Catatan Perjalanan Melintasi Pesisir Barat dan Timur Amerika Serikat plus Perbatasan Meksiko

April 14, 2013

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Hollywood

Bulan Maret yang lalu, penulis berkesempatan mengelilingi sebagian wilayah barat dan timur Amerika Serikat, serta menyeberang perbatasan dari California menuju negara Meksiko. Perjalanan selama tiga minggu dengan rute sebagai berikut: Los Angeles – Las Vegas – Grand Canyon – Las Vegas – Los Angeles – Tijuana (Meksiko) – Los Angeles – San Fransisco – Silicon Valley Airport (San Jose) – Phoenix (transit) – Baltimore – Washington DC – New York – Niagara Fall (Cheektowaga) – New York – Boston – Cincinnati (transit) – Las Vegas – Los Angeles – Tokyo.

Apabila dilihat sekilas, rute di atas sangat tidak efisien dari segi waktu karena menyinggahi kota yang sama lebih dari satu kali, akan tetapi terpaksa dilakukan karena demi menghemat biaya transport, misalkan dari Boston terpaksa balik lagi ke Las Vegas karena pada saat itu tiket pesawat dari pesisir timur ke barat Amrik semua mahal kecuali rute yang satu ini. Lagipula tiba di Las Vegas malam hari, malam itu juga naik bus ke Los Angeles (nginap di bus). Selain itu, karena tiket pesawat dari Jepang ke Amrik ada promo dari Singapore Airline, rute menuju Los Angeles dari Tokyo pp di bawah 800 USD. Terpaksa Los Angeles menjadi titik acuan ketibaan di Amrik, walaupun dari segi letak, Los Angeles berada di tengah-tengah di antara Las Vegas, San Fransisco, Meksiko (jadi mau ga mau terpaksa bakal bolak-balik melintasi Los Angeles melalui perjalanan darat).

Karena terlalu panjang kalau mau diceritakan semua hal selama tiga minggu di Amrik ini, penulis hanya akan mendokumentasikan hal-hal yang menarik menurut penulis, serta pengalaman/ kesan pribadi selama perjalanan.

Baru saja menginjakkan kaki di tanah Paman Sam, penulis sudah “beruntung” disambut oleh seorang petugas imigrasi yang lagaknya bukan main. Petugas yang masih muda, penuh lagak mengecek lembar-lembar paspor. Ya mungkin tingkah laku anak muda di sini (Amrik) kebanyakan seperti itu, jadi penulis mencoba untuk maklum saja, tidak masalah banyak tingkah asalkan tidak banyak rese, dan bisa lolos masuk ke Amrik. Setelah melewati imigrasi dan pemeriksaan karantina tanpa ada masalah, penulis agak terhibur sedikit ketika turun dari eskalator, terpampang foto Presiden Barack Obama yang lagi tersenyum, dengan tulisan berukuran besar “Welcome to United States of America”.

Baru saja mood sedikit terhibur, ketika penulis menanyakan rute transport bus di bagian informasi bandara, ada dua orang turis Jepang yang juga menanyakan cara menuju ke downtown Los Angeles (LA). Karena mereka kurang bisa menangkap Bahasa Inggris petugas bagian informasi yang ngomongnya terlalu cepat, penulis pun mencoba membantu menjelaskan dalam Bahasa Jepang ke mereka. Eh tahu-tahu, petugas informasi tersebut tiba-tiba marah, mungkin dia merasa dilangkahi atau gimana gitu. What the hell, pikir penulis, apa salahnya kalau saya ingin membantu kedua turis tersebut.. lah wong dia ga sanggup menjelaskan dengan cara yang mudah dipahami.. kemudian ego nya terluka dan marah-marah. Wah ini beda sekali dengan di Jepang, kalau di Jepang justru petugas informasi akan senang karena ada yang telah bersedia membantu.

Mood penulis tambah rusak saja ketika connecting shuttle bus gratis dari bandara ke stasiun metro ga kunjung datang padahal sudah menunggu setengah jam lebih! Gila dah. Jujur saja, sistem public transport di Amrik kalah abis, telak! apabila dibandingkan dengan sistem transportasi umum di Jepang. Akhirnya bus gratis datang juga setelah menunggu hampir satu jam, dan ketika tiba di stasiun metro, lagi-lagi ada masalah! Uang yang penulis bawa dalam lembaran 100 USD, sedangkan mesin tiket metro cuma menerima maks lembaran 20 USD. Wah celaka nih! Melihat sekeliling, sepertinya cukup riskan juga kalau sembarangan mau menukar uang dengan orang tak dikenal. Akhirnya penulis mencoba mencari supermarket atau sejenisnya.. dan setelah berjalan agak jauh cuma terlihat sebuah toko kecil. Ketika membayar belanjaan dengan lembaran 100 USD, si pemilik toko pun memicingkan mata dan mengecek tuh lembaran cukup lama.. akhirnya mau menerima setelah yakin itu bukan uang palsu. Fiuhh.. problem solved !

homeless

Kota Los Angeles (LA) tidak seperti kota New York yang padat, di sini pemukiman agak lenggang. Di wilayah downtown LA banyak sekali orang-orang ga jelas seperti pengangguran, gelandangan, atau preman. Akan tetapi, penulis mengamati ada cukup banyak personel polisi yang berjaga-jaga di berbagai sudut kota. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari perbatasan dengan Meksiko, ada banyak sekali penduduk keturunan Amerika Latin (Meksiko) yang tinggal di sini dan berbicara dalam bahasa Spanyol.

Pernah kejadian juga, di suatu pagi buta, ketika penulis keluar dari hotel untuk membeli sesuatu di convenience store, berpapasan dengan seseorang keturunan Latin (tidak bermaksud rasis). Nih orang tiba-tiba ngomong tidak jelas, sepertinya mau meminta uang. Walaupun jantung agak berdebar, tapi ketika dalam situasi seperti ini, kita harus tenang dan tidak boleh panik. Sambil mengabaikan omongan orang ga jelas ini, penulis dengan percaya diri melewatinya, dan tidak terjadi apa-apa. Orang-orang seperti ini biasanya melihat reaksi “calon korban”. Jadi berpura-puralah Anda memiliki kemampuan beladiri, dan ikutlah seperti orang Amrik lainnya yang cuek dan bilang “Sorry”.

Memang cukup banyak orang-orang yang “sakit” ataupun “weird” (aneh) di Amrik, bukan cuma di LA, juga di Las Vegas ataupun kota-kota lain. Ada orang stres/ gila yang ngomong-ngomong sendiri di dalam kereta/ bus. Juga di LA, tidak jarang ada anak muda, baik bule kulit putih maupun afro-amerika yang minta duit/ ngemis. Tapi cara ngemis nya beda dengan di Indo.. mereka cuma berdiri di depan para penumpang dan bilang apabila ada yang mau berbagi sedikit (uang) kepada mereka. Apabila ada penumpang yang mau ngasih, si penumpang akan memanggil, dan ia datang menghampiri. Penulis heran bukannya untuk naik ke kereta si “pengemis” harus bayar tiket.. ternyata di LA ada banyak stasiun kereta yang tidak ada palang penghalang.. jadi bisa naik secara gratis (tapi katanya secara berkala ada petugas yang datang memeriksa, dan bisa kena denda apabila ga punya tiket – mungkin nih orang-orang sudah tau kapan petugas datang..)

Pernah juga penulis mendapati seorang bapak-bapak, yang tidak terlihat miskin sama sekali, berjualan snack coklat di dalam kereta di LA. “You get your snack, and I get my dinner” ujarnya… yach.. kalo di Indo kita sebut pedagang asongan kali ya..

Ketika di Las Vegas, penulis juga melihat ada saja orang-orang “weird” (aneh). Misalkan ada seorang pemuda bule yang memasang karton di dadanya bertulis “Kick my balls for only 20 USD” (Anda boleh menendang testis tuh orang dengan membayar 20 dolar). Di sepanjang ruas jalan utama Las Vegas, juga ada banyak sekali orang-orang yang berjualan kupon-kupon, entah kupon buat apa.. mungkin buat masuk club, nonton show, strip-tease, judi, dlsb. Memang pantas kota ini dijuluki “The City of Sin” (Kota penuh Dosa).

Ketika penulis tiba di Baltimore (pesisir timur Amrik) dan naik airport bus seharga 6 USD/ orang sekali jalan, ternyata penulis mendapati korupsi kecil-kecilan juga terjadi di Amrik (bukan cuma di Indonesia). Nih supir kulit hitam tidak memberikan slip tiket sebagai bukti pembayaran kepada penumpang, dan uang tersebut masuk ke kantong pribadinya. (Penduduk lokal sendiri banyak yang membayar dengan card, jadi si supir mikir mumpung ada turis nih yang bayar pake cash).

Yach, begitulah sisi-sisi negatif yang penulis observasi selama berada di Amrik untuk waktu yang cukup singkat. Tapi supaya adil, tentunya penulis juga mesti mengulas sisi-sisi positif yang ada.

Satu hal yang menakjubkan adalah luasnya daratan di Amrik. Perjalanan tiga minggu ini saja penulis sudah melihat beragam bentang alam, mulai dari padang tandus California, pesisir pantai, gunung-gunung cadas wilayah Grand Canyon, pepohonan rawa-rawa khas wilayah timur Amrik, sungai dan air terjun Niagara, hingga daratan berlapis salju berbatasan dengan Kanada.

typical desert in western US

sunny calif sea

somewhere near canada border

foggy golden gate

Karena sebegitu luasnya, maka memiliki sebuah mobil sudah menjadi “keharusan” bagi sebagian besar penduduk Amrik. Mungkin karena alasan ini juga, sistem transportasi publik (seperti bus umum atau kereta) kurang begitu berkembang. Pembangunan terlihat lebih fokus ke infrastruktur jalan raya untuk mobil.

Bagi Anda yang suka makan dalam porsi gede, mungkin Amrik adalah surga buat Anda. Contohnya porsi nasi goreng Thai yang penulis pesan, bisa buat 3 atau 4 porsi standard di Indonesia. Ga heran kalau penduduk Amrik banyak yang memiliki masalah obesitas (kegemukan). Makan di restoran cukup mahal, karena selain tax (pajak), Anda biasanya harus membayar tambahan uang tips 15% dari total harga.

Tidak seperti bayangan penulis, kebanyakan penduduk lokal Amrik ternyata bersedia membantu turis yang kesasar. Bahkan kota besar dan sibuk seperti New York, ketika penulis beberapa kali mencegat orang-orang yang lalu lalang untuk ditanyai, rata-rata akan bersedia membantu. Secara umum, atmosfir kehidupan masyarakat Amrik lebih rileks dan santai apabila dibandingkan kehidupan di Jepang yang penuh tekanan. Tapi ada pengecualian juga.. dari pengamatan penulis, penduduk New York banyak yang kelelahan dengan bayang-bayang kantung mata yang menggelantung.. hampir mirip dengan penduduk di Tokyo (lebih parah di Tokyo sih).. tapi untuk kota-kota lainnya di Amrik, ritme kehidupan memang lebih santai.

Walaupun infrastruktur public transport di Amrik kurang bagus, misalkan banyak stasiun kereta bawah tanah di New York yang ga ada lift atau eskalator, tapi ada hal menarik yaitu Anda bisa membawa masuk apa saja. Pernah penulis melihat ada orang yang membawa masuk seekor anjing raksasa, juga orang yang membawa masuk sepeda gunung ke dalam kereta. Bus-bus umum di LA juga banyak yang memiliki rak sepeda gantung di depan bus.

bicycle rack of LA bus

Hal menarik lainnya yang penulis amati adalah bahasa yang dipakai dalam pengumuman di kereta atau bus umum ternyata berbeda-beda, disesuaikan dengan etnis dominan yang menempati wilayah tersebut.. misalkan kereta di LA pengumuman dalam Bahasa Inggris dan Spanyol, bus di San Fransisco dalam Bahasa Inggris dan Kanton (Cantonese), di dalam sebuah bus airport di San Jose, penulis melihat ada Bahasa Inggris dan Vietnam.

 

******

 

Dalam perjalanan kali ini, penulis juga beberapa kali mengalami pengalaman yang menegangkan. Yang pertama adalah ketika naik bus umum di Las Vegas dengan tiket yang sudah “kadaluwarsa”. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kadangkala kita bisa naik bus/ kereta tanpa tiket karena ga ada palang penghalang. Karena buru-buru harus berangkat ke terminal untuk mengejar bus Las Vegas – Los Angeles, dan di halte bus terdekat ga ada mesin tiket, juga ga bisa beli tiket di dalam bus (kabin supir disekat terpisah dengan kabin penumpang), akhirnya penulis nekat saja naik ke bus kota tersebut yang arah menuju ke terminal. Hari sebelumnya penulis sudah membeli tiket bus yang berlaku selama 24 jam, akan tetapi berlakunya hanya sampai sore.. sedangkan pas penulis naik bus ini, hari sudah malam. Ya sudahlah.. pikir penulis.. masa sih malam-malam gini masih ada pemeriksaan secara acak (random inspection). Bus pun berjalan pelan melewati kawasan The Strip (jalan utama di Las Vegas) dengan hotel dan kasino di kiri kanan. Eh.. di tengah perjalanan tiba-tiba ada petugas yang naik ke bus! Oh my!! Celaka nih! “Good evening, would you please show your ticket..” Si petugas pun mengecek satu per satu penumpang yang duduk di depan. Penulis pun mengeluarkan tiket 24 jam yang dibeli kemarin, tercetak dalam ukuran besar.. berlaku sampai tanggal sekian (hari ini).. dan di bawahnya dengan ukuran agak kecil.. hingga pukul sekian. Ketika si petugas datang, penulis pun dengan tenang menunjukkan tiket tersebut. “Thank you Sir,” kata si petugas setelah melihat sekilas tiket yang penulis tunjukkan, dan berlalu untuk mengecek tiket penumpang lain. Fiiuhhh… tenyata si petugas hanya melihat tanggal berlaku saja (yaitu sampai dengan hari ini). Gile dah.. bisa-bisanya kebetulan inspeksi mendadak timingnya pas penulis ga sempat beli tiket… tapi syukurlah bisa lolos. Ga lucu donk kalau harus bayar denda sekian ratus dolar (sekian juta rupiah) hanya gara-gara tiket kadaluarsa beberapa jam sebelumnya..

Pengalaman lainnya adalah ketika penulis berjalan-jalan di sekitar Pentagon, Markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Ketika tiba di stasiun subway Pentagon, sudah terlihat banyak personel militer yang lalu lalang. Bukan cuma personel militer, ada banyak juga staf sipil (non-militer).. mungkin profesi sebagai analis kebijakan, intelijen, dsb. Karena penulis melihat ada beberapa orang yang mencegat seorang serdadu militer dan minta tanda tangan, jadi ikut kepikiran bagaimana kalau minta foto bersama. “Oh maaf, saya sedang buru-buru sekarang,” jawab serdadu tersebut. Penulis pun foto-foto di sekitaran bangunan Pentagon yang berbentuk segi-lima. Kadang terlihat ada serdadu yang heran atau mengernyitkan dahinya melihat ada turis yang gila foto-foto. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang lewat dan bilang kalau tidak boleh foto di sekitaran sana… dan memang ternyata ada papan berukuran gede tertulis “dilarang foto” yang tidak penulis sadari… upps.. Setelah memperhatikan agak detail, bahkan ada himbauan kepada warga agar melaporkan apabila melihat ada orang yang mencurigakan yang memfoto/ merekam video, menggambar sketsa, ataupun meng-observasi secara mencurigakan sekitaran Pentagon. Wah gila… untung saja penulis masih bisa pulang dengan selamat..

Satu lagi pengalaman lainnya yang cukup menegangkan adalah ketika berada di kota Tijuana, Meksiko. Sebelumnya, penulis akan menceritakan dulu sedikit latar belakang kota di Meksiko yang sangat dekat dengan perbatasan Amrik ini, serta seluk beluk melintasi perbatasan Amerika Serikat – Meksiko melalui jalur darat. Dari Los Angeles, ada bus yang menuju Tijuana, memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam, berhenti di beberapa kota seperti San Diego, dsb. Bus Greyhound (rute ke Meksiko) yang penulis naiki kondisinya cukup jorok dan tidak terawat, beda dengan Megabus yang sering penulis naiki dalam rute antar-kota di Amrik. Sebelum ke Tijuana, sudah banyak desas-desus tentang keamanan yang labil di wilayah Meksiko, misalkan pernah ada insiden mafia narkoba yang baku tembak dengan aparat keamanan di sana. Bahkan Amrik mengeluarkan “travel warning” agar sebisa mungkin menghindar dari bepergian ke sana apabila tidak ada hal yang mendesak. Tapi bukankah tempat yang berbahaya kadang malah tempat yang aman? Hehe.. Lagipula penulis melihat ada banyak penumpang bus Greyhound tersebut, mayoritas orang Latin (Meksiko), ada juga bule. Sepanjang perjalanan sesekali kita bisa melihat pesisir pantai Southern California yang hangat.. Ketika tiba di perbatasan Meksiko, ternyata imigrasi Meksiko sangat simpel. Bahkan pemegang paspor Indonesia apabila memiliki visa Amerika Serikat, ga butuh visa Meksiko lagi untuk masuk ke Meksiko (kebijakan ini berlaku sejak beberapa tahun yang lalu). Tidak ada pemeriksaan paspor sama sekali! (apabila lewat jalur darat melintas dari Amrik) (yach.. sayang sekali deh.. jadinya ga dapat cap bukti masuk ke Meksiko, hehe..). Cuma ada pemeriksaan bagasi yang cukup simpel. Di kejauhan, tampak dua orang serdadu militer Meksiko menenteng senapan serbu. Sangat gampang masuk ke Meksiko dari Amrik, tapi tidak untuk kebalikannya (masuk ke Amrik dari Meksiko)…nanti akan penulis ceritakan.

sunset at Tijuana

Tiba di Tijuana sudah sore. Tijuana adalah kota yang dinamis, dari segi harga barang-barang juga lebih murah dibandingkan di Amrik. Di pusat kota, ada Plaza, Bioskop, dsb.. juga penuh dengan keramaian.. sangat jauh dari kesan seram yang didengung-dengungkan di Amrik (emang lebay nih pemerintah Amrik). Cuma ada satu masalah yaitu masalah bahasa.. penduduk disana banyak yang ga bisa berbahasa Inggris, hanya bisa Bahasa Spanyol. Menurut penulis, penduduk Meksiko memiliki keragaman genetik yang cukup luas.. penduduk berdarah Latin kebanyakan adalah campuran ras kulit putih (Eropa terutama Spanyol) dan penduduk asli di Amerika Latin. Jadi ada yang terlihat mirip orang bule, juga ada yang berkulit agak kecoklatan. Mereka menyebut perpaduan etnis ini sebagai Mestizo. Orang-orang Mestizo rata-rata memiliki spirit yang riang, dan atmosfir kehidupan yang santai. Banyak juga terlihat gadis-gadis yang manis di Tijuana, yang memiliki hidung yang mancung tapi postur tubuh yang tidak terlalu tinggi besar.

Penulis pun berkeliling kota Tijuana dengan jalan kaki. Ada beberapa area kota yang sepertinya cukup riskan, terlihat dari tembok yang dicat dengan grafiti, ataupun bangunan yang kumuh. Setelah cukup lelah, penulis pun ingin kembali ke hotel. Setelah melihat peta, sepertinya ada jalan pintas yang jaraknya lebih dekat. Hanya saja di peta terlihat jalan ini nyambung dengan jalan layang. Karena ingin segera meregangkan tubuh yang lelah, penulis pun mencoba jalan pintas ini. Benar saja, tiba-tiba jalan tersambung ke jalan layang. Apakah nanti bisa turun kembali dari jalan layang ke jalan biasa? Sudah kepalang tanggung, pikir penulis, akhirnya penulis nekat lanjut jalan menyusuri jalan layang tersebut. Gila saja, trotoar buat pejalan kaki tiba-tiba habis, dan penulis harus berjalan di pinggiran jalan layang, dimana kendaraan melaju kencang di samping. Senja pun sudah berganti gelap.. tidak ada tanda-tanda jalan layang ini nyambung ke jalan biasa yang bisa arah ke hotel. Ternyata jalan layang ini nyambung ke ruas jalan raya yang lain, yang sudah tidak bisa penulis pastikan lokasi persisnya di peta ada dimana. Celaka nih! Di simpang empat lampu merah, kendaraan-kendaraan pun berhenti, dan terlihat ada banyak pedagang asongan yang berjualan (kaya di Indonesia saja). Terlihat juga ada pengemis, gelandangan, dan orang-orang ga jelas lainnya. Tiba-tiba terlihat ada bus umum! (tapi tidak tahu rute kemana). Karena sudah lelah, penulis pun nekat naik sekalian coba tanya supirnya apakah bisa menuju ke arah hotel. Supir bus tidak mengerti Bahasa Inggris! Untungnya ada seorang penumpang yang bisa Bahasa Inggris, dan mau menolong turis kesasar yang malang ini, hehe.. Oh jadi katanya penulis harus turun setelah melewati jembatan bla bla bla, dan jalan ke arah bla bla … sepanjang jalan di dalam bus, penulis pun berjuang keras mencocokkan apa yang terlihat melalui jendela bus dengan peta kucek yang digenggam. Akh! akhirnya penulis berhasil mengestimasi lokasi, dan ketika turun dari bus, sudah tahu bagaimana rute kembali ke hotel yang memang sudah tidak begitu jauh. Wheew.. untung saja.

Ya begitulah pengalaman seru mendebarkan di Tijuana. Dari Meksiko, penulis harus kembali ke Amrik. Dan kali ini karena semuanya dalam Bahasa Spanyol, akhirnya dibawa oleh supir taksi ke sebuah jasa travel yang menyediakan mini-van buat ke Los Angeles. Dari segi harga sedikit lebih mahal dibandingkan bus Greyhound, tapi tidak apalah. Di dalam van, ada belasan penumpang lainnya, dan kami pun menuju perbatasan Amrik. Gilaaa saja… kami harus menunggu berjam-jam (empat jam lebih !!!) untuk melewati imigrasi Amerika Serikat. Beda langit dan bumi dengan ketika masuk ke Meksiko yang cuma menunggu beberapa menit. Kontrol perbatasan oleh petugas imigrasi Amrik super ketat, tapi terlalu lamban. Beberapa penyebabnya adalah ternyata karena mereka memprioritaskan warga negara Amerika Serikat terlebih dulu untuk lewat, juga ada security check kendaraan-kendaraan yang lewat. Ternyata banyak penduduk Meksiko yang membawa semacam kartu pass gitu, jadi ga bawa paspor. Ketika akhirnya antrian penulis tiba, petugas imigrasi pun tampak kebingungan melihat paspor penulis. “Where are you from?” tanya petugas kulit hitam yang tampak heran. “Indonesia,” jawab penulis. “Indonesia?” ia terlihat seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu. Akhirnya penulis dipersilahkan lewat, dan tidak ada cap/ stempel di paspor (cuma di-scan saja paspornya). Penulis rasa sepertinya tuh petugas samar-samar ingat kalau Barack Obama sewaktu kecil pernah sekolah di Indonesia, hehe.

Ternyata setelah melewati perbatasan, penulis harus ganti ke van lainnya. Tapi si supir hanya mengumumkan dalam bahasa Spanyol. Ganti van di mana? Semua penumpang yang lain tidak ada yang ke Los Angeles. Untung ada seorang bule Amrik (penumpang lainnya) yang berbaik hati menjelaskan ke penulis harus ganti bus di belakang Mc Donald setelah melewati gerbang imigrasi.

 

******

 

Demikianlah sekelumit catatan perjalanan penulis mengelilingi sebagian wilayah Amrik. Sayang sekali ketika penulis tiba di Grand Canyon, pemandangan tertutup oleh kabut tebal dan juga turun salju deras sehingga jurang menganga sama sekali ga kelihatan. Juga di bulan Maret, suhu udara di Niagara Fall masih dingin membeku.. dan ga bisa naik kapal karena masih banyak es mengapung di sungai di bawah air terjun. Dalam perjalanan pesawat dari Phoenix (Arizona) ke Baltimore (Maryland), penulis disuguhi pemandangan alam yang luar biasa.. terutama the Great Plain (dataran tengah Amrik) yang luar biasa luas dan menakjubkan.. Pemandangan di sepanjang jalan menuju Southern Rim Grand Canyon juga amazing, niscaya akan membuat Anda berdecak kagum.

Foggy Grand Canyon

Kabut tebal yang menutupi jurang menganga Grand Canyon

 

Frozen Niagara Fall

Air Terjun Niagara yang hampir membeku

 

Phoenix Arizona

Phoenix, Arizona – sebuah kota di tengah padang tandus

aerial Circle Patterns

Pola-pola lingkaran aneh di Great Plains, sepertinya untuk agrikultural.. cuma airnya dari mana ya??

rugged terrain

Hamparan luas daratan Amerika

US Eastern coast

Pesisir timur dengan pepohonan kering musim dingin

Boston MA

Boston dan sekitarnya dilihat dari udara


学生生活を振り返って

February 28, 2013

(written by: Willy Yanto Wijaya)

学生生活を振り返ると、本当に多くの貴重な経験をしたように思います。非常に苦労してあきらめかけたこともありました。実験リアクターで働き始めたときは大変な時期の一つでした。そのときリアクターの漏れがあって、漏れてる部分の特定と修正することが非常に難しかったです。それは私が思ったように簡単ではありませんでした。私はとても絶望的な気持ちで3日間悩み続け、最終的に実験をしようと思いました。その決定的な瞬間に、幸いにも漏れ防止構造が働いており、実験を再開することができました。

私の最初の研究論文が、2つの異なった科学雑誌で2回も却下されたときは別のタフな時間でした。想像してください!論文を書き改訂するのに数ヶ月を費やしていることを.. 毎回拒絶されていました。それにはイライラさせられました。しかし、私は、査読者のコメントから多くのことを学ぶことができました。私の指導教員から様々なアドバイスをいただくことで、私はさらに私の研究の質を向上させることができました。最終的に私の最初の研究論文がアクセプトされました。それは大きな喜びで、この経験から忍耐の重要な価値を理解しました。

研究室で日常生活を過ごすことは、無益ではないと考えました。私の研究は二つの研究論文に掲載され、7つ以上の国際・国内学会に出席しました。2回ベストプレゼン賞を受賞し、日本機械学会三浦賞を受賞しました。

しかし、英語のことわざにもあるように “All work and no play makes Jack a dull boy” で学生生活の間に私は他の活動もしました。どんなに忙しくても、東工大のプールで少なくとも週一回は泳ぐことを心掛けました。水泳が人生をよりリフレッシュにしました。時折、旅行の時撮った写真を雑誌や新聞に提出しました。興味のあるトピックを題材とした エッセイコンテストを見かけると、私もたまに参加しました。去年、私の文章の一つである「持続可能な日本であるために。3.11後の課題と期待」は、かめのり財団賞を受賞しました。楽しい活動が実際に行われることは、人生をより生産的で有意義なものにするでしょう。

しかしながら、皆さんからのサポートがなければこれらを達成することが不可能であったと認識しています。ホルヘ•ルイス•ボルヘスというアルゼンチンの作家が “Everything touches everything”(すべては、すべてのものに触れる)と言ってるように、私たちの生活は相互に依存しています。私はすべての友人と最愛の家族に、すべての私の日本語の先生に(特に高野先生)、すべてのエネルギー事象分野研究室 のメンバーに、私の指導教員(岡崎健教授)に心から感謝の意を表します。

 

(thanks to Hitomi-chan and Moriyama for the grammatical check)


Time to Re-consider Japanese Shuukatsu (Job-hunting) System

January 27, 2013

(written by: Willy Yanto Wijaya)

job hunting in japan

Every year during the shuukatsu season, which lasts roughly from January till April/ May, crowds of students who are going to graduate next year become very busy. Lots of things to do: attending the setsumeikai (companies’ seminars), writing endless entry sheets and resumes, taking the written examination or web-test or exams at test-center, doing the kengaku (study visit to the company – usually for the engineering students) or short internship, and of course having mensetsu (interviews) which are usually conducted at least 3 or 4 times.

If the student is going to just apply for several companies, that’s fine. But imagine if the student applies to 10 or 20 companies, how much effort they have to spend on those recruiting steps mentioned above! Surprised? Hold on, that’s nothing.. in reality many students especially from the social studies usually apply for more than 50 companies. According to Rikunabi, last year average number of entries (applications) per student was about 76. Only in Japan you can find one student applies to 76 companies simultaneously. This is crazy! To make it even crazier, consider this, some companies require you to write entry sheets or resume by hand-writing!

Without doubt, the shuukatsu season is a very chaotic and crazy period for job-seekers. Many students have complaints about this, but they are helpless. As far as I know, only two countries adopt the early job-seeking period: Japan (1 year before graduation) and Korea (6 months before graduation). Most other countries, including US and other Asian countries, job-applications usually start within the graduation period (starting from after final presentation, or even after graduation ceremony).

Not only students complain about the shuukatsu processes, lecturers and staffs of academic institution also do. Then why Japan has this kind of early job-seeking period? Does it give significant benefits? Let’s take a deeper look and analysis.

These shuukatsu processes in intensive and short period (within several months) has been long hailed by the Japanese companies as an efficient way and in-line with the Japanese spirit of preparedness. In fact, it is specifically true for the HRD (Human Resource Department) of the company. The HRD personnel works extremely hard, but just during the short shuukatsu season, thus in other periods they can give other trainings to the company employees, and therefore they think it is efficient and good. Furthermore, they think that soon after graduation, students already have jobs to do, and therefore no idling time. This is good and productive (according to Japanese companies).

At a glance, we might see that the early shuukatsu system is indeed good for the companies. Is it so? Before answering that, let’s take a look on the students’ (job-applicants’) perspectives. Based on my own experiences as a job-seeker in Japan, shuukatsu is a period which really consumes not only time, but also energy and money (such as: transport fee to attend numerous seminars). This is again because students have no choice but to apply to as many companies as possible. Why? Because there is no guarantee that the company which the student really wants to work for will hire him/her. And the trouble is that all those companies hire at the same period. The next trouble is that the shuukatsu season is already fixed; if the season is missed there is almost no more chance to get job and risk to become a freeter (person with no regular employment). This kind of anxiety and uncertainty eventually push the students to apply to as many companies as possible.

Besides, students have to sacrifice their precious several months (which actually should be used for study or research in the university), just for wasteful shuukatsu processes. Why I say “wasteful”? Because eventually they will just choose one company, and discard the others.

From the perspectives of the students, certainly there is almost no merit of the early shuukatsu system (sacrifice precious time for study, and waste time-energy-money for companies which actually they don’t really desire to work for). Perhaps, in term of financial, there is just a little merit that the students can get job directly after graduation. But after discussing with some of my Japanese friends, in fact, they don’t really think it is a significant merit. They even think that a short break (not working for a while) after graduation is appealing!

Well, we can see that today’s Japanese shuukatsu system tends to give merits to the companies rather than students (who almost get no merit). But again, is the current shuukatsu system really advantageous to the companies? From the above discussions regarding efficiency for the companies, it seems so. But is it really so? Many of the companies do not realize that the demerits they cause to the students eventually affect negatively back to them. Firstly, they have to process mountainous number of applications (many of which come from the students who don’t really want to work in that company). This is in fact, an additional work burden for the HRD staffs. Secondly, the students they will hire have lost several precious months which otherwise can be used for study, thus the quality of the employee-candidates to be hired has been somehow sacrificed as well. These two considerations should have already made Japanese companies to re-think about their recruitment strategies!

Imagine if the shuukatsu processes are more flexible (not densely intensive in a certain short period of time), and year-long applicable (whenever is fine for the student to apply for job), then students can try to apply first for their first-priority companies, then the second-priority, and so on.. then chance is that company will also get employees who really have passions for their jobs. In addition, the HRD staffs also don’t need to process mountainous number of applications anymore, and thus can more carefully select and consider the qualifications of the applicants. Furthermore, if some students decide to take some break after graduation (while sending applications to companies they really wish to work for), what’s wrong with that? What’s wrong for the companies to recruit employees who are several months older (or even one or two years older)? They didn’t sacrifice their precious time for study in the university, moreover some breaks after graduation might serve as a refreshing period to re-charge their energy and mind.

Now is the time for Japanese companies to re-consider their policy of shuukatsu system which they think is beneficial for them (although there are actually many indirect demerits).

Yes, we might argue that for many decades this early and intensive shuukatsu system of Japan had proved successful to bring Japan once ever to become the second biggest economy in the world. Combined with the life-time employment system, everything seemed very good and effective.

But time changes..

It was good in old times when Japan had significant domestic growth. Everything rest assured. But now things are changing. In several decades ahead, we can expect huge domestic market decline in Japan. Not only that, at present, the course of global competitions also undergoes turbulent and rapid changes. Recently, we just heard the huge losses of famous Japanese electronic appliances maker (Sony, Sharp, Panasonic), and bankruptcy of Elpida, a semiconductor maker. Japanese traditional business models which proved to be very successful in the past, are not effective anymore.

Japan has to challenge its orthodox and conventional way of doing business if it is going to survive. This holds true not only for the business models, but also shuukatsu and employment systems.

Considering the arguments above regarding the merits and demerits of present shuukatsu system, now is the time for Japanese companies to challenge their conventional way of doing recruitment. They have to pay more attentions to the beneficial sake of the students. They have to ease the rigid tensyoku (changing job) system of Japan (since companies now cannot guarantee life-time welfare anymore). They have to be wake up and realize that the shuukatsu system that served so well for many decades, could one day becomes ineffective and need to be abolished.

 

Final notes:

Since companies are always trying to recruit the best candidates, some of above suggestions regarding late (after graduation) recruitment might not sound appealing in the perspectives of some companies (because of being afraid that early recruitment of other companies have taken away the best and brightest candidates). Thus, the author thinks that eventually Japanese government needs to make regulations for the companies’ recruitment processes, so that each company will have a fair and just system to be carried on.


GVJ Award Ceremony 2012 – かめのり財団賞

December 31, 2012

One of my piece of writing got かめのり財団賞 (Kamenori Foundation Award). I attended the award ceremony which was held in Kyoto on Dec 7, 2012. This piece of writing was originally written in English, and was kindly translated by GVJ (Global Voice Japan) into several languages (Japanese, Korean, Simplified Chinese, Traditional Chinese).

Kamenori Award 2012

—————————————————————————————–

持続可能な日本であるために。3・11後の課題と期待

2011年3月11日、日本の近代史上最大の地震が東北地方を襲い、10メートルを超える巨大な津波が発生して、約2万人の命が奪われました。建 物が大きく揺れた時、私は研究室にいた。私の母国、インドネシアでも地震は珍しくないが、この揺れは私が経験した中で一番大きなものであった。

この地震が引き起こした津波の被害がどれほど大きかったのかはニュースを見てわかった。地震のドラマはそこで終わったわけでなかった。原子力発電所 が津波の被害を受けたというニュースは、より大きな混乱とパニックを引き起こしたのである。その日からの数週間、私は日本人がこの三重の災害にどのように 対応したかをじっと見守っていた。

今回の災害は、私たちが住んでいる世界がいかにもろいものであるかを見せつけた。構造プレートに挟まれ、火山ベルトにも位置する日本は特にそうなの である。この災害は日本における災害軽減(減災)やエネルギー政策について、活発な議論を引き起こした。まず減災についてだが、地球ダイナミズムに対して の私たちの理解がいかに不十分であるかが、この災害によって明らかになった。歴史上これほど強い地震の記録はなく、東北地方にこのように大きな地震と津波 が起こるとは誰一人予測できなかったのである。
しかし、私たちが十分に考慮すべき点がいくつもあると私は考える。「持続可能な日本」を実現するために、減災とエネルギー政策はしっかりと考えていくべきことである。

将来、再生可能エネルギーが人びとの生活や社会のための主たるエネルギーになるのは明らかだ。しかしながら、短期、中期で考えると、再生可能エネル ギーが占める割合は小さいものにすぎないはず。だから、適切なエネルギーを取り合わせることが必要となる。地熱利用や風力発電の施設にふさわしい場所、原 子力発電には地震のリスクの少ない所、太陽光発電や火力発電に向いた場所などを決定するための研究を行う必要がある。

日本の人口動態や将来のエネルギーの供給力も十分に考慮されなくてはいけない。好ましいエネルギーの取り合わせやエネルギー政策を達成するために は、減災の研究はどうしても必要となる。減災研究は自然と人的リスクの全てを明らかにし、その結果を将来のエネルギー政策のマスタープランに合致させなけ ればいけない。
減災の研究は強引で実現不可能な考え(例えば、日本の首都を東京からより安全な場所へ移そうとするような考え)を排除することで、将来の災害を予防するこ とができる。もちろん、災害やエネルギーの問題だけでなく、実は他にも日本が直面する危機的な問題がある。人口減少、政府のGDP対比の多額な債務、年金 や社会保障をカバーするのに、誰が税金を払うのかということ、などが上げられる。政府の無策を別としても、後者の二つの問題は、人口減少がその根本にあ る。

実際には、人口減少そのものではなく、人口減少の割合が問題なのだ。日本の将来に人口減少がどのように影響するのかを考察する前に、日本政府になぜ このような巨額のGDP対比債務があるのかを考えて見よう。政府はどんな時にも歳入(税金など)と歳出(社会保障費など)の不均衡を論じ、高齢者人口と低 い出生率を原因だとする。しかし、日本政府の諸外国への貸し付けがどれほど大きいものなのかは、日本のメディアではほとんど報道されていない。
この貸付資金の元はどこから来るのだろうか?政府債務とは、言葉を換えれば、日本国民の持つお金なのである。円の急騰を防ぐために多額のドルを買った時、 日本政府がドルの価値下落でどれほどの損失を被ったのかは言うまでもない。つまり、政府がどれほど持続可能な予算を作り出すかという政府の政策そのもの に、この政府債務に関する解決策があるのである。

この債務急増は急激な人口の高齢化にも原因していることを無視するわけにはいかない。育児にかかる費用の増加もあって、日本の若い世代が育てる子どもの数は少なくなっている。子どもの数が増えて、生活のレベルを下げるのは嫌だと考える傾向もあると指摘する人もいる。
このような行動は日本人の持つ、堅実を好みリスクを避ける特質にもよるようだ。多くの日本人は自分の快適な空間から踏み出すことをいやがるが、この特質は インドのような国と比べるととても大きな違いとなっているのである。これは決して悪いことではないのであるが、人口減少の傾向は日本の将来を決定づけるこ とになる。果たして日本はどのような将来を求めているのだろうか?
多くの日本人が良しとする考え方の一つに、小さくて幸せな国になろう、というものがある。現在の人口動態傾向では、小さな国になるのは日本にとってはとても自然だ。だが、果たして幸せな国になれるのだろうか?
日本人は物の見方や考え方を変える必要がある。OECD諸国(韓国やハンガリーは除く)の中で、飛び抜けて高い自殺率は、日本における幸福感の何かがお かしいことを示している。単に経済的な問題だけでなく、社会文化的な面で、たとえば、考えかたや教育において、もっと根本的な要因があるように私には思え る。

もし日本が将来小さくて幸せな国を目指すなら、「国民総幸福指数」の概念を取り入れたブータンのような小国から多くを学ぶことができるはずである。物の見方や考え方を変えるには、教育がキーとなることであろう。
もし多くの日本人が、小さな国になるという考えを拒否したとしても、私にとってそれは不思議でも何でもない。経済、政治、先端科学、先進技術における日本の力と主導権を維持しようと高い野望を抱く人びとにとって、大国としてのプライドは必要なものだからである。
もちろん日本の「がんばって」精神で、日本はこれらのいくつかの分野では最先端であり続けるだろう。だが、人口減少は多かれ少なかれ国が蓄積してきた力に 影響を与える。では、もし日本が大国としての主導権を維持したいとしたら、そして、もし急激な人口減少を防ぐことができないとしたら、日本は一体どうなる のだろうか?

一つの現実的な考え方として、移民に門戸を開くことがあげられる。バラバラな対策でなく、政府はしっかり選択すべきだと提案したい。私の見るとこ ろ、文部科学省の奨学金を受けている世界各国からの、選ばれた優秀な学生や研究者を例として、貴重な人材プールが毎年ムダになっている。このような優秀な 個人を日本の改革のための起爆剤とする努力が必要なのだ。アメリカはこの数十年の施策で、アメリカ自身を多くの分野でスーパーパワーたらしめたし、同様に シンガポールは人口減少によって、東南アジアにおける経済の覇者としての地位を失う大きなリスクを防ぐための努力を現在も続けているのである。
では、どの方向を日本は選択すべきなだろうか?小さくても幸せな国?もしくは大国としての力を保持する国?日本社会が、自らにとってのベストの選択をする ことであろう。だが、「持続可能な日本」という考え方、つまり二つの考えを合わせたものを私は提案したい。二つの方向を合わせるとは?

日本が持続可能な方法で保持でき、資源的にも無理のない最適な人口についての調査研究がしっかりなされる必要がある。あるポイントまでの人口の変動 (増減)が必要となり、生活水準をあるところで維持できる資源確保をし、これらの持続可能な数値によって日本はより永続的な幸福な国となる。

ここで提示した考えや解決策は、とても多面的なもので、実際に、国の将来とはとても複雑な案件であり、一つの解決策で答えの出るものではないと私は 思う。まとめて言うと、新しい日本に踏み出していくには、日本の根本的な特質、国民自身、資源、起こりうる問題点や災害をより理解し、教育や政策、その他 の分野での対策をどのように取るかを考えて、永続する国つまり、「持続可能な日本」を作り上げることである。

—————————————————————————————–

지속 가능한 일본을 위하여 – 3.11이후의 과제와 기대

2011년3월11일, 일본 근대사상 최대의 지진이 동북지방을 습격하여, 10미터가 넘는 거대한 쓰나미가 발생했으며, 2만명 이상의 사망자를 냈다. 건물이 크게 흔들렸을 때, 나는 연구실에 있었다. 나의 모국, 인도네시아에도 지진은 자주 일어나지만, 이번 지진은 내가 경험한 것 중 가장 컸다. 지진이 일으킨 쓰나미의 피해가 얼마나 컸는지는 뉴스를 통해 알게 되었다. 지진이 일으킨 피해는 거기에서 끝나지 않았다. 원자력 발전소에 쓰나미가 덮쳤다는 뉴스는 더욱 큰 혼란과 공항상태를 야기했다. 그로부터 수 주간, 나는 일본인이 이러한 삼중의 재해에 대하여 어떻게 대처하는가를 지켜보게 되었다.

이번의 재해는 내가 살고 있는 세계가 얼마나 불안정한지를 보여주었다. 대륙 플레이트에 껴 있으며, 화산활동지역에도 위치하는 일본은 더욱 그러하다. 이번 재해는 그 피해를 줄이는 재해 경감(減災)과 에너지 정책에 관한 논의를 활발하게 일으켰다. 먼저, 감재에 대한 것으로, 지구의 역동성에 대하여 우리들의 이해가 얼마나 빈약했던가가 이번 재해를 통해서 분명해졌다. 역사상 이번 지진만큼 강한 지진에 대한 기록은 없었으며, 동북지방에 이렇게 큰 지진과 쓰나미가 일어나리라고는 그 누구도 예측하지 못했다.

여기에서 생각하지 않으면 안 될 몇 가지 문제점이 있다. 즉, ‘지속 가능한 일본’을 실현하기 위하여, 감재와 에너지 정책을 보다 철저하게 생각해야 한다는 것이다. 미래에 재생 가능한 에너지가 사람들의 생활과 사회에 주요한 에너지원이 될 것이라는 것은 분명하다. 그럼에도 불구하고 단기 혹은 중기적으로 재생 가능한 에너지가 점하는 역할은 아주 작다. 따라서 적절한 에너지를 개발하는 것이 필요하다. 지열을 이용하거나 풍력을 이용한 발전을 개발하고, 그 시설에 적당한 장소를 선택하는 것, 원자력발전에 지진 리스크가 적은 곳을 선택하고, 태양광 발전이나 화력 발전에 좋은 입지를 결정하기 위한 연구가 필요하다. 일본의 인구 동태나 장래의 에너지 공급력도 충분히 고려하지 않으면 안 된다. 이상적인 에너지 조달과 에너지 정책을 달성하기 위하여 감재 연구 역시 필요하다. 감재 연구는 자연적 및 인재적 리스크를 분명히 하고, 그 결과를 장래의 에너지 정책에 반영시키지 않으면 안 된다. 감재 연구는 강제적이며 실현 불가능한 방안(예를들면, 일본의 수도 도쿄로부터 안전한 장소로의 이주와 같은 방안)을 포기하게 함으로써, 미래의 2차적인 재해 요소를 제거할 수 있다.

물론, 일본이 직면한 문제는 재해나 에너지 문제만이 아니다. 인구감소, 정부의 GDP대비 채무, 연금이나 사회보장제도를 위한 세입 등이 그것이다. 정무의 무책임은 논외로 하더라도, 연금과 사회보장제도는 인구 감소가 근본적인 원인이라고 생각한다. 사실 인구감소 그 자체가 아니라 인구 감소의 비율이 문제다. 일본의 미래에 인구 감소가 어떠한 영향을 미칠 것인가를 생각하기 전에, 일본 정부가 왜 이렇게 거대한 채무를 지게 되었는지를 알아보기로 하자. 정부는 항상 세입(세금)과 세출(사회보장에 관련된 지출)의 불균형이, 증가하는 고령자 인구와 낮은 출산율에서 기인한다고 주장한다. 그러나 일본 정부의 외국에 대한 차관이 얼마나 많은지는 거의 보도되고 있지 않다. 차관의 재원은 무엇인가? 정부의 채무라고 하는 것은, 바꿔 말하면, 일본 국민으로부터 빌린 돈이다. 엔 급등을 막기 위하여 거액의 달러를 매입할 때, 일본 정부가 달러의 하락으로 얼마만큼 손해를 보는지는 말할 것도 없다. 즉 정부가 얼마나 지속 가능한 예산을 만들 수 있는가라고 하는 정부 정책 그 자체가 일본 정부의 채무를 해결할 수 있는 방법인 것이다.

채무의 급증은 급격한 인구의 고령화에도 기인한다는 점을 무시할 수는 없다. 육아에 드는 비용의 증가 역시 일본의 젊은 세대가 양육해야 할 자녀의 수를 감소시키고 있다. 아이들의 수가 늘면서 생활 수준이 떨어지는 것을 싫어하는 경향 역시 지적되고 있다. 이러한 경향은 일본인이 지니고 있는 견실함을 좋아하고 리스크를 피하는 기질과도 관련이 있어 보인다. 많은 일본인은 자신의 쾌적한 공간으로부터 벗어나는 것을 싫어하는데, 이러한 기질은 인도와 같은 나라와 비교할 경우 두드러진다. 이것은 결코 나쁜 것은 아니지만, 인구 감소에 영향을 주며, 일본의 미래를 좌지우지하는 것이다. 과연 일본은 어떠한 미래를 원하고 있는 것일까?

많은 일본인이 좋다고 생각하는 것 중에 하나가 작고 행복한 나라라고 말하는 사람이 있다. 현재의 인구동향에 따르면, 일본은 작은 나라가 될 것이 분명하다. 그렇지만 행복한 나라가 될 수 있을까? 일본인은 사물을 보는 방법과 생각하는 방법을 바꿀 필요가 있다. OECD국가(대한민국이나 헝가리는 제외)중 매우 높은 자살율은 일본인의 행복에 어떤 문제가 있음을 보여준다. 단순히 경제적인 문제뿐만이 아니라, 사회문화적인 면에서, 예를 들면 가치관이나 교육에 있어서 보다 근본적인 요인이 있는 것 같다. 만일 일본이 장래에 작고 행복한 나라를 지향한다면, ‘국민총행복지수’라는 개념을 도입한 부탄과 같은 소국으로부터 많은 것을 배워야 할 것이며, 사물을 보는 방법이나 생각하는 방법을 바꾸는 핵심적 역할은 교육이 될 것이다.

만일 많은 일본인이 작은 나라가 되기를 거부한다 해도 이상할 것은 없다. 경제, 정치, 첨단과학, 선진기술에 있어서 일본의 힘과 주도권을 유지하려 하는 사람들에게 있어서, 대국으로서의 프라이드는 필요한 것이기 때문이다. 물론, 일본의 “열심히 일하는 がんばって”정신으로, 일정한 분야에서 최첨단을 유지할 것이다. 그러나 인구 감소는 많건 적건 간에 나라가 축적해 온 영향력에 영향을 미칠 것이다. 그렇다면 만일 일본이 대국으로서의 주도권을 유지하고 싶어하며, 그러면서도 인구감소를 막을 수 없다면, 일본은 대체 어떻게 될 것인가? 한 가지 현실적인 대안으로서, 이민을 적극적으로 개방하는 것이 있다. 임기응변이 아니라 정부의 주도 하에 계획적으로 선택하기를 제안한다. 내가 아는 바에 따르면, 문부과학성의 장학금을 받고 있는 세계 각국의 우수한 학생이나 연구자로 구성된 인력풀이 적절히 활용되고 있지 못하고 있다. 이러한 우수한 개인들을 일본 개혁의 기폭제로 삼는 노력이 필요하다. 미국은 수십 년 동안의 정책을 통해 여러 분야에서 그들의 역량을 발휘시키고 있다. 싱가폴 역시 인구감소에 의해 동남아시아의 경제적 패자로서의 지위를 상실할 수 있다는 점을 인식하고 그 리스크를 막는 노력을 지금도 계속하고 있다.

그렇다면 일본은 어떤 방향을 선택해야 할 것인가? 작고도 행복한 나라인가. 아니면 대국으로서 힘을 유지하는 나라인가? 일본 사회가 결정할 일이지만, ‘지속 가능한 일본’은 이 두 가지 방향을 겸하는 것이라고 생각한다. 일본이 지속 가능한 방법으로 현 상태를 유지하고, 자원적으로 무리 없는 최적의 인구를 조사하고 연구할 필요가 있다. 어느 지점까지 인구의 변동이 필요하며, 일정한 레벨에서 생활수준이 유지될 수 있는 자원을 확보해야 한다. 일본은 이러한 지속 가능한 수치에 의해 보다 지속적으로 행복한 나라가 될 것이다.

여기에서 제시한 나의 생각과 해결책은 매우 다면적이다. 실제로 나라의 미래라는 것은 복잡한 사안이며, 하나의 방안으로 그 해답을 얻을 수 있는 것은 아니다. 정리해 보면, 새로운 일본을 만들기 위해서는 근본적인 조건으로서 재원, 인구, 자원, 재해에 관한 문제점 등을 이해하고, 교육과 정책을 통해서 지속 가능한 일본을 만들 수 있다고 생각한다.

—————————————————————————————–

要实现可持续发展,日本应该做什么? – 3・11后的课题与期待

2011年3月11日,在日本东北地区发生了近代史上最为强烈的地震,由此而产生的巨大海啸高达十多米,使得2万多人丧失了宝贵的生命。当地震发生 时,我正在研究室工作。在我的祖国印度尼西亚,地震并不罕见,但这次摇动是我所经验过的地震当中最为强烈的一次。通过电视,我看到了由地震引起的海啸,以 及海啸带来的巨大破坏。由地震引起的灾难还不限于此。福岛第一核电站受海啸侵害的消息,瞬间使得社会更加混乱、人们更为恐慌。在地震发生后的几个星期里, 我一直专心地注视着日本人是怎样对付这三重灾难之苦的。

我们生存的这个世界是多么的脆弱?这场灾害无情地将这一现实展示予我们。位处太平洋板状结构之上及火山地带的日本尤为如此。在灾后的日本,对如何减 轻受灾程度(减灾),以及有关能源政策问题的议论变得异常活跃。首先说说减灾吧,通过这次灾害让我们明白了,我们对地球活动能力的理解是多么的不充分。有 史以来,我们几乎没有对这么巨大地震的相关记载,谁也未曾预测到在东北地区居然会发生这么强烈的地震和巨大海啸。

但是,我认为有几点是值得我们充分考虑的。日本要想实现“可持续发展”,首先必须认真考虑如何减灾及新能源政策。在我们的生活和社会活动中,可再生 能源将成为主要能源之一,这一点是不言而喻的。但是在中短期内,可再生能源的比率应该还是很小的,因此,我们必须对既有能源进行重新组合。要选择适当的场 所,建立地热和风力发电站,在地震风险小的地区搞核发电,充分利用太阳能和火力发电等。同时,还必须充分考虑日本的人口动态与长远的能源供给。要实现令人 满意的能源组合和新能源政策,有关减灾的研究不可缺少。通过减灾研究,尽可能减少来自自然界和人为的风险,研究结果还应该反映到新能源政策当中去。减灾研 究就是要强行排除一些被认为是不可能实现的意见(例如,将日本的首都从东京迁移到较为安全的地方等),做到有备无患。

当然,日本现在所面临的问题还不仅限于自然灾害和能源问题,在其它方面也存有很多危机。比如人口减少、政府负债大约相当于国内生产总值的两倍、养老 金和医疗保险基金严重不足等。我们暂且不论政府的失策,后面的两个问题其根本原因都在于人口减少。其实,人口减少本身并不是问题,问题在于人口减少的速 度。人口减少对日本的将来会有怎样的影响?在作此考察之前,我们首先来研究一下,日本政府为什么会有这么巨额的债务。政府时时都在讨论岁入(税收等)和岁 出(社会保险支出等)的不平衡问题,并将其原因归结于人口高龄化和低出生率。可是,日本政府给外国贷款的规模有多大?对这一问题日本的媒体却几乎都未作报 道。这些贷款的资金来源于何处?所谓政府贷款,换言之,就是日本国民所持有的资金。日本政府为了防止日元暴涨,购买了大量的美金,而在美金价值下跌时所承 受的损失有多大,这是不言而喻的。也就是说,日本要实现可持续发展,政府该作出怎样的预算决策,其解决之计将涉及到政府的债务问题。

当然,人口高龄化确实是政府债务迅速增加的一个重要原因,这一点不容忽视。由于子女教育费十分昂贵,使得年轻一代没有能力生育太多的子女。也有人指 出,日本的年轻一代不愿意因为养育子女人数过多,以致自身的生活水平下降。这种选择好像与日本人的好稳妥厌风险的特性有关。很多日本人都不愿意走出他们自 己舒适的空间,和印度这样的国家相比,其差异越发明显。这虽然不是什么坏事,但人口不断减少,必将对日本的将来产生巨大影响。日本到底要追求什么样的未来 呢?

不少日本人认为:日本应该成为一个小而幸福的国家。按照现在的人口变化趋势,日本的人口总量将逐渐减少,在未来的某个时期,日本自然地会变成一个人 口小国。但是,日本究竟能否成为一个幸福的国家呢?日本人有必要改变一下他们自身对事物的看法和思维方式。在经济合作与发展组织 (OECD)的各个国家中,日本的自杀率水平十分突出,高水平的自杀率与其所谓的幸福感形成了鲜明的反差。我认为,产生这种现象的根本原因不仅仅在经济方 面,在社会文化领域,比如思维方式、教育等方面也都有问题。如果日本真的想把小而幸福作为国家目标,那就应该向不丹学习,导入国民总幸福的理念。同时,要 想改变国民对事物的看法和思维方式,教育至关重要。

如果许多日本人持有拒绝日本将变成小国的想法,这对我来说丝毫也不奇怪。因为,在经济、政治、先端科学、先进技术上,日本一直具有大国的实力和主导 地位,对于那些想维持现状的日本人来说,他们需要维护他们作为大国的自尊心。不用说,日本人的“加油”精神仍然会继续使日本在一些领域保持领先地位。但尽 管如此,人口减少必然地会给国家积蓄至今的实力产生负面影响。如果日本既想维持其大国的主导地位,而又无法回避人口减少的现实,那么,日本究竟该怎么办?

作为一个很现实的做法,我认为日本只有向海外移民打开国门。我不是说要日本政府应付眼前的困难,而是要把人才引进作为解决根本问题的基本战略。有很 多优秀的留学生和学者从世界各国来到日本,拿着文部省的奖学金学习研究。在我看来,很多宝贵的人材都没有得到很好的利用。日本有必要试图将这些优秀的人材 作为改革的起爆剂。几十年以来,美国积极吸收各种人材,在很多领域集聚了超强的实力;在新加坡,为了防止因人口减少而失去其在东南亚地区经济霸者的地位, 他们至今仍继续做着各种努力。

那么,日本应该选择怎样的发展方向呢?是要成为一个小而幸福的国家?还是要继续保持其大国的实力?当然,这本来是日本人自己的事,我相信他们会作出 最佳的选择。虽是这么说,我还是要提出所谓的可持续发展的想法,即将两种选择相组合。何为两种选择相组合呢?即一方面既要保持可持续发展的方向,一方面认 真调查研究出在可使用资源的范围内,日本的最适人口规模。我们需要有一个明确的人口增减幅度,同时确保能维持一定生活水准的资源,通过这些可持续发展的数 值,使日本成为一个持久的幸福的国家。

在此所提示的观点及解决之策涉及到多个方面。因为我认为,构想一个国家的未来实际上是一个非常复杂的课题,从一个解决方案里是难以找出答案的。总而 言之,要使日本迈出走向新生的第一步,我们必须对日本自身的特性,如国民性、资源能力、可能会发生的自然灾害等有充分的理解,从教育、政策及其它各个领域 实施对策,从而创造出一个持久的强大国家,即“可持续发展”的日本。

—————————————————————————————–

要實現可持續發展,日本應該做什么? – 3・11後的課題與期待

2011年3月11日,在日本東北地區發生了近代史上最為強烈的地震,由此而產生的巨大海嘯高達十多米,使得2萬多人喪失了寶貴的生命。當地震發生 時,我正在研究室工作。在我的祖國印度尼西亞,地震並不罕見,但這次搖動是我所經驗過的地震當中最為強烈的一次。通過電視,我看到了由地震引起的海嘯,以 及海嘯帶來的巨大破壞。由地震引起的災難還不限於此。福島第一核電站受海嘯侵害的消息,瞬間使得社會更加混亂、人們更為恐慌。在地震發生後的幾個星期裡, 我一直專心地注視著日本人是怎樣對付這三重災難之苦的。

我們生存的這個世界是多么的脆弱?這場災害無情地將這一現實展示予我們。位處太平洋板狀結構之上及火山地帶的日本尤為如此。在災後的日本,對如何減 輕受災程度(減災),以及有關能源政策問題的議論變得異常活躍。首先說說減災吧,通過這次災害讓我們明白了,我們對地球活動能力的理解是多么的不充分。有 史以來,我們幾乎沒有這么巨大地震的相關記載,誰也未曾預測到在東北地區居然會發生這么強烈的地震和巨大海嘯。

但是,我認為有幾點是值得我們充分考慮的。日本要想實現“可持續發展”,首先必須認真考慮如何減災及新能源政策。在我們的生活和社會活動中,可再生 能源將成為主要能源之一,這一點是不言而喻的。但是在中短期內,可再生能源的比率應該還是很小,因此,我們必須對既有能源進行重新組合。要選擇適當的場 所,建立地熱和風力發電站,在地震風險小的地區搞核發電,充分利用太陽能和火力發電等。同時,還必須充分考慮日本的人口動態與長遠的能源供給。要實現令人 滿意的能源組合和新能源政策,有關減災的研究不可缺少。通過減災研究,盡可能減少來自自然界和人為的風險,研究結果還應該反映到新能源政策當中去。減災研 究就是要強行排除一些被認為是不可能實現的意見(例如,將日本的首都從東京遷移到較為安全的地方等),做到有備無患。

當然,日本現在所面臨的問題還不僅限於自然災害和能源問題,在其它方面也存有很多危機。比如人口減少、政府負債大約相當於國內生產總值的兩倍、養老 金和醫療保險基金嚴重不足等。我們暫且不論政府的失策,後面的兩個問題其根本原因都在於人口減少。其實,人口減少本身並不是問題,問題在於人口減少的速 度。人口減少對日本的將來會有怎樣的影響?在作此考察之前,我們首先來研究一下,日本政府為什么會有這么巨額的債務。政府時時都在討論歲入(稅收等)和歲 出(社會保險支出等)的不平衡問題,並將其原因歸結於人口高齡化和低出生率。可是,日本政府給外國貸款的規模有多大?對這一問題日本的媒體卻幾乎都未作報 道。這些貸款的資金來源於何處?所謂政府貸款,換言之,就是日本國民所持有的資金。日本政府為了防止日元暴漲,購買了大量的美金,而在美金價值下跌時所承 受的損失有多大,這是不言而喻的。也就是說,日本要實現可持續發展,政府該作出怎樣的預算決策,其解決之計將涉及到政府的債務問題。

當然,人口高齡化確實是政府債務迅速增加的一個重要原因,這一點不容忽視。由於子女教育費十分昂貴,使得年輕一代沒有能力生育太多的子女。也有人指 出,日本的年輕一代不願意因為養育子女人數過多,以致自身的生活水平下降。這種選擇好像與日本人的好穩妥厭風險的特性有關。很多日本人都不願意走出他們自 己舒適的空間,和印度這樣的國家相比,其差異越發明顯。這雖然不是什么壞事,但人口不斷減少,必將對日本的將來產生巨大影響。日本到底要追求什么樣的未來 呢?

不少日本人認為:日本應該成為一個小而幸福的國家。按照現在的人口變化趨勢,日本的人口總量將逐漸減少,在未來的某個時期,日本自然地會變成一個人 口小國。但是,日本究竟能否成為一個幸福的國家呢?日本人有必要改變一下他們自身對事物的看法和思維方式。在經濟合作與發展組織 (OECD)的各個國家中,日本的自殺率水平十分突出,高水平的自殺率與其所謂的幸福感形成了鮮明的反差。我認為,產生這種現象的根本原因不僅僅在經濟方 面,在社會文化領域,比如思維方式、教育等方面也都有問題。如果日本真的想把小而幸福作為國家目標,那就應該向不丹學習,導入國民總幸福的理念。同時,要 想改變國民對事物的看法和思維方式,教育至關重要。

如果許多日本人持有拒絕日本將變成小國的想法,這對我來說絲毫也不奇怪。因為,在經濟、政治、先端科學、先進技術上,日本一直具有大國的實力和主導 地位,對於那些想維持現狀的日本人來說,他們需要維護他們作為大國的自尊心。不用說,日本人的“加油”精神仍然會繼續使日本在一些領域保持領先地位。但盡 管如此,人口減少必然地會給國家積蓄至今的實力產生負面影響。如果日本既想維持其大國的主導地位,而又無法回避人口減少的現實,那么,日本究竟該怎么辦?

作為一個很現實的做法,我認為日本只有向海外移民打開國門。我不是說要日本政府應付眼前的困難,而是要把人才引進作為解決根本問題的基本戰略。有很 多優秀的留學生和學者從世界各國來到日本,拿著文部省的獎學金學習研究。在我看來,很多寶貴的人材都沒有得到很好的利用。日本有必要試圖將這些優秀的人材 作為改革的起爆劑。幾十年以來,美國積極吸收各種人材,在很多領域集聚了超強的實力;在新加坡,為了防止因人口減少而失去其在東南亞地區經濟霸者的地位, 他們至今仍繼續做著各種努力。

那么,日本應該選擇怎樣的發展方向呢?是要成為一個小而幸福的國家?還是要繼續保持其大國的實力?當然,這本來是日本人自己的事,我相信他們會作出 最佳的選擇。雖是這么說,我還是要提出所謂的可持續發展的想法,即將兩種選擇相組合。何為兩種選擇相組合呢?即一方面既要保持可持續發展的方向,一方面認 真調查研究出在可使用資源的范圍內,日本的最適人口規模。我們需要有一個明確的人口增減幅度,同時確保能維持一定生活水准的資源,通過這些可持續發展的數 值,使日本成為一個持久的幸福的國家。

在此所提示的觀點及解決之策涉及到多個方面。因為我認為,構想一個國家的未來實際上是一個非常復雜的課題,從一個解決方案裡是難以找出答案的。總而 言之,要使日本邁出走向新生的第一步,我們必須對日本自身的特性,如國民性、資源能力、可能會發生的自然災害等有充分的理解,從教育、政策及其它各個領域 實施對策,從而創造出一個持久的強大國家,即“可持續發展”的日本。

—————————————————————————————–

GVJ Award Ceremony 2012

GVJ Award Ceremony 2012, Kyoto, Japan


就職活動を振り返って、自分の印象・意見

November 30, 2012

(written by: Willy Yanto Wijaya)

Thanks to Takei Sensei and Takano Sensei for the grammatical corrections.

今年の就職活動を振り返って、様々な印象を感じました。1月から始まって、約5ヶ月の間、いろいろな活動を経験しました。自分の日本語能力は不十分でしたが、自分なりにそれらにチャレンジしてみました。

率直に言うと、日本の就職活動は大変です。なぜかというと、いくつかの理由があります。一つ目の理由は、就職活動の流れのステップが非常に多いということです。一つの会社だけでも、説明会、エントリーシート、テストや適性検査、見学会、履歴書、数回の面接などがあります。もし学生が一つか二つの会社しか応募しなかったら、そういう様々なステップはまだ問題にならないと思います。ですが、事実を見ると、一人の学生は平均10社以上を応募している状況でした。なぜこのような多くの数を応募したのでしょうか。二つ目の理由はほぼすべての企業が同時に募集を行っているということです。日本の就活の期間は非常に厳しくて短いと考えています。この短い期間を逃してしまったら、たいていチャンスもなくなってしまいます。いわゆる、日本の就職活動期間はフレキシブルではありません。このような理由から学生達は多くの会社に同時に応募しなければなりません。三つ目の理由はこの就活期間は学生の卒業の1年前に行われて、この期間のあいだ学校での勉強・研究がとてもやりにくくなってしまうということです。このような理由で実は日本の学生にとって、就職活動は本当にチャレンジのある期間だと考えています。

このような厳しい就職活動は世界のなかで日本と韓国だけです。日本は卒業の1年前に、韓国は卒業の半年前に行われています。ほかの国の場合、例えばインドネシアやアメリカなどでは、卒業してから就職活動を始めることが一般的です。そのため、例えばインドネシアでは大学を卒業して、まず本当の第一希望の企業に応募します。失敗したら、次の希望に応募します。このような過程は学生にとってメリットがあると思います。自分の情熱と合っている企業で働けば、もっと幸せな生活ができるのではないでしょうか。さらに、実はインドネシアでもアメリカでも転職は普通のことです。もちろん、日本の就職活動の過程に関しては、メリットもあります。学生は卒業したら、すぐ働けます(いわゆる収入のある社会人と呼ばれています)。特に、企業にとってこのような短く厳しい就活期間は非常にメリットがあります。期間が短いので、募集が効率的になります。一年の残りの期間は研修を行なうこともできます。

しかしながら、学生にとって以上のようなデメリットを考慮すると、企業にもデメリットが発生します。同時に非常に多くの企業に応募することで、企業は実際には興味があまりない学生の応募資料も受けることになり、企業にワークロードも増えてきます。選考プロセスも忙しくなって、実際に興味のあまりない応募者が選ばれる可能性も増えていきます。全体的なミスマッチ率も高くなってしまいます。一方、学生もこの短い就活期間に関して、不安を感じて非常に多くの企業に応募して、本来の希望を見失うこともよく起こるようになってしまいました。

結果としては、仕事に情熱のない人は多くいると考えています。こういう状況で社員の生産性にも結局悪い影響があると思います。その結果としては、毎日の生活も幸せではなくなってしまい、全国のGNH(Gross National Happiness)も下がります。

したがって、どのように変えれば、より効果的な就職活動や応募プロセスを達成できるのか;どのようにやれば、より幸せな企業の環境を実現できるのかということが、非常に重要な課題であると考えております。


Pesona Indochina: Catatan Perjalanan melewati Vietnam, Kamboja, Thailand, Laos

October 13, 2012

(oleh: Willy Yanto Wijaya)

Awal hingga pertengahan September yang lalu, penulis berkesempatan mengunjungi wilayah Indochina (Asia Tenggara Kontinental) selama hampir 2 minggu. Perjalanan darat yang melelahkan, lintas negara, mendapatkan berbagai pengalaman seru dan berharga, mengamati kehidupan sosial masyarakat setempat.. rasa-rasanya panjang tulisan bisa cukup untuk menerbitkan 1 buku, he..he. Akan tetapi, dalam tulisan kali ini, penulis hanya menggambarkan kesan-kesan pribadi secara umum terhadap tiap negara yang dikunjungi, ditambah pengalaman-pengalaman menarik selama perjalanan.

Rute perjalanan adalah sebagai berikut: Ho Chi Minh -> Phnom Penh -> Siem Reap (Angkor Wat) -> Bangkok -> Vientiene -> Luang Prabang -> Hanoi.

Semuanya menggunakan jalur darat, kebanyakan dengan bus atau mini-van, kecuali dari Bangkok menuju perbatasan Laos menggunakan kereta api malam. Perjalanan darat ini ada yang memakan waktu hingga 24 jam lebih, seperti dari Luang Prabang (Laos) ke Hanoi (Vietnam) akibat melewati lika-liku jalan pegunungan. Anda bisa bayangkan lelah dan pegal-pegalnya, tapi nilai pembelajaran dan pengalaman yang didapat tidaklah sia-sia.

Tiba di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City, prosedur imigrasi Vietnam ternyata sangat simpel (tidak perlu mengisi kartu kedatangan). Dari bandara menuju kota sebenarnya ada bus umum (bus terakhir cuma sampai jam 6 sore), karena kami tiba sudah malam, akhirnya menggunakan taksi menuju ke pusat kota. Sepanjang jalan, terlihat banyak sekali sepeda motor berseliweran dimana-mana. Kami menginap di Hoang Hai Long Hotel, sebuah hotel bintang tiga, tidak jauh dari Ben Thanh Market. Hotel di Vietnam bisa dibilang cukup murah, sekitar Rp.300-400 ribu, Anda sudah bisa mendapatkan hotel bintang tiga yang bagus dengan twin bed + sarapan pagi buffet dan wifi. Malam itu juga kami langsung melihat-lihat Ben Thanh Market sekaligus pergi makan malam. Tiba di sebuah rumah makan seafood pinggir jalan, wuah, harga menu-menunya mahal sekali (dengar-dengar cerita, menu versi Bahasa Inggris memang lebih mahal dibanding menu Bahasa Vietnam). Masa udang galah ukuran kecil (cuma sedikit lebih besar dari jari jempol) satu ekor harganya Rp. 60 ribu! Benar-benar pemerasan terhadap wisatawan!

Keesokan harinya, kami pun keluar ingin berkeliling melihat kota. Setelah tawar-menawar dengan dua orang tukang becak (becak di Ho Chi Minh berukuran kecil, cuma muat 1 orang) dan mencapai kesepakatan harga, kami pun dibawa melihat landscape kota seperti Katedral Notre-Dame Saigon, Post-office, City Hall, Opera House, dsb. Sesuai kesepakatan, mestinya kami dibawa berkeliling hingga 1 jam, akan tetapi baru 40 menit saja kami sudah diturunkan. Karena tidak ingin mencari ribut, kami pun menyudahi saja masalah ini. Sebenarnya landscape di kota Ho Chi Minh terletak tidak begitu jauh satu sama lain, sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kami kemudian mencoba menaiki bus umum secara random (tidak tahu tujuan kemana). Bus umum di Vietnam sangat murah, cuma sekitar Rp. 3000,- an sekali jalan. Bus yang kami naiki secara acak, yang pertama ternyata menuju ke Chinatown, dan yang kedua menyelusuri Sungai Saigon hingga ke sebuah terminal pinggiran kota. Anda tinggal menaiki bus yang bernomor sama untuk kembali ke tempat semula.  =D

Kesan secara umum, lalu lintas kota Ho Chi Minh cukup semrawut dengan berseliwerannya sepeda motor, pejalan kaki pun sembarang menyebrang sama seperti di Indonesia saja. Pedagang asongan yang mencari nafkah dari wisatawan juga banyak yang “ngotot” terus-menerus memaksakan dagangannya. Juga seperti cerita di atas, tukang becak yang tidak jujur (tidak memenuhi janji) dan harga menu khusus turis yang lebih mahal. Dibanding orang Kamboja, Thailand, ataupun Laos, secara umum orang Vietnam lebih kasar (meskipun tentunya tidak semua seperti itu). Akan tetapi, di balik pengalaman-pengalaman negatif, ada hal yang cukup mengesankan juga dari Vietnam, yaitu lumayan banyak cewe yang cakep. Dari segi perawakan, orang Vietnam terlihat cukup mirip dengan orang China. Dan memang banyak juga aspek kehidupan orang Vietnam yang dipengaruhi oleh kebudayaan Tiongkok, misalkan saja baju Áo dài yang indah menawan. Dari segi makanan, juga cukup oke, memenuhi selera lidah penulis, misalkan bumbu seafood (yang mahal di cerita sebelumnya) rasanya juga lumayan enak.

Di daerah Pham Ngu Lao (basis backpacker di Ho Chi Minh), kami pun membeli tiket bus menuju ke Phnom Penh (Kamboja). Perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam, melewati sawah-sawah dan ladang pertanian (ada juga satu empang yang dipenuhi bebek-bebek putih). Tidak ada kendala yang berarti di imigrasi perbatasan (tidak butuh visa bagi pemegang paspor Indonesia), ketika melewati Moc Bai (Vietnam) maupun Bavet (Kamboja). Hal yang menarik adalah ketika melewati perbatasan Kamboja (Bavet), di kiri kanan jalan terlihat banyak sekali kasino (tempat perjudian). Aneh sekali.. menurut dugaan penulis, pastilah di Vietnam kasino dilarang beroperasi (ilegal), sehingga banyak orang Vietnam yang pergi ke perbatasan Kamboja untuk berjudi.

Setelah melewati perbatasan Kamboja dan hampir mencapai Phnom Penh, bus akan naik ke atas feri menyeberangi sungai (mungkin Sungai Mekong). Banyak pedagang asongan yang berkerumun di depan pintu bus, ingin masuk ke dalam bus tetapi tidak diizinkan oleh petugas bus (mungkin atas alasan keamanan). Yang diizinkan naik oleh petugas bus adalah seorang remaja yang memiliki keterbatasan fisik (kehilangan kedua lengan) yang meminta sedekah dari penumpang bus. Pada saat itu kami belum memiliki mata uang Kamboja (Riel), tetapi ketika kami memberikan uang kertas Vietnam (Dong), ternyata si remaja mau menerima. Akan tetapi anehnya ketika ada seorang bule yang memberikan koin kepada si remaja tersebut, ia tidak mau menerimanya.. sepertinya itu adalah koin Vietnam yang penulis dengar dari rumor emang tidak laku ditukar (money exchanger pada tidak mau terima). Tidak betah di dalam bus, penulis pun mencoba keluar dari bus.. seorang bule yang keluar dari bus langsung dikerubungi oleh para pedagang asongan.. penulis pun menyingkir ke sisi feri yang agak sepi. Melihat kondisi pedagang asongan (banyak yang masih anak-anak dan remaja), hati pun menjadi trenyuh. Dengan pakaian yang compang-camping dan tubuh yang kusam, mereka mencoba mengais rezeki, yang tidaklah seberapa.. Penulis menghampiri seorang gadis penjual lemang (seperti ketan yang dibakar dalam bambu) yang sedang melamun. Penasaran pengen mengetahui bagaimana rasa lemang Kamboja, akhirnya kami membeli, dan ternyata bisa membayar pakai mata uang Vietnam (Dong). Yang membuat penulis kaget sekaligus kagum, adalah gadis miskin ini berbahasa Inggris cukup lancar! Setelah kami membeli lemang, kami pun langsung dikerubungi anak-anak kecil penjual telur rebus. Anak-anak kecil ini cuma bisa berbahasa Khmer, akhirnya dibantu oleh si gadis penjual lemang, karena rasa iba, kami pun membeli beberapa telur rebus. Telur rebus yang sangat simpel, cuma ditemani oleh sebungkus kecil garam.. tidak ketinggalan pula, ada beberapa anak kecil yang mengemis.. himpitan kehidupan yang berat membuat banyak masyarakat Kamboja yang masih hidup di bawah garis kemiskinan..

Hanya dalam waktu yang singkat, feri telah menyebrang ke tepi sebelah sungai dan melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh. Sepanjang jalan di Kamboja, sudah terlihat bahwa infrastruktur maupun masyarakat secara rata-rata masih lebih miskin ketimbang di Vietnam. Di sepanjang jalan terlihat sawah-sawah dan kerbau, beberapa kerbau terlihat agak kurus. Dari segi perawakan, orang Kamboja agak-agak mirip orang Jawa, dengan kulit yang agak gelap (sawo matang). Hal lainnya yang menarik di Kamboja adalah hampir semua orang mau menerima USD (Dolar Amerika), baik itu pedagang kaki lima sekalipun! Tentunya mata uang Kamboja (Riel) juga laku. Tiba di Phnom Penh pun hari sudah senja, setelah mencari penginapan, kami pun jalan keluar mencari makan malam. Ternyata di sekitar hotel kami, banyak pub dan bar yang tentunya sesuai selera orang bule, akan tetapi kami lebih prefer jajanan jalan ala Kamboja. Setelah melewati pasar tradisional yang becek (mirip banget seperti di Indonesia) di suatu sudut kota Phnom Penh, kami mencoba ikan panggang pinggir jalan. Ikan hanya dilumuri garam kasar di bagian luar, tapi menariknya mereka memasukkan semacam sayur pewangi ke dalam ikan ketika dipanggang. Dengan sayur lalap dan tomat hijau, ditambah Saus Mekong plus rasa lapar, dalam sekejap hidangan pun habis disikat.

Ketika kami sedang makan, ada seorang ibu tua yang meminta-minta. Ketika kami memberikan sedekah, tiba-tiba ibu tua itu beranjali (memberikan hormat dengan merangkapkan kedua telapak tangannya di depan dada) kepada kami. Ketika penulis membalas beranjali, si tukang ikan bakar pun tersenyum melihat kami. Tukang ikan bakar ini pun sepertinya cukup jujur, ketika memberitahukan kami harga ikan adalah 4 USD + 1000 Riel (1 USD sekitar 4000 Riel). Bayangkan aja kami kan wisatawan asing, kalaupun dia bulatkan saja menjadi misal 5 USD juga kami ga akan tau apa-apa. Tapi nilai kejujuran inilah yang priceless (tak ternilai harganya), terlebih di dunia yang sudah semakin tergila oleh materialisme.

Pagi hari ketika kami sarapan kwetiaw kuah, di jalanan terlihat beberapa bhikkhu (pemuka agama Buddha) yang sedang pindapatta (menerima derma dari umat). Terlihat pula di depan sebuah rumah, seorang ibu yang mengajari anaknya untuk memberikan derma. Di Phnom Penh, terlihat banyak juga ruko yang bi-lingual (menggunakan Bahasa Khmer dan Bahasa Mandarin). Sepertinya masyarakat Tionghoa di Kamboja hidup rukun dengan masyarakat Khmer yang mayoritas. Di pinggiran Phnom Penh, sekitaran Kampong Cham penulis juga amati ada banyak masjid dan komunitas Muslim yang cukup signifikan.

Setelah sarapan pagi, kami berangkat ke Killing Field (Choeung Ek Genocidal Center) yang ada di pinggiran kota (sekitar 30 menitan menggunakan tuk-tuk) melewati jalanan berdebu. Genocidal Center ini adalah memorial bagi para korban pembantaian semasa rezim Pol Pot. Mendengarkan narasi bagaimana korban diperlakukan dan dibantai akan membuat hati menjadi trenyuh. Pembantaian tidak memandang bulu, banyak korban wanita dan anak-anak juga. Korban ada yang ditelanjangi, dilempar ke dalam lubang besar, disiram dengan cairan kimia, dan dikubur hidup-hidup. Loudspeaker yang digantung pun diputar suaranya kencang-kencang, menutupi suara jeritan dan ratap para korban. Setelah cabut dari Killing Field, kami pun pergi menjernihkan pikiran di Wat Ounalom, sebuah kuil kecil di kota Phnom Penh. Setelah itu kami ke Royal Palace, akan tetapi hujan deras membuat kami tidak dapat meng-eksplore semua bagian Royal Palace. Parahnya, sore hari itu juga kami harus naik bus buat berangkat ke Siem Reap (Angkor Wat). Hujan deras membuat sebagian kota Phnom Penh tergenang air, bahkan kami harus menerjang genangan banjir ketika naik ke tuk-tuk sewaan kami. Karena tidak bawa payung maupun jas hujan, kami pun sudah basah kuyup. Di tengah jalan, mesin tuk-tuk tiba-tiba berhenti akibat genangan air yang terlalu tinggi. “Celaka nih!” pikir kami. Untung mesin hidup kembali, dan kami harus berterima kasih kepada Dee, sang tukang tuk-tuk yang sudah mati-matian berjuang menerobos hujan deras dan genangan banjir, mencari rute alternatif ke terminal bus, dan tiba tepat waktu sebelum bus berangkat.

Perjalanan dari Phnom Penh ke kota Siem Reap memakan waktu sekitar 6 jam-an. Di sepanjang perjalanan, terlihat banyak wilayah yang tergenang air. Awalnya penulis kira itu adalah danau atau rawa-rawa yang sangat luas, tapi setelah memperhatikan kadang ada pepohonan (ga mungkin ada pohon di tengah danau) dan bahkan ada jaringan tiang listrik !!  wah sudah jelas ini adalah daratan yang tergenang air ! Luasnya daratan yang tergenang air di Kamboja di musim penghujan luar biasa mencengangkan! Memang sebagian besar wilayah Kamboja adalah dataran rendah dan rawa-rawa. Tidak heran ketika sungai meluap akan membenamkan lahan yang begitu luas. Sempat terbersit dalam pikiran penulis.. mungkin inilah juga salah satu faktor yang menyebabkan kemiskinan di Kamboja.. ketika lahan sawah dan pertanian tidak bisa termanfaatkan tatkala luapan banjir melanda.. mungkin juga infrastruktur bendungan belum terkelola dengan baik.. Akan tetapi, melihat rumah-rumah penduduk yang seperti rumah panggung dan beberapa warga yang menaiki sampan menyusuri luapan banjir, sepertinya masyarakat disana sudah terbiasa dengan banjir musiman seperti ini..

Tiba di Siem Reap sudah larut malam, dan keesokan paginya kami menyewa tuk-tuk seharian berkeliling Angkor Wat, Bayon, Ta Prohm, dan kompleks-kompleks candi sekitarnya. Harus diakui kehebatannya bahkan peradaban ratusan tahun yang lalu saja sudah dapat menghasilkan masterpiece arsitektur yang luar biasa!

Setelah puas berkeliling kompleks candi hingga sore hari, malam harinya (dini hari) kami langsung berangkat menuju ke Bangkok. Karena jumlah penumpang yang sedikit, akhirnya kami pun dibawa dengan mini-van hingga ke Poipet (perbatasan Kamboja), kemudian dari Aranyaprathet (perbatasan Thailand) kami harus ganti ke mini-van yang lain. Perjalanan malam yang melelahkan karena hampir tidak bisa tidur di mini-van.

Tiba di Bangkok, kami pun mencari Khao San Road, lokasi backpacker yang terkenal di kota ini. Kami hanya nginap semalam di Bangkok, dan cuma sempat mengunjungi beberapa tempat seperti Chinatown, Wat Traimit, Hua Lam Phong, Grand Palace (cuma masuk sedikit lewat gerbang). Sewaktu mengunjungi Wat Traimit (Patung Buddha Emas), penulis tidak menyadari kalau patung Buddha itu benar-benar terbuat dari emas padat, yang berat totalnya hampir 6 ton!! Dengan harga emas 18 karat saat ini saja, harga emas pada patung ini sudah melebihi Rp. 2 Trilyun!! (ini belum termasuk nilai sejarah patung ini yang sudah berumur 700 tahun).

Kemacetan di kota Bangkok sangatlah parah. Di sebuah bus umum, ketika penulis sedang duduk enak-enak, naiklah seorang bhikkhu. Bhikkhu ini tiba-tiba seperti “mengusir”, menyuruh penulis pindah ke tempat duduk lain. Setelah si bhikkhu duduk, ia kemudian menyuruh penulis duduk di sampingnya. Mungkin norma di Thailand adalah biasanya penumpang memberikan tempat duduk yang paling dekat dengan pintu keluar kepada bhikkhu? Entahlah. Lalu setelah Ia mengetahui penulis adalah wisatawan, mulailah si bhikkhu cerita soal landmark Bangkok dan sebagainya.. bahkan sampai memprediksi bahwa penulis akan menikah dua tahun lagi, ha..ha.. bisa aja nih si bhikkhu bercanda, bahkan calon pendamping hidup saja belum ada.. gimana caranya bisa seperti itu?  =D. Mestinya waktu itu kami meminta si bhikkhu menemani kami masuk ke Grand Palace (karena tiket masuk buat orang Thailand gratis).

Dari stasiun kereta api Hua Lam Phong, kami pun berangkat menuju Nongkhai (kota perbatasan dekat Laos). Perjalanan memakan waktu 12 jam-an (berangkat malam dan tiba esok pagi). Di dalam kereta api, ada tempat tidurnya.. harga tiket juga cukup murah, cuma sekitar Rp. 200-300 ribu. Dari Nongkhai sebenarnya ada 2 opsi, naik kereta api lokal ke Thanaleng (Laos) atau naik bus via Friendship Bridge (Laos). Akhirnya kami naik bus dan tiba di Vientiene sudah tengah hari.

Kami juga hanya menginap satu malam di Vientiane. Meskipun ibukota negara, dibandingkan kota Bangkok, Ho Chi Minh, atau bahkan Phnom Penh, kota Vientiene relatif lebih lenggang. Bahkan satu kota Vientiene bisa ditelusuri dengan hanya berjalan kaki. Akan tetapi menurut penulis, kota ini adalah tempat yang sangat bagus untuk beristirahat, dan juga suasananya lebih “adem”. Salah satu alasan adalah karena secara umum di Laos, jarang ada kerumunan pedagang asongan yang memaksa turis (dari pengalaman penulis yang hampir frustasi dikerumuni pedagang asongan yang tetap keukeuh di kompleks Candi Angkor Wat – Kamboja, ataupun ketika di Ho Chi Minh). Sore hari itu, kami pun berkeliling ke kuil-kuil kecil dan naik bus umum sembarangan.

Keesokan paginya, dari Vientiene kami pun berangkat menuju Luang Prabang, salah satu UNESCO site. Perjalanan memakan waktu 12 jam lebih, gara-gara mobil mini-van berhenti di Vang Vieng. Akan tetapi, keindahan pemandangan di sepanjang jalan luar biasa indahnya.. tak terlukiskan dengan kata-kata. Bentang alam negara Laos memang adalah jejeran pegunungan, dan kami melewati jalan-jalan gunung yang meliuk-liuk. Dari pengamatan penulis, belum ada terowongan yang menembus gunung di sepanjang jalan dari Vientiene ke Luang Prabang.

Ketika senja menjelang gelap, ada seorang cewe bule di mini-van kami yang ingin pipis. Karena jalan gunung yang di sekitarnya sebagian besar adalah hutan dan sebagian kecil ladang penduduk, ia pun harus menunggu belasan menit, hingga akhirnya supir menemukan toilet penduduk. Kami pun nebeng ke toilet, tentunya ke toilet alam karena lebih praktis dan tidak bau, he..he. Nah, beberapa meter dari toilet ada seperti warung kecil milik penduduk lokal yang hanya diterangi oleh sebuah lampu remang-remang. Hanya ada satu warung kecil ini, dan ratusan meter di sekitar tidak terlihat ada pemukiman penduduk sama sekali!! Terlihat seorang ibu dan anaknya yang masih berusia sekitar 7 tahun. Mereka seharian berjualan sepertinya tidak ada seorang pun yang membeli. Karena kasihan, kami pun membeli sebungkus snack dan sebungkus jahe hitam bubuk (katanya bisa dibikin teh). Dipikir-pikir, kalau si cewe bule tidak minta mini-van berhenti sebentar, tentunya kami pun tidak akan bisa membeli dari warung kecil tersebut. Dipikir-pikir, bagaimana penduduk bisa survive dalam kemiskinan seperti ini? Sepertinya mereka hidup benar-benar tergantung alam.. kayu buat rumah ambil di hutan, ladang kecil bercocok tanam, mungkin sebagian buah sayur juga dari hutan. Sepanjang perjalanan, kadang kami melihat bocah-bocah desa yang telanjang mandi dari mata air yang memancur dari liang gunung. Rumah-rumah juga masih banyak yang berupa gubuk yang beberapa diantaranya, menurut ayah penulis, bahkan kondisinya lebih parah dibandingkan kandang ayam milik mendiang kakek nenek penulis di kampung. Akan tetapi jika dipikir secara mendalam, toh miskin bukan berarti mereka lebih tidak bahagia dibandingkan kita yang lebih berkecukupan. Dan malah mungkin mereka lebih bahagia.. tidak perlu terlalu banyak mikir dan mengejar ini itu, asal cukup makan dan melewati hari-hari dengan keluarga yang dicintai..

Ketika mendekati Luang Prabang, malam pun menjadi semakin gelap pekat. Sisi gunung adalah rimba lebat. Tidak kebayang gimana kalau mobil kami mogok di tengah jalan. Untunglah kami tiba di Luang Prabang dengan lancar, dan malam pun sudah sangat larut. Setelah mencari hotel yang sesuai budget, akhirnya kami pun bisa merenggangkan badan sejenak.

Sebenarnya setiap pagi subuh, ada tradisi pindapatta di Luang Prabang. Sayangnya karena kelelahan, kami pun tidak bisa bangun pagi. Siang harinya, kami pun menyewa tuk-tuk untuk berkeliling melihat Vat Sen, Vat Xieng Thong, pertemuan Khan River dan Mekong River. Ada kejadian menarik di Vat Xieng Thong, sebuah kuil yang dibangun sekitar 500 tahun yang lalu. Ketika ayah penulis mengambil ciamsi (bilah bambu/ kayu peramalan nasib), sayangnya di kertas penjelasan cuma ada dalam Bahasa Laos. Setelah mencoba mencari orang lokal akhirnya ketemu ada tukang perahu yang cukup fasih berbahasa Inggris. Katanya ramalannya bagus, setiap berkunjung jalan-jalan orang akan senang bersua, masa depan sukses, dsb dsb (yang menurut penulis cukup standard), tapi ramalan terakhirnya yang cukup mengejutkan. Si tukang perahu bilang ke penulis bahwa menurut ramalan, anak pertama adalah laki-laki. Si tukang perahu tentunya tidak tahu bahwa yang mengambil ciamsi itu bukanlah penulis, melainkan ayah penulis. Dan ramalan bahwa anak pertama adalah laki-laki itu memang tepat! Apakah cuma kebetulan saja? Entahlah.. probabilitas benar/ salah adalah 50:50, tapi saat itu ramalannya adalah benar.

Di halaman Vat Xieng Thong, kami juga melihat ada seorang gadis yang menjajakan kain tradisional Laos. Corak sulamannya bagus sekali, si gadis juga lumayan manis  =). Kata si gadis penjual kain-kain ini adalah hand-made, disulam pake tangan, dia sendiri yang menyulamnya selama 3 bulan. Dari harga awal sekitar Rp. 800 ribu, akhirnya kami tawar dan deal seharga Rp. 200 ribuan. Awalnya kami masih ragu apakah benar sulaman kain ini pakai tangan.. ketika kami kembali ke hotel dan mencoba nanya pendapat si resepsionis hotel, ia mengiyakan bahwa memang kain yang kami beli adalah sulaman tangan.. karena di bagian belakang kain terlihat sisa-sisa benang yang terlihat diputuskan secara irregular (tidak teratur), jadi ga mungkin pakai mesin.. katanya sulaman kainnya bagus sekali, pasti butuh waktu sebulan lebih untuk menyulamnya.. Wah kalau dipikir-pikir, harga yang kami bayarkan tidaklah begitu mahal, apalagi kalau mengingat upaya keras yang harus dilakukan oleh si gadis penyulam selama itu..

Dari Luang Prabang, kami pun melanjutkan perjalanan ke Hanoi (Vietnam) menggunakan bus. Ini adalah perjalanan panjang lebih dari 24 jam (berangkat jam 6 sore tiba keesokan malamnya jam 10 malam). Bus yang kami naiki adalah sleeper bus, jadi kursi bisa diturunkan sangat rendah hingga menyerupai tempat tidur. Ada berbagai kejadian aneh dan menarik selama perjalanan panjang ini. Mulai dari kami ketemu seorang pelancong dari Indonesia juga, yang orangnya agak nerd, di dalam bus tiba-tiba aja mengeluarkan kameranya dan menjepret foto secara beruntun dengan flash silau yang bertubi-tubi, dengan objek foto….. tiga cewe Jepang yang duduk di belakang kami. (-_-)“ nih bikin malu orang Indonesia aja… Terus ada seorang penumpang bus (entah orang Laos, Vietnam, atau orang mana), yang tiba-tiba mengambil botol kosong yang ada di depan penulis; ketika penulis menyadari perbuatannya dan melihatnya, ia cuma cengengesan. Awalnya penulis mengira dia mau menuang air dari galon yang ada di depan bus ke botol kosong tersebut. Setelah agak lama, dan penulis secara diam-diam mengamati gerak-geriknya yang aneh (menyusupkan botol di bawah selimut ke arah bawah perut), ternyata tuh orang kencing ke dalam botol kosong!  (-_-)“ gelo dah. Kemudian di perbatasan Namkan (Nam Can) (perbatasan Laos – Vietnam), ada sekelompok orang yang membawa kerbau melewati perbatasan, dan ada satu lagi hal aneh yaitu beberapa orang yang sepertinya orang Vietnam yang membayarkan duit kepada petugas Imigrasi Vietnam (sedangkan kami tidak membayar apapun kepada imigrasi), ternyata.. mereka menyelundupkan semacam kayu harum di dalam bus!! Mungkin kayu ini ditebang di hutan di Laos, dan kemudian bisa dijual dengan harga tinggi di Hanoi. Pemandangan dari Laos ke Vietnam ini juga bagus, dengan gunung-gunung dan sebuah sungai yang mengalir hingga ke utara Vietnam. Akhirnya kami pun meninggalkan Laos (yang dulu bernama Lan Xang (Million Elephants) Kingdom – walaupun populasi gajah di Laos katanya sudah menurun drastis), dan kembali masuk ke negara Vietnam (kali ini di bagian utara). Perjalanan panjang menggunakan bus Vietnam ini, yang kadang diselingi oleh supir yang merokok di dalam bus, dan juga suka memencet suara klakson, akhirnya berakhir juga ketika bus tiba di Hanoi.

Tiba di Hanoi sudah jam 10 malam. Kami langsung dikerubungi supir taksi yang menawarkan jasa mereka. Karena penulis pernah baca dari blog bahwa banyak yang tertipu oleh argo taksi yang jalannya lebih kencang dari jam digital, apalagi karena kami tidak tahu medan (ada kemungkinan supir curang yang membawa jalan-jalan keliling Hanoi dulu), kami pun menggunakan common sense kami dan membuat kesepakatan harga. Kompetisi perhotelan di kota Hanoi sangatlah ketat, jadi Anda bisa mendapatkan hotel bintang 3 dengan sarapan buffet hanya dengan harga sekitar Rp. 300 ribu.

Lagi-lagi karena kelelahan, kami pun bangun cukup siang.. dan paket tur yang ke Halong Bay semua sudah berangkat. Karena ayah penulis ngotot tetap pengen ke Halong Bay, akhirnya kami pun mencoba mencari bus umum yang menuju kesana (walaupun menurut kalkulasi penulis, ga akan keburu lagi naik kapal sebab sampai disana pasti sudah sore hari). Dari Hanoi ada semacam bus mini menuju ke arah Halong Bay, tiket resmi (satu arah) seharga 90 ribu dong (sekitar Rp. 40 ribu). Akan tetapi setelah penulis kalkulasi, sebenarnya lebih bagus ikut tur (cari saja yang paket 1 hari uda termasuk transport pp, makan siang, naik kapal 4 jam; yang seharga Rp. 200 ribuan), karena jalan sendiri pun total-total habisnya ga jauh beda (belum lagi ada resiko kita diperas karena turis).

Dari Hanoi menuju ke arah Halong Bay, semuanya berjalan lancar. Malah penulis sempat mencoba berkomunikasi dengan seorang gadis miskin penjual roti yang duduk di sebelah penulis. Komunikasi pun gagal total, karena penulis ga bisa Bahasa Vietnam sama sekali, dan si gadis penjual roti pun ga bisa Bahasa Inggris sama sekali.

Sialnya bus ini akan menurunkan kita di persimpangan ruas jalan menuju ke dermaga Halong Bay, sehingga mesti naik ojek lagi. Sampai di dermaga sudah senja, dan kapal pun sudah tidak ada yang jalan. Kami pun harus menelan kekecewaan yang pahit. Hari itu juga agak berkabut sehingga ketika kami berfoto, pulau-pulau karst Halong Bay pun tidak tampak jelas dari dermaga.

Lebih sialnya lagi, kami tidak tahu dimana harus naik bus mini yang kebalikan arah menuju Hanoi. Setelah sembarang naik ojek dan nyasar sana-sini, akhirnya kami melihat ada bus mini dengan tulisan Hà Nội. Tanpa buang waktu, kami pun langsung naik. Eh, tidak tahunya kami ditagih 250 ribu dong oleh si kenek karena mengetahui kami bukan orang Vietnam. Penulis pun menolak dan menunjukkan tiket 90 ribu dong yang kami beli ketika kami berangkat dari Hanoi. Terjadi percekcokan dan adu mulut antara penulis dan si kenek brengsek, hampir saja terjadi perkelahian.. akhirnya penulis membayar 100 ribu dong (cuma lebih mahal sedikit dari harga tiket resmi). Satu hal lagi yang bikin tambah gregetan adalah bus mini ini juga mengangkut titipan barang, jadi bus akan keluar rute sedikit buat mengantarkan barang titipan, akhirnya perjalanan jadi tambah lama.

Esok harinya, kami pun berangkat ke bandara Noi Bai yang terletak di agak pinggiran kota Hanoi. Karena sudah mengetahui harga standard taksi kesana, kami pun mencoba limit bawah tarif taksi. Rata-rata supir taksi pada menolak dengan alasan bandara letaknya jauh (emang lumayan jauh sih dari pusat kota). Tapi pada akhirnya ada seorang supir taksi yang mau. Hmm, aneh juga.. Ternyata nih supir taksi kerjasama dengan temannya yang memang taksi bandara. Karena taksi bandara ini memang akan berangkat ke bandara walaupun kosong penumpang, tentu saja dengan adanya penumpang yang nebeng dan bayar, adalah penghasilan tambahan buat si supir taksi bandara. Memang harus penulis akui, orang Vietnam banyak yang lihai dalam mencari penghasilan tambahan (kasus penyelundupan kayu, penitipan barang, taksi bandara).

Akhirnya perjalanan keliling Indochina pun selesai. Sebenarnya penulis juga ingin ke Myanmar, akan tetapi karena keterbatasan waktu, belum bisa tercapai pada saat itu. Perjalanan yang lumayan melelahkan, namun penuh kesan dan pengalaman yang berharga.


Mengembara Mencari Makam Leluhur

September 30, 2012

(Oleh: Willy Yanto Wijaya)

Tulisan ini adalah sekuel dari tulisan sebelumnya “Perjalanan Seribu Li Menyelusuri Negeri Tiongkok”. Kalau hanya sekedar travelling menyelusuri negeri Tiongkok, tentulah tidak sulit. Akan tetapi, selain travelling, kami juga membawa satu misi yang sangat penting, yaitu menemukan makam leluhur. Kami sama sekali tidak ada ide dimana lokasi makam leluhur tersebut, jangankan lokasi makam, bahkan kami tidak tahu alamat kerabat disana yang dapat dihubungi. Kami hanya diberitahu oleh adik dari kakek penulis agar mencari seseorang yang bernama xxxx di kampung ini di Putian (tidak ada alamat lengkap ataupun nomor telepon). Belum lagi kami tidak bisa berbahasa Henghwa (bahasa lokal di Putian – sebuah kota kecil di Provinsi Fujian), bahkan bahasa Mandarin kami saja pas-pasan. Hanya dengan bermodalkan kenekatan, akhirnya kami terbang dari Beijing menuju Fuzhou  (ibukota Provinsi Fujian).

Ada dua kejadian menegangkan dalam perjalanan kami. Kejadian pertama adalah ketika kami mendarat di Fuzhou. Pesawat Xiamen Airline yang kami tumpangi tiba di Fuzhou sudah larut malam (jam 2 malam lewat). Dari bandara, kami pun naik bus menuju kota yang masih memakan waktu sekitar satu jam-an. Kami duduk di barisan bangku yang paling belakang. Rasa lelah yang hampir membuat penulis tertidur tiba-tiba tersirnakan oleh gerak-gerik seseorang yang mencurigakan yang juga duduk di bangku belakang. Lengan pemuda mencurigakan ini penuh dengan tato, gaya berpakaiannya pun khas berandalan/ preman. Tiba-tiba si preman ini menanyakan sesuatu kepada seorang penumpang lainnya, yang sepertinya dijawab tidak tahu oleh si penumpang tersebut. Tiba-tiba si preman mendekat ke penulis dan bertanya soal alamat tertentu, yang penulis juga jawab tidak tahu. Celaka! Tadi awal-awal naik ke bus, penulis dan beberapa anggota keluarga sempat ngobrol-ngobrol dalam bahasa yang tentunya asing dan tidak dimengerti oleh penumpang lainnya… jadi.. tentunya si preman sudah tahu kalau kami bukan orang Fuzhou. Tante-tante penulis pun khawatir dan akhirnya pindah ke barisan tempat duduk agak depan/ tengah yang masih kosong, sambil berusaha agar duduk di sisi bagian dalam (terhalang oleh penumpang lain). Kami pun berusaha agar tidak duduk di bangku yang disampingnya ada bangku kosong karena si preman ini suka tiba-tiba pindah di bangku yang kosong. Penulis mengamati banyak penumpang bus di barisan depan dan tengah sepertinya pada tertidur, tapi ada beberapa penumpang lainnya (orang lokal) yang sepertinya sudah sadar terhadap gerak-gerik orang mencurigakan ini dan menjaga kewaspadaan mereka.

Penulis pun bertanya-tanya rencana apa yang ada di benak si preman ini.. dan upaya apa yang semestinya dilakukan.. bagaimana kalau si preman tiba-tiba membajak bus atau menodong salah satu penumpang untuk dijadikan sandera?? Tiba-tiba si preman menyelonong berjalan ke barisan depan, dan menuju ke si supir bus. Entah apa yang dia omongkan ke supir bus. Gerak-gerik si preman yang mondar-mandir seperti orang gelisah juga semakin membuat banyak orang curiga..

Adrenalin yang terpompa membuat penulis melek total dan hilang sudah rasa kantuk yang tadi melanda. Bagaimana kalau si preman menodong supir bus dan merampok semua penumpang? Sempat kepikiran oleh penulis agar meminta penumpang (orang lokal) yang duduk di samping penulis agar menelpon polisi buat mengikuti bus yang kami tumpangi ini.

Ternyata ketika tiba di persimpangan jalan, bus pun berhenti dan si preman keluar. Oh ternyata si preman cuma mau naik bus gratis toh.. masih juga pake acting pura-pura nanya alamat segala.. atau sebenarnya si preman sudah sadar terhadap gerak-gerik kami dan penumpang lainnya yang sudah curiga sehingga dia membatalkan rencana awalnya? Entahlah.. tapi yang jelas penulis pun akhirnya bisa menghembuskan nafas lega.

Tiba di pusat kota Fuzhou pun sudah hampir jam 4 subuh. Mau mencari hotel pun rasanya tanggung. Kami pun singgah di sebuah rumah makan yang buka 24 jam. Setelah memesan sedikit makanan dan minuman sebagai formalitas agar bisa duduk sampai pagi di rumah makan tersebut, kami pun menunggu fajar menyingsing.. penantian hanya satu dua jam itu rasanya lamaaaa bangett.. kami pun tertidur sejenak di meja makan. Gadis manis yang berkulit agak gelap pelayan di rumah makan itu pun hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan kami.

Belum juga cukup tidur, kami pun sudah harus bangun, dan mencari tahu bagaimana cara menuju Putian dari Fuzhou. Katanya ada kereta api cepat yang cuma setengah jam uda nyampe Putian, atau ada juga bus lokal yang 2-3 jam baru nyampe. Karena kami merasa sangat ngantuk dan ingin tidur, akhirnya memilih naik bus lokal, dengan berpikiran bisa memanfaatkan waktu beberapa jam buat tidur di bus. Penulis pun dengan keterbatasan kemampuan bahasa Mandarin, setengah mati mencari tempat penjualan tiket bus resmi. Eh pada akhirnya juga beli tiketnya di calo tiket (cuma lebih mahal beberapa yuan sih), ternyata naik bus lokal ini bayar karcisnya pas udah naik bus!!

Gila! Parahnya bus yang kami naiki itu ternyata bus kampung yang tempat duduknya kusam abis mungkin udah ga dicuci selama beberapa tahun. Bus kampung ini pun sering berhenti di tengah jalan, mencari penumpang tambahan.. ada beberapa penumpang yang membawa ayam bebek ke atas bus, yang ketika hewan-hewan tersebut berkotek membuat penulis tersenyum geli. Bahkan ada penumpang yang membawa terasi udang beku di tempat bagasi bus, yang karena panas oleh mesin bus, akhirnya meleleh dan menetes ke tas kain milik salah satu tante penulis. Tas dan pakaian-pakaian di dalamnya pun menjadi bau terasi udang.

Karena bus sering berhenti, perjalanan pun memakan waktu 3 jam lebih. Kami bingung ketika ditanya oleh si perempuan kenek bus mau berhenti dimana.. kami cuma diberitahu untuk mencari xxxx di kampung Tonkin di Putian, yang nama kampungnya ditulis dalam abjad Latin pula yang tentunya tidak bisa dibaca oleh si kenek. Lalu kami teringat bahwa di Putian, tentunya ada juga kuil Kaw Li Tong, tempat perkumpulan orang Henghwa. Kaw Li Tong apaan?? Si kenek bingung, tetapi setelah melihat tulisan Mandarin 九鲤洞, dia pun tahu.. oh.. Jiu Li Dong (pelafalan dalam bahasa Mandarin). Kami pun diberhentikan di depan sebuah gang dengan plakat  九鲤洞  seperti tampak di foto.

Secara harfiah, 九鲤洞 berarti Gua Sembilan Ikan. Pasti ada ceritanya kenapa Kuil ini bernama Gua Sembilan Ikan. Sayangnya penulis belum berhasil menemukan kisah di balik nama kuil ini…

Putian (莆田) adalah sebuah kota kecil yang sudah lumayan berkembang. Namun di beberapa lorong dan gang, masih tampak juga rumah-rumah yang belum disemen ataupun tidak dicat. Kota kecil ini beda sekali dan terlepas dari hingar bingar metropolitan seperti Beijing atau Shanghai. Di rumah-rumah penduduk pun masih banyak terlihat lampion merah yang bergelantungan. Setelah bertanya-tanya dan mencari-cari, kami pun tiba di Kaw Li Tong Putian, ini adalah Kuil Kaw Li Tong pertama di dunia! Akan tetapi menurut pendapat ayah penulis, Kaw Li Tong di Putian ini kalah megah dibandingkan Kaw Li Tong yang ada di Jakarta. Di Kaw Li Tong, kami pun bingung karena komunikasi ga nyambung dengan pengurus kuil. Setelah berusaha mati-matian dengan bahasa Mandarin yang terbatas dicampur bahasa Hokkian, akhirnya pengurus kuil punya kenalan dengan seseorang yang pernah tinggal di Indonesia. Jejaring sosial pun teraktifkan di satu kampung, yang akhirnya kami bisa bertemu dengan adik lelaki dari kakek buyut penulis. Adik lelaki dari kakek buyut penulis ini mungkin hanya sedikit lebih tua dibandingkan (alm.) kakek penulis. Entah penulis harus memanggil dengan sebutan apa lagi… Kami pun lalu makan siang bersama.

Setelah makan siang, kami mengungkapkan maksud kami ingin berziarah ke makam leluhur. Awalnya keluarga adik kakek buyut menawarkan kami untuk tinggal beberapa hari sembari mereka membersihkan dulu rumput ilalang yang menghalangi jalan menuju makam. Karena keterbatasan waktu, kami bersikukuh ingin hari itu juga mengunjungi makam. Kami pun dibawa melewati pekarangan rumah adik kakek buyut, melewati ladang dan selokan, rumput-rumput ilalang yang tingginya 2 meter lebih, akhirnya tiba di makam leluhur yang dikelilingi rumput ilalang, yang sepertinya sudah tidak diurus bertahun-tahun. Menurut penuturan mereka, ini adalah makam orangtua dari kakek buyut penulis (wow, berarti 4 generasi di atas penulis). Ternyata orang zaman dulu di Tiongkok memakamkan anggota keluarganya yang telah meninggal tidak begitu jauh dari rumah (jadi bukan di Taman Pemakaman Umum seperti sekarang ini, akibat populasi manusia yang semakin banyak) (mirip seperti di daerah pedesaan di Jepang juga yang makam keluarga ada di halaman rumah). Ziarah makam seperti ini mengingatkan bahwa suatu saat hidup kita semua juga akan berakhir.. semua hanya sementara seperti buih gelembung di permukaan air.. yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri..

Setelah selesai ziarah, kami pun pamit untuk kembali ke Fuzhou melanjutkan perjalanan kami. Tiba di Fuzhou sudah malam hari, untungnya penulis berhasil menemukan hotel bintang empat dengan lokasi sangat strategis (dekat dengan stasiun Fuzhou) dan harga terjangkau (sekitar Rp. 600 ribu untuk 1 kamar 3 orang). Ini sudah termasuk sarapan buffet yang wah, dan fasilitas hotel terbaik yang pernah penulis dapatkan selama perjalanan di Tiongkok ini. Nah di hotel inilah terjadi kejadian “menegangkan” berikutnya (walaupun beda ma kejadian menegangkan pertama di dalam bus). Ketika menanyakan tentang cara menuju Wuyishan ke seorang petugas resepsionis hotel, penulis dikasih kupon yang katanya bisa buat sauna gratis (khusus buat yg tinggal di hotel ini). Wah mumpung ada gratisan nih, pikir penulis, apalagi setelah lelah seharian di Putian dan malam sebelumnya kurang tidur. Penulis pun menuju ke lantai tempat sauna tersebut. Baru saja keluar dari lift, penulis sudah disambut dua pelayan dengan keramahan yang terasa sangat janggal. Lah masa pelayanan untuk sauna (gratis lagi) bisa se-lebay ini?? Bukannya biasanya sauna atau jazucci di Indonesia cuma masuk sendiri dan ga ada pelayanan apa-apa dari staff hotel.. Sambil masih bengong, penulis pun diantar ke ruang tunggu dan diberikan kunci, handuk, dan sebagainya. Sambil menunggu, penulis melihat ada beberapa gadis berpakaian ketat dan seksi sedang berdiri di suatu sudut ruangan. Dan mengapa sepertinya pelanggan sauna ini rame sekali? Setelah beberapa saat penulis pun digiring berjalan melewati sebuah lorong, yang di sampingnya terdapat ruang-ruang buat sauna. Ketika melewati salah satu ruangan, penulis melihat ada seorang pria yang hanya mengenakan handuk putih dikenakan melilit pinggangnya, bersama dengan dua orang cewe di dalam ruangan sauna tersebut!!!  Apa maksudnya ini?! Jangan-jangan…!! Jantung menjadi berdebar-debar dan penulis pun segera bergegas keluar dari lorong tersebut. Beberapa staf dan petugas sauna mencoba menghalangi dan mencegah agar penulis tidak pergi. Bahkan nyonya pemilik sauna tersebut ikut mencegah penulis beranjak dari sana, penulis tetap ngotot dan cuma bilang, “不要,谢谢” (“Tidak, terima kasih”). Nyonya bos sauna tersebut akhirnya berkeluh “Aiyoooo..” ketika pintu lift menutup, mengantarkan penulis kembali ke lantai atas tempat kamar hotel. Fiiuuuhh.. gilee.. nyaris saja..

Begitulah kejadian “menegangkan” untuk kedua kalinya di Fuzhou. Bahkan lima menit setelah penulis kabur dari tempat sauna, jantung penulis masih berdebar-debar.. memikirkan apa yang terjadi seandainya penulis tidak ngotot untuk beranjak keluar..


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.