga sangat menderita, tetapi ia terlalu sombong untuk meminta bantuan. Dia seharusnya menemui suaminya dan mengatakan: “Sayang, aku tidak mengerti. Aku sangat menderita. Aku tidak mengerti mengapa kamu tidak mau menatapku, kamu tidak mau berbicara denganku, kamu sepertinya merendahkan aku. Tampaknya kamu merasa bahwa aku ini tidak ada sama sekali. Apakah aku telah melakukan kesalahan sehingga aku pantas diperlakukan seperti ini?” Itulah yang seharusnya ia lakukan. “Sayang, aku menderita, tolong aku!” itulah mantranya. Jika dia mengatakan hal itu, pria muda tersebut, suami muda tersebut mungkin akan menjawab seperti ini: “Kenapa? Apakah kamu tidak tahu jawabannya? Siapa orang yang selalu datang setiap malam, orang yang selalu kamu ajak bicara?” Maka wanita itu seharusnya memiliki kesempatan untuk menjelaskannya. Setelah pria muda tersebut sadar akan kesalahannya, dia menangis dan terus menangis. Dia menjambak rambutnya, memukul dadanya. Tapi semuanya sudah terlambat!

Akhirnya semua penduduk di desa tersebut belajar dari tragedi itu, mereka datang dan mengadakan upacara besar untuk mendoakan wanita yang malang itu. Sebuah upacara pembersihan ketidakadilan yang dilakukan orang seperti kita, yang berasal dari ketidaktahuan dan persepsi keliru kita. Bersama-sama, mereka membangun stupa untuk wanita malang itu. Hingga saat ini, stupa itu masih berdiri tegak di sana. Jika anda mengunjungi Vietnam Utara, dan melewati sungai itu, anda akan melihat stupa tersebut.

 

(ditulis ulang dan diadaptasi oleh Willy Yanto Wijaya dari buku Menyembuhkan Diri, Mengatasi Derita oleh Zen Master Thich Nhat Hanh, Penerbitan PVVD, 2008)

Catatan: Versi lengkap buku Menyembuhkan Diri, Mengatasi Derita dapat diunduh, klik di sini.


Ekspedisi Taoyuan – Taipei

January 16, 2010

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Setelah mengulas tentang ekspedisi Kalimantan/ Borneo di tulisan sebelumnya, kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai ekspedisi di Taiwan, dari Taoyuan hingga Taipei. Sebenarnya perjalanan kali ini bukan lagi bertujuan utama untuk petualangan melainkan untuk presentasi riset di sebuah conference yang diadakan di National Taiwan University (NTU) di Taipei, yaitu AOTULE (Asia Oceania Top Universities League on Engineering) Postgraduate Conference 2009.

1 Desember 2009. Pesawat mendarat di bandara Taoyuan, dan dengan bus, kami (sekitar 30 mahasiswa Tokyo Tech) menuju ke tempat penginapan kami di Taipei. Perjalanan dari bandara Taoyuan ke pusat kota Taipei memakan waktu sekitar 1 jam. Tiba di Taipei sudah sekitar jam 8 malam, dan saya masih menyempatkan diri berkeliling di sekitaran penginapan, meskipun saya mendapatkan giliran presentasi esok harinya. Penginapan kami terletak di dekat kampus NTU, universitas no 1 se-Taiwan, juga dekat dengan stasiun MRT (subway) Gongguan.

Akh! Waktunya mencari makan malam. Saya pun menjelajahi beberapa ruas jalan yang ramai dipenuhi penjual makanan. Masuk di sebuah rumah makan, saya pun kebingungan melihat deretan huruf-huruf Mandarin yang sebagian besar tidak saya pahami. Akhirnya saya pun memilih menu yang paling pendek tulisannya, yang bisa saya baca, dan juga murah, yaitu “ci fan” (nasi ayam). Memang murah (dibandingkan dengan harga di Jepang), hanya sekitar 30 NTD (New Taiwan Dollar) (1 NTD sekitar Rp.300,-), meskipun porsinya kecil. Tidak apalah, memang malam hari tidak perlu makan terlalu banyak, pikir saya.

Setelah puas berkeliling ruas jalanan penjual makanan, saya pun berkeliling di sekitaran kampus NTU. Kampus ini sangat dinamis, walaupun telah malam pukul 22.00 atau 23.00, masih banyak lalu lalang mahasiswa, baik dengan bersepeda maupun jalan kaki. Akan tetapi, yang mencengangkan adalah hebohnya muda-mudi Taiwan dalam berpacaran!! Di sudut-sudut taman, di tempat parkir sepeda, bahkan di tepi jalan raya yang ramai, terlihat banyak sekali muda-mudi yang berpasangan, saling bermesraan, berpelukan, dan bahkan berciuman. Wah-wah ternyata mahasiswa di sini lebih blak-blakan dibandingkan mahasiswa di Jepang maupun di Indonesia yang mungkin akan mencari tempat-tempat yang agak tersembunyi untuk melakukan hal-hal tersebut.

Anyway, sesudah puas melakukan observasi sekeliling penginapan, saya pun bermaksud pulang dan tidur. Alamak!! Ternyata pintu depan Lu-Ming Guest House, tempat saya menginap sudah dikunci jam 11 malam. Wah berabe juga nih, masa saya harus jadi “gelandangan” satu malam di Taipei? Saya yang agak panik, mencoba menghampiri beberapa orang yang sedang nongkrong di sekitaran penginapan, sambil mengerahkan segenap kemampuan bahasa Mandarin yang tersisa di otak saya. Mereka bilang tidak tahu. Kepanikan saya bertambah, akh, akan tetapi di kamar lantai 2, terlihat ada seseorang yang sedang membaca buku, teman saya sendiri! Saya mencoba melambai-lambai untuk menarik perhatiannya, akan tetapi gagal! Saya berpikir untuk melempar sesuatu, misal sepatu saya ke jendela kamarnya, bagaimana kalau kacanya pecah? Akhirnya saya melihat ada tangga di samping penginapan yang terhubung dengan atap kecil dari lantai 1 yang “agak” terhubung dengan jendela-jendela di lantai 2. Dengan memanjat bagaikan maling akhirnya saya berhasil menggapai jendela kamar teman saya, dan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Ia kaget setengah mati melihat tiba-tiba ada sosok di balik jendela kamarnya. Fiuh.. lega juga akhirnya ada yang membukakan pintu.

Hari kedua diisi dengan jadwal presentasi riset saya dan juga jamuan makan malam yang diadakan oleh NTU. Saya kira tidak perlu saya ulas panjang lebar disini.

Hari ketiga diisi dengan setengah hari presentasi riset, dan sesudahnya dilanjutkan dengan campus tour keliling NTU. Tidak ketinggalan, sore harinya saya mencoba mencicip makanan di kantin NTU. Makanan di kantin memang murah meriah juga enak, dan porsinya lumayan, hanya sekitar 50 NTD sekali makan. Lebih memuaskan ketimbang “ci fan” yang saya santap 2 hari sebelumnya.

Malam harinya, bersama seorang teman dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), kami pun berkeliling ke Taipei Main Station dan Ximen. Ada beberapa hal menarik di Ximen, yang bisa dibilang “Harajuku”nya Taipei, terkenal dengan teater, dan berbagai pertunjukan seni. Di sebuah toko aneka suvenir dekat gedung teater, dijual berbagai miniatur unik hasil rakitan dari komponen elektronik bekas, juga ada kertas kain yang bisa dibentuk menjadi aneka figur-figur lucu. Di sebuah ruas jalan, juga ada seorang seniman penggunting kertas, kita bisa menyumbang 50 atau 100 NTD apabila kita puas dengan hasil guntingannya. Seniman ini akan menggunting kertas yang akan membentuk seperti siluet kepala kita (dari arah samping), benar-benar jenius dan kreatif. Tidak lupa, saya juga mencoba jajanan khas Taipei yaitu Lu Wei. Agak sulit menjelaskan, intinya, kita bisa memilih tahu, pekcai, jamur enoki, jeroan, bihun atau mie dan aneka bahan lainnya ke dalam ramuan sup. Nah, poin terpenting dari Lu Wei ada di ramuan sup nya itu, yang diracik dari berbagai rempah-rempah sehingga memiliki rasa yang kaya dan penuh aroma bumbu. Sayang, saya belum sempat mencicip satu lagi jajanan khas Taipei yaitu “Tahu Busuk”. Setiap kali mencium aroma tahu busuk, rasanya mual dan mau muntah, tapi kata orang-orang sih rasanya sangat enak meskipun baunya busuk.

Seniman penggunting kertas menyerahkan karya guntingan yang dibuatnya hanya dalam 10 menit. Benar-benar lihai dan terampil, juga kreatif.

Hari keempat, kami seharian berkeliling Taipei. Bersama beberapa mahasiswa NTU sebagai tour guide, kami pun menghabiskan satu hari yang menyenangkan. Tujuan pertama kami adalah Chiang Kai Shek (CKS) Memorial Hall yang tersohor di Taipei itu. Bangunan ini memiliki desain yang unik, dengan atap segi delapan berwarna biru bertingkat dua, dan di depannya terhadap lapangan luas yang diapit oleh gedung National Theater dan National Concert Hall. Di dalam Memorial Hall terdapat patung Chiang Kai Shek yang sedang duduk dan tersenyum, dengan dua penjaga menenteng bayonet sambil diam mematung. Setiap satu jam, kedua penjaga ini akan menunjukkan kepiawaian mereka dalam aksi parade militer kecil-kecilan, sembari digantikan oleh dua penjaga yang lain (pergantian shift). Ada insiden langka yang terjadi pada hari itu. Ketika salah satu penjaga tersebut mengayunkan bayonetnya, uppss.. bayonet terlepas dan jatuh ke lantai. Beberapa penonton tertawa, beberapa lagi simpatik sambil membayangkan bagaimana nasib si penjaga ini kemudian.

Upss.. bayonet terjatuh ke lantai saat parade di dalam Chiang Kai Shek Memorial Hall.

Beranjak dari CKS Memorial Hall, kami pun menuju ke wilayah paling utara Taipei, yaitu Danshui. Danshui terkenal dengan jalanan tua nya, kampung nelayan, dan juga pasar tradisionalnya. Di sini, kami berhenti makan siang di sebuah rumah makan. Hanya dengan 30 NTD untuk tiap menu, saya pun memesan bihun goreng, kuah bakso, dan tahu asam manis. Tahu asam manis ini lumayan khas, kulit luarnya digoreng hingga garing, akan tetapi ketika digigit, di dalamnya ternyata ada isi semacam mie campur daging/ sayur bersaus dan lumayan pedas. Setelah sekian lama tidak menyentuh makanan pedas selama di Jepang, akhirnya saya bisa mencicip kembali kenikmatan rasa pedas. Setelah makan siang, beberapa dari kami membeli es krim “super” yang tingginya lebih dari 40 cm. Saya juga membeli oleh-oleh khas seperti telur kulit hitam, selain snack keladi (yam) yang telah saya beli di Gongguan. Telur kulit hitam ini adalah jajanan khas Danshui, katanya diproses dengan dicelup aneka bumbu dan rempah-rempah hingga meresap, dan telur rebus yang biasanya berwarna putih itu berubah menjadi hitam legam, kemudian dikeringkan hingga mengeras. Telur yang seukuran telur burung puyuh itu ketika digigit, bagian luarnya memang keras, tetapi ketika dikunyah perlahan akan terasa cita rasa rempah yang kaya.

Dari Danshui, kami pun berangkat ke National Palace Museum, kebetulan karena kami juga mendapatkan tiket masuk gratis dari kampanye pariwisata Taiwan – Touch Your Heart. Museum ini sedang menyelenggarakan ekshibisi khusus mengenai Kaisar Yongzheng, kaisar ke-4 dari Dinasti Qing. Setelah puas melihat-lihat aneka peninggalan antik dan catatan sejarah dari Dinasti Qing hingga sore hari, kami pun berangkat untuk menyantap 小籠包 (xiaolongbao) (disebut “shoronpo” dalam bahasa Jepang). Xiaolongbao ini semacam daging cincang, seafood, atau bisa juga sayur cincang yang dibungkus dengan kulit tepung yang tipis, kemudian dikukus di dalam keranjang bambu. Kami pun memesan tiga jenis, xiaolongbao kepiting, sayur, dan daging cincang. Ketika kulit tipis xiaolongbao itu robek digigit, daging cincang di dalamnya yang juicy dan harum berkaldu itu melumer, sungguh luar biasa lezat! Xiaolongbao rasa kepiting apalagi, keharuman dan cita rasanya susah dijelaskan, menggelitik indera pengecap sekaligus penciuman kita bersamaan. Selain xiaolongbao, saya juga memesan mie kuah babi panggang khas Taipei. Benar-benar pengalaman kuliner yang memuaskan!

(kiri-kanan): xiaolongbao sayur, xiaolongbao kepiting, xiaolongbao daging cincang.

Masih belum padam semangat kami, setelah dinner, kami pun berangkat ke Shilin night market. Shilin night market ternyata luar biasa ramai, mungkin ada puluhan ribu atau ratusan ribu manusia yang berseliweran di sana sini. Jika dipikir-pikir, memang Taipei agak “semrawut” jika dibandingkan Tokyo; Taipei agak mirip Jakarta atau Bandung dalam hal tingkat chaotic (kekacauan) nya. Akan tetapi, tentu saja jika dibandingkan dengan kedua kota di Indonesia tersebut, Taipei masih relatif lebih rapi dan teratur. Di Shilin market ini terhampar pedagang yang berjualan berbagai makanan, dari yang normal hingga yang aneh-aneh, seperti telur katak, ceker ayam goreng kecap, sate aneka jeroan, dsb. Tetapi relatif harga-harga makanan di Taipei memang cukup terjangkau, dan juga cukup enak. Di sekitar night market ini juga ada semacam “taman ria” tempat aneka permainan ketangkasan seperti memasukkan bola basket, melempar karet gelang ke tiang pancang, memanah balon, pinball, dsb. Juga banyak pertokoan yang menjual aneka barang dan suvenir. Setelah lelah dan puas bermain dan berkeliling, akhirnya kami kembali ke penginapan menjelang larut malam.

Esok harinya, kami pun bertolak menuju bandara Taoyuan, untuk kembali ke Jepang.


Nengajou dan Tahun Baru di Jepang

December 31, 2009

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Hiasan bambu, daun pinus, jerami khas Tahun Baru di Jepang

Tahun Baru di Jepang dirayakan pada tanggal 1 Januari setiap tahunnya. Ada beberapa hal menarik terkait dengan tradisi dan budaya orang Jepang, baik menjelang maupun ketika tahun baru.

Menjelang tahun baru, pada akhir Desember, di kota-kota besar seperti Tokyo, malam hari biasanya dihias oleh kerlap-kerlip lampu kecil yang indah. Beberapa daerah di Tokyo seperti Roppongi Hill dan Tokyo Bay bahkan terkenal dengan “Tokyo Illumination” nya, semarak kerlap kerlip lampu yang begitu indah dan menawan. Biasanya kerlap-kerlip lampu ini berwarna kombinasi biru dan putih, memberikan suasana yang romantis di malam musim dingin yang lumayan membekukan.

Pada malam sehari sebelum tahun baru (New Year Eve), biasanya anggota keluarga berkumpul dan makan malam bersama. Satu menu yang sangat khas yang selalu dimakan pada H-1 ini adalah soba (mie hitam). Sebenarnya mie ini tidaklah hitam total, melainkan berwarna agak kelabu kecoklatan dan ada bintik-bintik hitamnya. Berbeda dari udon (mie putih yang agak gemuk dan kenyal – mirip heng hwa mie) maupun ramen (mie kuning semacam mie pangsit maupun mie instant) yang terbuat dari tepung gandum (wheat), soba terbuat dari tepung soba (buckwheat). Tradisi menyantap mie soba ini melambangkan harapan agar selalu sehat dan panjang umur (seperti untaian mie soba yang panjang).

Pada tahun baru, di depan rumah-rumah juga sering terlihat dekorasi bambu, daun pinus, pita, maupun pernak-pernik lainnya. Ternyata pada hari-H (1 Januari), anak-anak di Jepang juga mendapatkan お年玉 (otoshidama), mirip angpao kalau di Indonesia. Cuma, otoshidama ini biasanya memiliki hiasan/ desain yang beraneka ragam. Penulis merasa penasaran dan mencoba mengorek info dari teman satu Lab berapa besar otoshidama yang ia terima waktu masih anak-anak. Ternyata anak-anak SD sampai SMP biasa mendapatkan 3000 atau 5000 yen (kurs 1 yen saat ini sekitar Rp.100,-). Sewaktu SMA ia menerima 10 ribu yen dan bahkan pernah 20 ribu yen waktu awal-awal masuk kuliah. Wah, lumayan juga ya!

Berbagai motif dan desain otoshidama yang ada di Jepang

 

 

Pada malam hari menjelang 1 Januari, biasanya orang Jepang juga banyak yang pergi mengunjungi kuil; dan tepat pada pukul 00.00, kuil-kuil di Jepang akan memukul/ membunyikan genta (lonceng besar yang terbuat dari logam) sebanyak 108 kali. Pada pagi hari maupun siang tanggal 1 Januari, kuil-kuil (baik kuil Buddhis maupun Shinto) juga ramai dikunjungi orang untuk berdoa dan memohon hal-hal yang baik, yang dikenal dengan sebutan hatsumode.

Selain mengunjungi kuil, pilihan lain adalah melihat sunrise (matahari terbit) pertama, baik di gunung maupun di pantai. Selain itu, banyak juga yang pergi bermain ski, memanfaatkan liburan tahun baru (liburan musim dingin).

Satu hal lagi yang menarik dari tradisi tahun baru di Jepang adalah mengirim 年賀状 (nengajou) yakni kartu ucapan selamat tahun baru. Ada banyak ragam kartu tahun baru tentunya, namun yang paling populer adalah nengajou (kartu tahun baru) dari Kantor Pos Jepang. Nengajou seharga 50 yen ini sudah termasuk perangko, dan akan dikirimkan oleh kantor pos ke rumah-rumah alamat yang dituju tepat pada tanggal 1 Januari. Setiap tahunnya, tema nengajou selalu disesuaikan dengan siklus shio (sebagai contoh Tahun Kerbau pada 2009). Uniknya lagi, tiap lembar nengajou ini ada undian berhadiahnya. Inilah cerdiknya Pos Jepang! Jadi misal Anda mendapat kiriman nengajou dari teman Anda, dan nomor undian nengajou ini memenangkan hadiah, Anda lah (si penerima) yang mendapatkan hadiah tersebut. Istilahnya, dengan konsep nengajou ini, kita bisa membawakan keberuntungan bagi orang lain (si penerima nengajou kiriman dari kita). Hadiahnya bisa berupa perangkat elektronik maupun paket tur ke luar negeri, ataupun hanya hadiah satu set perangko. Tradisi mengirim nengajou ini diperkirakan sudah dimulai sejak tahun 1949 dan saat ini tiap tahunnya Pos Jepang mencetak sekitar 4 milyar lembar kartu setiap tahunnya. Anda bayangkan saja, katakan tiap tahun cuma terjual 3 milyar lembar (1 lembar = 50 yen) (1yen = Rp.100,-), berapa laba yang bakal diperoleh Pos Jepang?!

 

Nengajou yang penulis terima dari teman. Perhatikan bahwa angka-angka yang tercetak pada bagian bawah sisi depan nengajou adalah nomor undian.

 

Demikianlah serpih gambaran kecil seluk-beluk perayaan tahun baru di Jepang. Penulis mengucapkan Selamat Tahun Baru 2010. Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu bersama kita semua dan semua makhluk.


What is Nusselt Number?

December 25, 2009

(written by: Willy Yanto Wijaya)

 

Nusselt number is defined as:

where  h = convective heat transfer coefficient (W/m2K)

lamda = thermal conductivity of fluid (W/mK)

L = characteristic length (m)

which can be viewed as the ratio of convective to conductive heat transfer across the boundary (surface). It is, as a matter of fact, can be derived easily from the Newton’s Law of Cooling (convective term) and the heat conduction term (at the same condition as the heat convection). Therefore, it becomes obvious that:

 

 

 

Nusselt number is a dimensionless number. The characteristic length (L) is determined by the direction of the growth (thickness) of the boundary layer.

Then, what kind of physical meaning does this Nusselt number imply? If Nu=1, this means that the convection and conduction terms have relatively similar magnitude and thus is characterized by the laminar flow. On the other hand, large Nu implies that the convective term is dominant, which typically characterized by turbulent flows (usually Nu value in the range of 100-1000).

Therefore, by understanding the Nusselt number of a flow system, we can infer the dominance between convection and conduction heat transfer terms, and thus enabling us to design better and more efficient thermal engineering systems, especially in the convective heat transfer field.




Why Accounting is Important?

December 19, 2009

(written by: Willy Yanto Wijaya)

The 5th lecture of Managerial Perspective class was given by Mr. Jun Nagamine about the basics and introduction on accounting. The lecture was started with the history of accounting, the three forms in accounting, and the study case of how to read and analyze accounting data.

The history of accounting flashed back to several centuries ago when the Venetian merchants had trade interaction with the South-east Asia through Alexandria. These merchants bought pepper to preserve the meat. Meat was a precious food source since Europe had relatively poor soil and the productivity of the land was very bad. Because of the flow of the revenue and expenses in this trade, the Venetian merchants invented the method to record this by “Double Book Keeping”. This very basic characteristic has even remained till now, with only some modifications and improvement of the complexity.

Basically, accounting comprises three forms: Balance Sheet, Income Statement, and Cash Flow Statement. These three are, as the matter of fact, the essence of accounting. As shown in Fig.1 below, Balance Sheet is composed of Asset in the left-side and Debt as well as Equity in the right-side.

Fig.1. Balance Sheet    (as of …………)

Asset:

Current Asset

Tangible Asset

Intangible Asset, Investment, etc

Debt (Liabilities):

Current Liabilities

Long-term Liabilities

Equity (Stocks)

One interesting thing about the balance sheet is the proportion between Debt and Equity. In term of expenses burden point of view, Equity yield heavier burden to the company, however, in case that the company go bankrupt; the equity will yield lower priority of responsibility compared with the Debt (Liabilities). Therefore, if the proportion of the debt is too big, the debt owners will have higher risk of not getting back their money, and thus will inquire higher debt interest rate payments. On the other hand, if the equity is too big in proportion, the expenses burden of the company will be higher (and this means less profit).

The current asset is asset with high liquidity i.e. money. Tangible asset means asset that can be touched (land, building, machinery, etc). The example of investment asset is stocks (which can be purchased from other companies).

While Balance Sheet indicates the monetary condition of a company at a certain time (usually in the period of one year), it doesn’t tell us how the income (profit) and loss happened. Therefore, we need the Income Statement (Profit & Loss Statement) to understand how the profit or loss happened.

Actually these two forms could already give insightful ideas about monetary condition of a company. However, since the developing of more and more complex trade and payment system in modern era, Cash Flow Statement is then developed. This is also because the concept of revenue from a viewpoint of accounting is not the same as the “cash basis” view.

Another interesting topic discussed was about the similar characteristics of similar-type companies. For example, NTT and AT&T (both are telecommunication companies) apparently share almost similar monetary condition in their accounting data. Some investment companies like Goldman Sachs and Nomura have same very small proportion of Tangible (Fixed) Asset. Thus, by knowing the proportions of components in monetary data (accounting) of an unknown company, we can guess what type of company it is, how is the monetary condition currently, and the potential of that company to develop in the future.

Therefore, a manager, willingly or not, is required to be able to read the accounting data since it is the only language which can gauge a company’s performance from the monetary perspective.


Grape Hunting

December 11, 2009

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Prefektur Yamanashi memang diberkahi kekayaan alam yang melimpah. Gunung Fuji yang keelokannya tak habis-habisnya dikagumi, berlimpahnya sumber air mineral, danau-danau kecil yang indah, serta pemandian air panas alam (onsen) adalah beberapa contoh pesona alam yang ada di daerah ini. Selain itu, dengan geografis wilayahnya yang berhamparan pegunungan, buah-buahan khas daerah pegunungan pun tumbuh dengan baik.

Menjelang pertengahan Oktober lalu, penulis bersama teman-teman satu Lab pergi ke Yamanashi untuk berburu anggur (yang istilah kerennya disebut “grape hunting”). Yamanashi memang dikenal sebagai pusat produksi anggur nomor 1 se-Jepang. Buah-buah anggur segar ini sebagian dijual fresh ke berbagai kota seperti Tokyo, sebagian lagi diolah menjadi wine (minuman anggur beralkohol).

 

Gbr.1. Jenis-jenis buah anggur di Yamanashi (kiri atas-kanan bawah): Kyoho, Neomasu, Koshu, Berii-A, Delaware.

 

Sebelum berburu anggur, kami menyempatkan diri melihat winery (kilang pengolahan buah anggur menjadi wine). Pemandu menjelaskan kepada kami jenis-jenis buah anggur, jenis-jenis wine, hingga berbagai info yang tak sempat penulis dengarkan karena penulis sibuk kesana kemari menjepret foto. Secara umum, di Yamanashi ada 7 varietas buah anggur (ぶどう- budou) yang lazim dibudidayakan: 甲州ぶどう(Koshu Budou), 甲斐路 (Kaiji), デラウエア(Delaware) [3 varietas ini berwarna merah]; ベリーA (Berii A), 巨峰 (Kyoho) [2 varietas berwarna ungu]; serta ネオマス(Neomasu), ロザリオビアンコ(Rosario Bianco) [2 varietas berwarna hijau]. Masing-masing anggur memiliki cita rasa yang berbeda, baik dalam hal tingkat kemanisan, aciditas (keasaman), bentuk (bulat-lonjong), tekstur kulit, biji/ non-biji, gradasi warna, hingga kandungan nutrisi dan senyawa aromatiknya. Setelah diolah menjadi wine, maka keanekaragaman citarasa akan semakin bertambah dengan adanya variasi kondisi dan lama fermentasi, jenis ragi yang digunakan, kandungan alkohol, suhu, dsb. Kami juga diberi kesempatan mencicip beberapa wine maupun jus anggur (non-alkohol) hasil produksi winery tersebut. Penulis mencoba mencicip jus anggur, memang jika dikecap secara perlahan akan terasa aroma dan citarasa yang kaya, yang tidak cukup hanya diungkapkan dengan standard rasa keseharian kita (manis, asam, pahit, asin).

 

Gbr.2. Langit-langit halaman gerbang masuk yang dipenuhi buah anggur. Perhatikan bahwa buah anggur sebanyak itu hanya dihasilkan oleh beberapa pohon yang ditanam di bagian tepi.

 

Setelah barbeque makan siang, kami pun menuju kebun anggur untuk memulai grape hunting. Bahkan di halaman gerbang masuk pun, telah terlihat anggur-anggur koshu bergelantungan di langit-langit menyambut kedatangan para pemburu anggur (lihat Gbr.2). Luar Biasa! Satu pohon anggur ternyata bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan tangkai anggur, sungguh produktivitas yang sangat tinggi!

Biaya berburu anggur juga tidak terlalu mahal. Hanya 500 yen (sekitar Rp. 50 ribu) untuk 40 menit, boleh makan anggur sepuasnya. Tapi beberapa varietas anggur seperti Kyoho (giant mountain grape) agak mahal, 1000 yen untuk 40 menit. Kyoho ini berwarna ungu, berukuran gede dan rasanya manis sekali.

Setelah menghabiskan puluhan biji anggur koshu, perut pun menjadi luar biasa kenyang. Tapi pengalaman grape hunting ini memang sungguh menyenangkan. Apabila Anda ke Jepang saat musim gugur (antara akhir Agustus hingga awal November), sempatkanlah mengunjungi Yamanashi untuk merasakan pengalaman berburu anggur yang tak akan terlupakan.   =)

 

Jenis Anggur

Periode Grape Hunting

甲州ぶどう (Koshu Budou)

awal Sept – awal Nov

甲斐路  (Kaiji)

awal Sept – awal Nov

デラウエア (Delaware)

akhir Juli – awal Sept

ベリーA  (Berii A)

awal Sept – awal Nov

巨峰  (Kyoho)

akhir Agust – awal Okt

ネオマス (Neomasu)

akhir Agust – awal Okt

ロザリオビアンコ (Rosario Bianco)

akhir Agust – tengah Okt

 

Gbr.3. Berburu anggur varietas Koshu dan makan sepuasnya!!


Ibu Gajah yang Buta

November 28, 2009

(dedicated for beloved mom… )

Dahulu kala, di sebuah kaki bukit di pegunungan Himalaya, di dekat sebuah kolam teratai, lahirlah seekor bayi gajah. Bayi gajah ini luar biasa indah menawan, putih bersih seperti salju dengan wajah yang sedikit bersemu kemerahan seperti warna batu karang. Belalainya berkilau indah bagaikan utas tali yang berwarna keperakan, gadingnya yang kuat dan kokoh membentuk sedikit lengkungan yang manis.

Ia selalu mengikuti ibunya ke manapun. Ibu Gajah memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari pohon-pohon yang tinggi dan kemudian memberikannya. “Kamu dulu, baru Ibu,” Ibu Gajah berkata. Ia kemudian dimandikan oleh ibunya di kolam teratai yang sejuk diantara semerbak keharuman bunga. Dengan belalainya, Ibu Gajah menghisap air lalu menyemprotkannya ke kepala dan punggung anaknya hingga bersih mengkilap. Kemudian Anak Gajah ini diam-diam mengisi belalainya, dan dengan hati-hati menyemprotkan tepat ke dahi ibunya. Tanpa berkedip, Ibu Gajah balas menyemprotkan air. Balas membalas menyemprot, mereka dengan gembira saling membasahi satu sama lain. Splish! Splash!

Setelah lelah bermain, mereka kemudian beristirahat di atas tanah yang lembut dengan kedua belalai melengkung dan saling membelit satu sama lain. Di bawah bayang-bayang sore hari, Ibu Gajah beristirahat di balik keteduhan pohon jambu air, sambil melihat putranya bermain dengan penuh keriangan bersama anak-anak gajah lainnya.

Gajah kecil tumbuh dan tumbuh hingga ia menjadi gajah tergagah dan terkuat dalam kawanannya. Pada saat yang bersamaan, Ibu Gajah pun menjadi semakin tua. Gadingnya mulai retak dan menguning, dan tidak lama kemudian Ibu Gajah menjadi buta. Anak Gajah yang telah tumbuh dewasa dan kuat ini kemudian memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari pohon-pohon yang tinggi dan memberikannya kepada ibunya yang telah tua dan buta yang amat ia sayangi. “Ibu dulu, baru Aku,” ia berkata.

Ia memandikan ibunya di kolam teratai yang sejuk diantara semerbak keharuman bunga. Dengan belalainya, ia menyemprotkan air ke kepala dan punggung ibunya hingga bersih mengkilap. Setelah itu, mereka kemudian beristirahat di atas tanah yang lembut dengan kedua belalai saling membelit satu sama lain. Di bawah bayang-bayang sore hari, Anak Gajah menuntun ibunya untuk beristirahat di balik keteduhan pohon jambu air. Ia kemudian pergi bersama gajah-gajah yang lain.

Suatu hari seorang raja pergi berburu dan melihat seekor gajah putih yang begitu indah. “Luar biasa indah! Aku harus memilikinya sebagai peliharaan untuk ditunggangi!” Raja lalu menangkap gajah tersebut dan membawanya ke kandang istana. Raja memberikan kain sutra dan permata yang indah serta untaian kalung bunga teratai kepada gajah tersebut. Raja juga memberikannya rumput manis dan buah-buahan yang lezat serta air murni yang segar untuk diminum.

Akan tetapi, gajah tersebut tidak mau makan ataupun minum. Ia terus menerus menangis, dan menjadi semakin kurus dari hari ke hari. “Gajah yang mulia,” Raja berkata, “Aku menyayangimu dan memberimu sutra dan permata. Aku juga memberikan makanan terbaik dan air termurni, namun Engkau tidak juga mau makan dan minum. Lalu apa yang bisa membuatmu bahagia?” Gajah tersebut menjawab, “Sutra dan permata, makanan dan minuman tidak membuatku bahagia. Ibuku yang sudah tua dan buta sedang sendirian di hutan tanpa ada seorangpun yang merawatnya. Walaupun aku akan mati, aku tidak akan makan dan minum sebelum aku memberikannya terlebih dahulu kepada Ibu.”

Raja terharu dan berkata, “Tidak pernah aku menyaksikan kebaikan yang sedemikian rupa, bahkan diantara manusia. Tidaklah benar untuk mengurung gajah ini.” Setelah dilepaskan, gajah tersebut segera berlari diantara bebukitan mencari ibunya. Ia menemukan ibunya di tepi kolam teratai. Ibu Gajah berbaring di atas lumpur, terlalu lemah untuk bergerak. Dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya, Anak Gajah tersebut mengisi belalainya dengan air dan menyemprotkan ke kepala dan punggung ibunya hingga bersih mengkilap. “Apakah hujan?” Ibu Gajah bertanya-tanya, “atau anakku telah kembali?” “Ini anakmu, Ibu!” ia berseru, “Raja telah membebaskan aku!” Ketika ia membersihkan mata ibunya, terjadi keajaiban. Penglihatan ibunya pulih kembali. “Semoga Raja hari ini berbahagia sebagaimana kebahagiaanku bisa melihat anakku kembali!” Ibu Gajah berkata.

Anak Gajah kemudian memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari sebuah pohon dan memberikannya kepada ibunya, “Ibu dulu, baru Aku.”

 

(inspired and adapted by Willy Yanto Wijaya from Jataka, tales of compassionate bodhisatta)


Ekspedisi Kalimantan-Borneo

November 21, 2009

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Sudah sekian lama penulis menanti-nantikan kesempatan ekspedisi di bumi Kalimantan/ Borneo. Bulan Agustus yang lalu akhirnya tercapai juga.

Hari mulai menjelang malam ketika pesawat mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Suasana Pontianak di malam hari memang terlihat cukup dinamis, di sepanjang jalan protokol banyak berkumpul encek-encek (bapak-bapak) yang duduk kongkow-kongkow sambil minum kopi. Penulis pun mencoba menelusuri beberapa ruas jalan utama seperti Jalan Gajah Mada, Tanjung Pura, dan Diponegoro. Populasi masyarakat Tionghoa di kota ini bisa dibilang lumayan banyak, dengan dialek Teowchew agak dominan. Buah langsat yang manis dan murah meriah juga membanjiri kota Pontianak saat itu, hanya Rp.10 ribu untuk 3 atau 4 kilo.

Keesokan malamnya, dengan Bus Tebekang Express, penulis pun berangkat menuju ke Kuching, Sarawak – Malaysia. Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam hingga di Entikong (pos perbatasan Indonesia – Malaysia). Karena pos imigrasi perbatasan baru buka jam 5 subuh, kami pun para penumpang terpaksa harus menunggu. Kabar baiknya, tidak ada fiskal maupun biaya sepeser pun yang mesti kita bayar untuk melewati imigrasi perbatasan ini, kecuali ongkos bus tentunya. Kabar buruknya, jalan sepanjang Pontianak – Kuching ini rusak parah di beberapa bagian; di beberapa ruas jalanan ada yang masih belum beraspal.

Hari telah subuh ketika kami melewati pos perbatasan Tebedu (milik Malaysia). Embun dan kabut agak menghalangi pandangan, dan beberapa tonjolan pegunungan tampak di agak kejauhan, menjadi “tiang pancang alami” yang menyekat wilayah Kalimantan (Indonesia) dengan Sarawak (Malaysia). Secara umum, kondisi alam/ vegetasi di Sarawak tidaklah jauh beda dengan di Indonesia. Hanya aspek-aspek sosio-kultural yang agak beda: seperti sistem penomoran plat kendaraan yang tentunya sudah berbeda, juga pemakaian bahasa seperti “tandas awam” (bahasa Melayu dari “toilet”).

Dari pagi hingga siang, kami menelusuri pusat kota Kuching. Kota Kuching bisa dibilang sudah cukup maju, mungkin sedikit di atas Pontianak, dan juga lebih teratur. Angkot (yang di sana disebut “kereta sewa”) rata-rata hanya bertarif 1-2 ringgit untuk tujuan dalam kota. Siang hingga petang hari, penulis menyempatkan diri berkunjung ke salah satu objek pantai (sekitar 1,5 jam dari Kuching) yaitu “Damai Beach”.

Damai Beach sebenarnya memiliki corak pantai yang lazim (biasa) saja, akan tetapi suasana yang lebih lengang membuatnya menjadi tempat pelarian yang ideal dari hiruk pikuk. Beberapa turis bule tampak berbaring santai menjemur diri di atas pasir. Penulis yang sudah hampir sehari-semalam belum mandi, akhirnya nekat mencemplung ke Laut China Selatan untuk berenang. Ukh, ternyata memang benar air laut rasanya asin ya, he..he.. dan sialnya karena berenang di tempat yang terlalu dangkal, akhirnya kaki tergores berdarah oleh batu karang. Air laut yang asin membuat luka goresan bertambah perih.

Malam harinya, dari Kuching, penulis berangkat ke Miri (sudah dekat dengan perbatasan Brunei). Perjalanan panjang ini memakan waktu hingga 13 jam, tetapi patut diacungi jempol bahwa ruas jalan sepanjang Malaysia Timur ini kondisinya sangat baik. Mendekati Miri, di sisi jalan berderet kebun-kebun sawit yang dikelola oleh perkebunan Malaysia.

Sebenarnya di Miri ada objek yang sangat menarik yaitu Mulu Cave, yang konon termasuk salah satu gua alami terbesar di dunia. Sayangnya, untuk menuju lokasi mesti menggunakan pesawat kecil karena letaknya di gunung yang tidak bisa diakses dengan transportasi darat. Akhirnya penulis tidak jadi mengunjunginya. Sehingga sore harinya, penulis langsung beranjak menuju Brunei.

Meskipun memiliki tatanan kota yang apik dan rapi, tetapi suasana malam hari di Bandar Seri Begawan (BSB) amatlah renggang dan sepi. Dapat dimaklumi, mungkin salah satu sebabnya adalah populasi total 1 negara Brunei yang bahkan masih lebih sedikit dibandingkan populasi 1 kota Pontianak. Selain itu, berdasarkan rumor dari para imigran pekerja dari Malaysia, warga Brunei pada malam hari sudah malas keluar rumah, dan tidak ada “night life” di Brunei. Dengan GDP per kapita yang tinggi, memang terlihat bahwa warga Brunei tidak perlu bekerja keras pun telah ditunjang oleh negara, sehingga suasana kerja terlihat agak santai dan lengang. Pekerjaan-pekerjaan kasar seperti kuli/ buruh biasa diisi oleh imigran dari Malaysia/ Indonesia/ Filipina karena pekerjaan seperti ini ogah disentuh oleh orang Brunei.

Hotel Brunei yang penulis inapi juga mahalnya minta ampun. 1 kamar semalam bisa hampir Rp.900 ribu, padahal pelayanannya dan juga fasilitasnya minim sekali (masih jauh lebih baik pelayanan di Hotel Santika Pontianak, yang tarifnya hanya sepertiganya serta memiliki fasilitas sauna dan jacuzzi gratis).

Masjid Omar ‘Ali Saifuddien di pusat Bandar Seri Begawan

Tidak lupa tentunya penulis berfoto-foto dengan landmark kota BSB, yaitu Masjid Omar ‘Ali Saifuddien yang tampak indah sekali di malam hari. Masjid ini dihiasi cahaya nuansa kuning, dengan dikelilingi kolam besar yang di tengahnya terapung sampan besar bertahtakan kubah bangunan khas Melayu.

Keesokan siangnya, penulis pun berangkat meninggalkan Brunei dan tiba di Miri malam hari. Malam itu juga dari Miri penulis langsung meluncur ke Kuching dan tiba di kota Serian (2 jam dari Kuching) pada pagi harinya. Setelah 1-2 jam berkeliling pasar di Serian, penulis pun berangkat balik ke Pontianak. Tiba di Pontianak petang hari, langsung meluncur ke Singkawang menggunakan taksi gelap dengan tarif 70 ribu/ orang.

Jarak Pontianak ke Singkawang sekitar 2-3 jam. Suasana malam hari di Kota Singkawang agak sepi, dengan pertokoan yang telah tutup, dan jalanan yang lengang hampir tanpa lalu lalang. Setelah menginap di sebuah hotel murah, pagi hari saatnya menjelajah kota Singkawang. Dengan menyewa becak dayung, penulis pun menelusuri kota ini. Nuansa Tionghoa di kota ini cukup kental, dengan lampion-lampion merah yang tergantung di ruas-ruas jalan. Dialek Tionghoa yang dominan di Singkawang adalah Hakka, agak berbeda dengan di Pontianak.

Mie Pangsit khas Singkawang

Kemudian, pertanyaan yang sering ditanyakan oleh teman-teman ke penulis adalah bagaimana perihal daya tarik kembang geulis di sana? Hmm, hal ini agak subjektif memang.. tapi jika dicermati mendalam, memang ada sedikit perbedaan “daya tarik” dari kedua kota ini.. masing-masing ada ciri khasnya yang agak unik dan susah dijelaskan.. sama juga dengan kota-kota laen yang pastinya masing-masing memiliki pesonanya yang khas.. jadi, datang dan rasakan sendiri aja   =)


Kupu-kupu Putih

November 14, 2009

(Cerita Rakyat dari Jepang)

kupu kupu putihSeorang pria tua bernama Takahama tinggal di sebuah rumah kecil di belakang kompleks pekuburan Kuil Sozanji. Ia adalah seorang yang sangat ramah dan baik hati serta disenangi oleh tetangga-tetangganya, meskipun mereka menganggap Takahama sedikit gila. Sebenarnya, kegilaan yang dilabelkan pada Takahama ini sepenuhnya hanya dikarenakan ia tidak pernah menikah ataupun memiliki hasrat untuk menjalin hubungan asmara dengan wanita.

Pada suatu hari di musim panas, Takahama jatuh sakit, sakit yang parah, hingga ia meminta adik perempuan dan keponakannya untuk datang menjenguknya. Mereka datang dan berusaha menghibur Takahama di saat-saat terakhirnya. Selagi mereka menjaga Takahama, Takahama tertidur, dan tidak lama berselang datanglah seekor kupu-kupu putih terbang masuk dan hinggap di atas bantal yang ditiduri Takahama. Keponakannya mencoba mengusirnya dengan kipas; akan tetapi kupu-kupu tersebut terbang masuk lagi, sampai tiga kali, seakan enggan untuk meninggalkan pria tua yang sedang menderita tersebut.

Akhirnya keponakan Takahama mengusir dan mengejarnya keluar hingga ke pekarangan rumah, keluar lewat gerbang, sampai ke kompleks pekuburan, dimana akhirnya kupu-kupu tersebut hinggap di atas batu nisan kuburan, dan tiba-tiba menghilang. Setelah memeriksa batu nisan tersebut, keponakannya mendapati nama “Akiko” terukir pada nisan tersebut, serta deskripsi bagaimana Akiko meninggal ketika ia berusia 18 tahun. Walaupun batu nisan tersebut telah berselimutkan lumut dan pastinya telah didirikan 50 tahun yang lalu, keponakan Takahama melihat bahwa nisan tersebut dikelilingi dengan bunga-bunga, dan cawan kecil berisi air yang tampaknya belum begitu lama ini diisi.

Ketika keponakan tersebut kembali ke rumah, ia mendapati bahwa pamannya (Takahama) telah meninggal. Ia kemudian menceritakan kepada ibunya (adik perempuan Takahama) apa yang telah dilihatnya di kuburan.

“Akiko?” gumam ibunya. “Ketika pamanmu masih muda, ia ditunangkan dengan Akiko. Akan tetapi, Akiko sakit dan meninggal menjelang hari pernikahan mereka. Ketika Akiko meninggal, pamanmu bersumpah tidak akan pernah menikah, dan ia tinggal di dekat kuburannya. Tahun-tahun sesudahnya, pamanmu tetap setia terhadap sumpahnya, dan menyimpan di hatinya semua kenangan manis dari satu-satunya orang yang ia cintai. Setiap hari Takahama pergi ke kuburan, baik ketika semilir udara harum di musim panas maupun ketika salju tebal di musim dingin. Setiap hari ia pergi menjenguk kuburannya, berdoa untuk kebahagiaannya, membersihkan kuburan dan meletakkan bunga di sana. Ketika Takahama sekarat, ia tidak bisa lagi melakukan hal tersebut, Akiko datang untuknya. Kupu-kupu putih tersebut adalah jiwa Akiko yang lembut dan penuh kasih.”

 

(diterjemahkan dan diadaptasi oleh Willy Yanto Wijaya dari buku “Myths and Legends of Japan”, Penerbit GG Harrap, London, 1913)


University Entrepreneurship and Innovation

November 8, 2009

(written by: Willy Yanto Wijaya)

EntrepreneurshipThe lecture about University Entrepreneurship and Social Innovation by Prof. Shigeo Kagami coincided with current situation of employee slash by many companies in the world. One interesting point of Japan that I had noticed for a long time is about the tendency of the most university graduates to only have one choice in their mind: working in a company. Why this phenomenon happens? We’ll see through this again after going through several notable points of lectures delivered by Prof. Shigeo Kagami from University of Tokyo.

Prof. Kagami started the lecture by posing the most exciting and notably successful university entrepreneurship, i.e. Hewlett-Packard, Genentech, and Google. All these companies were founded by the professors and students of Stanford University. Google is one interesting and up-to-date example. Stanford University tried to license out the technology and Intellectual Property (IP) of Google to some companies such as Netscape, Yahoo, but failed. The university eventually helped Larry Page and Sergey Brin to found Google in 1998 and just in 10 years, the market capitalization of Google has reached $150 billion (August 2008). Since Google used its equity to pay royalty for the licensed technology from Stanford University, Stanford gained $400 million just by selling its 1% of ownership of Google1.

Here we can see how, as a matter of fact, universities could get considerable benefits by the entrepreneur spin-off. In Japan itself, since 2004, a policy by the Monbukagakusho, had start reforming the corporate national universities (including University of Tokyo, Tokyo Institute of Technology, etc) to gain more autonomy, at the expenses of continuous deduction of operational grants from the government (1% deduction per annum)2. Such a condition like this should have pushed the universities to diversify and restructure the composition of their income. One way is to increase the external funding which comes from the sponsored research and donations. In this case, the sponsored research could be accelerated by the university spin-off companies.

However, Japan universities are still facing several problems regarding this entrepreneur spin-off. Annually, the number of university start-up companies is about 100 companies3. This number might look big enough, but there’s still no clear definition about how to count those companies, or whether they are really ignited by the technology license from the universities. Therefore, for now, only low output of university ignited-companies could be expected. This phenomenon goes along with low willingness of university graduates to become entrepreneurs.

Then, coming back to our previous question of why most students after their graduation from universities in Japan, would prefer choosing to work at companies? This is rather a tough question. One main reason, in my opinion, is caused by the rather already-established of Japan’s economy. Big companies are established and agglomerated in Keiretsu4, and it’s just not easy to compete with such companies. The other reason is that the entrepreneurship education is not nurtured sufficiently in most Japanese universities. Students, after undergoing their deep academic research, will feel further and further away from the sense of entrepreneurship.

How to solve the problems then? One of the possibilities is to create the entrepreneurship-related education as well as university business incubators. One example conducted by University of Tokyo is to create DUCR (Division of University Corporate Relations) which could handle the IP-related problems, entrepreneurship and enterprise development and education, as well as even holding the business plan competition. By this kind of education, hopefully, the courage to create new business entrepreneurship, amidst the Keiretsu dominance, could be accelerated. As a saying goes, “Smart people are people who dare to take the risks”.

 

References

1 http://www.stanford.edu

2 http://www.mext.go.jp

3 http://www.meti.go.jp

4 Willy Yanto Wijaya. 公器 and Japanese Shareholder Orientation, Report no. 7, Managerial Perspective for Sustainable Engineering, Tokyo Institute of Technology, Tokyo, 2008.